Jumat, 16 Mei 2008

Serba-Serbi Olahraga - 2

Danto, AFP, BBC

Yang Aneh dari Wimbledon

Hadiah besar, teknologi oke, penerangan kurangPetenis unggulan belum terbendung

LONDON. Turnamen Grand Slam Wimbledon mencetak rekor dalam jumlah hadiah. Tahun 2007, kejuaraan legendaris ini memperebutkan hadiah total US$ 22,572 juta atau sekitar Rp 203,14 miliar, terbesar dalam sejarah tenis profesional.

Hadiah utama tunggal putra dan putri kini sama, yakni sebesar US$ 1,4 juta (Rp 12,6 miliar). Tahun lalu, hadiah utama antara keduanya dibedakan sebesar US$ 1,17 juta (Rp 10,53 miliar) untuk putra dan US$ 1,11 juta (Rp 9,9 miliar) untuk putri.

Sangat jauh jika dibandingkan dengan hadiah turnamen Grand Slam lainnya. Australia Terbuka, misalnya, hanya menyediakan hadiah masing-masing US$ 1,05 juta (Rp 9,45 miliar) untuk pemenang tunggal putra dan putri. Sedang Grand Slam Amerika Serikat Terbuka menyediakan masing-masing US$ 1,2 juta (Rp 10,909 miliar) untuk juara nomor yang sama.

Kemegahan Wimbledon tak hanya itu. Di lapangan utama (center court), penanda garis menggunakan teknologi hawk eye (mata elang) yang akan memetakan jatuhnya bola dengan lebih akurat. Teknologi ini baru digunakan di Wimbledon sekarang, setelah diujicoba di Amerika Serikat Terbuka 2006 dan Australia Terbuka 2007.

Teknologi ini direspons baik oleh juara bertahan Wimbledon putri Amelie Mauresmo, menjelang partai perdananya lawan non unggulan asal Amerika Serikat Jamea Jackson .

“Saya kira adanya hawk eye itu sebuah kemajuan. Bagi pemain dan penonton yang melihat televisi, hawk eye sangat berperan,” kata Mauresmo.

Semaraknya Wimbledon bakal bertambah dengan rencana pemasangan atap baru di atas lapangan utama (center court), mulai tahun depan, yang memungkinkan bisa dikeluarkan atau ditarik dalam waktu hanya 10 menit. Tujuannya untuk mengantisipasi cuaca di Wimbledon yang mudah berubah.

Menilik itu semua, rasanya lengkap sudah Wimbledon menjadi turnamen yang sangat berkelas. Hanya, panitia agaknya lupa satu hal: penerangan lapangan. Persoalan lampu ini mencuat setelah dihentikannya partai pembuka antara Tim Henman – peringkat 74 dunia --dan Carlos Moya, peringkat 22, Selasa (26/6) pagi kemarin waktu Jakarta.

Partai keduanya dihentikan alias ditunda akibat lampu yang ada di lapangan tak mampu menerangi gelapnya malam.

Kedua petenis, sebenarnya sudah menjalani partai yang sangat ketat dengan masing-masing merebut dua set, 6-3, 1-6, 5-7, 6-2. Nah, pada set penentuan dan kedudukan 5-5, wasit memutuskan untuk menunda partai krusial itu. Padahal, hanya butuh dua match point saja untuk mengetahui siapa yang lolos ke babak kedua.

Laga yang tertunda akibat kurangnya penerangan juga menimpa 11 pertandingan di laga pertama lainnya. Total ada 12 laga yang ditunda karena alasan sama. Bahkan, dalam laporan pertandingan hari pertama kemarin, ternyata ada 11 laga lain yang dipindahkan jadwalnya.

Serangkaian kejadian nyeleneh itu tak mempengaruhi sejumlah unggulan untuk melaju ke babak kedua. Di bagian putra antara lain Roger Federer, Andy Roddick, Fernando Gonzalez, dan Tommy Haas. Di bagian putri diantaranya Martina Hingis, Justone Henin, Serena Williams, Patty Schnyder, Shahar Peer, dan Lucie Safarova.

Dipublikasikan di Harian Bisnis dan Investasi KONTAN, 27 Juni 2007

Serba-Serbi Olahraga - 1

Danto, DPA, Reuters

Awas, Pencuri Marak di Ruang Ganti Pemain

LONDON. Glamornya Turnamen Grand Slam ternyata menjadi daya tarik sendiri bagi pencuri. Sudah bukan rahasia jika turnamen ini berkelas. Hadiah totalnya saja mencapai US$ 22,572 juta atau sekitar Rp 203,14 miliar. Seluruh petenis putra dan putri terbaik di dunia tumplek blek di sana.

Satu kebiasaan petenis top dunia adalah rada acuh pada properti pribadi yang berharga, seperti dompet, telepon genggam, dan lain-lain. Di Wimbledon, kebiasaan itu terbawa dan sangat dimanfaatkan oleh si tangan panjang yang jahil itu.

Panitia turnamen Wimbledon terpaksa melipatgandakan tenaga pengamanan di sekitar turnamen, terutama di ruang ganti pemain, menyusul terjadinya serangkaian pencurian atas properti mereka. Media setempat melaporkan hal tersebut.

Petenis asal Denmark Kenneth Carlsen harus gigit jari lantaran kehilangan jam tangan kesayangannya. Carlsen menyimpan arloji Rolex-nya di ruang ganti pemain, saat melakoni partai kualifikasi.

Nasib serupa juga dialami Nicolas Mahut. Petenis Prancis itu kehilangan perangkat pemutar musik digital atau iPod. Petenis Inggris Jamie Murray juga mengalami nasib tercengang saat kembali ke ruang ganti sejumlah uang tunai dan telepon genggam miliknya sudah hilang.

Maraknya pencurian itu sempat dibicarakan dalam pertemuan tahunan pemain akhir pekan lalu bersamaan dengan partai kualifikasi Wimbledon. Peristiwa seperti ini bukan kali ini saja terjadi. Di pertandingan tahun-tahun sebelumnya juga insiden itu terjadi. Yang paling parah memang turnamen tahun ini.

Lantaran itu, "ATP kini tengah mempertimbangkan apakah perlu untuk menempatkan kamera di ruang ganti pemain. Tahun ini, masalah pencurian bertambah parah," kata Jonas Bjorkman, peringkat 35 dunia, yang sudah dua kali menjadi korban pencurian di Wimbledon, termasuk yang terakhir, kemarin.

Akibat pencurian itu, Bjorkman mengklaim kini hanya memegang uang tunai sebesar 20 euro atau sekitar Rp 244.000 di kantongnya. Bjorkman mengaku akan lebih awas terhadap barang-barang miliknya. Agaknya, berkaca dari kejadian ini, petenis top dunia harus membiasakan diri peduli pada properti, agar si tangan panjang tak lagi jahil, terutama turnamen sekelas Wimbledon.

Dipublikasikan di Harian Bisnis dan Investasi KONTAN, 29 Juni 2007

Serab-Serbi Olahraga

Danto, Reuters
Serangan Unik di Wimbledon

Sekelompok binatang kerap menggangu jalannya lombaGangguan binatang sejak tahun 1949

LONDON. Jangan geli jika mendengar cerita ini. Stadion tempat turnamen Grand Slam Wimbledon, yang katanya berkelas itu, ternyata dipenuhi banyak binatang menjijikkan.

Di beberapa sudut, sekelompok bajing tiba-tiba keluar menuju lapangan utama. Di pojok-pojok stadion lain, segerombolan tikus mencicit melewati atap stadion bersirobok dengan sekawanan burung merpati.

Petenis asal Jerman Boris Becker dan Nikolas Kiefer mengalaminya. Ketika asyik bertanding, tiba-tiba sekelompok merpati “mengebom” keduanya. Tapi, itu terjadi tahun 1999 lalu.

Kini, ancaman serangan serupa memang belum sirna. Panitia turnamen terpaksa melakukan langkah aneh untuk mengusir kawanan itu. Mereka menggunakan “jasa” Finnegan, seekor burung elang yang bertugas mengusir pasukan burung dara itu.

Setiap pagi, menjelang turnamen dimulai, pihak penyelenggara selalu melepas seekor elang di kompleks Stadion Wimbledon. Tujuannya, untuk menakut-nakuti burung-burung dara yang bisa sewaktu-waktu "mengebom" pemain seperti yang terjadi pada laga sesama petenis Jerman, Becker melawan Kiefer.

Beberapa hari lalu, Maria Sharapova sempat bercanda soal burung elang penjaga turnamen itu. Ketika akan menjalani laga perdananya, petenis cantik asal Rusia itu berpakaian mini dan ketat, berwarna putih mirip angsa.

Seorang penonton berseloroh, tidakkah takut diserbu elang yang perkasa itu? Sharapova kontan menjawab, "Memangnya elang biasa menggigit angsa? Ya Tuhan, mungkin sebaiknya saya memotong lipatan pakaian ini," katanya.

Menurut, Alan Little, seorang pustakawan Wimbledon, sejarah gangguan terhadap pertandingan tenis Wimbledon telah terjadi sejak lama. Pada tahun 1949, ball boy Wimbledon dibuat kerepotan untuk menangkap seekor tupai yang “bermain” di lapangan. Akibatnya para pemain harus duduk manis menunggu perburuan tupai tersebut berakhir.

Pam Shriver, juara lima kali Wimbledon nomor ganda, juga pernah merasakan terkena sengatan lebah ketika sedang bertanding. Sedangkan petenis legendaris, John Mcenroe dan Stephen Edberg harus bertanding dengan konsentrasi terpecah dalam pertandingan semifinal tahun 1989. Sebab, dua ekor burung gagak mondar mandir terbang rendah di atas lapangan Wimbledon.

“Serangan” yang paling heboh adalah serbuan para penonton ke lapangan Wimbledon. Pada laga final tunggal putra tahun 1957, Helen Jarwis merangsek ke dalam lapangan ketika pertandingan berlangsung untuk menyuarakan sistem perbankan baru.

Yang paling anyar adalah aksi seorang pria berbugil ria pada partai perempat final tahun lalu antara Maria Sharapova dan Elena Dementieva. Pria tersebut akhirnya diseret petugas keamanan keluar lapangan.

Mengomentari insiden tersebut, Maria Sharapova menjawab pendek. “Saya tidak memperhatikan dengan jelas,” katanya. Seorang jurnalis wanita iseng menanyakan apakah Sharapova terkesan oleh tubuh atletis sang penyerang? Sarapova menjawab, “Mungkin akan saya perhatikan di lain waktu,” katanya. Oalah….

Dipublikasikan di Harian Bisnis dan Investasi KONTAN, 30 Juni 2007

Serba-Serbi Olahraga

Danto, Reuters

Wanita Buta Sukses Cetak Hole in One

LOS ANGELES. Tak ada yang tak mungkin dalam sebuah permainan, termasuk golf. Buktinya, Sheila Drummond, pegolf amatir yang tidak bisa melihat alias buta sukses mencetak hole in one dari jarak sekitar 114 yard atau setara 157,6 meter.

Sekadar mengingatkan, hole in one adalah memasukkan bola dari teeing ground (tempat pertama kali bola dipukul) ke lubang dalam satu kali pukulan yang biasanya terjadi di par tiga (jaraknya antara 100-250 yard).

Drummond, pegolf wanita asal Amerika Serikat, membukukan hole in one di padang golf Mahoning Valley Country Club di Lehighton, Pennsylvania Minggu (19/8) waktu setempat. Bersama sang suami Keith dan dua teman akrabnya, wanita berusia 53 tahun itu bermain di lapangan yang sudah cukup dikenalnya.

Seperti biasa, dengan panduan suaminya Keith, Drummond melepas pukulan drive ke arah tiang dari jarak 114 yard tersebut. Di luar dugaan, bola hasil pukulannya itu langsung masuk ke lubang setelah sebelumnya menyentuh tiang bendera.

"Saya memukul bola dan salah satu kawan saya berkata: Oh, pukulan yang hebat," kata Drummond. “Kemudian dia berkata lagi: 'pukulan bola saya itu mampu melewati green, dan tunggu, ternyata malah langsung masuk ke lubang'. Kami semua mendengar bola mengenai tiang dan kemudian saya bertanya: ‘Benarkah pukulan bola saya masuk ke lubang?'”

Bersama suami dan dua kawannya tersebut Drummond langsung menuju hole tersebut untuk memastikan cetakan bola hole in one itu. "Akhirnya, saya mengetahui bahwa saya baru saja melakukan pukulan hole in one pertama saya," kata Drummond, sumringah.

Drummond, seorang anggota pengurus di Persatuan Pemain golf tunanetra Amerika Serikat, dinyatakan sebagai pegolf tuna-netra wanita pertama yang mencetak rekor hole in one. “Ya, benar, sayalah wanita pertama yang melakukannya. Tapi kalau di putra ada beberapa pegolf buta yang mampu membuat pukulan yang sama," katanya.

Drummond telah bermain golf selama 15 tahun dan memiliki handicap 44. Dia mengalami kebutaan sejak 1982 karena penyakit diabetes. Drummond dilatih bermain golf oleh suaminya yang supervisor di sebuah perusahaan laminating lokal.

Rekor Drummond menjadi yang pertama dalam sejarah golf. Soalnya, selama ini memang belum pernah ada pegolf wanita buta yang berhasil membukukan pukulan hole in one.

Selama ini, kehebohan jagat golf baru terjadi dengan adanya hole in one di par lima -- jaraknya antara 476 yard sampai 600 yard. Dalam sejarah golf, hole in one di par 5 baru sekali dicetak oleh Shaun Lynch pada 1995. Ia melakukannya saat bermain di Teign Valley Golf Club, Christow, Inggris. Hole par 5 yang ditaklukkannya memiliki panjang 450 meter.

Dipublikasikan di Harian Bisnis dan Investasi KONTAN, 22 Agustus 2007

Duit di Sepakbola - 1

Danto, BBC.Com

Hak Siar Naik, Belanja Melejit

Liga Premiership mencetak rekor belanja tertinggi

LONDON. Tak perlu mengernyitkan kening jika membaca hasil survei belanja pemain yang dilakukan 20 klub Premiership Inggris musim 2007-2008. Deloitte Sports Group, lembaga survei olahraga di Inggris, menyatakan klub-klub liga utama Inggris itu telah menghabiskan 530 juta pounsterling atau setara Rp 10,017 triliun untuk belanja pemain pada masa transfer musim panas ini. Angka itu sama dengan separuh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah DKI Jakarta 2007 yang Rp 20,95 triliun.

Jumlah belanja musim ini naik duapertiga kali lebih tinggi dibanding belanja musim panas tahun lalu, yaitu 330 juta poun (Rp 6,237 triliun). Dari total belanja 530 juta poun itu, 265 juta poun (Rp 5 triliun) dibelanjakan untuk pemain dari luar Inggris. Sedang 110 juta poun (Rp 2,07 triliun) digunakan untuk membeli pemain dari sesama klub Premiership dan klub di divisi lainnya.

Dalam catatan KONTAN, dari 20 klub yang berlaga di Premiership, hingga bursa ditutup pada 31 Agustus lalu, tercatat ada 218 transaksi pemain yang lalu lalang di bursa transfer. Terdiri dari 111 pemain baru masuk klub, dan 107 pemain yang hengkang dari 20 klub itu.

Lalu, apa pemicu royalnya klub-klub dalam belanja pemain musim ini? Menurut Deloitte, penyebab utamanya adalah kehadiran pemilik baru beberapa klub dan melesatnya nilai jual hak siar Liga Premiership. Setidaknya ada tiga klub yang mendapat gelontoran dana berlimpah dari pemilik barunya. Yakni, Liverpool, Manchester City, dan West Ham United.

Dari hak siar, selama tiga musim ke depan Premiership memiliki angka penjualan hak siar televisi 1,7 miliar poun (Rp 32,13 triliun), lebih dari satu setengah kali APBD Jakarta 2007.

"Musim panas ini klub Premiership Inggris memecahkan rekor belanja pemain. Tapi sebenarnya itu tidak mengejutkan karena mereka akan menerima tambahan keuntungan dari hak siar 2007-2008 sebesar 300 juta poun," kata akuntan Deloitte, Paul Rawnsley, di London, Senin (3/9) waktu setempat.

Dalam hitung-hitungan Deloitte, dari 20 klub Premiership, 12 klub besar di antaranya menghabiskan lebih dari 20 juta poun (Rp 378 miliar) untuk memborong pemain. Sebagai gambaran, Manchester United menghabiskan 51 juta poun (Rp 963,9 miliar) belum termasuk transfer Carlos Tevez dari West Ham yang tidak diumumkan ke publik, Liverpool 50 juta poun (Rp 945 miliar), Tottenham Hotspur 40 juta poun (Rp 756 miliar), dan tim promosi Sunderland mengeluarkan hingga 35 juta poun (Rp 661,5 miliar).

Real Madrid paling royal

Deloitte juga melakukan survei terhadap klub-klub di luar Inggris. Real Madrid ternyata tercatat sebagai klub paling royal sejagat dalam belanja pemain. Musim panas lalu El Real menghabiskan 80 juta poun (Rp 1,52 triliun). Anggaran belanja mereka tersedot untuk menggaet Gabriel Heinze dari Manchester United dan Arjen Robben dari Chelsea. Bandingkan dengan rivalnya Barcelona yang hanya belanja 50 juta poun (Rp 945 miliar).

Deloitte menghitung pula, secara total belanja pemain di lima liga terbaik Eropa, yakni Inggris, Spanyol, Italia, Prancis, dan Jerman, mencapai 1 miliar poun atau setara Rp 18,9 triliun.

Dipublikasikan di Hariab Bisnis dan Investasi KONTAN, 5 September 2007

Sebening Embun Pagi: Inspirasi Elly Susilowati

Sebening Embun Pagi: Inspirasi Elly Susilowati

Inspirasi Elly Susilowati

Danto

Merajut Mimpi Sebelah Kaki (1)

Ketika memulai bisnis sepatu buatan tangan sendiri enam tahu silam, Elly Susilowati bisa dibilang bondo nekat alias bonek. Tak ada modal, juga kemampuan. Satu-satunya aset yang dimiliki hanyalah sebuah mesin jahit buatan 1970-an. Reyot di sana-sini. Meninggalnya suami karena stroke pada 2003 sempat membuat ia syok. Maklumlah, ketiga anaknya masih sekolah. Namun, itu membentuk tekadnya bak baja.

Kini, perlahan, mimpi menggapai bintang dengan sebelah kaki itu mulai tercapai. Tahun lalu, Elly meraih Entrepreneur Award UKM 2006 dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah dari hasil usaha kerasnya itu. Berikut kisahnya untuk Anda.

*****
*****
TAK sekali pun Elly Susilowati, 40 tahun, membungkukkan badan selama satu jam itu. Duduk tegap di kursi tanpa sandaran. Berpakaian kasual warna hijau, sikapnya terkesan cuek. Sungguh lepas tanpa beban. Dengan menumpangkan kaki kanan di paha kiri, tak sejenak pun Elly membuka sepatu yang menempel di kaki kanan itu selama hampir 45 menit awal dari satu jam lebih pertemuannya dengan KONTAN, di rumah sekaligus workshop, Jalan Siaga II No. 42, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (11/9).

Kaki kiri dia biarkan terbuka tanpa alas sebagai penopang. Belakangan ketahuan kenapa Elly agak menutup telapak kaki kanannya itu. “Kaki kanan saya memang agak sedikit bermasalah, dalam ukuran normal sebetulnya bernomor sepatu 39, tapi lebih gemuk dari itu. Namun, dari sinilah saya memulai bisnis sepatu hand made ini,” kata Elly.

Begitulah. Telapak kaki kanan Elly sebetulnya tak memiliki cacat khusus. Bentuknya pun tampak wajar, seperti kaki orang pada umumnya.

Namun, Elly berkisah, sungguh manja kaki kanannya tersebut. Setiap kali membeli sepatu buatan pabrik yang beredar, entah di supermarket atau di mana pun, hampir pasti tak ada ukuran yang pas buat kakinya. Kalaupun ada yang seukuran dengan kakinya, kerap ia merasa tak nyaman. Bentuk telapaknya yang sedikit gemuk, membuat dia harus sedikit menahan sakit jika memakai sepatu buatan pabrik.

Hobinya yang selalu ingin gonta-ganti sepatu, membuat mantan liaison officer alias pekerja perusahaan konsultan public relations itu berfikir membuat sepatu buatan tangan sendiri. Ibarat moto pegadaian: mengatasi kaki masalah dengan tanpa masalah. Begitulah dia berfikir.

Pada 2001, Elly "pensiun" dari pekerjaannya sebagai liaison officer. Memutar otak untuk membuka bisnis, mulailah Elly merealisasikan idenya. Membuat sepatu sesuai dengan anatomi kaki. Bermodal awal Rp 1 juta, dia membeli bahan sepatu dari kulit hewan, seperti kulit kambing, kulit sapi, kulit ular, dan berbagai jenis kulit binatang lainnya. Dari sisanya, Elly membeli cetakan sepatu dan sebuah mesin jahit tua buatan tahun 1970-an. Reyot di sana-sini. Untuk mendukung usahanya, Elly merekrut dua orang karyawan yang bisa membuat dan menjahit sepatu.

Modal awal yang minim tersebut diberi dari sang suami, Kuncoro -- kini sudah almarhum -- yang kala itu masih mengajar di balai latihan pramugari maskapai Garuda. Saat itu sang suami mulai terserang stroke.

Dengan modal kecil itu, jadilah satu per satu sepatu yang sesuai dengan anatomi kaki. Sepatu yang kemudian Elly pakai sendiri itu dia coba tawarkan ke kolega-koleganya. Wanita asal Garut, Jawa Barat, ini menjual keunikan produknya. Berbahan kulit asli, dan sesuai selera pemesan. Harganya dibanderol mulai Rp 300.000 hingga lebih dari Rp 1 juta. Jika ditilik-tilik, produknya memang tak kalah berkelas dengan sepatu impor kelas menengah ke atas.

Pengalaman bekerja sebagai pekerja public relations sangat mendukungnya berkenalan dengan banyak orang, termasuk pejabat-pejabat tinggi negara. “Saya khusus membidik pasar kalangan menengah ke atas,” katanya.

Pemasaran langsung dan dari mulut ke mulut itu membuahkan hasil. Kerabat dan kolega mulai mengorder sepatu buatannya. Pesanan mulai membanjir. Lantaran kewalahan, perlahan Elly mulai menambah karyawan. Kini Elly telah mempunyai 13 orang karyawan. Bersama karyawannya, Elly saat ini mampu meraih omzet hingga Rp 15 juta per bulan atau Rp 180 juta setahun. Untuk kelas industri rumahan dan kategori usaha kecil dan menengah, pendapatan sebesar itu sudah termasuk lumayan.

Elly sempat terpukul ketika sang suami meninggal pada 2003. Bisnisnya sedikit goyah. Ketiga anaknya, yang kala itu masih sekolah mulai dari SMP hingga SMA, membuat Elly sedikit kelimpungan. “Tapi di situlah saya mendapat dorongan, bahwa saya mampu mengembangkan bisnis ini dan melanjutkan studi anak-anak saya,” kata Elly.

Tekad bajanya kembali timbul. Elly serius membangun bisnisnya. Tak lama setelah sang suami meninggal, dia mendirikan sebuah perusahaan keluarga pembuat kerajinan tangan sepatu dari kulit buatan tangan dengan nama PT Ethree Abadi. Nama perusahaannya ini juga memiliki asal-usul sendiri.
(Bersambung)

******
******

Merajut Mimpi Sebelah Kaki (2)

Budaya bajak-membajak gagasan yang masih marak di Indonesia sempat juga membuat Elly khawatir. Tak ingin idenya ditiru orang, Elly langsung mematenkan hasil pemikirannya tersebut. Ketika dia membentuk PT Ethree Abadi, empat tahun silam, Elly langsung mendaftarkan merek sepatunya yang juga bernama Ethree ke Departemen Hukum dan HAM.

Ethree adalah kependekan dari kata Elly dan Three. Selain terkesan berasal dari merek impor, Ethree juga bisa diartikan sebagai Elly yang berputera tiga. Dia kini memajang produknya di workshop sekaligus rumah pribadi di Jalan Siaga II No. 42, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

*****
*****
SUNGGUH sibuk kini Elly menjalani hari-harinya. Dalam seminggu, wanita asal Garut, Jawa Barat, ini hanya sesekali menikmati libur akhir pekan. Sisanya habis untuk bertemu dengan klien. “Hari ini saya harus bertandang ke Departemen Perindustrian, antara lain bertemu dengan Fahmi Idris,” kata Elly, Selasa (11/9) lalu.

Ya, nama yang disebut Elly adalah Fahmi Idris, Menteri Perindustrian era Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat ini. Fahmi termasuk salah satu pemesan yang kini menjadi pelanggan sepatu buatan tangan made in Elly. Selain Fahmi, Elly mengaku memiliki klien lain, antara lain Menteri Usaha Kecil dan Menengah Surya Dharma Ali dan istri, mantan Menteri Perhubungan Agum Gumelar, Menteri Agama Maftuh Basyuni, pejabat di Sucofindo, dan sejumlah pejabat lainnya.

Elly agaknya memang tak bohong. Nama Fahmi Idris, misalnya, berada di urutan ke-11 daftar antrean pemesan pada papan berukuran 1 m x 0,5 m yang digantung di depan workshop-nya. Tepat di bawah nama Fahmi, tertera nama Diana Pungky, artis Indonesia. Selain kedua nama tenar itu, ada juga nama-nama lain yang masuk dalam antrean pemesan.

“Kini saya memiliki sekitar 1.000 pelanggan tetap, dua sampai tiga bulan sekali mereka pasti memesan sepatu baru,” kata Elly. Total pelanggan tetapnya itu merupakan 80% dari seluruh pasar yang kini dipegangnya.

Seluruh pelanggan setia itu terhimpun berkat kerja keras Elly. Semua memang tidak tercipta tiba-tiba. Lulusan SMA yang sempat mengecap pendidikan akademi itu semula melamar menjadi mitra binaan usaha kecil dan menengah (UKM) di Sucofindo, perusahaan BUMN yang bergerak di bidang inspeksi. Gayung bersambut. Pinangannya diterima. "Jangan lupa, setiap BUMN memiliki kewajiban untuk ikut serta membangun usaha kecil dan menengah, mereka juga mencari mitra," kata Elly.

Dia memang tak salah. Departemen Keuangan melalui Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 316/MK.016/1994 mewajibkan BUMN untuk menyisihkan 1%-5% dari laba perusahaan untuk pembinaan usaha kecil dan koperasi (PUKK).

Nah, dengan menjadi mitra binaan Sucofindo, Elly sibuk mengikuti berbagai pameran. Antara lain yang diselenggarakan oleh Kementerian UKM, Bank BNI, Dinas Perindustrian, Dinas Perdagangan, Sucofindo, dan Badan Pengembangan Ekspor nasional (BPEN).

Aktifnya berpameran ria makin menambah pembelinya. Pesanan pun kian bertambah. Karyawan pun ditambah dari semula hanya dua orang kini menjadi 13 orang. “Layaknya perusahaan pada umumnya, kami tetap menggaji pekerja sesuai dengan UMR (upah minimum regional). Kami sadar, karyawan adalah sumber daya dan aset kami yang tak ternilai,” kata Elly.

Dari merekalah sepatu bermerek Ethree dihasilkan. Elly dan karyawannya tak akan tiba-tiba memproduksi sebuah sepatu jika belum ada pesanan. "Di luar pelanggan, ada sekitar 50 pesanan yang datang dalam sepekan," kata Elly. Inilah yang menjadi jaminan karyawannya tak akan menganggur.

Lantas, bagaimana cara seorang pemesan memperoleh sepatu yang diordernya? Sebelum Elly berburu bahan sepatu kulit sesuai pesanan, si pemesan terlebih dulu akan diukur ukuran kakinya. Klien juga akan ditanya selera pesanannya. Setelah deal, maka Elly berburu bahan sepatu ke daerah-daerah.

Dengan puluhan pesanan itu, Elly mengorder bahan baku kulit asli dari kawasan Surabaya dan beberapa daerah lain di Jawa Timur. Kok jauh? Ya, karena yang dipesan adalah bahan sepatu asal kulit hewan yang tidak mudah dijumpai di sembarang tempat. Elly harus hunting ke pelosok untuk memburu bahan sepatu sesuai pesanan. Antara lain berasal dari kulit sapi, kulit ular, kulit kambing dan domba, dan pelbagai kulit lainnya.

Setelah bahan datang, barulah karyawannya menggarap sepatu itu. Tak ada seminggu, pesanan sudah bisa diambil. Pekerjaan bisa diselesaikan dengan cepat mengingat karyawan Elly sudah terbiasa membuat sepatu. Mereka sebagian besar kaum pria yang bekerja laiknya jam kantor di workshop.

Oh, ya, yang disebut workshop milik Elly adalah ruangan khusus tempat memproduksi sepatu-sepatu kulit tersebut. Tak luas memang. Besarnya sekitar 6 meter x 5 meter.
(Bersambung)

*****
*****

Merajut Mimpi Sebelah Kaki (Selesai)

Membutuhkan sedikit usaha untuk menemui workshop Elly di Jalan Siaga II No. 42, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Maklumlah, tempat itu sedikit tersembunyi. Letaknya tak jauh dari stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pejaten. Jika sudah ketemu, tengoklah, bagian utama workshop milik Elly. Tak besar memang. Luasnya hanya berukuran sekitar 6 meter x 5 meter.

Namun jika digabung dengan arena pajang sepatu yang sudah jadi dan ruang finishing produk, luas workshop milik Elly sekitar 325 meter persegi. Itu merupakan separuh dari total luas lahan tempat tinggal Elly yang jembar dengan ukuran total 600 meter persegi.

*****
*****
DARI luar, tak ada tanda-tanda rumah yang didiami Elly juga merupakan lokasi pabriknya. Di pintu keluar rumah, hanya ada sedikit penanda berupa neon box berukuran sebesar 80 cm x 40 cm bertuliskan Ethree Shoes, merek yang sudah dipatenkan Elly di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dari pekarangan rumah, bakal tak terlihat ciri ada tempat workshop. Soalnya, arena pajang itu ada di balik gerbang yang dibuat terpisah dengan pintu masuk rumah pribadi. Namun, tetap dalam satu pekarangan.

Gerbang penutup menuju workshop, yang letaknya di samping tempat kediaman, itu terbuat dari besi bercat cokelat dengan tinggi sekitar dua meter, menutup seluruh bagian workshop. Tak ada tanda-tanda di balik gerbang itu adalah tempat pabrik sepatu buatan tangan alias handmade.

Namun, jika sudah melewati gerbang, akan tampak pekerja-pekerja Elly yang berjumlah total 13 orang sibuk menggenjot mesin jahit sepatu dan merangkai pesanan klien. Asal Anda tahu, mereka bekerja seperti orang kantoran. Mulai kegiatan sekitar jam 08.00 pagi dan selesai pukul 17.00.

Dari lokasi inilah Elly mengendalikan seluruh bisnisnya. Selain melakukan roadshow menemui klien, Elly mengawali hari dari rumah tersebut ke tempat lokasi penjualan sepatunya.

Tekad mengembangkan usaha membuat ia tak terpaku pada workshop. Otak pun diputar. Maka, sejak setahun lalu, wanita kelahiran Garut, Jawa Barat, 27 Agustus 1967, ini mulai berfikir membuka tempat usaha di pusat-pusat perbelanjaan.

Sebagai langkah awal, tahun lalu Elly mencoba membuka gerai produknya di Cilandak Town Square atawa biasa disebut Citos, Jakarta Selatan. Gerainya bisa ditemui di Galeri Usaha Kecil dan menengah (UKM) lantai dasar pusat perbelanjaan tersebut. "Tapi, dibanding hasil roadshow saya, pendapatan di gerai itu masih kalah jauh," kata Elly.

Elly semakin giat melebarkan pasarnya. Awal Agustus 2007 lalu, dia kembali membuka gerai serupa di lantai satu UKM Center Waduk Melati, Jakarta Pusat. Selain roadshow dan membuka dua gerai, Elly tetap aktif berpameran ria. Dari sanalah produknya mulai terkenal. Elly mulai menuai hasil.

Kini, berbagai piagam penghargaan menghiasi dinding workshop-nya. Mulai dari penghargaan produsen sepatu hand made dari Suku Dinas Perindustrian Jakarta, penghargaan Asean Women Executive Golden Award 2006, dan yang paling membuat Elly sumringah adalah penghargaan dari Kementerian Koperasi dan usaha Kecil dan Menengah berupa Entrepreneur Award UKM 2006.

Melalui penjualan langsung, keaktifan mengikuti pameran, dan membuka dua gerai Elly kini bisa membukukan penghasilan bersih antara Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per bulan. “Tapi, pendapatan paling besar berasal dari hasil penjualan langsung ke kolega saya,” kata Elly.

Dari pendapatan itu, kini tiga anak laki-lakinya lancar mengenyam pendidikan. Anak pertama tengah menyelesaikan ujian skripsi di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta Selatan. Anak kedua telah lulus dari sebuah akademi perhotelan. Dan, anak terakhir masih duduk di bangku sekolah sebuah pondok pesantren di bilangan Jakarta Selatan.

Sampai di sini Elly masih tetap memegang teguh falsafah seorang wirausaha: tak cepat puas dengan hasil yang dicapai.

Lantas, apalagi yang ingin digapai lulusan sebuah sekolah menengah atas (SMA) di Jakarta itu? Tak lain dan tak bukan persoalan permodalan. Minimnya modal membuat langkahnya menembus pasar ekspor masih sebatas mimpi.

Ada, sih, pembeli dari mancanegara yang sudah merasakan produknya. Namun, selama ini hal tersebut baru sebatas perseorangan. Itu pun yang mengikuti pameran produknya. Elly masih berharap pemodal mau bekerja sama dengan sektor UKM seperti yang dijalaninya.

“Tapi doakan saja, akhir tahun ini akan ada investor yang berniat membantu usaha saya, mudah-mudahan usaha yang telah saya rintis bisa semakin berkembang,” Elly berharap.

Jalan kesuksesan memang sudah terbentang. Ternyata, dengan sebelah kaki, merajut mimpi menggapai bintang di langit bisa juga digapai. Kuncinya mau berusaha. Kendati awalnya hanya bermodal nekat. Elly buktinya.
(Tamat)

Dipublikasikan di Harian Bisnis dan Investasi KONTAN, 20-22 September 2007

Peluang Bisnis Ikan Patin Bangkok

Danto

Usahanya Bisa Kapan saja, di Mana saja

Mengukur peluang usaha penangkaran ikan patin bangkok

JAKARTA. Sebagian dari Anda pasti sudah merasakan empuknya daging ikan patin. Dagingnya gurih, juga tak banyak duri. Tak heran, ikan patin menjadi menu favorit di banyak rumah makan. Kepopuleran itu meninggikan permintaan akan ikan patin.

Nah, ternyata para pembudidaya ikan patin ini kebanyakan tak melakukan penangkaran benih sendiri. Sebagian besar memasok bibit dari beberapa daerah, seperti dari Bandung, Sukabumi, Riau, dan Jambi. Permintaan benih ikan patin selalu tinggi. Uniknya, pembenihan patin terbukti tak selalu dikembangkan dalam skala besar. Bisa juga skala rumahan. Inilah yang membuat pemijahan patin bisa dilakukan siapa saja, kapan saja, di mana saja.

Simak pengalaman Andre Nasution, 32 tahun. Sudah lima tahun Andre mengembangkan pembenihan patin skala rumahan di Sukabumi. Ada dua jenis ikan patin, yakni patin jambal (pangasius djambal) yang asli Indonesia, dan patin bangkok (pangasius hypophthamus), yang berasal dari Bangkok, Thailand. Nah, yang bagus untuk budidaya pemijahan alias penangkaran, kata Andre, adalah patin bangkok. “Permintaannya banyak, saya sendiri menyuplai petani sekitar 100.000 benih patin bangkok per bulan,” kata Andre kepada KONTAN.
Pelanggan Andre adalah para petani yang berasal dari daerah Sumatra dan Kalimantan. Harga anakan ikan patin bangkok ukuran satu inci bisa mencapai Rp 110 per ekor. Dalam sebulan, omzet Andre bisa hingga Rp 11.000.000. Padahal, modal awal terbilang murah. Hanya butuh kolam dan sejumlah aerator penghasil oksigen serta beberapa akuarium ukuran sedang.

Bisa dengan kolam ukuran 2 m x2 m

Lahan untuk penangkaran tidak memakan area luas. Bisa dilakukan di belakang rumah. Tempat pemijahan bisa berupa kolam tanah atau bak tembok (bak hatchery). Sebagai gambaran, untuk satu pasang patin bangkok indukan seberat 3 kg hanya memerlukan luas kolam sekitar 2 m x 2 m. Jika mau hasil lebih maksimal, kolam bisa diperluas hingga 18 m2. “Satu indukan bisa menghasilkan ratusan ribu larva patin,” kata Andre.

Harga indukan patin bangkok berbeda dengan patin jambal. Harga jambal Rp 8.600 per kilogram. "Sedang sepasang induk bangkok yang seberat 2,5 kg-3 kg harganya bisa mencapai Rp 800.000,” kata Andre. Benih bisa didapat dari Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Departemen Kelautan dan Perikanan.

Untuk memaksimalkan hasil anakan patin, pasanglah aerator di kolam atau bak itu, sehingga pasokan oksigen terjaga. Proses pembenihan dilakukan dengan menginduksi induk jantan dan betina dengan hormon perangsang pembuahan. Telur yang dihasilkan indukan betina dicampur dengan benih dari indukan jantan di bak penampungan selama 18 jam hingga 20 jam. Telur akan menetas dan berubah menjadi larva. Sebulan dapat dihasilkan anakan berukuran satu hingga tiga inci sebanyak 200.000 ekor.

Benih ikan patin yang berumur 1 hari dipindahkan ke dalam akuarium berukuran 80 cm x 45 cm x 45 cm. Setiap akuarium diisi dengan air sumur bor yang telah diaerasi. Agar hasilnya maksimal, tebarlah 500 ekor anakan per akuarium. Aerator ditempatkan pada setiap akuarium agar keperluan oksigen tercukupi. Untuk menjaga kestabilan suhu ruangan dan suhu air, gunakanlah heater.

Benih umur sehari tak perlu diberi makan tambahan dari luar, sebab masih punya cadangan makanan berupa yolk sac atau kuning telur. Di hari ketiga, benih diberi makanan tambahan berupa emulsi kuning telur ayam yang direbus. Selanjutnya berangsur-angsur diganti dengan makanan hidup berupa moina cyprinacea atau biasa dikenal kutu air dan jentik nyamuk. Setelah berusia satu hingga tiga minggu, anak ikan patin dipindahkan ke kolam pembesaran. Saat inilah, Andre menjual anakan ke petani.

Harian Bisnis dan Investasi KONTAN, 30 Oktober 2007

Inspirasi - 5 (Jadin C. Jamaluddin)

Danto

Kidung Senja dari Batas Kota Gudeg (1)

Dari pinggiran Yogyakarta, Jadin C. Jamaluddin menjadi raja tenun selama 21 tahun. Membangun bisnis pada 1985 di Kota Gudeg, usaha Jadin berkembang hingga ke mancanegara. Dari mulai Jepang, Singapura, hingga Eropa. Omzetnya ratusan juta rupiah per tahun.

Pada 15 Maret 2002, semua aset ludes terbakar. Berhasil bangkit. Bencana kembali datang. Goyangan lindu yang dahsyat, 27 Mei 2006, membuat semuanya hancur. Luluh berantakan. Kali ini berat. Usahanya mati suri. Mencoba sedikit-sedikit bangkit. Bagaimana potret dan riwayatnya? Ikuti kisahnya.

****
****
27 Mei 2006. Hari baru sejenak memicingkan matanya. Embun pun baru saja hinggap di bumi. Geliat pagi sebentar mampir ke Bantul, pinggiran Kota Yogyakarta. Ketika orang-orang melepas gelungan sarung di kamar tidur, petaka itu datang tanpa permisi. Gempa mengagetkan semua yang ada.

Telepon genggam Jadin C. Jamaluddin, kini 60 tahun, yang kala itu berada di Jakarta meraung-raung. Malam sebelumnya, Jadin baru saja mendarat di ibukota untuk sebuah acara Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API).

Wiwik Chandra Kartikawati, sang istri, pagi itu sembari sesenggukan mengabarkan dari Jogja, bumi yang dipijaknya berguncang hebat. Rumah yang ditinggali bersama lima anaknya itu bergemeretak. Suaranya membuat bulu kuduk bergidik. Di luar rumah, orang-orang berlarian berteriak, ”Gempa..., gempa…, gempa!” Semua tunggang langgang. Dan, selanjutnya rumah-rumah kampung itu rontok bak daun kering tertiup angin.

Empat bangunan di satu area di Karangnongko, Panggung-harjo, Bantul, Yogyakarta, milik Jadin hancur lebur. Gudang tenun seluas 300 meter persegi luluh. Laboratorium tekstil tradisional seluas 240 meter persegi rontok. Pabrik tenun seluas 750 meter persegi roboh. Dan, rumah sekaligus kantornya seluas 600 meter persegi hancur berantakan. “Yang tersisa hanya 40% dari bangunan pabrik saya,” kata Jadin, menerawang.

Belum selesai rapat di Jakarta, pagi buta itu Jadin bergegas ke Bandar Udara (Bandara) Soekarno-Hatta, Tangerang. Hati gundah bukan kepalang. Berita dari televisi dan radio terus mengabarkan berita terbaru dari Jogja. Kegelisahan bertambah lantaran tak gampang mendapat tiket pesawat. Jadin, yang sedari pagi berada di Bandara Soekarno Hatta, harus rela antri beli tiket. Bandara kali itu mendadak penuh sesak. Penumpang tiba-tiba membludak. Semua satu tujuan: Jogja.

Baru pukul 19.00 malam Jadin bisa meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta. Rute pesawat yang ditempuh pun harus melalui Solo. Bandara Adisutjipto Jogja tak memungkinkan untuk didarati pesawat. Hati sedikit plong ketika mendapati keluarga semua selamat. Kendati, tentu saja, seluruh bangunan dan properti miliknya hancur lebur. “Semua berserakan tak terkendali, tapi saya bersyukur masih bisa berkumpul kembali dengan keluarga,” kata Jadin.

Inilah sepenggal kisah dari Bantul. Kidung layu dari kota di batas Jogja. Hari-hari bisnis Jadin mendekati titik nadir. Puluhan penghargaan sebagai pelestari budaya dan pebisnis tekstil tradisional, tinggallah tersisa jadi onggokan sampah. Usahanya mati suri. Ibarat hari, umur bisnisnya sudah di batas senja. Temaram.

Dan, Jadin tak sendiri. Ada 5.000 usaha kecil dan menengah (UKM) di Bantul, dan total 68.000 UKM di Yogya, yang terancam bangkrut karena gempa dahsyat itu. Semua terlilit utang. Pinjaman ke bank macet. “Kami minta moratorium, tapi tak pernah ada tanggapan,” kata Jadin.

Apa boleh buat, kendati terhimpit sana-sini, Jadin mencoba kembali menata bisnisnya yang luluh oleh lindu. Modal tak ada. Utang ke bank terus membengkak. Akibatnya, bak keong, Jadin susah-payah membangkitkan kembali bisnis yang sudah dibangunnya lebih dari 20 tahun. Untuk sementara, usahanya macet. Sangat berat untuk kembali bangkit.

Begitulah. Jika saja tak ada gempa itu, Jadin masih aktif berkeliling. Memperkenalkan produk tenun tradisionalnya, juga rapat di berbagai organisasi. Sayang, guncangan dahsyat membuyarkan aktifitasnya. Sebelum lindu melanda, Jadin sosok sohor di Bantul. Dialah yang merajai kerajinan tekstil rumahan di kota berpenduduk 800.000 jiwa itu. Jadin sebelumnya bolehlah menepuk dada.

Pada 10 November 1985, adalah awal semua mata di kota kecil seluas 508,85 km2 itu tertuju pada Jadin. Bertepat-an dengan peringatan hari pahlawan nasional kala itu, Jadin mendirikan sebuah perusahaan tekstil tradisional dengan nama PT Pancaran Harapan Nusa (PT PHN). Ini adalah nama baru dari nama sebelumnya yang merupakan pusat studio tenun tradisional di Jogokaryan, Yogyakarta.

Ya, Jadin merintis usaha di Jogokaryan, Yogyakarta, sebelum kemudian pindah ke Bantul akibat bencana kebakaran pada 2002. Nama studio sebelum dititeli PT PHN terbilang unik: Rumah Tenun Charindra. Sebutan itu memiliki makna sebagai pusat tenun dari Charindra. Charindra adalah anak pertama Jadin yang diabadikan menjadi pusat kerajinan tekstil tradisional itu.

Jadin bunggah karena peresmian studio dan PT miliknya kala itu menghisap perhatian warga Yogyakarta. Peresmiannya dilakukan “orang pusat”, yakni Direktur Jenderal Industri Kecil Departemen Perindustrian yang ketika itu dijabat Trisura Suhardi.
(Bersambung)

************
Kidung Senja dari Batas Kota Gudeg (2)

Julukan juragan tenun tradisional sudah disandang Jadin C. Jamaluddin sejak 21 tahun lampau. Pada 10 November 1985, semua mata di Yogyakarta tertuju ke Jadin. Ketika itu Jadin mendirikan perusahaan tekstil tradisional dengan nama PT Pancaran Harapan Nusa (PT PHN).

Ini adalah nama baru dari nama sebelumnya yang merupakan pusat studio tenun tradisional milik Jadin di Kota Pelajar. Namanya Rumah Tenun Charindra. Peresmian PT miliknya dilakukan “orang pusat”, yakni Direktur Jenderal industri Kecil Departemen Perindustrian, ketika itu dijabat Trisura Suhardi.

****
****
JIKA peresmian PHN milik Jadin diramaikan oleh para pembesar negeri ini, tidaklah mengherankan. Sebelum membuat studio mini tenun dan PT PHN itu, Jadin adalah seorang pengusaha garmen di Jakarta. Sebagai businessman, Jadin sangat dekat dengan semua pejabat. “Hanya karena kekaguman saya akan keindahan dan keanekaragaman tekstil tradisional yang kaya akan motif, yang membuat saya kembali ke Jogja,” kata Jadin.

Sejak saat itu Jadin pun resmi memiliki usaha tenun tradisional. Tak mulus, memang. Lantaran dana cekak, Jadin meminjam duit dari bank untuk modal awal. Besarnya Rp 15 juta. Kala itu meminjam duit dari bank bukanlah hal sulit. Kebetulan juga ada fasilitas kredit investasi usaha kecil dan kredit modal kerja alias KIK dan KMK. Agar tujuan lancar, tak lupa Jadin merekrut 12 orang karyawan.

Di Jogokaryan, Yogyakarta, inilah Jadin bersama para karyawannya mengkreasi tenun tradisional dengan polesan modern. Tak gampang membangun usaha bidang ini. “Pada saat itu kami termasuk melawan arus. Sebab pada ketika itu arus besar pembangunan ekonomi tengah bergerak ke pilihan-pilihan kegiatan ekonomi modern dengan industrialisasi sebagai wacana aksinya,” jelas Jadin panjang lebar.

Kala itu, tekstil tradisional sedang mengalami musim rontok. Seni tenun klasik tengah bergerak ke arah tekstil industri. Jadin tak menyerah. Dengan memberikan sentuhan mode yang segar, modifikasi warna, desain, dan ukuran, Jadin mampu mengembangkan bisnis tradisionalnya.

Semula pemasaran dilakukan dari mulut ke mulut. Berbekal pengalaman sebagai pengusaha garmen, Jadin ikut menawarkan hasil karyanya ke kolega. Pemasaran sederhana itu ternyata berhasil. Tenun hasil kreasinya diminati. Agar hasil ciri khasnya tak ditiru orang, Jadin menggunakan merek Jadin Craft Textile. Di kemudian hari, yakni pada 19 Maret 1999, merek batik tenunnya dipatenkan ke Departemen Kehakiman.

Setahun menjalankan bisnis, pesanan sudah berkembang. Pesanan dari Kalifornia, Amerika Serikat, tiba-tiba mampir ke meja Jadin. “Jumlahnya sangat lumayan kala itu,” kata Jadin. Yang diekspor adalah bahan gorden penutup pintu rumah kaca. Tentu saja bahan itu tenunan khas Jadin.

Itu adalah ekspor pertamanya. Setelah itu, pesanan kian membludak. Kebutuhan pasokan kian berkurang. Supaya tak keteteran, Jadin menambah karyawan. Pada 1987, atau dua tahun berselang, jumlah karyawan Jadin sudah mencapai 300 orang. Mereka direkrut dari kampung sekitar. Tenaga-tenaga penenun rumahan.

Agar pemasaran kian berkembang, Jadin mulai aktif berpameran, termasuk luar negeri. Kala itu, bisa berpameran di mancanegara sudah merupakan gengsi tersendiri. Jadin mulai aktif berpameran ria, antara lain di Jepang, kemudian merambah ke Amerika Serikat, Italia, Malaysia, Singapura, Jerman, dan Belanda.

Di dalam negeri, Jadin kemudian sangat aktif berperan serta dalam Pameran Produk Ekspor (PPE) yang kini rutin digelar tiap tahun. Tak lupa, Jadin menjadi pelanggan setia pengisi stan pameran Inacraft.

Tujuh tahun kemudian, usaha Jadin mulai menapaki titik sukses. Pada 1992, Jadin meraih penghargaan Small Scale Entrepreneur Award yang diselenggarakan oleh IBM-Rotary. Dua tahun kemudian, Jadin juga menggaet penghargaan Paramakarya dari Presiden Soeharto di bidang produktivitas usaha. Dengan penghargaan itu dan keaktifan berpameran, bisnis Jadin cepat berkembang. Omzet pun kian meningkat. “Jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah per tahun,” kata Jadin.

Setelah pesanan semakin membanjir, mau tak mau Jadin harus menggenjot produksi. Strategi bisnis pun diubah. Agar lebih efektif, Jadin kemudian mengoper pembuatan tenun tradisional ke perajin-perajin di kawasan Bantul. “Hasilnya, saat itu saya mengurangi jumlah karyawan dari 300 menjadi 70 orang lagi, sebab semua pesanan saya sub-kontraktorkan,” kata Jadin.

Strategi ini ternyata cukup berhasil. Produksi lebih efektif, biaya lebih efisien. Pemasaran pun kian oke. Nama Jadin kian berkibar. Pada awal Februari hingga akhir Maret 1995, Jadin terpilih sebagai wakil pengusaha kecil Indonesia untuk ikut program International Marketing di Curtin University Perth, Australia. Jadin dipilih melalui proyek Overseas Training Office (OTO) Bappenas melalui Dewan Penunjang Ekspor (DPE).

Sebulan kemudian, Jadin kembali terpilih mengikuti Business Mission ke Singapura, Johor Baru, dan Kuala Lumpur bersama Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) Yogyakarta dan Pemda Yogyakarta.
(Bersambung)


**************************

Kidung Senja dari Batas Kota Gudeg (3)

Pada tiga bulan pertama 1995, Jadin C. Jamaluddin memasuki puncak bisnisnya. Dia terpilih sebagai wakil pengusaha kecil Indonesia untuk ikut program International Marketing di Curtin University Perth, Australia. Jadin terpilih melalui proyek Overseas Training Office (OTO) Bappenas melalui Dewan Penunjang Ekspor (DPE).

Sebulan kemudian, Jadin kembali terpilih mengikuti Business Mission ke Singapura, Johor Baru, dan Kuala Lumpur bersama Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) Jogja dan Pemerintah Daerah Yogyakarta. Saat itu Jadin betul-betul tengah berkibar.

****
****
ANGIN tengah berpihak ke Jadin C. Jamaluddin. Semua mata tertuju padanya sejak awal 1995 itu. Setelah dua kali terpilih sebagai delegasi Indonesia ke luar negeri, setahun berselang, Jadin kembali terpilih mengikuti program Study Mission And Investment Mission untuk Indonesia Furnishing melalui Japan Exsternal Trade Organization (Jetro).

Prestasi Jadin tak berhenti di situ. Pria beranak lima kelahiran Yogyakarta, 15 September 1947, ini kembali menyabet penghargaan. Setelah meraih dua penghargaan: Small Scale Entrepreneur Award yang diselenggarakan oleh IBM-Rotary pada 1992 dan penghargaan Paramakarya dari Presiden Soeharto di bidang produktivitas usaha pada 1994, Jadin menggaet ASEAN Development Citra Award dari ASEAN Program Consultant pada 1997. “Yang membuat saya bangga, setelah itu banyak tamu negara maupun pejabat penting datang ke kami,” kata Jadin, mengenang.

Layaknya sifat manusia, tak pernah ada kata puas. Obsesi Jadin ternyata belum sirna. Setelah cukup sukses dengan usahanya, Jadin kemudian menggandeng PT Astra International. Bersama produsen otomotif kelas atas Indonesia itu, Jadin mendirikan Galeri Museum Tekstil dan Kerajinan. Peresmian saat itu dilakukan Menteri Perindustrian dan Perdagangan yang kala itu dijabat Rahardi Ramelan, pada 2 Maret 1999.

Tujuh bulan kemudian, Jadin melebarkan sayap dengan mendirikan Koperasi Nusa Usaha Bersama. Agar masih berada di bawah kendalinya, koperasi dipimpin oleh sang istri, Wiwik Chandra Kartikawati. Koperasi ini beranggotakan 200 orang.

Dengan koperasi itu, Jadin berusaha menyejahterakan seluruh pekerjanya. Melalui koperasi ini, Jadin mendirikan anak usaha penunjang bisnis utamanya. Salah satunya ialah mendirikan toko kebutuhan bahan-bahan pokok dan bahan baku tekstil kerajinan, serta pabrik benang. Koperasi juga berfungsi sebagai penyedia informasi soal desain, produksi, dan teknologi peralatan tenun tradisional. Lengkap sudah gurita bisnis tenun Jadin.

Hanya kenikmatan itu tak berlangsung lama. Roda kehidupan mesti berputar. Apa yang harus terjadi, terjadilah. Semua berlangsung tiba-tiba. Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Kemapanan usaha yang sudah dirintis selama belasan tahun harus sirna dalam sekejap.

Pada 15 Maret 2002, kebakaran hebat melahap seluruh aset PT Pancaran Harapan Nusa (PT PHN), termasuk tempat tinggal Jadin seluas 600 meter persegi di Jogokaryan, Yogyakarta. Semua ludes. “Selama beberapa bulan kemudian, kami sekeluarga, termasuk lima anak saya tinggal di kos seluas satu petak kamar,” kata Jadin.

Apa boleh buat. Semua harus dihadapi. Bisnis harus kembali dibangun. Setelah musibah kebakaran itu, Jadin kemudian memindahkan semua aktivitas bisnisnya dari Jogokaryan, Yogyakarta, ke Karangnongko, Panggungharjo, Sewon, Bantul. Perlahan Jadin membangun kembali usahanya. Sedikit-sedikit lama jadi bukit. Begitulah. Jadin berhasil kembali menggeliatkan usahanya.

Agar usaha cepat berkembang, Jadin menggandeng Pemda Yogyakarta, Permodalan Nasional Madani (PNM), dan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API). Melalui API inilah, PT PHN kemudian ditunjuk sebagai Central Pengembangan Sutra Alam Indonesia. Usahanya bangkit.
Pada 2005, PT PHN mengembangkan tempat usaha terpisah dari pabrik dan kantor. Dua tempat itu dijadikan galeri. Jadin kemudian membangun sebuah laboratorium coloring warna sekaligus tempat pencelupan atau pewarnaan tenun seluas 240 meter persegi. Jadin juga mendirikan gudang tenun seluas 300 meter persegi.

Petaka kembali datang. Pagi buta pada 27 Mei 2006, gempa meluluhlantakkan semua asetnya. Yang tersisa hanya 40% bangunan pabrik. Usahanya mati suri. Sisa tunggakan ke bank masih menumpuk. Bisnis tak jalan. Mencoba minta moratorium alias penundaan pembayaran utang ke bank. Tak ada tanggapan.

Dari Jakarta, Selasa (9/10) lalu, kabar segar berkumandang. Dari kantor Wakil Presiden, sejumlah pejabat negara menyetujui keringanan utang milik sekitar satu juta pengusaha kecil menengah, yang mempunyai kewajiban kurang dari Rp 5 miliar di bank BUMN.

Cicilan pokok UKM bakal dihapus alias haircut sebesar 25%. Total utang macet UKM yang bakal kena diskon senilai Rp 17,9 triliun. Senangkah Jadin? Ternyata tidak. “Haircut itu khusus untuk pinjaman di bank BUMN, saya pinjam di Permodalan Nasional Madani (PNM), yang meski BUMN tapi non-bank dan tak termasuk skim itu. Alhasil saya tak ikut merasakannya,” kata Jadin.

Apa boleh buat. Angin yang semula terus berpihak ke Jadin, kali ini enggan mampir. Bisnis Jadin masih temaram. Kidung senja masih melantun dari batas Kota Gudeg.
(Selesai)

Dipublikasikan di Harian Bisnis dan Investasi KONTAN, 16-18 Oktober 2007

Peluang Bisnis

Danto

Menguyah Laba dari Bandeng Tak Bertulang

Menakar peluang bisnis bandeng tanpa duri

JAKARTA. Anda pernah makan bandeng tanpa duri alias tandu? Yang pasti daging terasa empuk, karena duri dalam bandeng tandu yang berjumlah 164 helai, sudah diseset alias dibuang. Rasanya yang enak dan empuk, membuat permintaan bandeng tanpa duri ini tinggi. Bandeng jenis ini juga laku di rumah makan-rumah makan. Peluang ekspornya juga terbuka lebar.

Bandeng alias milk fish sejatinya merupakan salah satu ikan air payau. Ikan jenis ini banyak dibudidayakan petambak di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Berbeda dengan bandeng presto dan bandeng asap yang diproses menggunakan pemanasan dan tekanan tinggi, bandeng tandu diproses hanya dengan mencabut duri dalam daging bandeng dengan menggunakan pinset.

Inilah yang membuat bandeng ini terasa empuk dan nikmat. Juga bergizi tinggi karena alami.
Syafiudin Mohamad, 37 tahun, sudah merasakan betapa nikmatnya rezeki dari ikan dengan nama latin Chanos chanos ini. Bersama kelompok petambak di Kedungcangkring, Sidoarjo, Jawa Timur, Syafiudin telah 12 tahun menggeluti budidaya bandeng. Mereka kini mengelola 40 hektar tambak.

Dari total tambak itu, sekali panen dalam satu hektar bisa menghasilkan uang sebesar Rp 4,3 juta. Dalam 40 hektar tambak, total duit yang diraup mencapai Rp 172 juta.

Begini. Dalam satu hektar tambak, biasanya ditanami 2.000 benih bandeng alias nener. Satu siklus panen berlangsung sekitar empat hingga lima bulan. Setelah melewati masa itu, nener berkembang. Otomatis berat badannya bertambah. Dari semula nener yang cilik itu, berat bandeng bisa mencapai 400 gram per ekor pada saat panen.

Dalam satu kali siklus, dari 2.000 benih bandeng yang ditanam, kemungkinan gagal alias yang mati sebesar 10% atau sebanyak 200 ekor. Artinya dalam sekali panen si petambak memanen tak kurang dari 1.800 ekor bandeng.

Di tingkat petambak, harga bandeng panen biasa alias belum yang masih memiliki duri bisa mencapai Rp 6.000 per kilogram. Jika ditotal, hasil sekali panen sebesar Rp 4,3 juta per hektar.

Jumlah ini berasal dari 1.800 bandeng dikali harga Rp 6.000 dikali 400 gram, hasilnya Rp 4,32 miliar. Karena hitungan harganya per kilogram, maka Rp 4,32 miliar itu dibagi 1.000 (1 kg = 1.000 gram), hasilnya Rp 4,32 juta. Maka, dalam waktu lima bulan si petambak bisa menghasilkan uang sebesar Rp 4,32 juta dalam setiap hektar tambak.

Hanya modal pinset

Itu adalah hasil panen bandeng biasa. Jika durinya sudah dibuang alias dibuat bandeng tanpa duri, harga per kilogram mencapai dua kali lipat atau mencapai Rp 8,6 juta per hektar. “Padahal ongkosnya tak mahal,” kata Syafiudin, Senin (1/10/07).

Untuk menghasilkan bandeng tanpa duri, memang butuh kerja tambahan. Agak ribet karena membutuhkan agak banyak tenaga. Untuk menyeset duri, bisa membayar tenaga borongan. Selebihnya, "Cuma butuh pinset saja,” katanya. "Jangan lupa cara membelah bandengnya dari punggung hingga tembus ke bibir ikannya."

Untuk mengawali usaha ini, siapkan lahan tambak. Jumlahnya tergantung kemampuan. Makin luas makin baik. Tanamlah tambak itu dengan 2.000 nener per hektar. Benih bandeng ini bisa didapatkan di petambak bandeng. Atau jika kesulitan, Syafiudin mengaku siap memasok benihnya. Harga nener hanya Rp 60 per ekor. Dengan 2.000 ekor, artinya modal awal hanya Rp 120.000 per hektar.

Agar nener cepat berkembang, alirkan air baru ke tambak secukupnya setiap dua minggu sekali. “Itu untuk menjaga sirkulasi udara dalam tambak,” kata Syafiudin. Karena bandeng termasuk ikan yang bisa memakan tumbuh-tumbuhan tambak, maka petambak tinggal memancing tumbuhan itu tumbuh.

“Caranya dengan menaburkan urea ke tambak. Dalam satu siklus, jumlahnya tak lebih dari lima kilogram per hektar,” kata Syafiudin.

Saat memanen, usahakan bandeng tandu itu langsung dimatikan. “Ini untuk menjaga agar tak ada infeksi pada bandeng itu,” kata Syafiudin. Bandeng pun siap dibuang durinya dengan pinset.

Setelah selesai, bandeng tanpa duri ini siap dipasok. Di pasar domestik, bandeng minus duri laku dijual ke rumahan atau rumah makan. “Saya baru memasok untuk kawasan Surabaya, Banyuwangi, Mojokerto, dan sekitarnya,” kata Syafiudin.

Harian Bisnis dan Investasi KONTAN, 10 Oktober 2007

Persaingan Telekomunikasi

Saling Jegal di Arena GSM

Operator seluler kian gencar beradu strategi untuk menggaet pelanggan baru

JAKARTA. Last man standing. Siapa bertahan, dia yang memenangi pertempuran. Seperti itulah kira-kira persaingan dunia bisnis telekomunikasi ke depan. Saling hadang, saling bunuh.

Kini, tanda-tanda itu sudah terasa. Yang paling kentara adalah perang tarif di teknologi telekomunikasi berbasis global system for mobile communications (GSM), yang kian terpengaruh oleh si pendatang baru berbasis layanan code division multiple access (CDMA).

Dari tujuh operator kini, hampir setiap saat mengeluarkan jurus jitu dengan cara berpromosi tarif semurah-murahnya. Yang terbaru adalah PT Telkomsel Tbk, yang meluncurkan kartu perdana Simpati Pede dengan tarif promo Rp 0,5 per detik, dua hari lalu.

Yang menarik, Telkomsel memangkas tarif Simpati tak lama setelah Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mewajibkan perusahaan tersebut menurunkan tarif hingga 15%.

Namun, Telkomsel membantah penu-runan itu terkait dengan vonis KPPU. "Ini tidak ada kaitannya dengan KPPU. Kami semata ingin memberi pilihan layanan ke pelanggan," kata Suryo Hadiyanto, juru bicara Telkomsel. Total pelanggan Telkomsel kini 46 juta, 23 juta di antaranya adalah pengguna kartu Simpati.

Telkomsel juga mengalokasikan anggaran 15% dari belanja modal Rp 15 triliun pada 2008 untuk mendukung inovasi dan layanan nilai tambah (value added services) produk Telkomsel. Adapun 85% dari belanja modal diperuntukkan bagi infrastruktur seperti pembangunan menara base transceiver station (BTS).

Siasat terbaru Telkomsel tersebut sejatinya merupakan reaksi dari operator-operator lain yang telah menggelar promosi terlebih dulu. Sebut misalnya promosi bagi pengguna Xplor Classic dari PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL), program Rp 0 alias Freetalk Rp 5.000 dari PT Indosat Tbk, dan program Rp 1 per menit dari Hutchinson, operator 3.

Bahaya bagi pendatang baru

"Kami yakin dengan harga yang kami tawarkan. Buktinya, program seperti ini juga dilakukan operator lain,” kata Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi.

“Ada aksi, pasti ada reaksi,” kata pengamat telekomunikasi Mas Wigrantoro Roes Setiyadi. Satu strategi dari satu operator, pasti akan selalu diikuti operator lainnya. Nah, persaingan ini yang bisa berdampak buruk bagi pendatang baru. “Jika dia banting harga, dan sampai akhir target pelanggan tak juga bertambah, dia akan terus merugi,” kata Mas Wigrantoro. Ujungnya bisa sangat berpengaruh pada kinerja. Pahitnya, bisa jadi pecundang sebelum menang. Memang, tarif hanyalah satu komponen dari variabel lainnya, termasuk coverage.

Agaknya pertempuran bakal awet. Hasnul bilang, XL tetap mempertahankan strategi saat ini untuk menggaet dan mempertahankan pelanggan.

Danto, Sandy Baskoro

Harian Bisnis dan Investasi KONTAN, 12 Desember 2007

Internet Kini

Danto

Persaingan Ekstra Ketat di Tengah Pasar yang Menganga

Perusahaan penyedia internet (ISP) beramai-ramai membidik pelanggan korporat

JAKARTA. Dunia kini bisa dilihat dalam sekotak komputer. Tak ada lagi batas-batas wilayah. Kata Anthony Giddens, sosiolog Inggris, buana hanyalah sebuah kampung global (Global Village). Peristiwa di belahan dunia sana, kini langsung bisa diketahui di sebuah dusun nun jauh di sini. Syaratnya, tentu saja, dusun itu sudah tersambung ke jaringan dunia maya: internet. Itulah jalan penghubung antarkampung global itu.

Kini, internet menjadi kebutuhan vital masyarakat yang haus informasi. Tak heran jika pertumbuhan penggunanya melesat bak meteor. Data terakhir menyebutkan, hingga pengujung 2007, pengguna internet di seluruh dunia mencapai 1,114 miliar. Populasi terbesar ternyata berasal dari kawasan Asia dengan mencapai 398,7 juta pengguna.

Sebagai negara dengan penduduk terbesar, wajar China memimpin dengan 200 juta pengguna internet. Sedangkan Amerika Serikat mempunyai 135 juta pemakai. Jepang menyusul dengan 86,3 juta. Sedang Indonesia, dengan penduduk lebih 220 juta, pengguna internetnya cuma 25 juta.

Jumlah pengguna sebesar itu berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Asosiasi ini mencatat pertumbuhan di dalam negeri mencapai 25%, dari 20 juta pada 2006 menjadi 25 juta di akhir 2007.

Pasar lokal sangat terbuka

Meski jumlah penggunanya cuma 25 juta, itu angka yang fantastis. Dalam enam tahun terakhir, memang pertumbuhan pengguna internet melonjak hingga 800%. Namun jangan berbesar hati dulu. Karena pertumbuhan itu cuma mencerminkan 9% dari total penduduk Indonesia yang melek internet.

Dari angka itu, sebenarnya pasar internet masih menganga super lebar. Sayangnya, di bisnis penyedia jasa internet, justru sebaliknya. Persaingan berlangsung begitu ketat. Pasalnya, pengguna internet ini memang tak merata; hanya bercokol di kota-kota besar.

Penetrasi pasar yang cuma menyasar perkotaan inilah yang membuat persaingan perusahaan penyedia internet alias Internet Service Provider (ISP) kian hari makin ketat. Apalagi, harga koneksi internet internasional kini juga terdepresiasi akibat banyaknya pemain. Dan ujungnya tentu menurunkan tarif ritel internet.

Saat ini tarif koneksi internet internasional sudah melorot tajam. “Turun hampir 50%,” ujar Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Sylvia W. Sumarlin.
Padahal, pada 2007 lalu, ISP harus merogoh kocek hingga US$ 2.500 per satu mega bandwith. Saat ini, harga per bandwith-nya cuma US$ 1.800. “Bahkan ISP bisa memperoleh harga lebih murah jika membeli paket yang besarnya sekitar US$ 1.300,” tambah Sylvia.

Penurunan harga koneksi internasional ini tentu membuat ISP makin berani banting-bantingan harga. Menurut Director and Chief Commercial Officer PT Cyberindo Aditama (CBN), Aditama Sugiharto Darmakusuma, ada kemungkinan ISP memberlakukan tarif bunuh diri alias menjual rugi. “Mungkin ingin merampungkan kewajiban yang membebani,” imbuhnya.

Nah, agar tak rugi, para ISP kini berlomba membidik pelanggan korporat. Meski jumlahnya mungil, kontribusi pelanggan korporat ternyata mencapai separuh pendapatan ISP lokal.

Aditama Sugiharto mengungkapkan, pendapatan CBN terbesar berasal dari pelanggan korporat. Perbandingan pemasukan antara pelanggan korporat dan individual adalah 60:40. Padahal, jumlah pelanggan korporat hanya 900 pelanggan dari 50.000 total pelanggan.

Untuk menggenjot pelanggan korporat, CBN tidak memberlakukan promo khusus. Pelanggan korporat lebih mementingkan stability dan customer care yang baik. “Tidak sensitif terhadap harga. Makanya kualitas kami tingkatkan,” imbuh Sugiharto.

Biznet juga melakukan hal serupa. Mereka kini fokus dengan pelanggan korporasinya. Maklumlah, saat ini 80% pelanggan Biznet dari kalangan itu. "Pelanggan korporat kami jumlahnya ribuan," ujar Sasongko Bayu Seto, Metro Product Manager Biznet.

Nah, agar pelanggan perusahaan makin menggembung, Biznet berencana menurunkan tarif. Saat ini, tarif mereka adalah Rp 30 juta per 1 Mbps. "Pada Februari mendatang, tarif baru akan kami umumkan," kata Sasongko.

Hal serupa juga akan dilakukan PT Dyviacom Intrabumi Tbk, pemilik merek D-NET itu. “Hampir 90% pendapatan sektor internet berasal dari pelanggan korporat,” ujar Taufik Aldjuffry, Direktur D-NET. Saat ini jumlah pelanggan korporat D-Net mencapai 2.000 pelanggan.

Soal harga, Taufik mengatakan D-NET telah menurunkan harga jual produknya dibanding tahun lalu. Untuk bandwidth 1 Mbps dibanderol Rp 27 jutaan. “Sebelumnya mencapai Rp 32 juta,” ujarnya. Dengan penurunan harga itu, D-NET optimistis mampu menambah 150 pelanggan korporat tahun ini.

Harian Bisnis dan Investasi KONTAN, 23 Januari 2008

Duit di Sepakbola

Danto, BBC, Yahoosport

Kabar Penjualan Saham Liverpool Kembali Memanas

LIVERPOOL. Liverpool kembali digoyang. Media Inggris santer memberitakan bahwa salah satu pemilik klub itu, Tom Hicks, tengah mempertimbangkan untuk melego saham miliknya di Liverpool. Orang yang disebut-sebut akan menjadi penadahnya adalah konglomerat asal Timur Tengah, Sheikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum.

Kalau pembelian saham itu jadi, Rashid al-Maktoum yang juga Perdana Menteri dan Wakil Presiden Uni Emirat Arab, akan mengakuisisi Liverpool melalui perusahaannya Dubai International Capital (DIC).

Sekadar mengingatkan, saham Liverpool saat ini 100% dikuasai dua taipan asal Amerika Serikat, Tom Hicks dan George Gillett. Februari 2007 lalu, duo taipan tersebut mengeluarkan duit senilai 174,1 juta poundsterling atau sekitar Rp 3,23 triliun untuk menguasai 100% saham Liverpool. Kedua konglomerat ini juga bersedia menanggung utang klub sebesar 44,8 juta poundsterling atau sekitar Rp 833,2 miliar.

Sepekan terakhir, nama DIC kembali santer terdengar untuk mengambil alih Liverpool. DIC bukanlah nama baru dalam proses pengambilalihan saham Liverpool. Awal 2007 lalu, sejatinya DIC yang akan mengambil alih klub yang bermarkas di Anfield tersebut. Sayangnya, penawaran dia telat dan disalip duo taipan Amerika Serikat.

Kabarnya, dua orang kaya Amerika itu kini tengah mengalami kesulitan keuangan. Ketika membeli saham Liverpool awal tahun lalu itu, Hicks dan Gillet menggunakan dana pinjaman dari Royal Bank of Scotland (RBS) senilai 350 juta poundsterling (Rp 6,5 triliun).

Selain untuk membeli Liverpool, duit utangan juga dipakai untuk membeli pemain baru guna operasional klub dan perencanaan stadium baru berkapasitas 60.000 tempat duduk di Stanley Park, serta menghapus bunga pinjaman.

Nah, kredit dari RBS tersebut akan jatuh tempo pada Februari 2008. Cuma, kas kantong keduanya sedang kosong. Inilah yang menyebabkan santernya pemberitaan Hicks bakal menjual sahamnya di Liverpool.

Kabar krisis keuangan pemilik Liverpool itulah yang membuat CEO DIC Sameer al-Ansari, yang juga fans Liverpool, langsung menyiapkan dana sekitar 500 juta poundsterling atau sekitar Rp 9,3 triliun.

Cuma, seperti biasa, kubu Hikcs dan Gillet masih memegang tradisi Liverpool yang tak mau rahasia internal bocor keluar. Rupanya, duo taipan itu masih ingin mengendalikan klub. "Hicks dan Gillet sepenuhnya masih berkomitmen kepada klub. Semua kabar soal menjual klub atau sebagian sahamnya kepada DIC atau orang lain, itu tidaklah benar," kata juru bicara Hicks yang namanya tidak mau disebutkan.

Harian Bisnis dan Investasi KONTAN, 19 Januari 2008

Indonesia Sebaiknya Mundur dari A1 GP

Danto

Nelangsa nian nasib tim balapan A1 Grand Prix (A1GP) Indonesia musim 2007/2008. Hingga enam seri, Indonesia melalui pembalapnya Satrio Hermanto, belum secuilpun menangguk poin. Pada seri ke enam di Sirkuit Eastern Creek, Sydney, Australia, Minggu (3/1), Satrio Hermanto lagi-lagi gagal memetik angka.

Sekadar pengetahuan, Satrio adalah pembalap pengganti Ananda Mikola di A1 GP. Satrio, kini berumur 23 tahun, sebelumnya berlaga di Formula V6 Renault Asia. Dia direkrut menjadi pembalap tim Indonesia karena adik dari Bagoes Hermanto, Direktur Eksekutif Tim A1 Indonesia 2007-2008.

Dalam dua sesi balapan, yakni Sprint Race dan Feature Race, Minggu (3/1), Satrio hanya mampu mencapai finis pada urutan ke 21 dan ke 20, dari 21 pembalap yang berlaga. Hasil ini membuat posisi Indonesia jadi juru kunci dari 22 tim yang berlaga.

Dari enam seri yang sudah digelar, Tim Merah Putih belum satupun mengantongi poin. Posisi puncak ditempati tim Prancis dan Selandia Baru yang sama-sama mengoleksi 96 poin.

Keikutsertaan Indonesia di A1 GP musim ini memang terkesan dipaksakan. Tim Indonesia hampir tidak tersentuh sponsorship. “Padahal, balapan A1 GP sangat membutuhkan peran sponsor,” kata Staf Ahli Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Johar Arifin Husin, kepada Kontan, Minggu (3/1).

Satu-satunya sponsor tim A1 Indonesia berasal dari pemerintah DKI Jakarta dengan logo “Enjoy Jakarta”. “Tim kita memang masih kesulitan mencari sponsor,” tambah Johar.
Lantas, dengan penampilan terus memburuk, perlukah tim Indonesia terus mengikuti balapan A1 dengan hasil nol? Soalnya, penampilan yang makin terpuruk justru bisa menjadi promosi buruk bagi Indonesia. “Perlu pembahasan khusus untuk hal ini,” kata Johar.

Indonesia sebaiknya belajar dari pengalaman tim Rusia, Singapura, dan Jepang. Rusia, yang hanya ikut beberapa seri pada musim pertama (2005-2006), mundur karena timnya tak bisa bersaing. Singapura, hanya satu musim ikut serta (2006-2007) karena performa jauh dari yang diharapkan. Bahkan, Jepang yang modalnya sangat kuat, tidak mau lagi ikut A1GP karena tahun lalu gagal dan sponsor tidak mencukupi.

Harian Bisnis dan Investasi Kontan, 4 Februari 2008

Rumah susun

Seribu Menara Buat si Kecil

Pemerintah berencana membangun seribu tower rumah susun untuk kalangan menengah bawah perkotaan. Harga tak terjangkau.

ANGAN-angan Chairul Hadi buyar seketika. Lelaki 51 tahun itu langsung mengubur mimpinya punya rumah susun di kawasan Pulogebang, Jakarta Timur, ketika tahu cicilan pembelian bangunan itu mencapai Rp 1 juta per bulan selama 15 tahun. “Berat, Mas,” katanya kepada Tempo, pekan lalu. Maklum, penghasilan karyawan perusahaan swasta ini cuma Rp 2 juta sebulan.

Pembangunan rusun Pulogebang merupakan bagian rencana besar pemerintah membangun seribu menara rusun untuk kelas menengah bawah dalam lima tahun mendatang. Program ini ditegakkan lewat Keputusan Presiden No. 22/2006, pada 9 Desember lalu. Di situ disebutkan, setiap kota berpenduduk minimal 1,5 juta jiwa wajib membangun rusun.

Hunian vertikal dipilih lantaran ketersediaan lahan, terutama di perkotaan, makin terbatas. Padahal, kebutuhan hunian meningkat dari tahun ke tahun. Kekurangan pasokan sampai saat ini, kata Menteri Negara Perumahan Rakyat, Yusuf Asy'ari, mencapai enam juta unit.

Per tahunnya permintaan rumah tangga baru sebanyak 800 ribu unit. Sedangkan kemampuan penyediaan rumah hanya 100-150 ribu setahun. “Jadi, setiap tahun selalu ada tumpukan permintaan,” kata Yusuf.

Di perkotaan, pembangunan rusun dinilai sebagai solusi yang paling mungkin ditempuh pemerintah. Selain irit lahan, hunian ini bisa dibangun di tengah kota, sehingga kaum pekerja bisa lebih menghemat ongkos menuju tempat kerjanya.

Untuk itu, Pulogebang ditunjuk sebagai proyek percontohan rusun bersama sejumlah lokasi lainnya di Jabodetabek, seperti Pulogadung, Marunda, Kali Malang, dan kawasan industri Jababeka, Cikarang. “Pulogebang paling siap,” kata Yusuf.

Bertempat di tanah milik Perumnas, rusun ini sudah siap dibangun, meski sebagian lahannya masih berupa sawah. Lokasinya sekitar satu kilometer dari kantor wali kota Jakarta Timur.

Semula program seribu tower dicanangkan di area milik Departemen Pertahanan di Berlan, Jakarta Timur, dan lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) di Manggarai, Jakarta Selatan. Tapi batal. “Pihak Departemen Pertahanan minta kawasan Berlan ditunda,” kata Menteri Yusuf. Alasannya, “Masih perlu dilakukan sosialisasi.”

Adapun PT KAI sudah memiliki program sendiri. “Mereka akan membangun Menteng Railway Business City di sana,” kata Asisten Deputi Menteri Perumahan Rakyat Bidang Formal, Paul Marpaung. Karena itulah, Pulogebang yang dipilih untuk pencanangan program ini, Januari mendatang.

Kelak, di lahan 7,2 hektare itu bakal dibangun dua tower setinggi 20 lantai. Tiap lantai meliputi 30 unit, dengan masing-masing unit seluas 30-36 meter persegi. Total per tower mencapai 600 unit. Pondasi bangunannya terbuat dari beton, berdinding batako. Di dalamnya terdapat dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan satu ruang tamu.

Persoalannya, biaya pembangunan hunian jangkung itu ternyata cukup mahal. Untuk satu tower dengan 100 unit saja, butuh biaya Rp 60 miliar, atau Rp 60 juta per unit. Itu pun belum menghitung biaya pajak, perizinan, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), serta biaya tetek bengek lainnya.

Karena itulah, kata Ketua Dewan Pimpinan Pusat Real Estate Indonesia, Lukman Purnomosidi, program rusun yang semula ditujukan untuk karyawan berpenghasilan Rp 1,5-3 juta, seperti Chairul Hadi, diubah targetnya menjadi untuk kalangan pekerja berpenghasilan Rp 2,5- 4 juta.

Agar tak rugi, harga jual pun dipatok Rp 100-150 juta per unit. Dengan patokan itu, cicilan pembelian mencapai Rp 1 juta per bulan untuk jangka waktu 15 tahun. Pengembang, kata Lukman, bisa saja menurunkan harga jual asalkan dapat insentif dari pemerintah. “Antara lain pembebasan pajak dan BPHTB,” ujarnya.

Persoalan lain yang harus dijawab pemerintah adalah ketersediaan lahan. Sebab, lahan-lahan kosong di Jakarta kebanyakan sudah ada pemiliknya. Kalau pun dimiliki BUMN, tak semuanya bisa dialokasikan untuk program seribu tower. Contohnya, ya PT KAI tadi. “Seharusnya memang ada koordinasi yang baik antarlembaga pemerintah,” kata Ali Tranghanda, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch. Danto

Majalah TEMPO, Edisi 25 Desember 2006

Dua Tahun Ekonomi Aceh

Baru si Kecil yang Bangkit

Perekonomian Aceh mulai bangkit, tapi baru dihela oleh sektor usaha kecil dan jasa konstruksi. Khawatir gelembung ekonomi.

BERDINDING papan bekas, beratap seng berkarat, lepau itu tegak di atas pondasi bekas toko bahan bakar solar, sisa humbalang tsunami dua tahun lalu. Letaknya tak jauh dari pelabuhan kapal penyeberangan Ule Lheu menuju Sabang.

M. Dujha, 45 tahun, awalnya tak ingin pondasi itu mubazir. Warga Dusun Kakap, Ule Lheu, Kecamatan Meuraxa, itu mengumpulkan kayu dan papan yang hanyut dibawa tsunami di lahan itu. “Saya minta izin ke pemiliknya untuk jualan, dan dikasih,” kata Dujha kepada Tempo, pekan lalu. Kayu dan papan bekas itu dijadikannya dinding dan lantai.

Kebetulan, suntikan modal datang dari seorang kawan akrab, anggota tentara di sana, beberapa bulan setelah tsunami. Dengan "investasi" Rp 6 juta, ia pun membuka kedai kopi, sejak Maret tahun silam. “Kapan ada uang, bayar,” kata sang teman.

Usahanya jalan. Omsetnya per hari kini Rp 300-an ribu. Jumlah itu jauh lebih besar ketimbang bekerja di perusahaan swasta dengan standar upah minimum Provinsi Aceh, yang Rp 850 ribu per bulan.Walau warungnya tak terbilang maju pesat, hanya dalam empat bulan Dujha telah melunasi utangnya pada "investor".

Kini, tak jauh dari warung Dujha, berjejer puluhan kedai serupa mengais rezeki dari pengunjung pelabuhan yang mulai menggeliat. Mereka rata-rata tutup menjelang magrib. Saat mereka menutup kedainya, di Jalan Simpang Surabaya, Banda Aceh, sekitar 25 kedai kopi serupa masih menjajakan dagangan hingga azan subuh.

Di sekitarnya, puluhan abang becak setia menunggu penumpang menemani keramaian kedai-kedai itu.Di Lhok Nga, Aceh Besar, tanda-tanda kebangkitan ekonomi rakyat juga terlihat.

Rusdi, 43 tahun, kini menyesap keuntungan dari jualan mie kepiting di sekitar lapangan golf di daerah itu. Bermodalkan Rp 10 juta, sumbangan seorang warga asing yang aktif di sebuah lembaga swadaya masyarakat asal Jerman, usahanya kini berkembang pesat. Omsetnya mencapai Rp 5 juta per hari.

“Sebanyak 80% pelanggan saya bukan orang Aceh,” kata Rusdi.Dua tahun setelah tsunami, baru sektor ekonomi rakyat ini yang paling tampak menggerakkan ekonomi Aceh, di luar sektor konstruksi yang melaju karena adanya program rehabilitasi dan rekonstruksi.

Sektor ekonomi rakyat, bersama sektor jasa perhotelan dan perdagangan, dalam catatan Badan Rehablilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias, memberi kontribusi seperempat lebih Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh.PDRB Aceh 2005 sebesar Rp 31,252 triliun, di luar minyak dan gas. Bersama komoditi migas, PDRB 2005 sebesar Rp 51,117 triliun. Tahun 2006 diproyeksikan Rp 55 triliun.

Menurut Nazammudin, Direktur Perencanaan BRR, tren pertumbuhan ekonomi Aceh saat ini memang positif. Hingga triwulan ketiga 2006, angkanya mencapai 26,3 persen, melonjak dibanding tahun sebelumnya yang terperosok di angka minus 13,45 persen. Laju inflasi Januari-Oktober lalu 8,20 persen, menurun drastis dibanding 2005, yang mencapai 41,11 persen.


Tapi harap diteliti, kata Nazammudin, saat ini ekonomi Aceh masih ditopang dana BRR, yang besarnya mencapai Rp 1-2 triliun per bulan –dari total yang bakal dikucurkan sekitar Rp 60 triliun hingga 2009. Dana per bulan itu pun sebagian besar terserap ke sektor perumahan (36 persen) dan infrastruktur (28 persen). Sisanya tersebar ke sektor lain, seperti usaha kecil, pelabuhan, pertanian, perikanan, dan pertambangan, yang masih merayap.

Melimpahnya dana dan tren positif ini, kata Nazammudin, harus diwaspadai. “Apakah ini karena peningkatan produktivitas atau hanya gelembung sementara,” katanya. Gejala gelembung sebetulnya lebih kentara melihat minimnya investasi yang masuk dan tak beranjaknya sektor riil lainnya. “Investasi belum tumbuh, masih wait and see, menunggu tren hasil final Pilkada,” katanya.

Ketua Kamar Dagang dan Industri daerah Aceh, Firmandez, menambahkan, investasi yang masuk sejauh ini baru di sektor perhotelan. “Itu untuk membangun satu hotel bintang empat, dua hotel bintang tiga, dan beberapa hotel kecil,” kata Firmandez. Jumlahnya pun masih belum terdata.

Agar tidak terjebak dalam gelembung ekonomi, kata Nazammudin, infrastruktur harus segera diselesaikan untuk menarik investor dan menggerakkan sektor riil dalam skala lebih besar. “Ini sangat tergantung pada keamanan, pemerintahan yang baik, hukum yang kredibel, dan masyarakat yang terbuka,” katanya. Danto, Maimun Saleh (Banda Aceh)

Majalah TEMPO, Edisi 2 Januari 2007

Kecelakaan ADAM Air

Musibah di Era Terbang Murah

Untuk menekan harga tiket, maskapai penerbangan melakukan efisiensi biaya operasional. Tetap banyak yang rontok di tengah jalan.

RASA cemas merasuki Bambang Sulistyo, petinggi perusahaan jalan tol milik negara. Berita hilangnya pesawat Adam Air jenis Boeing 737-400 di kawasan Sulawesi Selatan, pekan lalu, seakan peringatan baru untuknya. Soalnya, dalam sebulan Bambang bisa berkali-kali melakukan lawatan ke kantor cabang di daerah, di samping perjalanan pribadi. “Saya kini jadi khawatir setiap akan terbang,” katanya kepada Tempo, pekan lalu.

Begitu pula halnya dengan Eko Roesniputra, pensiunan pegawai negeri yang masih sering melakukan perjalanan udara. Sama seperti Bambang, ia langsung saja menghubungkan keselamatan perjalanan dengan penawaran tiket murah oleh maskapai penerbangan. "Lebih baik mahal sedikit, tapi keselamatan lebih terjamin," katanya. Atau sekalian beralih ke moda angkutan yang jauh lebih murah: kereta api.

Musibah pesawat Adam Air menambah daftar panjang kecelakaan penerbangan selama ini. Sejak 2001, menurut data dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), tercatat 73 kecelakaan pesawat penerbangan nasional dalam negeri, dengan jumlah korban 479 orang, meliputi 201 orang tewas dan 278 cedera.Sejak 2001, dari maskapai reguler nasional yang terdaftar sebagai pemegang air operator certificate 121 di Departemen Perhubungan, Garuda Indonesia (62 armada pesawat), Merpati Airlines (55 armada), dan Trigana Air Services (12) tercatat mengalami masing-masing lima kali kecelakaan, diikuti Lion Air (28 armada) empat kali, dan Adam Air (22 armada) tiga kali.

Masih dari data KNKT, dari sejumlah maskapai reguler itu, kecelakaan yang paling banyak merenggut korban jiwa terjadi pada Mandala (111 orang tewas), diikuti Adam Air (102 orang hilang), Lion Air (25 orang tewas), Trigana (6 orang tewas), dan Garuda (1 orang tewas).Maraknya kecelakaan itu, akhirnya, sering dikaitkan dengan "obral" harga tiket penerbangan oleh sejumlah maskapai.

Dua maskapai yang selama ini disebut-sebut menjalankan low cost carrier itu adalah Adam Air dan Lion Air, setidaknya menurut versi situs wikipedia.Dalam situs itu, pengertian low cost carrier adalah efisiensi biaya maskapai dengan mengurangi biaya operasional yang dianggap tak perlu. Misalnya, menghapus jatah makan penumpang di udara, mempercepat penerbangan di pagi hari dan memperlambat jam terbang di sore hari, penjualan tiket secara online, dan meminimalkan jam parkir pesawat.

“Kami memang sebisa mungkin mempersempit jadwal parkir,” kata Direktur Komersial Adam Air, Gugi Pringwa Saputra. ”Jika bisa, setelah landing kita langsung take-off.” Biaya parkir pesawat di bandara saat ini US$ 35 per jam untuk tipe pesawat Boeing 737-200.Soal tiket, Gugi mengakui Adam Air memang menerapkan harga agak miring.

Perusahaan, katanya, menetapkan tarif rendah Rp 233 ribu dan paling tinggi Rp 665 ribu per jam terbang. Jam terbang ini hampir sama dengan rute Jakarta-Surabaya, yang dalam keputusan Menteri Perhubungan tarifnya ditetapkan Rp 778 ribu.

“Kami menggunakan skema subsidi silang dalam penentuan tarif tiket,” kata Gugi. Jalur gemuk seperti Jakarta-Surabaya, Jakarta-Medan, dan Jakarta-Surabaya digunakan untuk menutupi rute lain yang relatif sepi, seperti Balikpapan-Batam.

Penghapusan jatah makan juga memberi kontribusi lumayan besar. Hitung-hitungannya, untuk satu jam penerbangan pesawat jenis Boeing 737-200, makanan katering --yang diukur dengan sistem blok-- menghabiskan biaya US$ 60, atau sekitar Rp 546 ribu.

Dengan frekuensi rata-rata 400 jam penerbangan per bulan, perusahaan mampu menghemat US$ 24 ribu, atau sekitar Rp 218,4 juta. Di Indonesia, maraknya penerbangan biaya rendah tak lepas dari kebijakan pemerintah melalui Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 1/2001, yang kemudian direvisi dengan Keputusan Menteri No. KM 81/2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara.

Keputusan ini memungkinkan berdirinya maskapai baru tanpa batasan modal minimal. “Prinsip kita ingin meningkatkan moda transportasi udara pascakrisis,” kata Direktur Angkutan Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan, Santoso Eddy Wibowo,Mulailah era terbang murah.

Adam Air, yang lahir pada 21 November 2002, tumbuh di era ini. Bermodal awal tiga pesawat sewaan untuk rute Jakarta-Medan dan Jakarta-Yogyakarta, hanya dalam empat tahun Adam mampu menambah 22 pesawat sewaan. Pada November tahun lalu, maskapai ini meraih Award of Merit in the Category Low Cost Airline of the Year 2006 di Singapura.

Tapi, maskapai yang rontok di tengah jalan juga banyak. Indonesia National Air Carriers Association (INACA) mencatat, hingga tahun lalu ada lima maskapai --dari 17 maskapai berjadwal-- yang tidak mampu beroperasi, yaitu Bali Air, Bayu Air, Indonesia Airlines, Star Air, dan Bouraq Airlines.

Yang masih beroperasi juga harus bertahan dalam sistem persaingan yang ketat. Akibatnya, menurut Arief Poyuono, mantan instruktur flight safety Merpati Airlines yang juga ketua Federasi Serikat Pekerja BUMN, maskapai berbiaya rendah terpaksa banyak mengurangi biaya operasional --termasuk biaya perawatan-- untuk tetap mampu bertahan.

"Mereka tak pernah diperiksa oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO),” katanya. Jika tim inspeksi ICAO datang, kata Arief, mereka diarahkan ke hanggar pesawat milik Merpati dan Garuda, yang perawatannya terjamin.

“Maka tim inspeksi akan mendapat kesan positif,” katanya. Kapt. M. Safe'i, pilot senior yang selama 37 tahun berkhidmat di Garuda Indonesia dan kini aktif di lembaga swadaya masyarakat Peduli Angkutan Udara Komersil Indonesia (PAUKI) menambahkan, praktek-praktek pelanggaran prosedur di pesawat berbiaya rendah saat pengecekan pesawat kerap terjadi.

Misalnya soal pemasangan baut pada roda pesawat. “Aturannya harus sekitar 100 putaran, tapi kadang dilakukan kurang dari itu,” kata Safe'i. Petugas pengecek juga sering langsung memberikan tanda check list pada log book pesawat --dikenal dengan istilah pencil whipping.

Log book ini berisi daftar isian pengecekan sebagai persyaratan laik terbang.Adam Air dan Lion Air tentu menolak tudingan itu. “Kami malah menambah ongkos perawatan 25 persen dari yang seharusnya,” kata Gugi Saputra. “Kami tak mungkin mengurangi biaya perawatan dengan mengorbankan keselamatan penumpang,” juru bicara Lion Air, Hasyim Al Habsyi, menimpali.

"Keselamatan penumpang", memang itulah kata kunci yang pekan-pekan ini banyak menggayuti pikiran para pengguna jasa angkutan udara, terutama setelah raibnya pesawat Boeing 737-400 Adam Air.Danto

Majalah TEMPO, Edisi 8 Januari 2007

Ispirasi - 4 (Rachmita M. Harahap)

Kisah Ibu Dosen Mitha, Tuna Rungu Pembina UKM (1)

Danto

Tak mudah terlahir sebagai tuna rungu. RachMitha Maun Harahap, 38 tahun, merasakan itu. Hinaan dan cercaan menjadi menu pergaulan sehari-hari. Namun itu sudah menjadi masa lalu. Kini, Mitha sudah menjadi dosen.

Dia juga membina 220 orang cacat tuna rungu dan memberi bekal aneka pelatihan agar mereka mampu bersaing di dunia usaha. Sebagian besar bekas muridnya kini berbisnis sendiri, dan sisanya bekerja di sektor swasta. Berikut kisahnya.
****
****
SETIAP orang punya kenangan buruk. Dan tak mudah melupakan kenangan itu. Tak percaya, tanyalah pada Rachmita Maun Harahap. Apa yang ada di memorinya hingga kini? Jawaban Mitha singkat namun penuh keperihan. “Idih, Mitha budek”. Itulah jawabannya.

Entah sudah berapa kali ejekan semacam itu dia catat dalam ingatannya. “Meski terkadang ada perasaan sedih dan mengganggu. Tapi saya tak mau larut. Saya harus terus maju,” kisah Mitha, kepada KONTAN. Yang pasti, sindiran atau ejekan itu di kemudian hari justru menjadi bekal berarti. Hati perempuan kelahiran Padangsidempuan, Tapanuli, itu menjadi sekeras batu. Dia tak mau memikirkan perlakuan buruk orang lain terhadap dirinya.

Sikapnya yang keras hati itu membuatnya bangkit penuh percaya diri. Apa yang tidak mungkin dilakukan penyandang tuna rungu, mampu dia kerjakan. Kalau ada psikolog bilang bahwa orang cacat cenderung rendah diri dan tertutup alias introvert, mungkin dia belum pernah bertemu Mitha.

Buktinya, sudah sejak kecil Mitha berprestasi. Ketika menginjak empat tahun dan baru duduk di Taman Kanak-Kanak, Mitha kecil sudah pandai menggambar, juga bermain puzzle. Mitha mengawali sekolahnya di Bukittinggi, Sumatera Barat. Di kota nan dingin ini pula, Mitha duduk di bangku sekolah dasar (SD) hingga kelas empat.

Tentu saja, karena terbilang cacat, nama Mitha ada di deretan daftar sebuah sekolah luar biasa (SLB) Bagian B yang khusus untuk tuna rungu. Karena tugas orangtuanya, Mitha harus pindah sekolah ke Medan dan Surabaya. Namun, baru tiga bulan sekolah di Surabaya, Mitha sudah tak betah bersekolah di SLB. Kepada orangtuanya dia merengek minta pindah ke SD umum.

“Akhirnya saya berhasil masuk ke SDN X Kertajaya, Surabaya,” katanya. “Syaratnya asal saya bisa bicara,” ungkapnya. Maklum saja, penyandang tuna rungu memang biasanya kesulitan untuk berbicara. Ternyata Mitha tak sekadar keras hati. Di SD umum itu, dia membuktikan diri sebagai anak normal.

Di kelas lima dan enam, dia berada di ranking 25 besar. Bahkan di bangku SMP, Mitha tembus di 20 besar. Menginjak SMU, Mitha hijrah lagi ke Serang, Jawa Barat. Di sini, prestasi Mitha makin berkembang. Dia bahkan mampu duduk di ranking 10.

Bahkan, Mitha juga terpilih sebagai mayoret marching band sekolahnya. Tak tanggung-tanggung, dalam lomba Marching Band antar SMU se Kabupaten Serang, Mitha berhasil terpilih sebagai mayoret terbaik. Makin percaya diri, menjelang kelulusan SMU, Mitha mendaftar ujian tanpa tes.

Waktu itu namanya Program Penelusuran Minat Dan Kemampuan (PMDK). Dia memilih jurusan Teknik Arsitektur Lingkungan di Institut Pertanian Bogor (IPB). “Tapi gagal,” kenangnya. Tak putus asa, Mitha memilih pendidikan sarjananya di jurusan teknik arsitektur sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta Barat. Pada 1995 dia lulus.

Mitha menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 4,5 tahun dan meraih cumlaude. Karena predikatnya ini, Mitha berhak meraih beasiswa di Fakultas Paska Sarjana ITB jurusan Magister Desain (Interior). ”Saya juga berhasil lulus dengan IPK 3,1,” katanya sumringah. (Bersambung)

Kisah Ibu Dosen Mitha, Tuna Rungu Pembina UKM (2)

Pada 1995 Mitha sukses menggaet gelar sarjana teknik arsitektur dari Universitas Mercu Buana, Jakarta Barat. Mitha juga dapat penghargaan Wisudawan Lulusan Terbaik (cum laude) sekaligus mendapat beasiswa S2 di ITB. Namun Mitha gundah dengan orang yang senasib dengannya. Dia pun berusaha membantu mereka agar mampu mandiri.

Mitha bukan orang yang suka memanfaatkan aji mumpung, termasuk ketika mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan Paska Sarjana di ITB setelah jadi lulusan terbaik saat meraih gelar sarjananya. Saat itu dia justru memilih jadi arsitek di sebuah perusahaan yang berkantor di Jakarta Barat.

****
****

Setelah berpengalaman selama dua tahun, Mitha baru mengambil beasiswa di ITB tadi. Kuliah di ITB pun diselesaikannya dengan mudah. Begitu menggondol gelar Magister Desain (Interior) pada 2000, Mitha langsung mengabdikan ilmunya dengan menjadi dosen di almamaternya, Universitas Mercu Buana Jakarta Barat, hingga sekarang.

Tak sulit bagi Mitha untuk mengajar. Penginderaan Mitha juga "normal". Dia sudah terbiasa mengenakan alat bantu dengar (ABD) sejak berusia sembilan tahun. “Saat mengajar pun saya pakai ABD, juga fasilitas multimedia infocus, agar mahasiswa lebih memahami pelajaran,” katanya.

Namun kekerasan hati Mitha tak cukup puas dengan statusnya sebagai dosen. Dia mulai berpikir, masih banyak kaum tuna rungu yang tak seberuntung dirinya. Inilah yang kemudian membawanya mendirikan sebuah yayasan. Namanya Sehjira, kependekan dari kata Sehat Jiwa Raga.

“Sehjira adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) khusus tuna rungu. Kenyataan bahwa tuna rungu sering membentuk komunitas eksklusif bukan hanya oleh masyarakat umum, namun juga di antara penyandang tuna rungu sendiri,” papar Mitha. Bermodal Rp 5 juta dari kumpulan gajinya selama mengajar, berdirilah Sehjira pada 5 Desember 2001 silam. Modal sekecil itu, ternyata cukup untuk mengurus Akte Notaris, surat terdaftar organisasi sosial, unit komputer, dan kebutuhan lain.

“Saya tidak pernah pinjam uang di bank, kecuali bantuan dari para donatur,” katanya. Lokasi Sehjira yang berada di Cilandak Barat, Jakarta Selatan, memang agak jauh dari rumahnya di kawasan Ciledug, Tangerang. Namun itu tak menyurutkan semangatnya. Satu hal yang membuat Mitha membentuk Sehjira: kendala komunikasi.

Mitha menyebutnya communication barrier. Menurut dia, faktor inilah yang telah membawa tuna rungu kepada kehidupan yang sepi dari informasi. “Sekian lama mereka hidup menyendiri di tengah keramaian dan gejolak perubahan zaman yang semakin cepat, secara tidak sadar membuat tuna rungu cenderung memiliki konsep diri rendah.

Secara pribadi mereka menganggap dirinya tidak laik untuk bergaul secara luas, apalagi berkompetisi dengan masyarakat umum,” papar Mitha, bak psikolog. Mitha kemudian memfokuskan Sehjira untuk membina kaum tuna rungu agar bisa mandiri.

Tujuan utamanya agar mereka bisa bekerja di sektor formal, seperti dirinya tentu saja. Lebih bagus lagi kalau mereka terjun ke dunia bisnis. Ada beberapa kategori umur yang dia bina. Mulai dari SD Luar Biasa (SDLB), SMPLB, dan SMULB, juga alumni. Total binaan Mitha kini ada sekitar 220 orang tuna rungu.

Mitha dibantu beberapa rekan untuk menjalankan Sehrija. Banyak program dia jalankan. Untuk yang masih sekolah, misalnya, Mitha memberi pengajaran luar ruangan alias outdoor hingga materi pendidikan indoor. Salah satu program indoor adalah pengajaran pengenalan diri. "Seperti pengajaran Who am I? dan Menggapai Impian,” kata Mitha.

“Jika murid sudah bisa mengaktulisasikan diri secara positif, mereka bisa dipindahkan ke sekolah-sekolah umum.” Sementara untuk usia luar sekolah, Mitha dan timnya memberi pengajaran berbagai keterampilan. Seperti menjahit dekorasi interior, menjahit baju pria dan wanita, memberi kursus komputer, kursus bahasa Inggris, juga mengaji. “Saya sendiri yang mengajari mereka. Biasanya itu terjadi setiap Sabtu dan Minggu,” papar Mitha. (Bersambung)

Kisah Ibu Dosen Mitha, Tuna Rungu Pembina UKM (3)

Tak gampang membina sesama tuna rungu. Apalagi dengan modal cekak dan fasilitas pelatihan yang sangat terbatas. Tapi Mitha tak mau menyerah. Soal modal, dia tak mau pinjam bank. Dia memilih jalan mengajukan proposal bantuan kepada pemerintah. Donasi ala kadarnya datang.

Kemauan keras membuat semua hambatan berhasil dia lalui. Dari puluhan alumni didikannya, kini sejumlah tuna rungu di antaranya sukses bekerja di beberapa perusahaan swasta. Tak sedikit pula yang membuka usaha sendiri.

****
****

BERDIKARI alias berdiri di kaki sendiri. Itulah yang dilakoni Mitha, dalam membina 220 tuna rungu jadi mandiri. Bantuan donatur minim. Pemasukan rutin juga tak ada. Alhasil, Mitha terpaksa memungut biaya kepada anak didiknya.

Namun biaya itu kembali untuk keperluan si anak didik. Untuk kursus komputer, misalnya, Mitha memungut iuran Rp 50.000 per bulan kepada tiap siswa. Mitha juga membebankan jumlah dana yang sama bagi peserta kursus bahasa inggris.

“Dana sejumlah itu untuk keperluan bahan modul materi komputer, CD (compact disk), dan honor instruktur tuna rungu profesional,” katanya. Selain minimnya biaya pembinaan, soal tempat pun masih jadi masalah. Hingga kini, Mitha dan rekannya masih bermarkas di sebuah rumah kontrakan di bilangan Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Ukurannya sempit, hanya 4 x 8 meter, diluar kamar mandi yang luasnya 2 x 1 meter.

Meski sejak berdiri pada 2001 sudah minim duit dan fasilitas, namun Mitha tetap keras bertahan. “Saya tidak pernah pinjam uang di bank untuk modal,” katanya.

Mitha memilih cara lain. Pada 2003 silam, Mitha mencoba mengajukan surat permohonan bantuan Kelompok Usaha Bersama alias KUBE ke Kantor Pemberdayaan Masyarakat (KPM) Kota Tangerang. Mitha memerinci segala kegiatan dan kebutuhan yayasan, termasuk kendala. Proposalnya manjur. Pihak KPM menyetujui.

Bantuan pun datang berupa lima unit mesin jahit. “Mesin jahit itu untuk lima orang keluarga tuna rungu kurang mampu yang belum bekerja,” kata Mitha. Pada 2004, bantuan yang sama kembali datang. Berupa lima unit mesin jahit plus satu paket pembuatan kue. Kali ini untuk membantu relawan tuna rungu yang mengabdi di Sehjira.

Bantuan kemudian beberapa kali datang lagi. Meski banyak yang sebatas derma ala kadarnya. Tak ada kata menyerah di kamus hidup Mitha. Minim santunan tak akan membuatnya kendur. Senin sampai Jumat mengajar di almamater, Sabtu dan Minggu mengisi pengajaran di yayasan. Nyaris tak ada waktu untuk suami, Irwan Ibrahim.

Bahkan saat mengandung seperti sekarang ini, jadwal Mitha tetap padat. Namun pengorbanannya membawa hasil. Dari puluhan alumni Sehjira, sebagian di antaranya mampu bersaing di dunia usaha. Catatan Mitha, saat ini delapan bekas anak didiknya bekerja di perusahaan pelayaran. Ada juga yang bekerja di sebuah perusahaan teh celup dan perusahaan konveksi. Ada pula yang mampu membangun usaha sendiri. Bangga.

Itulah yang ada di perasaan Mitha. Apalagi dengan kekurangan fisiknya itu, kini Mitha termasuk dalam hitungan orang yang berprestasi. Pekan pertama Desember 2007 lalu, nama Mitha tercatat sebagai salah satu dari lima peraih Danamon Award 2007.

Penghargaan ini merupakan salah satu penghargaan pelaku usaha mandiri di negeri ini. "Alhamdulillah saya bersyukur kepada Allah yang memberi sesuatu yang terbaik bagi saya. Allah punya rencana dengan menciptakan kekurangan sekaligus kelebihan,” pungkas Mitha. (Selesai)

Harian Bisnis dan Investasi Kontan, 8-10 Januari 2008

Inspirasi - 4 (Adelia Zahedi)

Dengan Bordir, Hobi pun Menjadi Duit (1)

Danto

Semua bermula dari hobi. Ketika mengawali bisnis bordir sembilan tahun silam, Adelia Zahedi, 35 tahun, hanyalah iseng dan menyalurkan kegemarannya berapi-rapi ria di area kamar tidur. Semua perkakas tempat tidurnya, mulai dari bedcover, seprai, hingga pernak-pernik, ditata sedemikian rupa. Hasilnya sebuah tempat istirahat yang nyaman.

Jika dia saja menyukai kenyamanan tempat tidur, kenapa orang lain tidak? Begitulah dia berfikir. Mulailah menekuni bisnis bordiran. Merintis usaha dengan modal Rp 200 ribu, kini Adelia sudah bisa menghasilkan Rp 30 juta hingga Rp 40 juta per bulan. Mengawali promosi dari mulut ke mulut, Adelia kian sukses setelah jadi langganan berbagai pameran. Bagaimana Adelia bisa meraup sukses? Ikuti kisahnya.

*****
*****
Bagi wanita aktif seperti Adelia, tak mudah menghilangkan jenuh akibat nganggur. Pernikahannya dengan Ahmad Zahedi, kini 40 tahun, 11 tahun silam, menjadikan Adelia terpaksa ngandang. Berdiam diri di rumah. Dua tahun bekerja di sebuah perusahaan kontraktor pun dia lepas. Soalnya, tak lama setelah nikah, badan sudah berbadan dua.

Jenuh melanda. Adelia kemudian berfikir bagaimana cara menghilangkan bosan. Jalanlah dia bersama suami ke salah satu pusat perbelanjaan. Hobinya yang suka beres-beres kamar, membuat tujuannya tak jauh dari urusan kamar tidur.

Larak-lirik pada tetek bengek perlengkapan kamar tidur, matanya tertambat pada sebuah bahan sprei. Warnanya yang kalem, dengan motif bunga, terasa pas dengan seleranya. Alangkah indahnya jika ditambah motif yang rada beda, tapi unik. Begitulah Adelia berfikir saat itu. Maka, ide merajut sendiri bordir di bahan sprei itupun timbul. Bordir dipilih lantaran saat itu masih sangat sedikit yang menekuni usaha itu.Uang sebesar Rp 200.000 pun dibelanjakannya.

“Pada 1996 waktu itu, bahan dasar sprei masih murah sekali, masih Rp 6 ribu semester,” kata Adelia.

Tapi otak mesti diputar. Semua perlengkapan bordir tak ada. Mesin jahit pun tak punya. “Saya modal nekad saja, saya jahit bahan itu pada orang lain, tapi motif saya yang menentukan,” kata Adelia.

Selesailah bordiran pertama kala itu. Jumlahnya masih terbatas, hanya 10 set sprei bordiran. Adelia mengontak kenalannya semasa kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta Barat. “Alhamdulillah mereka merespon,” kenangnya.

Semangat timbul. Adelia mencoba menawarkan ke bekas rekan-rekan kantornya di perusahaan kontraktor. “Waktu itu karena bordiran saya rada beda dengan motif yang ada, jadi rekan-rekan saya tertarik,” katanya.

Dengan modal Rp 27 ribu per set, sprei dengan bordiran sendiri itu dijual dua kali lipat seharga Rp 45 ribu. “Ada yang kontan, ada juga yang bayar dua kali,” ujar Adelia.

Agar pelanggan tak lupa, maka Adelia memberi ciri khas sprei jualannya. Adelia menempelkan tulisan border dengan nama AZ Collection, asal kata dari Adelia Zahedi Collection. Belakangan nama ini berubah jadi AZ Sweet Room.

Sukses di usaha pertama, Adelia jadi ketagihan. Pesanan sedikit ditambah. Kenalan lainnya disamperin. Sedikit-sedikit lama menjadi bukit. Begitulah. Jumlah bordiran ditambah. Langganan pun demikian.

Di pengujung 1996, usahanya sempat mati suri. Kandungan anak pertama kian menua. Gerakannya tak lagi lincah. Jadilah untuk sementara Adelia membengkalaikan bisnisnya.

Setahun berselang. Adelia kembali terjun menekuni usahanya. Agar pemasaran kian efektif, Adelia mulai menggunakan strategi baru: ikut pameran. Lantaran modal masih minim, peragaan yang diikutipun masih pilah-pilah. Terjangkau, tapi tak kalah kelas.

Pameran yang pertama kali diikutinya di Gedung World Trade Center (WTC) di bilangan Jalan Sudirman, Jakarta. Pameran yang berlangsung setiap minggu, memungkinkan pengusaha seperti Adelia bisa masuk menjadi peserta kapan saja.

“Di WTC, selama tiga hari itu kala itu cuma bayar Rp 400.000 hingga Rp 600.000,” kata Adelia, beralasan. Dibanding berpameran di tempat lain yang lebih elit, misalnya di Jakarta Hilton Convention Center (JHCC), harga ini masih sangat miring. Di JHCC, tarif membuka stan pameran mencapai Rp 1 juta per hari.

Satu hal yang dilakukan Adelia ketika pameran. Rajin-rajinlah menyebar kartu nama. “Alhamdulillah, mungkin dari 100 kartu nama yang disebar itu, satu dua diantaranya ada yang mau nelepon kemudian memesan,” katanya.

Hanya, pada tahap awal memang semuanya tak mulus. Soalnya, produk yang ditawarkan Adelia bukanlah jenis kebutuhan primer laiknya makanan, juga pakaian. “Tapi kalau sprei ini bisa tiga bulan atau 4 bulan sekali baru telpon memesan minta ganti,” kata Adelia.

Nah, di sinilah kreatifitas dilakukan. Agar pelanggan tak bosan, motif bordiran pun harus digonta-ganti.



Mulailah Adelia mengembangkan sayap. Pameran inacraft di JHCC-pun dicobanya. Tak apa sedikit mahal, toh pemesan juga pasti bakal bertambah. Inacraft adalah pameran kerajinan yang skupnya nasional. Begitulah, pada 2002 Adelia mulai mengikuti pameran di JHCC dnegan tarif Rp 1 juta per hari. “Karena yang datang juga dari seluruh Indonesia, pasarnya juga lebih besar. Biaya buat stand bisa tertutup dan bisa mendapat keuntungan, sejak itulah saya ketagihan untuk ikut pameran terus,” papar Adelia.


Dengan Bordir, Hobi pun Menjadi Duit (2)


Memutar haluan strategi, ikut mengubah pula kebutuhan modal. Semula, Adelia, 35 tahun, menyasar semua kalangan. Pameran yang diikuti, yang awalnya masih kelas biasa, kini mulai berpindah ke kelas yang lebih tinggi. Pada 2002, Adelia mulai naik kelas mengikuti pameran Inacraft, ajang peragaan kerajinan tingkat nasional di Jakarta Hilton Convention Center.

Agar pasar bordir taplak kasur alias sprei kian berkelas, Adelia kian menajamkan pasar. Segmentasi makin dipersempit. Kini dia menyasar kelas elit. Adelia bangga bukan kepalang ketika istri Wakli Presiden Jusuf Kalla ikut memesan sprei dengan bordiran hasil jerih payahnya.

***
***
Pameran Inacraft ternyata sangat membantu Adelia mengembangkan usahanya. Bisnis sulam-menyulam taplak kasurnya kian berkembang. Showroom-nya yang semula berada di kediamannya di Villa Graha Hijau I kawasan Kampung Utan, Ciputat, Tangerang, makin lama kian menyempit. Penuh dengan barang-barang.

Sedikit-sedikit, Adelia menambah peralatan bordiran. Satu dua dia beli perkakas bordir, seperti mesin jahit, mesin bordir, dan merekrut pegawai sekaligus. Rumahnya yang relatif kecil, jadi sesak. “Akhirnya showroom saya pindahkan ke rumah orang tua saya di Bintaro,” katanya. Kini, Adelia sudah memiliki lima orang karyawan untuk menggarap seluruh pesanan pelanggan.

Makin berkembang usaha, kebutuhan modal juga kian bertambah. Untuk mengembangkan bisnis, dana lebih besar haruslah ada. Apa boleh buat. Tabungan tak ada. Simpanan pun tiada. Adelia terpaksa meminjam dana ke sebuah bank sebesar Rp 40 juta. “Tapi bunganya sangat mencekik,” katanya.

“Cash flow saya untuk membayar pinjaman bank agak sulit dan itu sangat memberatkan. Sejak itu saya kapok untuk pinjam ke bank dengan sistem bunga yang menjerat,” papar Adelia.

Kian berat, lantaran Ahmad Zahedi, 40 tahun, juga tak berpenghasilan tetap. Profesinya sebagai agen properti, tak menjamin pemasukan bakal tetap setiap waktu. Anaknya juga kini sudah menjadi empat.

Untuk tidak kembali terjebak, Adelia kembali ke strategi tradisional. Dengan modal yang dipunya, Adelia mengandalkan perkenalan. Modal tak perlu banyak, tapi pesanan jalan terus. Setiap pesanan bordiran datang, Adelia tak perlu mengeluarkan modal awal. Cukup datang ke langganannya mengambil sprei pesanan pelanggan, bayar belakangan. “Kalau sudah kenal dengan yang punya toko bahan sprei, itu yang bisa dilakukan,” katanya.

Cara ini ternyata cukup efektif. Langganan bisa tetap terpenuhi pesanannya, modal pun tak perlu terlalu banyak. Usaha tetap jalan. Laris manis tanjung kimpul. Dagangan laris, duit kumpul. Begitulah.

Pengembangan usaha kian digencarkan. Bosan berpameran di dalam negeri, Adelia menjajal peragaan bordiran spreinya di negeri tetangga, Singapura. Gayung bersambut. “Ternyata pembeli di sana banyak juga,” kata Adelia. Kendala modal, lagi-lagi, yang membuatnya hanya baru sekali melakukan pameran di Singapura.

Adelia tengah mengumpulkan modal untuk berpameran di Belanda. “Di sana ada tempat pameran khusus yang menjual kerajinan-kerajinan Indonesia, saya ingin mencobanya,” kata Adelia.

Untuk sementara, Adelia masih roadshow berpameran di dalam negeri. Dari hasil itupun, pemasukannya sudah cukup lumayan. Omzet sekali pameran berkisar antara Rp 30 juta hingga Rp 50 juta. Dalam sebulan, bisa sekali dua Adelia mengikuti pameran kerajinan.

Tak percuma Adelia membuat bordiran berkelas. Dengan modal Rp 300.000 hingga Rp 400.000 untuk satu set taplak kasur beserta bordirannya, Adelia bisa menjualnya hingga dua kali lipat. Pelanggannya kini bukan hanya berasal dari kalangan biasa.

Hatinya sangat berbunga ketika seorang pejabat sangat elit di negeri ini ikut memesan hasil karyanya. Untuk yang satu ini, Adelia tak mau nama pelanggannya disebut.

Yang namanya usaha, hampir pasti selalu ada saja kerikil-kerikil yang menggangu. Adelia juga merasakan. Kendati kecil. Seorang pelanggan yang tak dikenal betul, memesan bordiran seprei senilai Rp 3 juta. Si pelanggan mengaku akan membawa barang-barang pesanan itu untuk promosi ke Kalimantan.

Kebetulan. Adelia sedang sepi order. Jadilah dia tergopoh-gopoh menyambut permintaan itu. Beberapa hari kemudian, si pemesan datang dengan membawa cek. Lantaran pas hari Jumat alias di akhir pekan, Adelia tak langsung mencairkan cek tersebut.

Tak ada curiga sedikitpun kala itu. “Waktu saya cairkan pada Senin berikutnya, ternyata ceknya kosong,” katanya. Apa boleh buat. Adelia pun terpaksa gigit jari.

Satu hal yang kini masih sebatas angan-angan bagi Adelia. Tapi Tak ingin usahanya masuk pusat perbelanjaan. Cita-citanya, selain bisa berpameran di Belanda, dia kini ingin menempatkan produknya di satu rumah besar yang berfungsi untuk memajangkan seluruh produk-produknya. “Nanti setiap pelanggan bisa melihat semia desain-desain saya di rumah tersebut,” katanya. “Itu rasanya saya sudah puas.” Danto (Selesai)

Harian Bisnis dan Investasi Kontan, 3-4 Oktober 2007

Inspirasi - 3 (William Kwan)

William Kwan, Penggerak Batik Tiga Negeri di Lasem (1)

Danto

Liburan selalu mendatangkan kenangan tak terlupakan. Ketika bervakansi ke kota Semarang di awal 2004, William Kwan hanyalah seorang pelancong yang mencari suasana segar di kota Semarang. Ternyata, oleh-oleh vakansi kali ini terasa sangat istimewa. Bukan barang, juga bukan buah tangan. William membawa oleh-oleh dari Semarang ke Jakarta berupa kata baru: “Batik Tiga Negeri di Lasem”. Kata asing yang menggelitik pikirannya.

“Sepulang ke Jakarta saya mencoba mencari arti kata tersebut melalui internet,” kata William, kini Direktur Institut Pluralisme Indonesia, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang di bidang multietnik.

Berselancar di dunia maya mencari kata “Batik Tiga Negeri di Lasem” membawanya pada satu kesimpulan. Batik Tiga Negeri merupakan satu sebutan merek batik dari Lasem, kota kecil di daerah Rembang, Jawa Tengah. Pada masa jayanya di dekade tahun 1970-an, Batik Tiga Negeri merupakan salah satu gaya batik pesisir. Dilihat dari skala industri kala itu, batik Lasem termasuk salah satu dari lima besar industri batik di Indonesia, selain Surakarta, Yogyakarta, Pekalongan dan Cirebon.

Motif dan warna batik Lasem juga cukup terkenal. Motif Batik Tiga Negeri dan Lok Can, misalnya, digemari oleh para konsumen batik di Jawa, Sumatera, semenanjung Malaya (Malaysia dan Singapura), Bali, Suriname, dan sebagainya. Warna merah batik Lasem, disebut sebagai ‘abang getih pitik (merah darah ayam)’, konon tidak dapat dihasilkan di daerah lain.

Tapi itu cerita masa lalu. Pada tahun 2002, jumlah perajin batik Lasem tercatat cuma ada 10 pengusaha atau perajin. “Saya tertegun mendapatkan kenyataan bahwa batik Lasem ternyata dulu amat terkenal sebagai salah satu gaya batik pesisir, tetapi warisan budaya ini sekarang kurang dikenal masyarakat. Industri batik Lasem yang terletak di daerah tertinggal kabupaten Rembang pun sudah demikian surutnya,” papar William, kepada Kontan.

Itu hal menarik pertama yang menggelitik pria 46 tahun itu. Hal yang memikat lainnya dari batik lasem adalah soal pergeseran komposisi etnisitas dari pengusaha batik Lasem. Secara tradisional, para pengusaha batik Lasem berasal dari keluarga etnis Tionghoa Peranakan di kota Lasem. Sedangkan pengrajin atau buruh batik Lasem berasal dari keluarga etnis Jawa di pedesaan sekitar kota Lasem. Para pengrajin batik Lasem tersebut tidak mendapatkan order pekerjaan yang memadai saat industri batik Lasem surut. Tentu saja, hal ini membuat para perajin terancam kehilangan sumber penghasilan tambahan.

Beberapa orang pengrajin Jawa mulai mencoba menjadi pengusaha, sementara keluarga pengusaha Tionghoa kehilangan minat untuk meneruskan usaha warisan nenek moyang mereka.


“Kombinasi dinamika kemerosotan industri batik Lasem, kurangnya apresiasi terhadap budaya batik Lasem, problem regenerasi dan hubungan silang budaya Jawa-Tionghoa dalam proses penyesuaian ke arah perubahan komposisi pengusaha batik Lasem demikian menarik perhatian saya untuk melakukan riset dan pendampingan masyarakat ke arah revitalisasi budaya dan usaha kecil batik Lasem,,” papar William, yang memiliki nama China Kwan Hwie Liong.

Merasa tertarik dengan batik Lasem itu, vakansi William Kwan di awal tahun 2004 itu kemudian berlanjut. Pada periode Maret 2004-Mei 2006, William bolak-balik Jakarta-Rembang untuk keperluan observasi lapangan, wawancara, dialog, dan seminar soal Batik Tiga Negeri. William ternyata serius menggarap idealisme untuk kembali membangkitkan batik Lasem itu. Beberapa kali, William mengajak sejumlah desainer nasional, seperti Musa Widyatmodjo dan Dina Midiani dari Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) untuk mengunjungi Kabupaten Rembang. Mereka kemudian berdialog dengan para pengusaha serta pengrajin batik Lasem.

***
***

William Kwan, Penggerak Batik Tiga Negeri di Lasem (2)

Butuh waktu dua tahun, tepatnya pada periode Maret 2004-Mei 2006, bagi William Kwan untuk survei awal pendampingan perajin Batik Tiga Negeri di Lasem, kota kecil di Rembang, Jawa Tengah. Dalam rentang waktu itu, William bolak-balik Jakarta-Rembang untuk keperluan observasi lapangan, wawancara, dialog, dan seminar soal Batik Tiga Negeri. William juga beberapa kali mengajak sejumlah desainer nasional, seperti Musa Widyatmodjo dan Dina Midiani dari Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) untuk mengunjungi Kabupaten Rembang. Mereka kemudian berdialog dengan para pengusaha serta pengrajin batik Lasem.

Baru pada bulan Juni 2006 William fokus pada realisasi idealismenya membangun kembali batik Lasem. Agar cepat berkembang, harus ada satu tempat membangun proyek percontohan. Tujuannya supaya dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif tentang bagaimana sebuah revitalisasi budaya dan ekonomi kreatif, seperti batik Lasem, dapat dilakukan. Pada Agustus 2006, William menemukan satu tempat yang pas untuk percontohan proyeknya. Namanya Desa Jeruk. Dusun ini terletak di Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang.

Soal alasan kenapa memilih Desa Jeruk, William berkisah. Desa ini merupakan sebuah dusun yang tertinggal secara ekonomi. Sulit memperoleh air, misalnya. Dusun ini dihuni oleh sejumlah besar perempuan pembatik yang telah menganggur cukup lama. Terdapat 172 orang perempuan yang memiliki ketrampilan membatik, namun hanya 33 orang alias sekitar 19% di antaranya yang masih bekerja aktif.

Di desa Jeruk inilah William yang dibantu beberapa staf di Institut Pluralisme Indonesia (IPI) bekerja sama dengan beberapa pihak, antara lain Pemerintah Daerah Kabupaten Rembang, pemuka masyarakat Desa Jeruk, relawan desainer nasional dari Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) seperti Musa Widyatmodjo, Mardiana Ika, Dina Midiani, untuk mendampingi para perempuan pembatik agar mereka dapat menjadi penggerak kemajuan di desa mereka sendiri.

“Di proyek percontohan Desa Jeruk kami ingin membuktikan bahwa kepercayaan dan kerjasama erat antar elemen masyarakat Desa Jeruk, merupakan prakondisi penting untuk sebuah proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan ekonomi, sosial, budaya dan politik lokal,” papar William, peraih gelar master ekonomi dari Vanderbilt University, Graduate Program in Economic Development, Nashville, Tennessee, Amerika Serikat, tahun 1993.

Selama ini, William bilang, kemampuan mumpuni para perajin batik di Desa Jeruk seperti tercecer. Tak terkoodinir. Lantaran itu, William bertekad untuk menyatukan mereka. Ibarat pepatah, kumpulan lidi saja mampu menyingkirkan tumpukan sampah kotor. Maka, William kemudian mencari cara agar para perempuan pembatik itu mampu kembali berdaya.

William memilih cara tradisional dengan pendekatan face to face. “Kami menerapkan pengembangan kelompok secara hati-hati dan bertahap dalam jangka waktu panjang. Berbeda dengan pendekatan pembentukan kelompok yang biasa dikenal, yaitu sekaligus merekrut beberapa orang calon anggota, kami justru memulai proses pendampingan dengan mengindentifikasi seorang perempuan buruh batik yang menganggur bernama Ramini,” papar William.

Begitulah. Ramini, wanita paruh baya, dipilih lantaran memiliki karakter lebih kuat di antara yang lain. “Walaupun tidak selesai belajar di sekolah dasar, Ramini memiliki kemauan kuat untuk memperbaiki kesejahteraan keluarganya, serta bersedia berbagi dengan para tetangganya dalam proses perjuangan hidup tersebut,” kata William.

William mengajak Ramini membentuk sebuah kelompok usaha bersama pembatikan. Cuma, perlu sedikit waktu untuk meyakinkan Ramini untuk merealisasikan ide tersebut. Setidaknya William menghabiskan dua pekan untuk melobi Ramini dan keluarganya. (Bersambung)


****
****


William Kwan, Penggerak Batik Tiga Negeri di Lasem (3)

Untuk mewujudkan mimpinya mengembalikan kejayaan Batik Tiga Negeri di Lasem, William Kwan mendirikan desa percontohan industri batik di Desa Jeruk, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang. Di desa tersebut, William memilih Ramini, perempuan pembatik berumur 44 tahun, untuk jadi penggerak bagi pembatik lainnya. Butuh waktu dua pekan bagi William untuk meyakinkan Ramini dan keluarganya. Ramini akhirnya mengangguk.

Ramini kemudian mengajak tiga teman pembatiknya untuk membentuk kelompok usaha bersama (KUB). Mereka menamakan diri sebagai KUB Srikandi Jeruk. Nama Srikandi diambil lantaran memiliki image yang berwibawa bagi perempuan. Srikandi adalah nama seorang pahlawan wanita yang gagah perkasa dalam cerita klasik wayang Mahabharata.

Selama enam bulan, William bersama Institut Pluralisme Indonesia (IPI) berusaha mengidentifikasi dan memfasilitasi kebutuhan pelatihan bagi KUB Srikandi Jeruk. Tujuannya jelas, agar mereka mampu bekerjasama dan dapat menghasilkan kain batik secara mandiri.

“Kami mengajarkan aneka pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental yang diperlukan agar anggota KUB Srikandi Jeruk dapat menjadi pengusaha atau pengrajin batik yang profesional dan mandiri,” papar William.

Aneka pelatihan diajarkan, antara lain proses produksi batik, pewarnaan alami, kepemimpinan, pembukuan alias keuangan, pemasaran, dan inovasi produk. Lantaran secara tradisional Batik Tiga Negeri di Lasem tidak lepas dari perpaduan budaya antara Tionghoa peranakan dan etnis Jawa, tak lupa William mengajarkan dasar-dasar pluralisme.

“Inti pembelajaran oleh KUB tidak dilakukan pada sesi pelatihan, melainkan diperoleh melalui kegiatan nyata sehari-hari alias action learning,” kata William.

William mencontohkan, KUB Srikandi Jeruk melakukan analisa pasar untuk menemukan jenis produk dan pasar potensial batik warna alam, melakukan advokasi untuk akses anggaran publik bagi usaha rakyat seperti batik tulis, dan sebagainya. “Tentu saja pendampingan ini gratis, semua biaya kami tanggung atau atas kerjasama dengan mitra kami,” katanya.

Usaha William tak sia-sia. Pada Februari 2007, Srikandi mulai mencoba dan menjual produk. Upaya ini berhasil. Keberhasilan itu membangun kepercayaan. Anggota KUB pun kian meningkat pesat, juga perlahan menjadi sentral produksi batik Lasem. Jika pada 2002 hanya ada 10 pengusaha atau perajin saja, juga belum terkoordinir, jumlahnya bertambah banyak.

Kehadiran KUB Srikandi Jeruk ternyata memicu pengusaha dan perajin lainnya. Khusus anggota Srikandi Jeruk saja, dalam catatan William, hingga Juni 2007 alias dalam waktu empat bulan setelah KUB Srikandi Jeruk mengawali proses produksi, jumlah pengusaha dan perajin sudah mencapai 20 orang, terdiri dari 14 orang pengusaha etnis Tionghoa (65%) dan enam orang pengusaha etnis Jawa (35%). Semuanya tergabung dalam KUB Srikandi Jeruk. Padahal, awalnya Cuma seorang Ramini dan tiga perempuan pembatik saja.

Mereka mampu menghasilkan kapasitas produksi sekitar 50 lembar batik per bulan.
Anggota pun mulai merasakan manfaat KUB. Mereka kini bebas menentukan sendiri tingkat penghasilan atau upah kerja. Tentu dengan memperhitungkan perkembangan keuntungan dari usaha batik itu.

Tentu saja, catatan William belum lengkap. Lantaran di luar Srikandi Jeruk, masih ada pengusaha dan perajin batik lain di kota Rembang. Cita-cita William untuk terus menggeliatkan kembali Batik Tiga Negeri di Lasem makin menggebu. Lantaran itu, William dan timnya kemudian melakukan pendampingan dua pihak.



Selain pendampingan langsung kepada perempuan buruh batik melalui KUB Srikandi Jeruk, William juga membantu pendampingan tidak langsung terhadap para pengusaha batik Lasem di tingkat kabupaten Rembang. Caranya, antara lain dengan perbaikan komunikasi lintas pengusaha dan pengrajin batik melalui penerbitan media. William menerbitkan majalah berkala soal batik. William juga melakukan advokasi untuk perbaikan upah perajin batik guna menjamin regenerasi industri batik Lasem, pameran batik Lasem, dan sebagainya. (Bersambung)



*****
*****

William Kwan, Penggerak Batik Tiga Negeri di Lasem (4)

Batik Tiga Negeri dari Lasem kini sudah mulai pulih. Melalui sentra percontohan Srikandi Jeruk di Desa Jeruk, Kecamatan Pancuran, Kabupaten Rembang, Batik tiga Negeri kembali mengudara. Jumlah pembatik kini sudah puluhan pengusaha atau perajin. Meski belum sepenuhnya seperti masa kejayaannya di dekade 1970-an. Di masa itu, hampir setiap rumah membatik adalah mata pencaharian utama. Kini, Batik Tiga Negeri menggeliat lagi.

Srikandi jeruk bolehlah menjadi cikal bakal kebangkitan kembali Batik Tiga Negeri di Lasem. Cuma, di luar itu, masih banyak pengusaha dan perajin di kabupaten Rembang yang masih tercecer dan tidak terorganisasi. Terinspirasi berhasil membangun komunitas batik di Desa Jeruk, William ingin hal yang sama terjadi di seluruh Kabupaten Rembang. Semua bermuara pada cita-citanya: membangkitkan kembali Batik Tiga Negeri di Lasem.

Jalan sudah terbuka kini. Tak ingin yang sudah dirintisnya kembali mundur, William Kwan kemudian menerapkan pendampingan di dua kaki. Selain pendampingan langsung kepada perempuan buruh batik melalui KUB Srikandi Jeruk, William juga membantu pendampingan tidak langsung terhadap para pengusaha batik Lasem di tingkat kabupaten Rembang. Caranya, antara lain dengan perbaikan komunikasi lintas pengusaha dan pengrajin batik melalui penerbitan media. William menerbitkan majalah berkala soal batik. William juga melakukan advokasi untuk perbaikan upah perajin batik guna menjamin regenerasi industri batik Lasem, pameran batik Lasem, dan sebagainya.

William berkisah, pendampingan secara paralel ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan kemajuan produktivitas antara proyek percontohan di Desa Jeruk dan industri batik Lasem di tingkat Kabupaten Rembang. “Sehingga manfaat ekonomi dapat diperoleh bersama oleh semua pelaku usaha batik Lasem,” kata William.

Tak mudah, memang. Membangun dari nol tak selamanya berjalan mulus. Hambatan, tentu saja, ada. William mengakui, banyak rintangan untuk mewujudkan mimpi. Di bidang teknologi batik, misalnya, William harus benar-benar mengawali dari nol besar. “Untuk proses ketelan (mordant), umpamanya, kami harus berjuang keras untuk melakukan eksperimen sendiri karena tidak terbukanya informasi dari para pengusaha,” papar William. “Tapi itu sesuatu yang wajar, tentunya.”

Aral rintang tak hanya berhenti di situ. Mencuatnya komunitas baru Batik Lasem dengan nama Srikandi Jeruk, ternyata menimbulkan iri dengki dari pengusaha yang sudah ada sebelumnya. “Tantangan terbesar kami adalah menghadapi sikap curiga dan kecemasan dari para pengusaha batik Lasem dalam mengantisipasi kemungkinan munculnya para pesaing baru sebagai hasil proyek percontohan di desa Jeruk,” papar William.

Untuk sementara, William dan rekan-rekannya di Institut Pluralisme Indonesia (IPI) hanya bisa menahan sabar. Terlebih, cita-cita belum tergapai seluruhnya. Selain berlapang dada, William harus jembar untuk terus mendorong kerjasama antar pelaku industri batik Lasem. “Saya yakin bahwa menyikapi persaingan dan kerjasama usaha secara berimbang akan membentuk kebahagian batin dan kesuksesan usaha yang lebih lestari dalam jangka panjang,” katanya.

Sampai di sini, puaskah William dengan hasil jerih payahnya? Jawabannya mudah ditebak. Manusia adalah makhluk yang tak pernah merasa puas. Masih ada asa tersisa William di balik bangkitnya kembali batik Lasem.

“Kemajuan industri batik Lasem tersebut belum sepenuhnya menjamin kelestarian masa depan industri dan budaya batik Lasem. Peningkatan pendapatan pengusaha yang belum diikuti dengan perbaikan kesejahteraan perajin akan menggerogoti kemajuan industri itu sendiri. Generasi muda pengusaha akan bergairah untuk meneruskan usaha orang tua mereka.



Sebaliknya, generasi muda dari keluarga pengrajin semakin tidak tertarik untuk menjadi pembatik. Industri batik Lasem akan sulit mendapatkan sumberdaya manusia perajin batik di masa datang jika tidak terjadi perbaikan kesejahteraan para buruh dan perajin batik Lasem itu sendiri,” begitulah William mengakhiri perjalanan kisahnya kepada Kontan. (Selesai)

Harian Bisnis dan Investasi Kontan, 5-9 Februari 2008

Inspirasi - 2 (Yayan Dahyan)

Raja Bambu dari Rajapolah (1)

Danto

Yayan Dahyan, 38 tahun, dasarnya memang punya watak pengusaha. Cepat mengambil keputusan dan pintar memanfaatkan peluang. Krisis moneter 1997 membantunya mempercepat niat menggeluti usaha kerajinan tangan dari bambu. Dia memilih keluar dari pekerjaannya di sebuah lembaga keuangan di Bandung.

Kala itu Yayan mengajak Acep Suparman membuka usaha kerajinan bambu di kampungnya di Rajapolah, Tasikmalaya, Jawa Barat. Bermodal awal patungan Rp 15 juta, usahanya cepat berkembang. Kini, sepuluh tahun kemudian, omzet perusahaannya mencapai Rp 8,8 miliar per tahun alias 732 juta per bulan, atau Rp 24,4 juta per hari. Apa rahasia suksesnya? Kami sajikan kisahnya dalam tiga tulisan.

****
****

Bagi Yayan Dahyan, krismon bukanlah kata singkat dari krisis moneter. Dalam kamus hidup Yayan, krismon adalah kiriman rezeki pasti moncer.

Pada awal 1997, kurs rupiah masih Rp 2.000 per dolar Amerika. Namun ketika krisis moneter itu melanda seluruh kawasan Asia pertengahan tahun itu, rupiah ikut terjerembab hingga di atas Rp 10.000 per US$. Harga kebutuhan pokok sekonyong-konyong melonjak tajam. Petaka bagi kebanyakan orang, tapi karunia bagi Yayan.

Lewat pergaulan yang luas, Yayan yang kala itu bekerja di sebuah lembaga keuangan di Bandung, sedikit bisa meraba tanda-tanda krisis bakal datang menjelang pertengahan 1997. Di balik musibah, pasti ada berkah. Begitu dia berfikir saat itu.

Nilai dolar Amerika yang melayang terbang, menjadi peluang baru bagi Yayan. Kerajinan tangan menjadi primadona anyar ekspor. Kebetulan, keluarga Yayan sudah lama menggeluti kerajinan tangan dari bambu, seperti kipas kaligrafi.

Dasarnya pandai memanfaatkan peluang, Yayan tanpa ragu memilih menekuni usaha kerajinan bambu untuk diekspor. Dia memutuskan berhenti kerja dari Wakil Direktur sebuah bank perkreditan rakyat di Bandung tersebut. Yayan berurun rembug dengan rekannya, Acep Suparman, kini 38 tahun, yang kala itu bekerja di sebuah perusahaan perkebunan di kawasan Sukabumi. Seperti Yayan, Acep pun memilih pensiun dari kerjanya.

“Kami sepakat untuk pulang kampung,” kata Yayan, Selasa (25/9). “Bukan karena karir kami sudah mentok, atau karena di kantor ada masalah. Kami melihat potensi kerajinan tangan (handicraft) yang sejak lama digeluti penduduk di kampung halaman kami di Rajapolah, Tasikmalaya, Jawa Barat.”

Begitulah. Pergaulan Yayan yang lapang membuatnya memahami bahwa di negara Eropa dan Amerika terdapat regulasi tentang penggunaan barang-barang yang sifatnya ramah lingkungan dan mengurangi pnggunaan barang yang bersifat sintetik. “Lebih jauhnya, kami ingin membuka lapangan kerja baru,” kata Yayan.

Yayan dan Acep bersepakat. Keduanya patungan sebesar
Rp 15 juta untuk modal awal usaha. Mereka bergerak mencari pasar, menerima order, dan berproduksi melalui pengrajin-pengrajin yang tersebar di Rajapolah. Pada 27 Mei 1997, keduanya resmi mendirikan CV. Rumpun Bambu Kitri.

Nama Rumpun Bambu terkait dengan proyek yang mereka peroleh dari Departemen Kehutanan, yaitu proyek penghijauan di daerah Tasikmalaya. Sedangkan nama Kitri terkait dengan nama usaha orangtua Yayan yang mempunyai galeri bernama Toko Kitri di Jalan Raya Rajapolah, Tasikmalaya.

Perusahan Yayan pada Juni 2003, bertepatan dengan perpanjangan izin usaha, Rumpun Bambu Kitri berganti nama menjadi Rumpun Bambu Kreasi.

Perkenalan dengan Departemen Kehutanan ikut mengubah nasib Yayan. Pertemuan berawal saat mengikuti pameran di departemen itu tahun 1997. “Kami ditawari menjadi mitra petani, yang memiliki tanah yang kurang produktif yang akan ditanami pohon bambu untuk penghijauan,” kata Yayan.

Mereka sepakat. Lahan yang ditawarkan seluas 1.900 hektar, tersebar di sembilan kecamatan di Tasikmalaya. Bambu bisa dipanen dalam enam tahun. Kerjasama bukan berarti gratis menggunakan bambu itu. Jika dipanen kelak, Yayan harus membelinya dari petani.

Dari Yayan dan Acep berencana membuat produk bambu lamina sebagai pengganti fungsi kayu yang nantinya dijadikan bahan baku untuk flooring, meubel, termasuk juga kerajinan. Bambu lamina adalah bambu yang dipadatkan menjadi semacam kayu yang keras, hingga bisa digunakan untuk membuat berbagai produk.

Agar proyek tak gagal, Yayan kemudian menggandeng Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan bagian penelitian dan pengembangan (Litbang) Dinas Kehutanan Bogor, untuk menyiapkan konsep produksi sekaligus pemasarannya.

Sembari menunggu bambu dipanen, duet Yayan-Acep terus menjalankan usaha handicraft yang telah dimulai pada awal 1997 itu. Order pertama yang mereka terima berupa produk hiasan kipas kaligrafi dari bahan bambu, untuk dijual ke Timur Tengah. Bukan perusahaannya yang langsung mengekspor, tapi melalui sebuah perusahaan eksportir.

Order pertama itu terbilang gede. Jumlahnya mencapai 12.000 unit dengan harga Rp 15 ribu per unit. Modal untuk itu ternyata masih kurang. Keduanya mencoba meminjam ke bank konvensional. Gagal. “Pada saat itu kami belum dilirik oleh Bank Umum,” kisah Yayan.

Tak hilang akal, Yayan menjajal pinjaman ke perorangan dan bank perkreditan rakyat (BPR). Hasilnya lumayan. Dapatlah pinjaman sebesar Rp 20 juta. Ekspor pertama pun lancar. Danto


Krisis bagi yang lain, bisa menjadi peluang usaha bagi kita jika pandai memanfaatkannya.


Bagian Kedua :

Raja Bambu dari Rajapolah (2)


Sejak mendirikan CV Rumpun Bambu Kitri pada 27 Mei 1997, yang kemudian berubah nama menjadi CV Rumpun Bambu Kreasi pada Juni 2003, Yayan Dahyan, 38 tahun, giat membangun relasi bisnis. Usahanya sukses. Pesanan gede perdana berhasil diraihnya.

Mereka mendapat order ekspor hiasan kipas kaligrafi ke Timur Tengah. Jumlahnya mencapai 12.000 unit dengan harga Rp 15 ribu per unit atau senilai Rp 180 juta. Sempat gelagapan lantaran modal cekak. Meminjam ke bank umum tak ada yang mau memberi. Bank konevnsional belum percaya. Untunglah pinjaman didapat dari bank perkreditan rakyat dan perorangan sebesar Rp 20 juta. Jadilah ekspor pertama itu lancar.

Kepercayaan diri Yayan memuncak. Mulai gencarlah dia bersama Acep Suparman, rekannya pendiri CV Rumpun Bambu, mencari order ekspor. Mengalirlah pesanan. Rasa pede tinggi membuat duet Yayan-Acep lengah.

Pada 1998, apa yang dikhawatirkan terjadi. Semula, Yayan sumringah ketika pesanan ekspor yang kesekian datang. Sebuah perusahaan eksportir yang baru dikenalnya, memesan order hiasan bambu untuk diekspor. Nilainya memang jauh di bawah order pertama. Besarnya “hanya” Rp 40 juta.

Setelah bicara sana-sini, Yayan dan si pemilik eksportir bersepakat. Yayan percaya. Deal. Barangpun diantar. Tapi Yayan ketiban apes. Dasarnya kurang hati-hati, “setelah dikirim mereka tidak mau membayar,” keluh Yayan.

Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. “Sejak itu kami berhati-hati bila berhubungan dengan pembeli baru dan menetapkan pembayaran uang muka sebesar 50%,“ kata Yayan.

Soal tipu-menipu, Yayan kembali merasakan. Tak lama setelah peristiwa itu, duet Yayan-Acep kembali terjerembab. Bila sebelumnya ditipu di bagian ”hilir“ alias di penjualan, kali ini terjadi di bagian ”hulu“ alias di produksi.

Kala itu, Yayan yang memasok barang dari perajin di Rajapolah, Tasikmalaya, memesan order baru kepada sekelompok perajin melalui seorang wakilnya. Sebagaimana biasa, semua barang dan pengerjaan diserahkan kepada perajin. Yayan tinggal terima beres. Setelah mufakat, Yayan menyerahkan seluruh uang pesanan sebanyak Rp 20 juta.

Ternyata, oh, ternyata. Pesanan yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Belakangan, barulah sadar. Bahwa duit order itu dibawa kabur sang oknum perajin. ”Sejak itu kami memberlakukan aturan baru,“ kata Yayan. “CV Rumpun Bambu hanya memberi upah untuk jasa pembuatan produk yang dilakukan pengrajin. Sedang bahan baku dipasok oleh kami.”

Dua kali kena muslihat, Yayan tak menyerah. Tak ingin berlama-lama dalam keprihatinan, Yayan bersiap mengembangkan pasar. Strategi pun disiapkan. Berbagai cara pemasaran dijalankan. Ide baru muncul. Agar usaha berkembang, maka harus ada pengembangan produk. Dia merealisasikan idenya. Dari semula hanya membuat kerajinan dari bambu, produk dilebarkan menjadi produk aksesori. Seperti alat-alat kantor, antara lain kotak berkas, tempat kertas, kotak majalah, kotak CD, tempat pulpen, tempat memo, pigura, kotak alat tulis.

Yayan juga membuat produk houseware alias alat-alat rumah tangga dan dekorasi, seperti karpet, tempat sampah, kotak tisu, bantal, taplak meja. Dan terakhir adalah produk aksesori seperti sandal, tas, kotak kosmetik, dan kaligrafi.

Yayan kemudian aktif mengikuti berbagai pameran, baik di dalam maupun luar negeri. Mereka antara lain menjadi langganan tetap pameran kerajinan terbesar di Indonesia seperti Inacraft dan Pameran Produk Ekspor (PPE).

Selama pameran, Yayan yang someah alias ramah giat membangun hubungan silaturahmi dengan sesama peserta pameran. Hasilnya positif. “Hubungan tersebut bersambung menjadi hubungan bisnis, dengan menjadikan mereka sebagai buyer kami atau menghubungkan kami dengan para buyer yang mereka kenal,” ucap Yayan.

Agar pemasaran menjangkau yang lebih luas, Yayan bersama Acep membuat situs soal promosi produknya. Untuk pasar lokal, duet dari Tasikmalaya itu membuat brosur produk untuk disebar ke tempat-tempat potensi pasar. Tak lupa memasang iklan di koran dan majalah.

“Kami juga menjalin kerja sama dengan perusahaan lain (Complementary Product), misalnya dengan perusahaan furniture, barang kami bisa dijadikan sebagai pengisi container mereka yang memiliki celah kosong,” kata Yayan.

Perluasan pasar dilakukan juga dengan berkonsultasi ke Badan Pengembangan Eksor Nasional (BPEN). Tidak lupa menggandeng Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa Tasikmalaya, Dinas Perindustrian Kabupaten Tasikmalaya dan Propinsi Jawa Barat untuk melakukan promosi, khususnya pameran. Dari semua lembaga itu, duet Yayan-Acep berhasil mendapat fasilitas pelatihan manajemen UKM, misalnya untuk ekspor.

Supaya produknya kian dikenal luas, Yayan tak hanya menggandeng lembaga dalam negeri. Direktur Utama CV Rumpun Bambu Kreasi itu juga menjalin kerja sama dengan CBI (Centre for The Promotion of Imports from Developing Countries) di Belanda.

Hasilnya sangat membanggakan. Beberapa bulan setelah ikut Pameran Produk Ekspor (PPE) 2003, Won International, sebuah perusahaan Korea, memesan tempat sampah, tempat tisu, tempat roti dan alas piring dengan material pandan. “Ini merupakan ekspor perdana kami yang ditangani secara langsung,” kata Yayan. Jumlah yang diekspor sebanyak satu container 20 kaki (feet) senilai Rp 100 juta.



Bagian Ketiga:

Raja Bambu dari Rajapolah (3)

Rajin berpameran, membuat usaha Yayan Dahyan kian berkembang. Rezeki nomplok pertama juga datang dari hasil pameran. Beberapa bulan setelah ikut Pameran Produk Ekspor (PPE) 2003, Won International, sebuah perusahaan Korea, memesan tempat sampah, tempat tisu, tempat roti dan alas piring dengan material pandan.

Itu merupakan ekspor perdana Yayan yang ditangani secara langsung. Sebelum itu, kegiatan ekspor selalu dilakukan oleh perusahaan eksportir lain. Jumlah yang diekspor kala itu lumayan gendut, sebanyak satu container 20 kaki (feet) senilai Rp 100 juta. Sukses ini membut Yayan girang bukan kepalang.

Rasa percaya diri pria 38 tahun itupun kian memuncak. Pasar semakin dilebarkan. Produksi barang-barang kerajinan makin diperbanyak. Jumlah total yang diproduksi menjadi lebih dari 400 item produk. Berkembangnya produksi hasil ketekunan Yayan tak lepas dari kreatifitas produknya.

Satu hal yang membedakan produk Yayan dengan yang lainnya adalah soal keunikan produknya. ”Desain kami selalu by order,“ kata Yayan. Lantaran itu, produk yang akan dibuat sudah ada sketsanya dari pembeli.

Sampai di sini Yayan bolehlah menepuk dada. “Produk yang kami produksi mempunyai ke istimewaan, yaitu mempunyai nilai seni dan fungsi serta ramah lingkungan, dan proses produksinya bersifat padat karya dengan melibatkan banyak masyarakat, dari mulai masyarakat daerah pedalaman sampai ke masyarakat kota,“ papar Yayan.

Kian berkembang pasar, makin banyak modal dibutuhkan. Beberapa waktu setelah ekspor ke Korea itu, kebutuhan modal makin mendesak. Maka kali ini Yayan pede meminjam duit ke bak konvensional. Bank umum yang semula memicingkan mata, buru-buru menyambut.
Pinjaman dari sebuah bank pun diraih. Besarnya sangat lumayan, Rp 125 juta. Satu tahun kemudian, kredit ditambah. Yayan meminjam kembali sebanyak Rp 500 juta. Usaha dibenahi. Manajemen keuangan dikelola secara profesional layaknya perusahaan besar, termasuk rutin membuat laporan neraca keuangan secara terperinci.

Yayan kini bolehlah berbangga. Korea tetap menjadi langganan ekspornya. Modal yang bertambah membuat pasar juga kian luas. Kini Yayan, tentu saja bersama Acep Suparman, rekannya di CV Rumpun Bambu Kreasi, melebarkan sayap ke Eropa. Selain Korea, Yayan sudah bisa mengekspor antara lain ke Malaysia, Swedia, Perancis, Jepang, dan Spanyol.

“Ekspor dilakukan langsung dan tidak langsung,‘ kata Yayan. Ekspor langsung jika dilakukan secara spontan oleh Yayan. Ekspor tidak langsung kalau dilakukan oleh perusahaan eksportir lainnya.

Dari keenam negara tersebut, hanya Malaysia yang ekspornya sesekali. Sisanya rutin dilakukan. Spanyol menyumbang pendapatan paling besar dari total ekspor CV Rumpun Bambu. Yaitu sebesar 39%. Sisanya dibagi rata oleh Korea sebesar 16%, Swedia (15%), Jepang (15%), dan Asia Tenggara, termasuk Malaysia (15%).

Yayan riang. Soalnya ekspor produk-produk kerajinannya terus menanjak. Sebelum ada pesanan perdana dari Korea itu, total ekspornya pada 2002 sebanyak US$ 192.038 atau sekitar Rp 1,82 miliar. Jumlah ini merupakan 92,5% dari total pendapatan CV Rumpun Bambu yang sebanyak US$ 207.608,7 (Rp 1,89 miliar). Sisa pendapatan lainnya dipasok dari domestik alias non-ekspor.

Setelah pesanan Korea masuk, hingga akhir 2003 total pendapatannya menjadi US$ 252.282,6 (Rp 2,29 miliar). Dari jumlah itu, 94,4% diraup dari ekspor. Setahun kemudian, jumlah akumulasi pendapatannya menjadi US$ 360.978,3 (Rp 3,28 miliar).

Tahun lalu, CV Rumpun Bambu sudah menghasilkan omzet sebanyak US$ 965.740,5 (Rp 8,8 miliar). Dari jumlah itu 94%-nya hasil sumbangan ekspor.

Sukses Yayan tak hanya dari segi pendapatan. Dari penyerapan tenaga kerja di Rajapolah, Tasikmalaya, Yayan terbilang berhasil. Pada 2002, tenaga kerja yang bekerja secara penuh di bawah payung CV Rumpun Bambu sebanyak 90 orang. Tahun 2006, jumlah tenaga kerjanya melonjak menjadi 513 orang.

Kini, di kantornya, terpajang berbagai penghargaan. Antara lain piagam Juara I Mitra Usaha Hutan Rakyat Tingkat Nasional 2001 dari Departemen Kehutanan, Juara I Untuk Kategori Mitra Usaha Hutan Rakyat pada Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Nasional Tingkat Jawa Barat 2001 dari Gubernur Jawa Barat, Pemuda Pelopor tingkat Kabupaten Tasikmalaya 2002.
Selain itu, ada tiga penghargaan lain yang membuat Yayan bangga. Yaitu masuk sembilan finalis Dji Sam Soe Award 2005 kategori UKM terbaik dengan memperlihatkan tingkat kesemangatan berwirausaha (Euterpreunership), nominasi Primaniyarta Award (Penghargaan untuk para eksportir yang berprestasi) tahun 2007, untuk kategori UKM ekspor terbaik, dan penghargaan dari Bupati Tasikmalaya dalam Pengembangan Industri Kecil Menengah di Kabupaten Tasikmalaya (2007).

Puaskah Yayan? “Seperti umumnya sifat manusia, kami ingin mendapatkan yang lebih,” kata Yayan. Dia kini berniat membangun pabrik untuk produksi bambu lamina. Semuanya sudah ok. Hanya terbentur soal modal. “Untuk merealisasikannya kami butuh dana Rp 15 milyar, untuk itu kami berharap ada investor yang tertarik untuk bekerja sama,” kata Yayan. Sebentar lagi, Yayan bakal terkenal sebagai Raja bambu dan Rajapolah. (Selesai)

Harian Bisnis dan Investasi Kontan, 27-29 September 2007

Inspirasi - 1 (Slamet Riyadi Lumintu)

Bersama Lansia, Mengubah Limbah Menjadi Rupiah (1)

Danto

Slamet Riyadi menggaraplimbah tak berguna menjadi lipatan rupiah. Dengan memanfaatkan orang-orang usia lanjut, Slamet memproduksi berbagai hasil kerajinan dari alumunium foil, limbah tak berguna. Hasil kreasi Slamet dijadikan contoh oleh pemerintah Kanada dalam pemanfaatan limbah. Slamet mendaoat berkah rupiah dari hasil kotoran limbah.

Selain penghargaan dalam sebuah kompetisi antar pelaku usaha kecil dan menengah dari sebuah institusi ternama di negeri ini, Slamet juga mampu memberdayakan orang-orang jompo menjadi produktif. Lumintu, demikian Slamet memberi nama pada kumpulan pekerjanya. Arti kasarnya: Lumayan, itung-itung nunggu tutup umur. Dari tenaga para orang jompo ini, omzet Slamet bisa mencapai Rp 8 juta sebulan.

****
****
Danto

****
****

Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Gelombang resesi ekonomi itu datang tiba-tiba. Menelisik hampir ke seluruh daratan Asia. Dari Thailand, Filipina, Malaysia, juga Indonesia. Di dalam negeri, dampak krisis yang kemudian disebut krisis ekonomi alias krismon itu hinggap ke seluruh pelosok. Dari Jakarta, hingga dusun pedalaman.

Politik dalam negeri memanas. Pondasi ekonomi roboh. Semua harga melonjak tiba-tiba. Nilai kurs rupiah menukik tajam. Dari semula sekitar Rp 2.000 per US$ di awal 1997, sekonyong-konyong terjun bebas hingga mencapai angka Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat pada awal 1998.

Gelombang pemutusan hubungan kerja atawa PHK besar-besaran hampir terjadi di semua sektor. Dari perusahaan kelas wah, hingga ecek-ecek. Semua kacau balau.

Slamet Riyadi, 56 tahun, berada di deretan nama orang yang terkena PHK itu. Sepuluh tahun silam itu, pekerjaan Slamet tak terbilang keren-keren amat. Dia hanyalah seorang pekerja kontrak sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di bilangan Tangerang.

Gelombang krismon itu yang membuat Slamet terputus dari pekerjaannya. Kena PHK. “Uang pesangon saya saat itu hanya sekitar Rp 700.000,” kata Slamet, kepada Kontan.

Siapa sangka siapa nyana. Kehilangan pekerjaan di SPBU ternyata menjadi titik awal kesuksesan Slamet di kemudian hari. Kini, tak hanya di tempat tinggalnya di kawasan Pinang, Pondok Aren, Tangerang, Slamet dikenal sebagai pengusaha kerajinan tas dan hiasan perlengkapan wanita dari limbah alumunium foil. Omzet per bulan hingga Rp 8 juta per bulan.

Yang membuat Slamet kesohor tentu saja bukan hanya karena pengelola limbah, tapi juga karena pekerjanya terbilang unik. Para wanita-wanita lanjut usia alias lansia. Saat ini jumlah pekerjanya 58 orang, sebagian besar lansia.
Begini. Slamet yang nganggur akibat PHK itu, tentu saja pusing tujuh keliling mencari penghidupan baru.

Penghasilan tetap tak ada. Anak empat meski dibiayai. Awal berkah itu datang suatu hari. Slamet mendapat keluhan dari sejumlah wanita-wanita lansia di sekitar tempat Slamet tinggal, di bilangan Pinang, Tangerang.

“Pak Slamet, tolonglah kami, biar kami bisa kerja untuk sesuap nasi. Tolong carikan pekerjaan sesuai keahlian kami: menganyam.” Begitulah Slamet menirukan seorang diantara lansia itu. Dulu, sebelum jadi kawasan industri dan perumahan, kawasan Pinang, Tangerang, dikenal sebagai hutan pandan. Dari sinilah kerajinan pandan asal Tangerang diproduksi. Para lansia itulah yang dulu sebagai perajin pandan.

Kebutuhan perumahan yang kian tumbuh, mendesak area tanaman pandan kian menyempit. Kerajinan pandan pun kian menyusut. Lama-lama habislah hutan pandan itu. Tamat pula riwayat pengrajin pandan di kawasan itu.

Bekas para perajin itulah yang kemudian mengadu ke Slamet. Tak ada pengalaman di bidang kerajinan, membuat Slametkeras memutar otak. Ilham didapat. Slamet memutuskan untuk mencoba usaha daur ulang limbah. “Kebetulan saat itu sedang marak-maraknya usaha daur ulang, baik dari limbah organic maupun lainnya,” kata Slamet.

Supaya laku, Slamet memilih bahan baku limbah yang tidak diproduksi oleh yang lain. Slamet melirik limbah plastik aluminium foil. Seperti kemasan makanan ringan anak atau biasa disebut ciki, kemasan makanan ringan, kemasan susu, dan segala macam itu yang berbahan aluminium foil.

Lantaran minim pengalaman, Slamet mengkreasi bahan-bahan itu dengan ala kadarnya. Seperti untuk dekorasi pesta, bunga-bunga hias, hiasan natal. Di kemudian hari, kerajinannya melebar menjadi tas anyaman dari bahan alumunium foil. Hasilnya ciamik.

Kali pertama, Slamet hanya mempekerjakan enam orang wanita, sebagian besar para lansia. “Diantara ibu-ibu dan para lansia ini punya suatu ketrampilan khusus turun temurun, yakni menganyam,” kata Slamet, kelahiran Cirebon, Jawa Barat. Mulailah Slamet memproduksi kerajinan dari limbah alumunium foil itu. Usang sisa pesangon sebesar Rp 500.000 dijadikan modal awal.

Agar klop dengan pekerjanya, Slamet kemudian memberi nama usahanya dengan nama Lumintu. Kata Lumintu diambil dari bahasa Jawa atau Sunda bermakna hampir sama, tidak terputus atau turun-temurun. Selain berarti telah bersyukur kepada Tuhan yang telah diberikan rejeki dan mudah-mudahan turun-temurun ke anak cucu, Slamet berkisah, Lumintu adalah kependekan dari kalimat ‘Lumayan itung-itung nunggu tutup umur’. Klop dengan umur pekerjanya yang lansia.

Lantaran sangat baru menekuni usaha ini, Slamet sedikit kelimpungan mencari bahan baku. “Saya sendiri yang cari bahan bakunya, sulit sekali. Terkadang saya harus bekerja sama dengan pemulung untuk mendapatkan pasokan bahan baku itu,” papar Slamet. Di lain waktu, Slamet harus berburu bahan baku di pusat-pusat perbelanjaan, di pasar, juga di sekolahan-sekolahan. (Bersambung)

*****

Bersama Lansia, Mengubah Limbah Menjadi Rupiah (2)

Slamet Riyadi baru pertama kali terjun ke bisnis pengelolaan limbah alumunium foil. Awalnya Slamet hanya membuat kerajinan yang terbilang sederhana. Seperti untuk dekorasi pesta, bunga-bunga hias, hiasan natal. Di kemudian hari, kerajinannya melebar menjadi tas anyaman dari bahan alumunium foil. Hasilnya ciamik. Semua dikerjakan oleh para pekerja Slamet yang sebagian besar para wanita lanjut usia alias lansia. Itulah sebabnya Slamet menamakan usahanya dengan sebutan Lumintu. Artinya: Lumayan itung-itung nunggu tutup umur.


****
****

Kali pertama, Slamet hanya mempekerjakan enam orang wanita, sebagian besar para lansia. “Diantara ibu-ibu dan para lansia ini punya suatu ketrampilan khusus turun temurun, yakni menganyam,” kata Slamet, kelahiran Cirebon, Jawa Barat. Mulailah Slamet memproduksi kerajinan dari limbah alumunium foil itu. Uang sisa pesangon sebesar Rp 500.000 dijadikan modal awal.

Agar klop dengan pekerjanya, Slamet kemudian memberi nama usahanya dengan nama Lumintu. Kata Lumintu diambil dari bahasa Jawa atau Sunda bermakna hampir sama, tidak terputus atau turun-temurun. Selain berarti telah bersyukur kepada Tuhan yang telah diberikan rejeki dan mudah-mudahan turun-temurun ke anak cucu, Slamet berkisah, Lumintu adalah kependekan dari kalimat ‘Lumayan itung-itung nunggu tutup umur’. Klop dengan umur pekerjanya yang lansia.

Lantaran sangat baru menekuni usaha ini, Slamet sedikit kelimpungan mencari bahan baku. “Saya sendiri yang cari bahan bakunya, sulit sekali. Terkadang saya harus bekerja sama dengan pemulung untuk mendapatkan pasokan bahan baku itu,” papar Slamet. Di lain waktu, Slamet harus berburu bahan baku di pusat-pusat perbelanjaan, di pasar, juga di sekolahan-sekolahan.

Lantaran ketengan, bahan-bahan yang didapat terbilang susah untuk diproduksi jadi kerajinan. Yang paling bagus adalah alumunium foil dari bahan kemasan pasta gigi atau tabung odol. “ Tube odol itu yang paling ideal untuk bahan dasar anyam,” kata Slamet. Minim pengalaman dan bahannya yang terbatas, membuat perburuan bahan baku itu menjadi tak gampang. Pusing tujuh keliling.

Bahan baku yang digaetpun seadanya. Bahan baku yang terbatas itu kemudian diserahkan kepada keenam pekerja Slamet dengan system borongan. “Saya saat itu belum berfikir untuk menangguk untung, yang penting jalan dulu dan memberi pekerjaan kepada para lansia itu,” kata Slamet. “Untung Rp 500 per buah pun saya jalani.”

Cara pembuatan aneka dekorasi itu diolah sederhana. Alumunium foil dibersihkan dulu, baru kemudian diolah membentuk kerajinan dekorasi sesuai keinginan. Hasilnya juga tak banyak.

Sampai di sini pusing kembali menghampiri Slamet. Kemana menjual barang-barang hiasan itu? Tak hilang akal, Slamet menempuh cara klasik: pemasaran di kaki lima. Tempat-tempat keramaian, seperti pertunjukan di kampung-kampung, pasar, dan sekolahan, disatroni. Hasilnya sangat pas-pasan. Frustasi akhirnya menghampiri Slamet. Niat berhenti dan beralih usaha menghampiri Slamet. “Tapi saya sadar, bahwa para lansia itu harus tetap mendapatkan nafkah,” kata Slamet. Tekad kembali bulat, melanjutkan apa yang sudah dirintis.

Orang sabar, disayang Tuhan. Slamet percaya itu. Sempat mandeg maju melanjutkan bisnis rumahannya, tahun 2000 menjadi titik awal kesuksesan Slamet sesungguhnya.

Awalnya, seperti biasa, Slamet menjajakan produk kerajinan sederhana miliknya di pameran kerajinan rakyat di Parkir Timur Senayan, Jakarta. Bukan. Slamet bukan menjadi peserta resmi pameran. Dia hanya menjajakan hiasan miliknya di luar area pameran. Menjadi pedagang kaki lima.

Pameran dilangsungkan selama beberapa hari. Nah, di hari ketiga pameran, rezeki itu datang. Slamet yang tengah menjaga hasil produknya dihampiri dua orang yang belum dikenalnya. Satu pribumi, dan satunya bule. Belakangan diketahui salah satu diantara mereka adalah salah seorang pegawai di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan salah seorang utusan pemerintah Kanada.

Tak perlu banyak cingcong, keduanya tiba-tiba memborong produk Slamet. “Apapun produk yang saya hasilkan, semua dibeli, nggak tau buat apa,” kata Slamet, heran.

Untung saja pameran di Parkir Timur Senayan itu masih berlangsung esko harinya. Jika saat itu adalah hari penutupan, barangkali cerita akan menjadi lain. Sehari setelah memborong semua produk Slamet, dua orang itu kembali menemui Slamet di arena pameran. “Pak Slamet, besok silakan datang ke kantor saya,” kata Slamet menirukan pegawai BPPT tersebut. (Bersambung)

*******
Bersama Lansia, Mengubah Limbah Menjadi Rupiah (3)

Slamet Riyadi berhasil melunakkan hati mafia-mafia limbah di Jawa Tengah. Mereka mau berbagi. Onggokan limbah aluminium foil kemudian diolahnya menjadi aneka macam kerajinan. Tujuh tahun lalu itu, produk buatan Slamet masih terbatas. Paling banter adalah tikar sajadah dari limbah aluminium foil. Semua dikerjakan oleh 58 perajin yang sudah sepuh.

*******
*******

YANG disebut perajin oleh Slamet, ya, para wanita lanjut usia alias lansia di sekitar tempat tinggalnya itu. Limbah pabrik itu ternyata memiliki karakter yang agak berbeda dengan limbah ketengan hasil buruan dari pemulung atau di pasar-pasar. Limbah aluminium foil pabrik ternyata lebih licin. Alhasil, semua pekerjaan kembali ke titik nol alias belajar kembali dari awal. Meski para perajin itu sebelumnya sudah menekuni anyaman pandan, kemudian mencoba anyaman dari limbah serupa. Tap, ya, itu, ketengan.

Coba dan salah alias trial and error dirasakan betul oleh Slamet dan gerbong pekerjanya yang berjumlah 58 orang. Limbah pabrik itu terpaksa harus benar-benar jadi limbah tak berguna lantaran para perajin gagal membentuknya menjadi produk anyaman. “Saat itu belum langsung jadi barang bernilai jual, tapi kami ulang lagi, ulang lagi,” kata Slamet. Lama-lama terbiasa.

Tahun 2000 itulah awal mula Slamet memproduksi tak hanya untuk dekorasi pesta, melainkan juga kerajinan lain seperti tikar sajadah dan tikar lantai. Tapi, masih belum merambah pada produk yang membuat Slamet kini rada dikenal orang: anyaman tas aluminium foil.

Setelah produk dihasilkan, pusing tujuh keliling lagi-lagi menghampiri. Tak mudah memasarkan tikar anyaman aluminium foil itu. Slamet akhirnya kembali melirik cara sederhana: kakilima. “Kami jual di masjid-masjid setiap salat Jumat, di kantor-kantor, dan berbagai tempat di titik-titik pemasaran,” katanya.

Dari kakilima itulah rezeki Slamet terus mengalir. Tak lama setelah bertemu dengan pejabat BPPT, Slamet kemudian berkenalan dengan seorang pejabat di Kementerian Lingkungan Hidup. Dari sanalah kemudian dia mulai mengikuti pameran-pameran kerajinan rakyat.

Produk Slamet mulai dikenal luas. Permintaan kian meningkat. Pada 2002, seorang pengusaha dari Tapanuli, Sumatra Utara, memesan puluhan tandok untuk pesta. Biasanya, tandok di Medan terbuat dari bahan pandan. “Tapi dia tertarik tandok buatan saya, karena media warna silver ini sesuai untuk pesta,” kata Slamet.

Pesanan berlanjut. Si pemesan asal Tapanuli itu belakangan menjadi pelanggan. Dia membisniskan produk Slamet ke koleganya di Medan. Ordernya berjalan hingga kini.

Agar berkembang, Slamet kemudian melebarkan jenis produk. Mulai saat itu, dia mulai membuat hiasan dekorasi pesta, tandok, tikar sajadah, hingga tas nan ciamik dari bahan aluminium foil. Slamet menambah jumlah pekerjanya menjadi 64 orang, 38 orang di antaranya adalah lansia di atas 60-96 tahun, sisanya ibu-ibu rumahtangga dan beberapa anak remaja.

Merekalah yang menggarap tiap pesanan dengan sistem borongan. Besarnya upah berdasarkan jenis produk yang dikerjakan. Untuk tas sedang, misalnya, mereka dibayar senilai Rp 3.500 per buah. Dalam sepekan, biasanya tiap orang mampu menyelesaikan 10-15 buah. Lain lagi untuk tikar sajadah, upah yang akan diterima sebesar Rp 10.000 per lembar. Sedang tikar besar Rp 30.000 per lembar.

Keuntungannya lumayan. Harga jual produk berkisar antara Rp 2.500-Rp 120.000. Tandok hantaran, umpamanya, dilego antara Rp 15.000-Rp 25.000. Tas sedang berkisar Rp 50.000-Rp 80.000. Slamet juga memproduksi tas-tas eksklusif dengan kombinasi kulit, harganya Rp 120.000-Rp 150.000. Omzet per bulan saat ini mencapai Rp 12 juta-Rp 15 juta. “Keuntungan bersihnya sekitar 25%,” kata Slamet.

Kini, Slamet tinggal menikmati hasil. Produknya yang unik, membuat banyak pihak meminta Slamet mengajarkan kerajinannya tersebut, termasuk di sekolah-sekolah. “Para lansia itu yang memberi pelajaran teknisnya. Mereka bangga, yang sebelumnya tidak tahu ke mana-mana, kini kerap menginap di hotel dan berkenalan dengan masyarakat modern,” papar Slamet, sumringah.

(Selesai)

Harian Bisnis dan Investasi KONTAN, 19-12 Desember 2007

Jika Petani Kurang Vitamin

Hasil panen cengkih tahun lalu terendah dalam 26 tahun terakhir. Pengusaha rokok kecil sudah merasakan dampaknya.SUDAH dua pekan terakhir ini Muhammad Ikhsan, produsen rokok kretek rumahan di kawasan Malang, Jawa Timur, resah gelisah. Harga cengkih, satu di antara bahan baku utama usahanya, perlahan merambat naik. Pada awal tahun, harga per kilogram di tingkat pedagang masih Rp 30-40 ribu. Pekan lalu sudah Rp 56 ribu.

“Kecenderungannya akan terus naik,” kata Ikhsan kepada Tempo, Kamis pekan lalu. “Puyeng saya, Mas,” Abdul Hamid, pengusaha rokok rumahan lainnya, menimpali. Itulah kini yang dirasakan para pengusaha pabrikan rokok kecil --dengan produksi di bawah 6 juta batang per tahun.

Bermula dari anjloknya hasil panen cengkih tahun lalu secara merata di beberapa daerah sentra cengkih, seperti Maluku Utara, Sulawesi Selatan, Manado, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Tengah, Ambon, dan Sumatera Barat. Dari 431,1 ribu hektare lahan total di Indonesia, menurut catatan Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian, hasil panen hanya 28,4 ribu ton, seperempat hasil tahun 2005, atau rekor terendah dalam 26 tahun terakhir. “Dalam beberapa tahun ke depan, hasil panen tak akan beda jauh,” kata Sujaya Permana, Kepala Sub Direktorat Tanaman Rempah, Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian.

Dampaknya baru terasa dalam dua pekan terakhir. Tak hanya di Malang, di daerah lain pun harga cengkih menari-nari. Di Sumatera Barat, misalnya, pekan lalu harga cengkih sempat menyentuh Rp 80 ribu per kilogram --tertinggi dalam empat tahun terakhir-- dari harga normal Rp 40 ribu. “Kenaikan harga ini akan terus merembet ke daerah lain,” kata Rizki Muis, Direktur Budidaya Tanaman Rempah dan Penyegar, Departemen Pertanian.

Sujaya menengarai, selain faktor cuaca, anjloknya panen tahun lalu juga akibat keengganan petani merawat tanaman. “Mereka kekurangan vitamin,” katanya. Adapun "kekurangan vitamin" yang dimaksud Sujaya adalah harga jual cengkih yang rendah di tingkat petani, cuma Rp 30 ribu. Untuk menghasilkan satu kilogram cengkih kering, kata Sujaya, butuh biaya perawatan hingga Rp 25 ribu, meliputi pembelian pupuk, pestisida, dan pengairan.

Dengan harga jual Rp 30 ribu di tingkat petani, keuntungan hanya Rp 5 ribu. Jumlah ini tak mencukupi untuk menambal biaya tenaga. “Yang untung pedagang itu,” kata Soetardjo, Ketua Asosiasi Petani Cengkih Indonesia. Di tingkat tengkulak, dalam kondisi normal harganya Rp 40 ribu. Tapi, saat ini harga itu melonjak karena petani sudah tak punya stok cengkih.

"Yang punya stok itu pedagang," kata Soetardjo. Menurut dia, petani akan kembali bergairah jika harga di tingkat mereka ditetapkan minimal Rp 37.500 hingga Rp 45 ribu. Kebutuhan cengkih dari tahun ke tahun terus saja meningkat. Permintaan pabrikan rokok kretek saja, yang pada 2003 masih 77,85 ribu ton, tahun lalu sudah mencapai 94,05 ribu ton. “Pada 2009 diperkirakan kebutuhannya mencapai 120 ribu ton,” kata Sujaya.

Sebaliknya, hasil panen cenderung menurun. Pada 2003, dari total 442,33 ribu hektare lahan di Indonesia bisa dipanen 117,68 ribu ton cengkih kering. Tahun berikutnya hasil panen itu susut menjadi 111,4 ribu ton dari 429,9 ribu hektare lahan, dan hanya naik sedikit pada 2005, menjadi 113,6 ribu ton dari 431,1 ribu hektare lahan. Untuk saat sekarang, memang baru pabrikan rokok seperti Ikhsan dan Abdul Hamid yang terimbas langsung menipisnya persediaan cengkih.

Pabrikan besar masih tenang. "Kami masih memiliki stok 160 ribu ton, cukup untuk satu-dua tahun ke depan," kata Ismanu Soemiran, ketua Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia.Tapi, menyusutnya hasil panen cengkih tak urung mengkhawatirkan pengusaha kelas atas juga. “Saya takut terjadi under supply,” kata Angky Camaro, Managing Director PT HM Sampoerna, satu di antara produsen rokok kretek terbesar di negeri ini. K

arena itu, pemerintah mulai berancang-ancang. "Menjelang akhir bulan ini kami akan bertemu dengan Departemen Perindustrian untuk membahas kekurangan pasokan cengkih ini,” kata Rizki Muis. Danto

Majalah TEMPO, Edisi 22 Januari 2007