William Kwan, Penggerak Batik Tiga Negeri di Lasem (1)
Danto
Liburan selalu mendatangkan kenangan tak terlupakan. Ketika bervakansi ke kota Semarang di awal 2004, William Kwan hanyalah seorang pelancong yang mencari suasana segar di kota Semarang. Ternyata, oleh-oleh vakansi kali ini terasa sangat istimewa. Bukan barang, juga bukan buah tangan. William membawa oleh-oleh dari Semarang ke Jakarta berupa kata baru: “Batik Tiga Negeri di Lasem”. Kata asing yang menggelitik pikirannya.
“Sepulang ke Jakarta saya mencoba mencari arti kata tersebut melalui internet,” kata William, kini Direktur Institut Pluralisme Indonesia, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang di bidang multietnik.
Berselancar di dunia maya mencari kata “Batik Tiga Negeri di Lasem” membawanya pada satu kesimpulan. Batik Tiga Negeri merupakan satu sebutan merek batik dari Lasem, kota kecil di daerah Rembang, Jawa Tengah. Pada masa jayanya di dekade tahun 1970-an, Batik Tiga Negeri merupakan salah satu gaya batik pesisir. Dilihat dari skala industri kala itu, batik Lasem termasuk salah satu dari lima besar industri batik di Indonesia, selain Surakarta, Yogyakarta, Pekalongan dan Cirebon.
Motif dan warna batik Lasem juga cukup terkenal. Motif Batik Tiga Negeri dan Lok Can, misalnya, digemari oleh para konsumen batik di Jawa, Sumatera, semenanjung Malaya (Malaysia dan Singapura), Bali, Suriname, dan sebagainya. Warna merah batik Lasem, disebut sebagai ‘abang getih pitik (merah darah ayam)’, konon tidak dapat dihasilkan di daerah lain.
Tapi itu cerita masa lalu. Pada tahun 2002, jumlah perajin batik Lasem tercatat cuma ada 10 pengusaha atau perajin. “Saya tertegun mendapatkan kenyataan bahwa batik Lasem ternyata dulu amat terkenal sebagai salah satu gaya batik pesisir, tetapi warisan budaya ini sekarang kurang dikenal masyarakat. Industri batik Lasem yang terletak di daerah tertinggal kabupaten Rembang pun sudah demikian surutnya,” papar William, kepada Kontan.
Itu hal menarik pertama yang menggelitik pria 46 tahun itu. Hal yang memikat lainnya dari batik lasem adalah soal pergeseran komposisi etnisitas dari pengusaha batik Lasem. Secara tradisional, para pengusaha batik Lasem berasal dari keluarga etnis Tionghoa Peranakan di kota Lasem. Sedangkan pengrajin atau buruh batik Lasem berasal dari keluarga etnis Jawa di pedesaan sekitar kota Lasem. Para pengrajin batik Lasem tersebut tidak mendapatkan order pekerjaan yang memadai saat industri batik Lasem surut. Tentu saja, hal ini membuat para perajin terancam kehilangan sumber penghasilan tambahan.
Beberapa orang pengrajin Jawa mulai mencoba menjadi pengusaha, sementara keluarga pengusaha Tionghoa kehilangan minat untuk meneruskan usaha warisan nenek moyang mereka.
“Kombinasi dinamika kemerosotan industri batik Lasem, kurangnya apresiasi terhadap budaya batik Lasem, problem regenerasi dan hubungan silang budaya Jawa-Tionghoa dalam proses penyesuaian ke arah perubahan komposisi pengusaha batik Lasem demikian menarik perhatian saya untuk melakukan riset dan pendampingan masyarakat ke arah revitalisasi budaya dan usaha kecil batik Lasem,,” papar William, yang memiliki nama China Kwan Hwie Liong.
Merasa tertarik dengan batik Lasem itu, vakansi William Kwan di awal tahun 2004 itu kemudian berlanjut. Pada periode Maret 2004-Mei 2006, William bolak-balik Jakarta-Rembang untuk keperluan observasi lapangan, wawancara, dialog, dan seminar soal Batik Tiga Negeri. William ternyata serius menggarap idealisme untuk kembali membangkitkan batik Lasem itu. Beberapa kali, William mengajak sejumlah desainer nasional, seperti Musa Widyatmodjo dan Dina Midiani dari Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) untuk mengunjungi Kabupaten Rembang. Mereka kemudian berdialog dengan para pengusaha serta pengrajin batik Lasem.
***
***
William Kwan, Penggerak Batik Tiga Negeri di Lasem (2)
Butuh waktu dua tahun, tepatnya pada periode Maret 2004-Mei 2006, bagi William Kwan untuk survei awal pendampingan perajin Batik Tiga Negeri di Lasem, kota kecil di Rembang, Jawa Tengah. Dalam rentang waktu itu, William bolak-balik Jakarta-Rembang untuk keperluan observasi lapangan, wawancara, dialog, dan seminar soal Batik Tiga Negeri. William juga beberapa kali mengajak sejumlah desainer nasional, seperti Musa Widyatmodjo dan Dina Midiani dari Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) untuk mengunjungi Kabupaten Rembang. Mereka kemudian berdialog dengan para pengusaha serta pengrajin batik Lasem.
Baru pada bulan Juni 2006 William fokus pada realisasi idealismenya membangun kembali batik Lasem. Agar cepat berkembang, harus ada satu tempat membangun proyek percontohan. Tujuannya supaya dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif tentang bagaimana sebuah revitalisasi budaya dan ekonomi kreatif, seperti batik Lasem, dapat dilakukan. Pada Agustus 2006, William menemukan satu tempat yang pas untuk percontohan proyeknya. Namanya Desa Jeruk. Dusun ini terletak di Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang.
Soal alasan kenapa memilih Desa Jeruk, William berkisah. Desa ini merupakan sebuah dusun yang tertinggal secara ekonomi. Sulit memperoleh air, misalnya. Dusun ini dihuni oleh sejumlah besar perempuan pembatik yang telah menganggur cukup lama. Terdapat 172 orang perempuan yang memiliki ketrampilan membatik, namun hanya 33 orang alias sekitar 19% di antaranya yang masih bekerja aktif.
Di desa Jeruk inilah William yang dibantu beberapa staf di Institut Pluralisme Indonesia (IPI) bekerja sama dengan beberapa pihak, antara lain Pemerintah Daerah Kabupaten Rembang, pemuka masyarakat Desa Jeruk, relawan desainer nasional dari Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) seperti Musa Widyatmodjo, Mardiana Ika, Dina Midiani, untuk mendampingi para perempuan pembatik agar mereka dapat menjadi penggerak kemajuan di desa mereka sendiri.
“Di proyek percontohan Desa Jeruk kami ingin membuktikan bahwa kepercayaan dan kerjasama erat antar elemen masyarakat Desa Jeruk, merupakan prakondisi penting untuk sebuah proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan ekonomi, sosial, budaya dan politik lokal,” papar William, peraih gelar master ekonomi dari Vanderbilt University, Graduate Program in Economic Development, Nashville, Tennessee, Amerika Serikat, tahun 1993.
Selama ini, William bilang, kemampuan mumpuni para perajin batik di Desa Jeruk seperti tercecer. Tak terkoodinir. Lantaran itu, William bertekad untuk menyatukan mereka. Ibarat pepatah, kumpulan lidi saja mampu menyingkirkan tumpukan sampah kotor. Maka, William kemudian mencari cara agar para perempuan pembatik itu mampu kembali berdaya.
William memilih cara tradisional dengan pendekatan face to face. “Kami menerapkan pengembangan kelompok secara hati-hati dan bertahap dalam jangka waktu panjang. Berbeda dengan pendekatan pembentukan kelompok yang biasa dikenal, yaitu sekaligus merekrut beberapa orang calon anggota, kami justru memulai proses pendampingan dengan mengindentifikasi seorang perempuan buruh batik yang menganggur bernama Ramini,” papar William.
Begitulah. Ramini, wanita paruh baya, dipilih lantaran memiliki karakter lebih kuat di antara yang lain. “Walaupun tidak selesai belajar di sekolah dasar, Ramini memiliki kemauan kuat untuk memperbaiki kesejahteraan keluarganya, serta bersedia berbagi dengan para tetangganya dalam proses perjuangan hidup tersebut,” kata William.
William mengajak Ramini membentuk sebuah kelompok usaha bersama pembatikan. Cuma, perlu sedikit waktu untuk meyakinkan Ramini untuk merealisasikan ide tersebut. Setidaknya William menghabiskan dua pekan untuk melobi Ramini dan keluarganya. (Bersambung)
****
****
William Kwan, Penggerak Batik Tiga Negeri di Lasem (3)
Untuk mewujudkan mimpinya mengembalikan kejayaan Batik Tiga Negeri di Lasem, William Kwan mendirikan desa percontohan industri batik di Desa Jeruk, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang. Di desa tersebut, William memilih Ramini, perempuan pembatik berumur 44 tahun, untuk jadi penggerak bagi pembatik lainnya. Butuh waktu dua pekan bagi William untuk meyakinkan Ramini dan keluarganya. Ramini akhirnya mengangguk.
Ramini kemudian mengajak tiga teman pembatiknya untuk membentuk kelompok usaha bersama (KUB). Mereka menamakan diri sebagai KUB Srikandi Jeruk. Nama Srikandi diambil lantaran memiliki image yang berwibawa bagi perempuan. Srikandi adalah nama seorang pahlawan wanita yang gagah perkasa dalam cerita klasik wayang Mahabharata.
Selama enam bulan, William bersama Institut Pluralisme Indonesia (IPI) berusaha mengidentifikasi dan memfasilitasi kebutuhan pelatihan bagi KUB Srikandi Jeruk. Tujuannya jelas, agar mereka mampu bekerjasama dan dapat menghasilkan kain batik secara mandiri.
“Kami mengajarkan aneka pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental yang diperlukan agar anggota KUB Srikandi Jeruk dapat menjadi pengusaha atau pengrajin batik yang profesional dan mandiri,” papar William.
Aneka pelatihan diajarkan, antara lain proses produksi batik, pewarnaan alami, kepemimpinan, pembukuan alias keuangan, pemasaran, dan inovasi produk. Lantaran secara tradisional Batik Tiga Negeri di Lasem tidak lepas dari perpaduan budaya antara Tionghoa peranakan dan etnis Jawa, tak lupa William mengajarkan dasar-dasar pluralisme.
“Inti pembelajaran oleh KUB tidak dilakukan pada sesi pelatihan, melainkan diperoleh melalui kegiatan nyata sehari-hari alias action learning,” kata William.
William mencontohkan, KUB Srikandi Jeruk melakukan analisa pasar untuk menemukan jenis produk dan pasar potensial batik warna alam, melakukan advokasi untuk akses anggaran publik bagi usaha rakyat seperti batik tulis, dan sebagainya. “Tentu saja pendampingan ini gratis, semua biaya kami tanggung atau atas kerjasama dengan mitra kami,” katanya.
Usaha William tak sia-sia. Pada Februari 2007, Srikandi mulai mencoba dan menjual produk. Upaya ini berhasil. Keberhasilan itu membangun kepercayaan. Anggota KUB pun kian meningkat pesat, juga perlahan menjadi sentral produksi batik Lasem. Jika pada 2002 hanya ada 10 pengusaha atau perajin saja, juga belum terkoordinir, jumlahnya bertambah banyak.
Kehadiran KUB Srikandi Jeruk ternyata memicu pengusaha dan perajin lainnya. Khusus anggota Srikandi Jeruk saja, dalam catatan William, hingga Juni 2007 alias dalam waktu empat bulan setelah KUB Srikandi Jeruk mengawali proses produksi, jumlah pengusaha dan perajin sudah mencapai 20 orang, terdiri dari 14 orang pengusaha etnis Tionghoa (65%) dan enam orang pengusaha etnis Jawa (35%). Semuanya tergabung dalam KUB Srikandi Jeruk. Padahal, awalnya Cuma seorang Ramini dan tiga perempuan pembatik saja.
Mereka mampu menghasilkan kapasitas produksi sekitar 50 lembar batik per bulan.
Anggota pun mulai merasakan manfaat KUB. Mereka kini bebas menentukan sendiri tingkat penghasilan atau upah kerja. Tentu dengan memperhitungkan perkembangan keuntungan dari usaha batik itu.
Tentu saja, catatan William belum lengkap. Lantaran di luar Srikandi Jeruk, masih ada pengusaha dan perajin batik lain di kota Rembang. Cita-cita William untuk terus menggeliatkan kembali Batik Tiga Negeri di Lasem makin menggebu. Lantaran itu, William dan timnya kemudian melakukan pendampingan dua pihak.
Selain pendampingan langsung kepada perempuan buruh batik melalui KUB Srikandi Jeruk, William juga membantu pendampingan tidak langsung terhadap para pengusaha batik Lasem di tingkat kabupaten Rembang. Caranya, antara lain dengan perbaikan komunikasi lintas pengusaha dan pengrajin batik melalui penerbitan media. William menerbitkan majalah berkala soal batik. William juga melakukan advokasi untuk perbaikan upah perajin batik guna menjamin regenerasi industri batik Lasem, pameran batik Lasem, dan sebagainya. (Bersambung)
*****
*****
William Kwan, Penggerak Batik Tiga Negeri di Lasem (4)
Batik Tiga Negeri dari Lasem kini sudah mulai pulih. Melalui sentra percontohan Srikandi Jeruk di Desa Jeruk, Kecamatan Pancuran, Kabupaten Rembang, Batik tiga Negeri kembali mengudara. Jumlah pembatik kini sudah puluhan pengusaha atau perajin. Meski belum sepenuhnya seperti masa kejayaannya di dekade 1970-an. Di masa itu, hampir setiap rumah membatik adalah mata pencaharian utama. Kini, Batik Tiga Negeri menggeliat lagi.
Srikandi jeruk bolehlah menjadi cikal bakal kebangkitan kembali Batik Tiga Negeri di Lasem. Cuma, di luar itu, masih banyak pengusaha dan perajin di kabupaten Rembang yang masih tercecer dan tidak terorganisasi. Terinspirasi berhasil membangun komunitas batik di Desa Jeruk, William ingin hal yang sama terjadi di seluruh Kabupaten Rembang. Semua bermuara pada cita-citanya: membangkitkan kembali Batik Tiga Negeri di Lasem.
Jalan sudah terbuka kini. Tak ingin yang sudah dirintisnya kembali mundur, William Kwan kemudian menerapkan pendampingan di dua kaki. Selain pendampingan langsung kepada perempuan buruh batik melalui KUB Srikandi Jeruk, William juga membantu pendampingan tidak langsung terhadap para pengusaha batik Lasem di tingkat kabupaten Rembang. Caranya, antara lain dengan perbaikan komunikasi lintas pengusaha dan pengrajin batik melalui penerbitan media. William menerbitkan majalah berkala soal batik. William juga melakukan advokasi untuk perbaikan upah perajin batik guna menjamin regenerasi industri batik Lasem, pameran batik Lasem, dan sebagainya.
William berkisah, pendampingan secara paralel ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan kemajuan produktivitas antara proyek percontohan di Desa Jeruk dan industri batik Lasem di tingkat Kabupaten Rembang. “Sehingga manfaat ekonomi dapat diperoleh bersama oleh semua pelaku usaha batik Lasem,” kata William.
Tak mudah, memang. Membangun dari nol tak selamanya berjalan mulus. Hambatan, tentu saja, ada. William mengakui, banyak rintangan untuk mewujudkan mimpi. Di bidang teknologi batik, misalnya, William harus benar-benar mengawali dari nol besar. “Untuk proses ketelan (mordant), umpamanya, kami harus berjuang keras untuk melakukan eksperimen sendiri karena tidak terbukanya informasi dari para pengusaha,” papar William. “Tapi itu sesuatu yang wajar, tentunya.”
Aral rintang tak hanya berhenti di situ. Mencuatnya komunitas baru Batik Lasem dengan nama Srikandi Jeruk, ternyata menimbulkan iri dengki dari pengusaha yang sudah ada sebelumnya. “Tantangan terbesar kami adalah menghadapi sikap curiga dan kecemasan dari para pengusaha batik Lasem dalam mengantisipasi kemungkinan munculnya para pesaing baru sebagai hasil proyek percontohan di desa Jeruk,” papar William.
Untuk sementara, William dan rekan-rekannya di Institut Pluralisme Indonesia (IPI) hanya bisa menahan sabar. Terlebih, cita-cita belum tergapai seluruhnya. Selain berlapang dada, William harus jembar untuk terus mendorong kerjasama antar pelaku industri batik Lasem. “Saya yakin bahwa menyikapi persaingan dan kerjasama usaha secara berimbang akan membentuk kebahagian batin dan kesuksesan usaha yang lebih lestari dalam jangka panjang,” katanya.
Sampai di sini, puaskah William dengan hasil jerih payahnya? Jawabannya mudah ditebak. Manusia adalah makhluk yang tak pernah merasa puas. Masih ada asa tersisa William di balik bangkitnya kembali batik Lasem.
“Kemajuan industri batik Lasem tersebut belum sepenuhnya menjamin kelestarian masa depan industri dan budaya batik Lasem. Peningkatan pendapatan pengusaha yang belum diikuti dengan perbaikan kesejahteraan perajin akan menggerogoti kemajuan industri itu sendiri. Generasi muda pengusaha akan bergairah untuk meneruskan usaha orang tua mereka.
Sebaliknya, generasi muda dari keluarga pengrajin semakin tidak tertarik untuk menjadi pembatik. Industri batik Lasem akan sulit mendapatkan sumberdaya manusia perajin batik di masa datang jika tidak terjadi perbaikan kesejahteraan para buruh dan perajin batik Lasem itu sendiri,” begitulah William mengakhiri perjalanan kisahnya kepada Kontan. (Selesai)
Harian Bisnis dan Investasi Kontan, 5-9 Februari 2008
Salam
Masa lalu, selalu ada distorsi. Sebabnya, tafsir mengambil tempatnya sendiri-sendiri. Karenanya, satu-satunya jalan agar sejarah masa kini tak membelot di masa depan, adalah dengan cara mendokumentasikannya.
Masa kini, di masa depan akan menjadi masa lalu. Dus, rekamlah sejarah yang sedang kau alami sekarang. Sekecil apapun, di masa depan akan sangat berharga. Kita tak pernah tahu, di masa depan yang sekarang kita sebut sebagai kertas atau pulpen, masih disebut sebagai kertas atau pulpen atau tidak. Atau bisa jadi bernama sama, tapi berbeda bentuk.
Mari, sodara-sodara, rekamlah sejarah yang sedang kau jalani.
Salam
Jumat, 16 Mei 2008
Inspirasi - 3 (William Kwan)
0 komentarInspirasi - 2 (Yayan Dahyan)
0 komentarRaja Bambu dari Rajapolah (1)
Danto
Yayan Dahyan, 38 tahun, dasarnya memang punya watak pengusaha. Cepat mengambil keputusan dan pintar memanfaatkan peluang. Krisis moneter 1997 membantunya mempercepat niat menggeluti usaha kerajinan tangan dari bambu. Dia memilih keluar dari pekerjaannya di sebuah lembaga keuangan di Bandung.
Kala itu Yayan mengajak Acep Suparman membuka usaha kerajinan bambu di kampungnya di Rajapolah, Tasikmalaya, Jawa Barat. Bermodal awal patungan Rp 15 juta, usahanya cepat berkembang. Kini, sepuluh tahun kemudian, omzet perusahaannya mencapai Rp 8,8 miliar per tahun alias 732 juta per bulan, atau Rp 24,4 juta per hari. Apa rahasia suksesnya? Kami sajikan kisahnya dalam tiga tulisan.
****
****
Bagi Yayan Dahyan, krismon bukanlah kata singkat dari krisis moneter. Dalam kamus hidup Yayan, krismon adalah kiriman rezeki pasti moncer.
Pada awal 1997, kurs rupiah masih Rp 2.000 per dolar Amerika. Namun ketika krisis moneter itu melanda seluruh kawasan Asia pertengahan tahun itu, rupiah ikut terjerembab hingga di atas Rp 10.000 per US$. Harga kebutuhan pokok sekonyong-konyong melonjak tajam. Petaka bagi kebanyakan orang, tapi karunia bagi Yayan.
Lewat pergaulan yang luas, Yayan yang kala itu bekerja di sebuah lembaga keuangan di Bandung, sedikit bisa meraba tanda-tanda krisis bakal datang menjelang pertengahan 1997. Di balik musibah, pasti ada berkah. Begitu dia berfikir saat itu.
Nilai dolar Amerika yang melayang terbang, menjadi peluang baru bagi Yayan. Kerajinan tangan menjadi primadona anyar ekspor. Kebetulan, keluarga Yayan sudah lama menggeluti kerajinan tangan dari bambu, seperti kipas kaligrafi.
Dasarnya pandai memanfaatkan peluang, Yayan tanpa ragu memilih menekuni usaha kerajinan bambu untuk diekspor. Dia memutuskan berhenti kerja dari Wakil Direktur sebuah bank perkreditan rakyat di Bandung tersebut. Yayan berurun rembug dengan rekannya, Acep Suparman, kini 38 tahun, yang kala itu bekerja di sebuah perusahaan perkebunan di kawasan Sukabumi. Seperti Yayan, Acep pun memilih pensiun dari kerjanya.
“Kami sepakat untuk pulang kampung,” kata Yayan, Selasa (25/9). “Bukan karena karir kami sudah mentok, atau karena di kantor ada masalah. Kami melihat potensi kerajinan tangan (handicraft) yang sejak lama digeluti penduduk di kampung halaman kami di Rajapolah, Tasikmalaya, Jawa Barat.”
Begitulah. Pergaulan Yayan yang lapang membuatnya memahami bahwa di negara Eropa dan Amerika terdapat regulasi tentang penggunaan barang-barang yang sifatnya ramah lingkungan dan mengurangi pnggunaan barang yang bersifat sintetik. “Lebih jauhnya, kami ingin membuka lapangan kerja baru,” kata Yayan.
Yayan dan Acep bersepakat. Keduanya patungan sebesar
Rp 15 juta untuk modal awal usaha. Mereka bergerak mencari pasar, menerima order, dan berproduksi melalui pengrajin-pengrajin yang tersebar di Rajapolah. Pada 27 Mei 1997, keduanya resmi mendirikan CV. Rumpun Bambu Kitri.
Nama Rumpun Bambu terkait dengan proyek yang mereka peroleh dari Departemen Kehutanan, yaitu proyek penghijauan di daerah Tasikmalaya. Sedangkan nama Kitri terkait dengan nama usaha orangtua Yayan yang mempunyai galeri bernama Toko Kitri di Jalan Raya Rajapolah, Tasikmalaya.
Perusahan Yayan pada Juni 2003, bertepatan dengan perpanjangan izin usaha, Rumpun Bambu Kitri berganti nama menjadi Rumpun Bambu Kreasi.
Perkenalan dengan Departemen Kehutanan ikut mengubah nasib Yayan. Pertemuan berawal saat mengikuti pameran di departemen itu tahun 1997. “Kami ditawari menjadi mitra petani, yang memiliki tanah yang kurang produktif yang akan ditanami pohon bambu untuk penghijauan,” kata Yayan.
Mereka sepakat. Lahan yang ditawarkan seluas 1.900 hektar, tersebar di sembilan kecamatan di Tasikmalaya. Bambu bisa dipanen dalam enam tahun. Kerjasama bukan berarti gratis menggunakan bambu itu. Jika dipanen kelak, Yayan harus membelinya dari petani.
Dari Yayan dan Acep berencana membuat produk bambu lamina sebagai pengganti fungsi kayu yang nantinya dijadikan bahan baku untuk flooring, meubel, termasuk juga kerajinan. Bambu lamina adalah bambu yang dipadatkan menjadi semacam kayu yang keras, hingga bisa digunakan untuk membuat berbagai produk.
Agar proyek tak gagal, Yayan kemudian menggandeng Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan bagian penelitian dan pengembangan (Litbang) Dinas Kehutanan Bogor, untuk menyiapkan konsep produksi sekaligus pemasarannya.
Sembari menunggu bambu dipanen, duet Yayan-Acep terus menjalankan usaha handicraft yang telah dimulai pada awal 1997 itu. Order pertama yang mereka terima berupa produk hiasan kipas kaligrafi dari bahan bambu, untuk dijual ke Timur Tengah. Bukan perusahaannya yang langsung mengekspor, tapi melalui sebuah perusahaan eksportir.
Order pertama itu terbilang gede. Jumlahnya mencapai 12.000 unit dengan harga Rp 15 ribu per unit. Modal untuk itu ternyata masih kurang. Keduanya mencoba meminjam ke bank konvensional. Gagal. “Pada saat itu kami belum dilirik oleh Bank Umum,” kisah Yayan.
Tak hilang akal, Yayan menjajal pinjaman ke perorangan dan bank perkreditan rakyat (BPR). Hasilnya lumayan. Dapatlah pinjaman sebesar Rp 20 juta. Ekspor pertama pun lancar. Danto
Krisis bagi yang lain, bisa menjadi peluang usaha bagi kita jika pandai memanfaatkannya.
Bagian Kedua :
Raja Bambu dari Rajapolah (2)
Sejak mendirikan CV Rumpun Bambu Kitri pada 27 Mei 1997, yang kemudian berubah nama menjadi CV Rumpun Bambu Kreasi pada Juni 2003, Yayan Dahyan, 38 tahun, giat membangun relasi bisnis. Usahanya sukses. Pesanan gede perdana berhasil diraihnya.
Mereka mendapat order ekspor hiasan kipas kaligrafi ke Timur Tengah. Jumlahnya mencapai 12.000 unit dengan harga Rp 15 ribu per unit atau senilai Rp 180 juta. Sempat gelagapan lantaran modal cekak. Meminjam ke bank umum tak ada yang mau memberi. Bank konevnsional belum percaya. Untunglah pinjaman didapat dari bank perkreditan rakyat dan perorangan sebesar Rp 20 juta. Jadilah ekspor pertama itu lancar.
Kepercayaan diri Yayan memuncak. Mulai gencarlah dia bersama Acep Suparman, rekannya pendiri CV Rumpun Bambu, mencari order ekspor. Mengalirlah pesanan. Rasa pede tinggi membuat duet Yayan-Acep lengah.
Pada 1998, apa yang dikhawatirkan terjadi. Semula, Yayan sumringah ketika pesanan ekspor yang kesekian datang. Sebuah perusahaan eksportir yang baru dikenalnya, memesan order hiasan bambu untuk diekspor. Nilainya memang jauh di bawah order pertama. Besarnya “hanya” Rp 40 juta.
Setelah bicara sana-sini, Yayan dan si pemilik eksportir bersepakat. Yayan percaya. Deal. Barangpun diantar. Tapi Yayan ketiban apes. Dasarnya kurang hati-hati, “setelah dikirim mereka tidak mau membayar,” keluh Yayan.
Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. “Sejak itu kami berhati-hati bila berhubungan dengan pembeli baru dan menetapkan pembayaran uang muka sebesar 50%,“ kata Yayan.
Soal tipu-menipu, Yayan kembali merasakan. Tak lama setelah peristiwa itu, duet Yayan-Acep kembali terjerembab. Bila sebelumnya ditipu di bagian ”hilir“ alias di penjualan, kali ini terjadi di bagian ”hulu“ alias di produksi.
Kala itu, Yayan yang memasok barang dari perajin di Rajapolah, Tasikmalaya, memesan order baru kepada sekelompok perajin melalui seorang wakilnya. Sebagaimana biasa, semua barang dan pengerjaan diserahkan kepada perajin. Yayan tinggal terima beres. Setelah mufakat, Yayan menyerahkan seluruh uang pesanan sebanyak Rp 20 juta.
Ternyata, oh, ternyata. Pesanan yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Belakangan, barulah sadar. Bahwa duit order itu dibawa kabur sang oknum perajin. ”Sejak itu kami memberlakukan aturan baru,“ kata Yayan. “CV Rumpun Bambu hanya memberi upah untuk jasa pembuatan produk yang dilakukan pengrajin. Sedang bahan baku dipasok oleh kami.”
Dua kali kena muslihat, Yayan tak menyerah. Tak ingin berlama-lama dalam keprihatinan, Yayan bersiap mengembangkan pasar. Strategi pun disiapkan. Berbagai cara pemasaran dijalankan. Ide baru muncul. Agar usaha berkembang, maka harus ada pengembangan produk. Dia merealisasikan idenya. Dari semula hanya membuat kerajinan dari bambu, produk dilebarkan menjadi produk aksesori. Seperti alat-alat kantor, antara lain kotak berkas, tempat kertas, kotak majalah, kotak CD, tempat pulpen, tempat memo, pigura, kotak alat tulis.
Yayan juga membuat produk houseware alias alat-alat rumah tangga dan dekorasi, seperti karpet, tempat sampah, kotak tisu, bantal, taplak meja. Dan terakhir adalah produk aksesori seperti sandal, tas, kotak kosmetik, dan kaligrafi.
Yayan kemudian aktif mengikuti berbagai pameran, baik di dalam maupun luar negeri. Mereka antara lain menjadi langganan tetap pameran kerajinan terbesar di Indonesia seperti Inacraft dan Pameran Produk Ekspor (PPE).
Selama pameran, Yayan yang someah alias ramah giat membangun hubungan silaturahmi dengan sesama peserta pameran. Hasilnya positif. “Hubungan tersebut bersambung menjadi hubungan bisnis, dengan menjadikan mereka sebagai buyer kami atau menghubungkan kami dengan para buyer yang mereka kenal,” ucap Yayan.
Agar pemasaran menjangkau yang lebih luas, Yayan bersama Acep membuat situs soal promosi produknya. Untuk pasar lokal, duet dari Tasikmalaya itu membuat brosur produk untuk disebar ke tempat-tempat potensi pasar. Tak lupa memasang iklan di koran dan majalah.
“Kami juga menjalin kerja sama dengan perusahaan lain (Complementary Product), misalnya dengan perusahaan furniture, barang kami bisa dijadikan sebagai pengisi container mereka yang memiliki celah kosong,” kata Yayan.
Perluasan pasar dilakukan juga dengan berkonsultasi ke Badan Pengembangan Eksor Nasional (BPEN). Tidak lupa menggandeng Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa Tasikmalaya, Dinas Perindustrian Kabupaten Tasikmalaya dan Propinsi Jawa Barat untuk melakukan promosi, khususnya pameran. Dari semua lembaga itu, duet Yayan-Acep berhasil mendapat fasilitas pelatihan manajemen UKM, misalnya untuk ekspor.
Supaya produknya kian dikenal luas, Yayan tak hanya menggandeng lembaga dalam negeri. Direktur Utama CV Rumpun Bambu Kreasi itu juga menjalin kerja sama dengan CBI (Centre for The Promotion of Imports from Developing Countries) di Belanda.
Hasilnya sangat membanggakan. Beberapa bulan setelah ikut Pameran Produk Ekspor (PPE) 2003, Won International, sebuah perusahaan Korea, memesan tempat sampah, tempat tisu, tempat roti dan alas piring dengan material pandan. “Ini merupakan ekspor perdana kami yang ditangani secara langsung,” kata Yayan. Jumlah yang diekspor sebanyak satu container 20 kaki (feet) senilai Rp 100 juta.
Bagian Ketiga:
Raja Bambu dari Rajapolah (3)
Rajin berpameran, membuat usaha Yayan Dahyan kian berkembang. Rezeki nomplok pertama juga datang dari hasil pameran. Beberapa bulan setelah ikut Pameran Produk Ekspor (PPE) 2003, Won International, sebuah perusahaan Korea, memesan tempat sampah, tempat tisu, tempat roti dan alas piring dengan material pandan.
Itu merupakan ekspor perdana Yayan yang ditangani secara langsung. Sebelum itu, kegiatan ekspor selalu dilakukan oleh perusahaan eksportir lain. Jumlah yang diekspor kala itu lumayan gendut, sebanyak satu container 20 kaki (feet) senilai Rp 100 juta. Sukses ini membut Yayan girang bukan kepalang.
Rasa percaya diri pria 38 tahun itupun kian memuncak. Pasar semakin dilebarkan. Produksi barang-barang kerajinan makin diperbanyak. Jumlah total yang diproduksi menjadi lebih dari 400 item produk. Berkembangnya produksi hasil ketekunan Yayan tak lepas dari kreatifitas produknya.
Satu hal yang membedakan produk Yayan dengan yang lainnya adalah soal keunikan produknya. ”Desain kami selalu by order,“ kata Yayan. Lantaran itu, produk yang akan dibuat sudah ada sketsanya dari pembeli.
Sampai di sini Yayan bolehlah menepuk dada. “Produk yang kami produksi mempunyai ke istimewaan, yaitu mempunyai nilai seni dan fungsi serta ramah lingkungan, dan proses produksinya bersifat padat karya dengan melibatkan banyak masyarakat, dari mulai masyarakat daerah pedalaman sampai ke masyarakat kota,“ papar Yayan.
Kian berkembang pasar, makin banyak modal dibutuhkan. Beberapa waktu setelah ekspor ke Korea itu, kebutuhan modal makin mendesak. Maka kali ini Yayan pede meminjam duit ke bak konvensional. Bank umum yang semula memicingkan mata, buru-buru menyambut.
Pinjaman dari sebuah bank pun diraih. Besarnya sangat lumayan, Rp 125 juta. Satu tahun kemudian, kredit ditambah. Yayan meminjam kembali sebanyak Rp 500 juta. Usaha dibenahi. Manajemen keuangan dikelola secara profesional layaknya perusahaan besar, termasuk rutin membuat laporan neraca keuangan secara terperinci.
Yayan kini bolehlah berbangga. Korea tetap menjadi langganan ekspornya. Modal yang bertambah membuat pasar juga kian luas. Kini Yayan, tentu saja bersama Acep Suparman, rekannya di CV Rumpun Bambu Kreasi, melebarkan sayap ke Eropa. Selain Korea, Yayan sudah bisa mengekspor antara lain ke Malaysia, Swedia, Perancis, Jepang, dan Spanyol.
“Ekspor dilakukan langsung dan tidak langsung,‘ kata Yayan. Ekspor langsung jika dilakukan secara spontan oleh Yayan. Ekspor tidak langsung kalau dilakukan oleh perusahaan eksportir lainnya.
Dari keenam negara tersebut, hanya Malaysia yang ekspornya sesekali. Sisanya rutin dilakukan. Spanyol menyumbang pendapatan paling besar dari total ekspor CV Rumpun Bambu. Yaitu sebesar 39%. Sisanya dibagi rata oleh Korea sebesar 16%, Swedia (15%), Jepang (15%), dan Asia Tenggara, termasuk Malaysia (15%).
Yayan riang. Soalnya ekspor produk-produk kerajinannya terus menanjak. Sebelum ada pesanan perdana dari Korea itu, total ekspornya pada 2002 sebanyak US$ 192.038 atau sekitar Rp 1,82 miliar. Jumlah ini merupakan 92,5% dari total pendapatan CV Rumpun Bambu yang sebanyak US$ 207.608,7 (Rp 1,89 miliar). Sisa pendapatan lainnya dipasok dari domestik alias non-ekspor.
Setelah pesanan Korea masuk, hingga akhir 2003 total pendapatannya menjadi US$ 252.282,6 (Rp 2,29 miliar). Dari jumlah itu, 94,4% diraup dari ekspor. Setahun kemudian, jumlah akumulasi pendapatannya menjadi US$ 360.978,3 (Rp 3,28 miliar).
Tahun lalu, CV Rumpun Bambu sudah menghasilkan omzet sebanyak US$ 965.740,5 (Rp 8,8 miliar). Dari jumlah itu 94%-nya hasil sumbangan ekspor.
Sukses Yayan tak hanya dari segi pendapatan. Dari penyerapan tenaga kerja di Rajapolah, Tasikmalaya, Yayan terbilang berhasil. Pada 2002, tenaga kerja yang bekerja secara penuh di bawah payung CV Rumpun Bambu sebanyak 90 orang. Tahun 2006, jumlah tenaga kerjanya melonjak menjadi 513 orang.
Kini, di kantornya, terpajang berbagai penghargaan. Antara lain piagam Juara I Mitra Usaha Hutan Rakyat Tingkat Nasional 2001 dari Departemen Kehutanan, Juara I Untuk Kategori Mitra Usaha Hutan Rakyat pada Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Nasional Tingkat Jawa Barat 2001 dari Gubernur Jawa Barat, Pemuda Pelopor tingkat Kabupaten Tasikmalaya 2002.
Selain itu, ada tiga penghargaan lain yang membuat Yayan bangga. Yaitu masuk sembilan finalis Dji Sam Soe Award 2005 kategori UKM terbaik dengan memperlihatkan tingkat kesemangatan berwirausaha (Euterpreunership), nominasi Primaniyarta Award (Penghargaan untuk para eksportir yang berprestasi) tahun 2007, untuk kategori UKM ekspor terbaik, dan penghargaan dari Bupati Tasikmalaya dalam Pengembangan Industri Kecil Menengah di Kabupaten Tasikmalaya (2007).
Puaskah Yayan? “Seperti umumnya sifat manusia, kami ingin mendapatkan yang lebih,” kata Yayan. Dia kini berniat membangun pabrik untuk produksi bambu lamina. Semuanya sudah ok. Hanya terbentur soal modal. “Untuk merealisasikannya kami butuh dana Rp 15 milyar, untuk itu kami berharap ada investor yang tertarik untuk bekerja sama,” kata Yayan. Sebentar lagi, Yayan bakal terkenal sebagai Raja bambu dan Rajapolah. (Selesai)
Harian Bisnis dan Investasi Kontan, 27-29 September 2007
Inspirasi - 1 (Slamet Riyadi Lumintu)
0 komentarBersama Lansia, Mengubah Limbah Menjadi Rupiah (1)
Danto
Slamet Riyadi menggaraplimbah tak berguna menjadi lipatan rupiah. Dengan memanfaatkan orang-orang usia lanjut, Slamet memproduksi berbagai hasil kerajinan dari alumunium foil, limbah tak berguna. Hasil kreasi Slamet dijadikan contoh oleh pemerintah Kanada dalam pemanfaatan limbah. Slamet mendaoat berkah rupiah dari hasil kotoran limbah.
Selain penghargaan dalam sebuah kompetisi antar pelaku usaha kecil dan menengah dari sebuah institusi ternama di negeri ini, Slamet juga mampu memberdayakan orang-orang jompo menjadi produktif. Lumintu, demikian Slamet memberi nama pada kumpulan pekerjanya. Arti kasarnya: Lumayan, itung-itung nunggu tutup umur. Dari tenaga para orang jompo ini, omzet Slamet bisa mencapai Rp 8 juta sebulan.
****
****
Danto
****
****
Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Gelombang resesi ekonomi itu datang tiba-tiba. Menelisik hampir ke seluruh daratan Asia. Dari Thailand, Filipina, Malaysia, juga Indonesia. Di dalam negeri, dampak krisis yang kemudian disebut krisis ekonomi alias krismon itu hinggap ke seluruh pelosok. Dari Jakarta, hingga dusun pedalaman.
Politik dalam negeri memanas. Pondasi ekonomi roboh. Semua harga melonjak tiba-tiba. Nilai kurs rupiah menukik tajam. Dari semula sekitar Rp 2.000 per US$ di awal 1997, sekonyong-konyong terjun bebas hingga mencapai angka Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat pada awal 1998.
Gelombang pemutusan hubungan kerja atawa PHK besar-besaran hampir terjadi di semua sektor. Dari perusahaan kelas wah, hingga ecek-ecek. Semua kacau balau.
Slamet Riyadi, 56 tahun, berada di deretan nama orang yang terkena PHK itu. Sepuluh tahun silam itu, pekerjaan Slamet tak terbilang keren-keren amat. Dia hanyalah seorang pekerja kontrak sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di bilangan Tangerang.
Gelombang krismon itu yang membuat Slamet terputus dari pekerjaannya. Kena PHK. “Uang pesangon saya saat itu hanya sekitar Rp 700.000,” kata Slamet, kepada Kontan.
Siapa sangka siapa nyana. Kehilangan pekerjaan di SPBU ternyata menjadi titik awal kesuksesan Slamet di kemudian hari. Kini, tak hanya di tempat tinggalnya di kawasan Pinang, Pondok Aren, Tangerang, Slamet dikenal sebagai pengusaha kerajinan tas dan hiasan perlengkapan wanita dari limbah alumunium foil. Omzet per bulan hingga Rp 8 juta per bulan.
Yang membuat Slamet kesohor tentu saja bukan hanya karena pengelola limbah, tapi juga karena pekerjanya terbilang unik. Para wanita-wanita lanjut usia alias lansia. Saat ini jumlah pekerjanya 58 orang, sebagian besar lansia.
Begini. Slamet yang nganggur akibat PHK itu, tentu saja pusing tujuh keliling mencari penghidupan baru.
Penghasilan tetap tak ada. Anak empat meski dibiayai. Awal berkah itu datang suatu hari. Slamet mendapat keluhan dari sejumlah wanita-wanita lansia di sekitar tempat Slamet tinggal, di bilangan Pinang, Tangerang.
“Pak Slamet, tolonglah kami, biar kami bisa kerja untuk sesuap nasi. Tolong carikan pekerjaan sesuai keahlian kami: menganyam.” Begitulah Slamet menirukan seorang diantara lansia itu. Dulu, sebelum jadi kawasan industri dan perumahan, kawasan Pinang, Tangerang, dikenal sebagai hutan pandan. Dari sinilah kerajinan pandan asal Tangerang diproduksi. Para lansia itulah yang dulu sebagai perajin pandan.
Kebutuhan perumahan yang kian tumbuh, mendesak area tanaman pandan kian menyempit. Kerajinan pandan pun kian menyusut. Lama-lama habislah hutan pandan itu. Tamat pula riwayat pengrajin pandan di kawasan itu.
Bekas para perajin itulah yang kemudian mengadu ke Slamet. Tak ada pengalaman di bidang kerajinan, membuat Slametkeras memutar otak. Ilham didapat. Slamet memutuskan untuk mencoba usaha daur ulang limbah. “Kebetulan saat itu sedang marak-maraknya usaha daur ulang, baik dari limbah organic maupun lainnya,” kata Slamet.
Supaya laku, Slamet memilih bahan baku limbah yang tidak diproduksi oleh yang lain. Slamet melirik limbah plastik aluminium foil. Seperti kemasan makanan ringan anak atau biasa disebut ciki, kemasan makanan ringan, kemasan susu, dan segala macam itu yang berbahan aluminium foil.
Lantaran minim pengalaman, Slamet mengkreasi bahan-bahan itu dengan ala kadarnya. Seperti untuk dekorasi pesta, bunga-bunga hias, hiasan natal. Di kemudian hari, kerajinannya melebar menjadi tas anyaman dari bahan alumunium foil. Hasilnya ciamik.
Kali pertama, Slamet hanya mempekerjakan enam orang wanita, sebagian besar para lansia. “Diantara ibu-ibu dan para lansia ini punya suatu ketrampilan khusus turun temurun, yakni menganyam,” kata Slamet, kelahiran Cirebon, Jawa Barat. Mulailah Slamet memproduksi kerajinan dari limbah alumunium foil itu. Usang sisa pesangon sebesar Rp 500.000 dijadikan modal awal.
Agar klop dengan pekerjanya, Slamet kemudian memberi nama usahanya dengan nama Lumintu. Kata Lumintu diambil dari bahasa Jawa atau Sunda bermakna hampir sama, tidak terputus atau turun-temurun. Selain berarti telah bersyukur kepada Tuhan yang telah diberikan rejeki dan mudah-mudahan turun-temurun ke anak cucu, Slamet berkisah, Lumintu adalah kependekan dari kalimat ‘Lumayan itung-itung nunggu tutup umur’. Klop dengan umur pekerjanya yang lansia.
Lantaran sangat baru menekuni usaha ini, Slamet sedikit kelimpungan mencari bahan baku. “Saya sendiri yang cari bahan bakunya, sulit sekali. Terkadang saya harus bekerja sama dengan pemulung untuk mendapatkan pasokan bahan baku itu,” papar Slamet. Di lain waktu, Slamet harus berburu bahan baku di pusat-pusat perbelanjaan, di pasar, juga di sekolahan-sekolahan. (Bersambung)
*****
Bersama Lansia, Mengubah Limbah Menjadi Rupiah (2)
Slamet Riyadi baru pertama kali terjun ke bisnis pengelolaan limbah alumunium foil. Awalnya Slamet hanya membuat kerajinan yang terbilang sederhana. Seperti untuk dekorasi pesta, bunga-bunga hias, hiasan natal. Di kemudian hari, kerajinannya melebar menjadi tas anyaman dari bahan alumunium foil. Hasilnya ciamik. Semua dikerjakan oleh para pekerja Slamet yang sebagian besar para wanita lanjut usia alias lansia. Itulah sebabnya Slamet menamakan usahanya dengan sebutan Lumintu. Artinya: Lumayan itung-itung nunggu tutup umur.
****
****
Kali pertama, Slamet hanya mempekerjakan enam orang wanita, sebagian besar para lansia. “Diantara ibu-ibu dan para lansia ini punya suatu ketrampilan khusus turun temurun, yakni menganyam,” kata Slamet, kelahiran Cirebon, Jawa Barat. Mulailah Slamet memproduksi kerajinan dari limbah alumunium foil itu. Uang sisa pesangon sebesar Rp 500.000 dijadikan modal awal.
Agar klop dengan pekerjanya, Slamet kemudian memberi nama usahanya dengan nama Lumintu. Kata Lumintu diambil dari bahasa Jawa atau Sunda bermakna hampir sama, tidak terputus atau turun-temurun. Selain berarti telah bersyukur kepada Tuhan yang telah diberikan rejeki dan mudah-mudahan turun-temurun ke anak cucu, Slamet berkisah, Lumintu adalah kependekan dari kalimat ‘Lumayan itung-itung nunggu tutup umur’. Klop dengan umur pekerjanya yang lansia.
Lantaran sangat baru menekuni usaha ini, Slamet sedikit kelimpungan mencari bahan baku. “Saya sendiri yang cari bahan bakunya, sulit sekali. Terkadang saya harus bekerja sama dengan pemulung untuk mendapatkan pasokan bahan baku itu,” papar Slamet. Di lain waktu, Slamet harus berburu bahan baku di pusat-pusat perbelanjaan, di pasar, juga di sekolahan-sekolahan.
Lantaran ketengan, bahan-bahan yang didapat terbilang susah untuk diproduksi jadi kerajinan. Yang paling bagus adalah alumunium foil dari bahan kemasan pasta gigi atau tabung odol. “ Tube odol itu yang paling ideal untuk bahan dasar anyam,” kata Slamet. Minim pengalaman dan bahannya yang terbatas, membuat perburuan bahan baku itu menjadi tak gampang. Pusing tujuh keliling.
Bahan baku yang digaetpun seadanya. Bahan baku yang terbatas itu kemudian diserahkan kepada keenam pekerja Slamet dengan system borongan. “Saya saat itu belum berfikir untuk menangguk untung, yang penting jalan dulu dan memberi pekerjaan kepada para lansia itu,” kata Slamet. “Untung Rp 500 per buah pun saya jalani.”
Cara pembuatan aneka dekorasi itu diolah sederhana. Alumunium foil dibersihkan dulu, baru kemudian diolah membentuk kerajinan dekorasi sesuai keinginan. Hasilnya juga tak banyak.
Sampai di sini pusing kembali menghampiri Slamet. Kemana menjual barang-barang hiasan itu? Tak hilang akal, Slamet menempuh cara klasik: pemasaran di kaki lima. Tempat-tempat keramaian, seperti pertunjukan di kampung-kampung, pasar, dan sekolahan, disatroni. Hasilnya sangat pas-pasan. Frustasi akhirnya menghampiri Slamet. Niat berhenti dan beralih usaha menghampiri Slamet. “Tapi saya sadar, bahwa para lansia itu harus tetap mendapatkan nafkah,” kata Slamet. Tekad kembali bulat, melanjutkan apa yang sudah dirintis.
Orang sabar, disayang Tuhan. Slamet percaya itu. Sempat mandeg maju melanjutkan bisnis rumahannya, tahun 2000 menjadi titik awal kesuksesan Slamet sesungguhnya.
Awalnya, seperti biasa, Slamet menjajakan produk kerajinan sederhana miliknya di pameran kerajinan rakyat di Parkir Timur Senayan, Jakarta. Bukan. Slamet bukan menjadi peserta resmi pameran. Dia hanya menjajakan hiasan miliknya di luar area pameran. Menjadi pedagang kaki lima.
Pameran dilangsungkan selama beberapa hari. Nah, di hari ketiga pameran, rezeki itu datang. Slamet yang tengah menjaga hasil produknya dihampiri dua orang yang belum dikenalnya. Satu pribumi, dan satunya bule. Belakangan diketahui salah satu diantara mereka adalah salah seorang pegawai di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan salah seorang utusan pemerintah Kanada.
Tak perlu banyak cingcong, keduanya tiba-tiba memborong produk Slamet. “Apapun produk yang saya hasilkan, semua dibeli, nggak tau buat apa,” kata Slamet, heran.
Untung saja pameran di Parkir Timur Senayan itu masih berlangsung esko harinya. Jika saat itu adalah hari penutupan, barangkali cerita akan menjadi lain. Sehari setelah memborong semua produk Slamet, dua orang itu kembali menemui Slamet di arena pameran. “Pak Slamet, besok silakan datang ke kantor saya,” kata Slamet menirukan pegawai BPPT tersebut. (Bersambung)
*******
Bersama Lansia, Mengubah Limbah Menjadi Rupiah (3)
Slamet Riyadi berhasil melunakkan hati mafia-mafia limbah di Jawa Tengah. Mereka mau berbagi. Onggokan limbah aluminium foil kemudian diolahnya menjadi aneka macam kerajinan. Tujuh tahun lalu itu, produk buatan Slamet masih terbatas. Paling banter adalah tikar sajadah dari limbah aluminium foil. Semua dikerjakan oleh 58 perajin yang sudah sepuh.
*******
*******
YANG disebut perajin oleh Slamet, ya, para wanita lanjut usia alias lansia di sekitar tempat tinggalnya itu. Limbah pabrik itu ternyata memiliki karakter yang agak berbeda dengan limbah ketengan hasil buruan dari pemulung atau di pasar-pasar. Limbah aluminium foil pabrik ternyata lebih licin. Alhasil, semua pekerjaan kembali ke titik nol alias belajar kembali dari awal. Meski para perajin itu sebelumnya sudah menekuni anyaman pandan, kemudian mencoba anyaman dari limbah serupa. Tap, ya, itu, ketengan.
Coba dan salah alias trial and error dirasakan betul oleh Slamet dan gerbong pekerjanya yang berjumlah 58 orang. Limbah pabrik itu terpaksa harus benar-benar jadi limbah tak berguna lantaran para perajin gagal membentuknya menjadi produk anyaman. “Saat itu belum langsung jadi barang bernilai jual, tapi kami ulang lagi, ulang lagi,” kata Slamet. Lama-lama terbiasa.
Tahun 2000 itulah awal mula Slamet memproduksi tak hanya untuk dekorasi pesta, melainkan juga kerajinan lain seperti tikar sajadah dan tikar lantai. Tapi, masih belum merambah pada produk yang membuat Slamet kini rada dikenal orang: anyaman tas aluminium foil.
Setelah produk dihasilkan, pusing tujuh keliling lagi-lagi menghampiri. Tak mudah memasarkan tikar anyaman aluminium foil itu. Slamet akhirnya kembali melirik cara sederhana: kakilima. “Kami jual di masjid-masjid setiap salat Jumat, di kantor-kantor, dan berbagai tempat di titik-titik pemasaran,” katanya.
Dari kakilima itulah rezeki Slamet terus mengalir. Tak lama setelah bertemu dengan pejabat BPPT, Slamet kemudian berkenalan dengan seorang pejabat di Kementerian Lingkungan Hidup. Dari sanalah kemudian dia mulai mengikuti pameran-pameran kerajinan rakyat.
Produk Slamet mulai dikenal luas. Permintaan kian meningkat. Pada 2002, seorang pengusaha dari Tapanuli, Sumatra Utara, memesan puluhan tandok untuk pesta. Biasanya, tandok di Medan terbuat dari bahan pandan. “Tapi dia tertarik tandok buatan saya, karena media warna silver ini sesuai untuk pesta,” kata Slamet.
Pesanan berlanjut. Si pemesan asal Tapanuli itu belakangan menjadi pelanggan. Dia membisniskan produk Slamet ke koleganya di Medan. Ordernya berjalan hingga kini.
Agar berkembang, Slamet kemudian melebarkan jenis produk. Mulai saat itu, dia mulai membuat hiasan dekorasi pesta, tandok, tikar sajadah, hingga tas nan ciamik dari bahan aluminium foil. Slamet menambah jumlah pekerjanya menjadi 64 orang, 38 orang di antaranya adalah lansia di atas 60-96 tahun, sisanya ibu-ibu rumahtangga dan beberapa anak remaja.
Merekalah yang menggarap tiap pesanan dengan sistem borongan. Besarnya upah berdasarkan jenis produk yang dikerjakan. Untuk tas sedang, misalnya, mereka dibayar senilai Rp 3.500 per buah. Dalam sepekan, biasanya tiap orang mampu menyelesaikan 10-15 buah. Lain lagi untuk tikar sajadah, upah yang akan diterima sebesar Rp 10.000 per lembar. Sedang tikar besar Rp 30.000 per lembar.
Keuntungannya lumayan. Harga jual produk berkisar antara Rp 2.500-Rp 120.000. Tandok hantaran, umpamanya, dilego antara Rp 15.000-Rp 25.000. Tas sedang berkisar Rp 50.000-Rp 80.000. Slamet juga memproduksi tas-tas eksklusif dengan kombinasi kulit, harganya Rp 120.000-Rp 150.000. Omzet per bulan saat ini mencapai Rp 12 juta-Rp 15 juta. “Keuntungan bersihnya sekitar 25%,” kata Slamet.
Kini, Slamet tinggal menikmati hasil. Produknya yang unik, membuat banyak pihak meminta Slamet mengajarkan kerajinannya tersebut, termasuk di sekolah-sekolah. “Para lansia itu yang memberi pelajaran teknisnya. Mereka bangga, yang sebelumnya tidak tahu ke mana-mana, kini kerap menginap di hotel dan berkenalan dengan masyarakat modern,” papar Slamet, sumringah.
(Selesai)
Harian Bisnis dan Investasi KONTAN, 19-12 Desember 2007
