Selalu Ada Harapan Esok Pagi

SELAMAT DATANG
DI BLOG KULO

Search

Salam

Sejarah selalu terkendala oleh ruang dan waktu. Masa lalu, bisa ditilik dengan terang benderang di masa kini. Masa depan, hanya diperkirakan tapi tak bisa dipastikan.

Masa lalu, selalu ada distorsi. Sebabnya, tafsir mengambil tempatnya sendiri-sendiri. Karenanya, satu-satunya jalan agar sejarah masa kini tak membelot di masa depan, adalah dengan cara mendokumentasikannya.

Masa kini, di masa depan akan menjadi masa lalu. Dus, rekamlah sejarah yang sedang kau alami sekarang. Sekecil apapun, di masa depan akan sangat berharga. Kita tak pernah tahu, di masa depan yang sekarang kita sebut sebagai kertas atau pulpen, masih disebut sebagai kertas atau pulpen atau tidak. Atau bisa jadi bernama sama, tapi berbeda bentuk.

Mari, sodara-sodara, rekamlah sejarah yang sedang kau jalani.

Salam


Jumat, 26 September 2008

Wartawan

0 komentar


Share

Danto (http://bungapadangilalang.blogspot.com)

Dahwa. Dia terbilang teman karib saya dari SMP hingga SMU, daerah yang terbentang di tengah-tengah kaki Gunung Ciremai dan Gunung Slamet. Usia kami tak terpaut jauh. Kalaupun ada perbedaan, dulu semasa SMU, dia bertubuh agak gempal, otot agak berisi, dan sorot mata rada tajam. Semasa SMU, hampir 15 tahun lalu, tubuh saya kecil, tak berotot, dan mata agak cekung: sayu. Tak seperti sekarang.

Sudah lebih dari satu dasa warsa kami tak bertemu. Hanya sedikit kabar setahun lalu, dia sudah menikah dengan teman satu SMP, teman saya juga. Katanya dia telah punya anak laki-laki, sekira umur dua tahunan. Tubuh bayinya rada bongsor, bermata bulat, dan berhidung bangir, katanya.

Meski satu sekolah, kami beda kampung, tepatnya bertetangga kampung. Desa dia tepat di tubir Cisanggarung, sungai yang membentang panjang membelah tanah Pasundan dan bekas kekuasan Majapahit, dari selatan Jawa menuju pantai utara Jawa atawa pantura. Ayahnya adalah tenaga pengairan di Cisanggarung. Maka, dia pun kerap mengikuti jejak sang bapak, tiap hari melaju di dua provinsi: Jawa Barat dan Jawa Tengah. He..he..he.. Betul. Itu karena untuk ke Jawa Barat hanya butuh sepelemparan batu sahaja. Alias…dia hidup di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Saya mungkin tak akan ingat lagi bagaimana aktivitas dia selepas SMU dulu, jika saja tak ada kabar dadakan tadi pagi. Kebetulan, karena tekad saya yang –maap—rada ndableg, saya bisa lulus Sarjana. Padahal, secara ekonomi kelihatannya dia lebih mapan ketimbang saya. Saya, saat SMU dulu, terpaksa nyambi harus jadi kuli di sawah tetangga untuk sekadar dapat uang jajan, syukur-sykur bisa nambah buat bayar SPP.

Dia? Dia tak melanjutkan kuliah, dan katanya hanya berkarir mengikuti jejak sang bapak menjadi tenaga pengairan di Cisanggarung. Kemudian beristri dan beranak pinak di desanya.
Subuh pagi tadi, ingatan saya kembali menerobos bersamanya. Selepas sholat Subuh, telepon saya menjerit-jerit. Duh, pengeng-nya pagi-pagi buta suara dering telepon berkoar-koar. Biasanya, selepas Subuh itu saya bergelung sarung lagi. Tapi tidak, pagi tadi itu. Jeritan telepon itu mengusir rasa kantuk.

Hampir saja tak saya angkat telepon kutu kupret itu. Nomor telepon pemanggil tak dikenal. Gengsi saya sepertinya makin ke sini kian meninggi saja. Malas nian menjawab telepon dari orang yang tidak dikenal. Mungkin sudah mulai merasa jadi orang rada penting. Dasar!! Rada ngedumel, saya angkat juga menjawab panggilan telepon.

“Halo,” kata saya.

“Hai, kawan, ini Dahwa, masih ingat?” kata suara di seberang telepon.

“Oh…ya, ya,..apa kabar,” sapa saya.

“Baik..baik..makin sukses wae saya denger, kumaha kerjaan? Hebat sekarang mah udah jadi wartawan euy…”

Ach, rasanya tak perlu saya bertele-tele membeberkan basa-basinya tanya kabar dengan logat Sunda pinggiran yang sesekali terceletuk itu. Rasanya juga tak bernafsu mengulas saling sapa yang rada kurang berbobot itu. Masih pagi pula. Rada terkantuk-kantuk pula. Mata ini masih rada lengket. Yang saya perlu kasih tahu, dia bilang tahu nomor hape saya dari seorang teman satu SMU yang beberapa waktu berjumpa. Maka, sebaiknya kusarikan saja apa-apa yang dia ceritakan. Tentu saja, dengan sedikit variasi dan versi bahasa saya.

****

Sudah enam bulan ini saya menjadi pemimpin proyek di tubir desa Cisanggarung. He..he..he..Jangan kau ledek. Proyek orang kota dengan wong ndeso sangat jauh beda, tentu saja. Pak Kepala Desa menunjuk saya sebagai ketua pembangunan balai desa. Ini bagian dari proyek bantuan pemerintah. Nilainya cukup besar untuk ukuran kampung bau lisung seperti desa saya: Rp 250 juta.

Bagi lulusan SMU yang tak punya pekerjaan tetap, kecuali menjadi tenaga pengarian Cisanggarung, seperti saya, proyek ini sangat membantu ekonomi keluarga. Lumayan. Proyek ini juga bisa menjadi semacam proyek padat karya bagi kawan sedesa saya. Kata Pak Kades, biar orang-orang getol membangun desanya sendiri. Tinimbang merantau ke Jakarta, berdagang asongan, kerja kuli di proyek-proyek gedung pencakar langit di ibu kota. “Lebih baik bekerja memajukan kampung halaman sendiri,” kata Pak Kades, menjelang pembangunan balai desa enam bulan lalu itu.

Maka, kini pembangunan balai desa sudah separuh jalan. Sudah berdiri pondasi dan tiang-tiang. Rencananya, balai desa akan berdiri dengan dua lantai. Mewah, tentu saja untuk ukuran desa. Targetnya selesai akhir 2009.

Tapi, sudah seminggu ini pembangunan balai desa tersendat. Tahukah kau apa penyebabnya? Warga desa kami sekarang sedang resah. Sebab, ada beberapa artikel di media Koran lokal di daerah kami yang menulis: pembangunan balai desa kami kekurangan dana. “Duit yang seharusnya berlebih itu tiba-tiba raib,” tulisan sebuah Koran diantaranya. “Proyek ini sarat korupsi,” timpal sebuah tulisan lagi.

Saya baru tahu media tersebut. Sebulan lalu, seorang yang megaku wartawan dari salah satu media tersebut, mengantarkan beberapa tulisan itu ke balai desa. Saya baca isi beritanya. Saya tilik-teliti satu per satu halaman koran berkertas buram itu. Saya ambil salah satunya.

Namanya saja asing: Harian Kebangsaan. Tebalnya 20 halaman. Tulisan cetaknya buram, ada beberapa bagian tulisan yang berbayang. Tak jelas. Isinya dibagi per lima halaman. Dari halaman satu sampai lima berita nasional, halaman enam sampai 10 berita daerah dan lokal, termasuk even-even di kampung-kampung, halaman 11 sampai 15 berita gado-gado, mulai dari berita luar negeri, berita olahraga, dan lima halaman terakhir berisi guyonan dan infotainment.

Berita tentang proyek desa saya itu terletak di halaman 9. Isinya, ya, itu tadi. Membuat sesak dada ini. Ini fitnah. Tapi rasanya diri ini jadi tak berdaya.

Maka, gegerlah seisi desa. Inilah pangkal soal itu. Saya dan orang-orang kampung kaget bukan kepalang. Dari mana si wartawan media tersebut tahu bahwa proyek ini mangkrak. Proyek ini tak jalan, atau proyek ini kekurangan dana, atawa terjadi kebocoran dana hingga ada dugaan korupsi?

Sudah seminggu ini proyek memang tak jalan. Tapi bukan karena kekurangan dana. Tapi karena terpicu tulisan itu. Warga desa kami tiarap. Menunggu ada tulisan yang membuat syok apalagi yang bakal muncul. Semua warga harap-harap cemas. Warga tak mengerti, dari mana wartawan media itu mendapat sumber berita seperti itu. Kami, warga desa di tubir Cisanggarung, setidaknya saya sebagai ketua proyek, tak pernah merasa ada satu wartawanpun yang mewawancarai. Tapi tiba-tiba muncul tulisan yang benar-benar meresahkan itu.

Kami tak berani melawan, karena memang tak tahu hukum sama sekali. Tak ada ahli hukum di desa kami. Yang kami tahu, semua orang di desa dan daerah lain jadi tahu bahwa proyek balai desa di tempat kami rawan korupsi. Dan itu seperti menuding ke saya, sebagai kepala proyek.

Saya juga kini lebih banyak diam di rumah, seperti sudah divonis bahwa saya ini adalah seorang korup, yang memakan uang bantuan pemerintah untuk kepentingan pribadi. Padahal, untuk urusan duit seperti ini, saya masih memegang apa yang dikatakan guru ngaji saya: Tidak akan mashlahat mengambil uang yang bukan haknya. Setidaknya itu yang masih saya pegang. Tapi, apa kini semua? Diri ini seperti sudah tak berharga lagi.

Semua warga tiarap. Semua mata seperti tertuju ke saya, sekali lagi, seperti menghujamkan tudingan bahwa saya adalah seorang korup. Dan, tiga hari lalu, Pak Kades memanggil saya, juga beberapa aparat desa. Katanya ada segerombolan wartawan yang hendak wawancara dengan saya dan Pak Kepala Desa soal proyek itu. Nyali saya sebetulnya rada ciut. Entahlah, saya tak punya salah apa-apa, tapi kenapa jadi gemetar begini rupa. Inilah barangkali karakter ndeso, biasa manut, biasa saur manuk terserah pimpinan.

Saya dan beberapa aparat desa kemudian menemui tamu-tamu tak diundang itu. Inikah wajah-wajah para wartawan itu? Ada enam orang. Tiga diantaranya berambut gondrong, perut tambun, badan gempal. Dua yang lain bercaping warna merah bertuliskan Persatuan Wartawan Reformasi. Saya gelap urusan jurnalistik dan pers. Siapa mereka, juga saya tak paham. Yang saya pasti akan ingat terus, keenam-enamnya memakai rompi warna coklat. Bercelana jeans yang rada belel di bagian lututnya. Mungkin pakaian seragam mereka, pikir saya.

Mereka mengaku mau wawancara mau follow up berita sebelumnya. Berita yang menyesakkan itu, berita yang menyudutkan saya itu. Katanya, bisa tidak ditulis seperti itu lagi, asal kami bayar mereka masing-masing Rp 500.000. Semprul!! Uang segitu bagi warga desa seperti kami, terbilang besar. Itu sama saja dengan memberi masing-masing dua kwintal padi. Berat!!

Tak ada banyak basa-basi, memang. Hati ini ngedumel, terus-terusan. Jadilah pertemuan tiga hari lalu itu rada tegang. Pak Kades, saya, dan beberapa pejabat desa, menolak memberi uang sebesar itu. Mereka juga ngotot, kalau tak diberi uang akan membuat berita lebih heboh. Beberapa warga kemudian datang ke balai desa. Penduduk yang mayoritas petani, hari itu seperti libur ke ladang atau sawah.

Ternyata kabar ada sekelompok wartawan ke balai desa tersebar cepat. Semua warga desa –total warga di desa kami sekira 3.000 orang--, sepertinya sudah mendengar kabar ini. Maka, sore itu balai desa penuh sesak oleh warga desa. Semua penasaran. Makin sore, pertemuan kian panas. Dari pojok balai desa yang belum jadi itu, seorang warga berteriak, “Usir saja, biarin kita berurusan dengan hukum saja,” teriaknya. Warga lain mulai terusik. Maka, agar tak terjadi keributan, Pak Kades menyarankan segermobolan wartawan itu untuk segera pergi.

Mereka akhirnya mengalah. Pergi. Tapi tetap dengan satu ancaman: Kami akan tulis lebih dahsyat dari yang sudah ditulis,” kata seorang diantara mereka. Pak Kades, mewakili kami, mendapat dukungan warga, sore tiga hari lalu itu, mendadak bangkit semangat. “Silakan, kami tak takut,” katanya, rada menggertak balik. Mereka ngacir.

****

Hampir dua jam Dahwa ngoceh di ujung telepon. Hape saya sampai panas dibuatnya. Baterenya juga hampir habis. Dari telepon jam 04.30 WIB usai Subuh itu, cerocosannya baru kelar sekitar jam 06.20 WIB. Karena kini jaman tarif murah, maka saya tahu pulsa telepon yang tersedot untuk pembicaraan Dahwa pastilah tak seberapa. Apalagi, saat ini operator-operator telepon sedang gencar perang tarif murah. Maka, telepon pada waktu jam segitu biaya telepon hingga dua jam paling tak nyampe Rp 1.000. Murah.

Begitulah. Di ujung teleponnya, Dahwa kemudian bertutur: “Kawan, apakah memang profesi wartawan seperti itu? Membuat resah masyarakat kecil seperti kami? Padahal, ketika kita sama-sama SMU, yang saya tahu wartawan adalah profesi hebat, mau mempertaruhkan nyawa di tengah medan perang, menjadi pahlawan dan penyambung informasi untuk wong cilik seperti kami,” paparnya, rada getir.

Jujur, saya juga bingung menjawab pertanyaan Dahwa. Wartawan. Saya juga seorang wartawan.
“Kalau memang tabiat wartawan seperti itu, saya malu punya kawan lama seperti ente,” pungkasnya, seraya minta maaf. Saya terpaku!!

Jakarta, 26 September 2008
14.14 WIB

Read More......

Jumat, 11 Juli 2008

Pemasaran iPhone Generasi Terbaru

0 komentar


Share

Operator Indonesia Seru Berebut Lisensi iPhone

Danto

JAKARTA. Diam-diam ada perang bisnis seru di antara para operator seluler di Indonesia. Mereka tengah mengincar hak untuk menjadi mitra Apple Inc. berjualan iPhone generasi kedua di Indonesia.

Jika tak ada aral melintang, hari ini (11/7) Apple Inc. akan merilis iPhone generasi kedua secara serentak di seluruh dunia. Namun, Apple Inc. rupanya tidak menilai Indonesia sebagai pasar penting, sehingga tak masuk ke rombongan pertama ini.

Ini adalah generasi terbaru dari iPhone generasi pertama yang diluncurkan Juni 2007 lalu. Fitur-fiturnya lebih canggih dibanding sang kakak. Sebagai perbandingan, iPhone generasi pertama memiliki fungsi kamera, multimedia player, SMS, visual voicemail, interface dengan pengguna layar multi-touch, dan kamera dengan resolusi 2 megapixel. Di generasi terbaru, nuansa teknologi akan lebih yahud, terutama karena memakai teknologi 3G.

IPhone generasi kedua juga unggul harga. Rencananya, Apple akan membanderol harga versi terbaru itu sebesar US$ 199 atau sekitar Rp 1,8 juta saja per unit. Harga itu separuh harga generasi pertama sebesar US$ 399 atau Rp 3,6 juta.

Dengan harga miring, bisa jadi penjualan iPhone seri kedua itu meledak. Sebagai catatan, hingga Mei lalu, Apple Inc. berhasil menjual 6 juta iPhone. Derasnya arus penjualan ini yang agaknya membuat Chief Executive Officer Apple Steve Jobs berniat menjadikan iPhone sebagai lini bisnis utama yang ketiga, bersama komputer Macintosh and iPod.

Cuma, konsumen bisa mendapat harga murah karena Apple menggaet 17 operator seluler di berbagai negara. Mereka menggandeng American Movil di Meksiko, Argentina, Brazil, Kolombia, dan Chili. Lantas, Apple menggandeng Bharti Airtel di India, Globe Telecom di Filipina, Hutchinson Telecommunications di Hong Kong dan Makau, O2 di Inggris dan Irlandia, Optus di Australia, serta Singapore Telecommunications (Singtel) di Singapura.

Operator seluler ini memberi subsidi sehingga harga iPhone murah. Dan itu tidak gratis. Sebab, operator akan mengikat pelanggan lewat fasilitas autodebet kartu kredit untuk pembayaran tetap, misalnya selama dua tahun.

Nah, sampai sekarang belum juga putus siapa operator seluler di Indonesia yang akan menjual paket iPhone. "Kami sangat tertarik untuk menggarapnya, karena peluangnya sangat besar," kata Adita Irawati, Division Head Public Relations Indosat, kemarin.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), induk usaha PT Telkomsel, juga menyatakan hal serupa. "Kami siap menjajaki, meski tetap menghitung juga cost benefit-nya," kata Eddy Kurnia, juru bicara Telkom.

Bisa dimaklumi jika Indosat dan Telkom ngebet ingin memegang lisensi penjualan iPhone generasi kedua. Pasar telekomunikasi Indonesia memang gemuk. Sebagai catatan, pasar telekomunikasi Indonesia kini capai 120,6 juta pelanggan. Dari jumlah itu, layanan telepon seluler bergerak alias Global System for Mobile Communications (GSM) menguasai 79,8%. Layanan telepon tetap nirkabel alias Code Division Multiple Access (CDMA) berada di posisi kedua dengan penetrasi 13%, dan telepon kabel tetap alias Public Switched Telephone Network (PSTN) sebesar 7,2%.

Cuma, agaknya memang rada susah menebak penawaran Apple soal lisensi penjualan iPhone. "Kami pernah coba menjajakinya bersama grup kami, tapi belum cocok," kata Direktur Utama PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) Hasnul Suhaimi.

Siapa yang paling berpeluang? Hasnul punya pendapat. "Biasanya, operator yang telah memegang lisensi, akan menggandeng grupnya," katanya.

Apakah itu berarti Telkomsel yang akan memasarkan iPhone di Indonesia? Sebab, Singtel, mitra Apple memasarkan iPhone di Singapura, adalah pemilik 35% Telkomsel. "Kami ikut saja apa kata pemegang saham," kata Aziz Fuedi, juru bicara Telkomsel kepada KONTAN.
Sementara Singtel belum mau berkomentar. "Kami belum bisa menjawab saat ini," kata juru bicara Singtel Michele Sue-Ann Batchelor.

Dipublikasin di Harian Kontan, edisi Jumat (11/7/08)

Read More......

Minggu, 06 Juli 2008

Militer, Seniman, Pabrik Kata, dan Pasar

1 komentar


Share

Survival of The Fittest. Begitulah akhir dari sistem pasar. Siapa kuat, dia menang. Yang tak berdaya, maaf, lebih baik menyingkir. Mencari kehidupan di luar sono. Kami tak bisa menampungmu. Pasar menghendaki itu.

Demikianlah sistem pasar bekerja. Melahap segala-gala. Termasuk kemanusiaan. Juga kehidupannya. Sistem pasar yang membuat kompetisi sangat ketat. Di mana sistem ini bekerja? Di mana pun, kini, selama masih ada manusia. Di gedung pencakar langit nun jauh di Amerika sana, atau di tubir jurang di ujung kaki gunung sini.

Semua terpaut. Semua bertalian. Dunia sudah menjadi satu. Tak ada lagi batas-batas. Geografis kini sudah jadi bayangan semu. Semua saling terkait. Nasionalisme? Builshit!! Semua bermuara pada sistem pasar itu: Kapitalisme.

Sistem ini pula yang kini bersimaharajalela dan menjarah semua bidang pekerjaan. Termasuk media: bidang jurnalistik dan dunia wartawan. Idealismenya, jurnalistik adalah menyampaikan fakta dan peristiwa apa adanya. Sesuai kenyataan. Itu idealnya.

Cuma, sungguh bejibun nian perusahaan di industri media kini. Simak saja perusahaan media yang ada sekarang. Di Indonesia saja, hingga medio 2008 ini, jumlah media cetak mencapai 889 buah. Jumlah stasiun televisi mencapai 120 buah, dan stasiun radio ada 2.000 buah.

Agar bisa menguasai pasar, sebuah perusahaan media harus mengikuti keinginan pasar, maaf, maksudnya pembaca. Sebuah perusahaan media harus berlomba menyajikan berita dan peristiwa yang bisa membuat terperangah pasarnya. “Harus ada magnitude”. Begitulah kata kunci sebuah media bisa eksis di tengah persaingan yang ketat ini. Harus ada perubahan yang terjadi dengan sebuah pernyataan dari media. Demikianlah tujuan utamanya. Semakin besar magnitude yang terjadi, maka ketertarikan pasar juga membesar.

Caranya: kemasan di bentuk seapik dan semodis mungkin. Semua harus ekstra kerja keras. Jangan sampai sedikit pun ada cacat. Keseleo sedikit, siap-siap saja menerima hak jawab. Terlalu sering membuat kesalahan, maka siap-siap saja ditinggalkan pasar.

Bisnis media adalah bisnis kepercayaan. Sekali pembaca (baca: pasar) merasa dibohongi, maka selamanya media tersebut tak akan mendapat tempat. Atau sekali saja media itu bisa digunakan untuk kepentingan pihak tertentu, siap-siap saja kepentingan lain masuk. Pasar pun akan skeptis. Tak percaya lagi. Perusahaan media diambang kebangkrutan.

Agar kebangkrutan tak terjadi, diciptakanlah sistem kerja dan profesionalitas. Semua awak media harus profesional. Ikut sistem yang ada. Fokus pada bidang kerjanya. Sekali wartawan menerima titipan pihak luar, maka stigma itu akan melekat selamanya.

Supaya tujuan perusahaan media tercapai, maka semua lini dikerahkan. Mulai dari perekrutan calon wartawan, hingga penataan mekanisme kerja. Seseorang yang akan menapaki dunia jurnalistik, harus mengalami masa perkenalan. Dibuatlah jenjang bertingkat.

Maka tersebutlah ada calon reporter. Posisi ini biasanya banyak diisi oleh para lulusan sarjana yang fresh graduate. Harapannya: mereka mudah dibentuk sesuai tujuan semula media diciptakan. Kata kasarnya, sekali lagi, mudah dibentuk untuk memenuhi keinginan pasar.

Sistem kerja ketat kemudian diterapkan. Semua tidak boleh melewati waktu cetak. Untuk sebuah harian yang tebrbit pagi, seluruh hasil karya harus selesai tepat jam 12 malam. Melewati jam itu, maka semua akan terbuang percuma. Sia-sia. Karena kini industri percetakan masih sangat terbatas, terlambat sedikit semuanya tak berguna. Percetakan akan menolak jika bahan cetakan tulisan tak datang sesuai jadwal.

Kalaupun terpaksa dicetak, harus menunggu giliran setelah jam 06.00 pagi. Itu artinya terlambat. Media lain sudah muncul duluan. Hasil kerja akan sangat percuma. Sebab, pasar akan menganggap hasil produk kita adalah produk gagal dan produk basi. Sekali lagi, ini akan menimbulkan ketidakpercayaan pasar. Pembaca yang sudah berlangganan, akan mengalihkan langganannya ke media lain. Perusahaan media tersebut, sekali lagi, diambang kebangkrutan.

Lagi-lagi, agar itu tak terjadi, mekanisme harus sangat ketat. Seleksi calon reporter tak boleh sembarangan. Semua harus sesuai kriteria. Ulet, pintar menulis, pandai melobi sumber, dan bisa menyesuaikan isi tulisan sesuai dengan yang sedang hangat di pasar. Lagi-lagi muaranya pasar.

Maka, terciptalah sistem hierarki agar koordinasi menjadi jelas. Ada calon reporter, reporter, redaktur halaman, redaktur bidang, redaktur pelaksana, redaktur eksekutif, wakil pemimpin redaksi, dan pemimpin redaksi.

Jenjang hierarki ini sangat mirip dengan jaring koordinasi militer. Ada prajurit di tingkat bawah, ada tamtama di level menengah, dan ada perwira di tingkat atas. Atau dari mulai kopral hingga jenderal.

Calon reporter akan diasah selama periode tertentu untuk bisa berstatus reporter. Biasanya dalam rentang waktu sembilan bulan hingga satu tahun. Status kerjanya kontrak. Mulailah si calon reporter memasuki sistem kerja jurnalistik.

Pagi-pagi, calon reporter atau reporter harus ke lapangan mencari berita, sesuai pos-pos liputan, yang biasanya dibagi berdasarkan bidang dan topik bahasan. Bertemu dengan nara sumber untuk wawancara dan mengumpulkan bahan. Dia akan berkoordinasi dengan redaktur soal apa yang mau ditulis. Kriterianya sudah jelas: yang sedang hangat dan diminati pasar. Persis seperti seorang kopral berkoordinasi pada sang komandan. Calon reporter harus mematuhi semua apa yang diminta redaktur. Biasanya, apa yang sudah diorder merupakan hasil keputusan rapat redaksi, dari mulai jenjang redaktur hingga pemimpin redaksi. Tapi, tak selamanya seorang calon reporter menunggu perintah dari redaktur. Dia harus pandai berinisiatif mengembangkan isu untuk menjadi sebuah berita. Inilah pentingnya menjalin lobi dengan sumber berita.

Pemimpin redaksi akan memberi arahan agar bahan dan tulisan sesuai dengan keinginan pembaca (pasar). Meski sesekali menyelipkan pesan moral, agar sesuatu yang dianggap buruk untuk kemashlahatan umat segera berubah menjadi lebih baik. Semakin pesan moral ini sempurna, maka citra perusahan akan makin baik. Lagi-lagi pasar akan kian percaya dan simpatik.

Pemimpin redaksi biasanya akan memegang erat asas kepercayaan pasar ini. Itulah sebabnya, kerap kali seorang pemimpin redaksi meminta seluruh awak untuk tetap menjaga kredibilitas perusahaan. Karena, sekali lagi, sekali kredibilitas ternodai, tempat di hati pembaca (baca: pasar) akan makin menciut.

Maka mulailah pemimpin redaksi menerapkan kebijakan ke bawahannya, mulai dari wakil pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, hingga redaktur. Dan yang terakhir ini yang meneruskan ke reporter. Dalam rantai kerja ini, acap kali terjadi rantai makan memakan. Maksudnya saling tekan menekan.

Demi menjaga kredibilitas dan kepercayaan pasar, seorang pemimpin redaksi akan menekan redaktur pelaksana agar tulisan dan bahannya sempurna. Jangan sedikitpun ada kesalahan.

Dalam sistem kerja media harian, dari tangan seorang pemimpin redaksi, seluruh tulisan harus selesai tepat jam 24.00 teng. Maka, maksimal bahan tulisan harus sudah di tangan sang pemimpin redaksi jauh sebelum jam tersebut. Kalau bisa jam 21.00 sebagian tulisan sudah lewat editing pemimpin redaksi.

Sebelum jam 21.00, redaktur pelaksana, yang membawahi beberapa bidang kompartemen, harus sudah menyelesaikan editing tulisan sebelum masuk ke tangan pemimpin redaksi itu. Maka, redaktur pelaksana akan meminta bawahannya, atau beberapa redaktur bidang, untuk menyelesaikan editing jauh sebelum jam 21.00. Biasanya rentang waktunya mulai pukul 19.00.

Redaktur bidang kemudian akan meminta seorang redaktur halaman yang ada di bawahnya untuk lebih cepat menyelesaikan pekerjaan. Di tangan redaktur bidang, tulisan harus sudah selesai jam 19.00. Selanjutnya, redaktur halaman tersebut juga akan meminta reporter atau calon reporter untuk lebih cepat membuat tulisan. Di sinilah posisi paling krusial terjadi. Soalnya, awal tulisan ada di tangan reporter dan calon reporter.

Redaktur akan meminta reporter memenuhi kriteria tulisan yang layak muat, minimal memenuhi unsur 5W+1H. Yakni What (apa), Who (Siapa), When (kapan), Where (dimana), dan Why (kenapa), plus How (bagaimana).

Jika keenam unsur tersebut terpenuhi, biasanya redaktur akan langsung mengedit. Namun jika tak terpenuhi, maka beragam cara karakter masing-masing akan keluar. Dari mulai membentak reporter, hingga cara halus seperti mentraktir makan kemudian mengajak bicara si reporter. Harapannya, reporter akan bekerja lebih baik lagi.

Sampai di sini, bisa tergambar bahwa kerja jurnalistik mirip kerja militer. Ada hierarki, ada perintah, ada kerjasama tim, juga ada disiplin.

Jika orientasinya adalah hasil dan produk, maka sistem kerja jurnalistik tak jauh beda dengan system kerja sebuah pabrik. Bedanya, jika pabrik memproduksi barang-barang konsumsi, jurnalistik memproduksi informasi. Informasi sampai dari pemberi ke penerima melalui perantara kata dan tulisan. Tak heran jika kerja jurnalistik adalah sebuah pabrik kata.


Sistem kerja jurnalistik, sekali lagi, sangat mirip dengan sistem kerja pabrik barang-barang konsumsi, seperti pabrik konveksi. Seperti pabrik konveksi, pakaian yang jahitannya sobek, akan langsung masuk kotak sembari dicap dan ditandai sebagai “cacat produksi”. Kelak, pakaian-pakaian tak berguna ini akan dilego ke factory outlet (FO) dengan harga miring. Bila perlu ke kakilima.

Demikian juga cara kerja jurnalistik. Calon reporter atau wartawan senior sekalipun, sekali membuat cacat maka akan masuk kotak. Sekali seorang wartawan “bermain”, maka selamanya cap tersebut akan menempel.

Tapi sekali mereka berprestasi, maka akan dikenang juga namanya di dunia pabrik kata ini. Semakin bagus hasil produksinya, maka akan semakin elok pula citranya. Maka karir pun akan kian cemerlang.

Semakin elok hasil polesan sebuah tulisan, akan makin dekat dia dengan gelar seorang seniman. Seorang seniman, yang dengan liukan tulisannya, akan makin membuat selera pasar terpincut. Maka, akan makin pula mendapat kepercayaan pasar.

Cuma, untuk sampai pada tahap ini, prosesnya sangat panjang. Seperti piramida, semakin ke pucuk, akan kian sedikit yang menghuninya. Karena prosesnya yang rumit. Dunia jurnalistik adalah perpaduan antara Militer, Seniman, Pabrik Kata, dan Pasar. Untuk jadi seniman di tengah pasar yang ganas, seorang jurnalis harus lulus melewati ujian dengan proses yang “menyeramkan”: menyelami didikan separuh militer di pabrik kata yang sangat disiplin. Survival of The Fittest.

Danto

6 Juli 2008

14.00 WIB

Read More......
Copyright 2009 | Bunga Padang Ilalang Theme by Cah Kangkung | supported by Blogger