Sebening Embun Pagi: Tapal Batas
Read More......Salam
Masa lalu, selalu ada distorsi. Sebabnya, tafsir mengambil tempatnya sendiri-sendiri. Karenanya, satu-satunya jalan agar sejarah masa kini tak membelot di masa depan, adalah dengan cara mendokumentasikannya.
Masa kini, di masa depan akan menjadi masa lalu. Dus, rekamlah sejarah yang sedang kau alami sekarang. Sekecil apapun, di masa depan akan sangat berharga. Kita tak pernah tahu, di masa depan yang sekarang kita sebut sebagai kertas atau pulpen, masih disebut sebagai kertas atau pulpen atau tidak. Atau bisa jadi bernama sama, tapi berbeda bentuk.
Mari, sodara-sodara, rekamlah sejarah yang sedang kau jalani.
Salam
Kamis, 22 Mei 2008
Selasa, 20 Mei 2008
Tapal Batas
2 komentarTapal Batas
Danto
Siang bolong itu mendadak redup. Gelap. Matahari tak lagi tampak. Angin bergemuruh. Awan-awan bergumpal-gumpal. Berdesak-desakan. Bak sepasukan serdadu, menggeruduk langit atap rumahku. Maaf, langit kampungku di tapal batas kota Bekasi.
Dalam hitungan belasan menit, mendung menggayut-gayut itu akhirnya pecah juga. Byar!! Hujan mengguyur deras nian. Listrik di rumahku tiba-tiba saja mati. Cilaka!!
Aku baru saja merapikan pakaian. Istriku ikut mengancingkan kemeja coklat yang beberapa saat sebelumnya aku pakai. Si kecil Aulia, kini sudah dua tahun, ikut merengek. Bingung. Haruskah kubatalkan janji wawancara dengan seorang direktur utama investor tol Trans Jawa di sebuah hotel di bilangan Kuningan, Jakarta.
Jam sudah menunjukkan pukul 13.05 WIB. Sementara waktu janji adalah pukul 15.00. Butuh waktu satu setengah hingga dua jam dari rumahku untuk sampai di tempat perjanjian. Sejenak ragu memburu. Gamang menyerang. Jika tak segera berangkat, maka bisa jadi aku telat. Malu nian jika aku terlambat datang.
“Aa, sebaiknya tunggu hujan reda. Sangat ngeri jika berangkat sekarang,” istriku merajuk. Aku terpaku sejenak. “Kita lihat beberapa saat lagi, siapa tahu hujan cepat reda,” jawabku.
Si kecil Aulia mendekat. Merengek minta digendong. “Ayah, tatu Ayah,” lidah cadelnya tak jelas mengatakan apa. Barangkali takut. Di luar, petir sesekali menggelegar. Kilatan cahayanya sejenak-sejenak menerangi ruang tamu depan rumah. Kugendong. Kuusap rambut si kecil.
Setengah jam berlalu. Listrik masih juga mati. Petir masih menyambar-nyambar. Hujan tetap deras. Angin di luar masih bergemuruh. Waktu terus bergerak. Hatiku masih gundah. Berharap hujan segera menjadi sahabat. Ternyata harapan tak juga mampir. Hujan tetap deras. Listrik tetap mati. Petir masih menyambar-nyambar.
Ku tengok sejenak jalanan di depan rumah. Air sudah menggenang. Kira-kira 10 sentimeter tingginya. Selain kegaduhan hujan, tak ada lagi tanda-tanda kehidupan. Di luar sepi. Pintu rumah tetangga-tetanggaku terkunci rapat-rapat. Barangkali lebih baik bergelung sarung, ketimbang menunggu sang pangeran banyu, maksudku hujan, berhenti mengencingi rumah. Berada dalam gendonganku, agaknya membuat si kecil merasa nyaman. Tertidur.
Aha!! Syukurlah, beberapa saat kemudian listrik hidup. Cahaya lampu kembali menyeruak. Ruangan gelap, kendati masih tengah hari, jadi lebih terang. Cuma, itu tak membantu khawatirku. Hujan di luar masih deras. Jarum jam detik serasa menusuk-nusuk. Jam kini sudah menunjukkan pukul 13.30. Artinya sudah setengah jam berlalu. Tanda-tanda hujan berhenti belum juga muncul. Tenggat waktu untuk wawancara makin mepet.
“Sayang, Aa harus berangkat sekarang, biar pakai jas hujan saja,” kataku. Istriku terdiam. Aku tahu, ada nada tak setuju dari sorot matanya. “Insya Allah nggak ada apa-apa,” tambahku. Terdengar klise, memang. Tapi begitulah aku, istriku, dan si kecil.
“Ya, udah, tapi hati-hati di jalan,” katanya. Kukecup kening, pipi kanan dan kiri, dan bibirnya yang mungil. “Assalamu’alaikum,” kataku. “Wa’alaikum salam,” jawabnya.
Kusambar jas hujan yang tercantel di jok motorku. Kugaet sepatu boot. Rada pengap berpakaian ala astronot seperti itu. Hujan masih mengguyur, meski mulai menipis.
Gruuungggg…gruunggggg…ku tancap gas sepeda motorku. Menerjang hujan dan genangan air. Kacamataku sedikit gelap tersapu air hujan. Pikiranku sudah ada di hotel tempat aku wawancara dengan pejabat investor lokal tersebut.
Air sudah mengalir deras melalui jalanan pesawahan di depan komplek rumahku. Tempat tinggalku memang sangat ndeso. Ada di tengah-tengah sawah. Di ujung tapal batas wilayah Tambun, Bekasi. Kanan kiri pesawahan. Jika hujan seperti ini, jalan bakal tak terlihat. Harus bertempur dengan genangan air. Hujan petir begini, jalanan sungguh lengang nian. tak ada satupun orang lewat di jalanan.
Apa yang harus terjadi terjadilah. Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Begitulah. Tepat di tengah sawah, dua ratus meter dari gerbang perumahanku, tiba-tiba kilat datang menyambar. Sangat putih dan menyilaukan mata. Berbentuk cambuk, atau sebangsa cemeti kuda. Atau mungkin seperti lambang PT PLN. Sangat putih. Sangat dekat. Tepat di depan mata.
Gelegarrrr…..Gelegarrr…. Aku mendadak berhenti. Terkejut bukan kepalang. “Masya Allah, Astaghfirullahall ‘adzim,” gumamku, seketika.
Apa yang aku lihat di depan mata kepala sendiri sungguh membuat bulu kuduk berdiri. Kabel listrik di tiang PLN yang membentang sepanjang sawah, tiba-tiba menjuntai tepat di kepalaku. Putus tersengat petir itu.
Prepeeettttttt…prepeeettttt… Sambaran api menjalar mengikuti aliran listrik di kabel sepanjang sawah. Tepat melalui di atas kepalaku. “Astaghfirullahal’adzim,” kulafadzkan kembali kata itu. Begitu cepat. Aku merasakan: sangat dekat dengan kematian.
Setelah itu diam. Listrik mati. Jantungku dag-dig-dug. Tanganku gemetar. Kubalikkan kembali sepeda motorku. Tergesa-gesa. Aku kembali. Cuma, aku berhenti di warung tepat di pintu gerbang perumahanku. Kutenangkan batin dan hati yang sangat berdebar-debar ini. Untuk sementara terpaku. Belum juga bisa ngomong. Sampai akhirnya tukang warung menyapaku. “Ada apa, Pak,” tanyanya. Kujelaskan runut sejak sang petir menyambar kabel listrik itu. Tentu, sambil sesekali mengurut dada.
Aku masih percaya, Tuhan masih melindungi. “Alhamdulillah, Ya, Allah. Engkau masih memberi kesempatan kepadaku untuk menghirup udara dan memperpanjang detak jantung,” gerentes hatiku.
Andai saja…andai saja…kalau saja…jika saja…seumpama saja….Tak putus-putus aku mengucap kata itu. Andai saja tak ada tiang listrik dan kabel itu, barangkali aku sudah gosong. Terbujur kaku. Cuma tangisan istriku tercinta dan rengekan si kecil. “Alhamdulillah, Ya, Allah, Engkau masih memberi kesempatan hamba untuk mengingat-Mu,” terus mulutku bergumam.
Setengah jam kemudian, hujan makin menipis. Kilat hampir sudah tak ada. Petir pun sudah tiada. Aku pikir, gelegar tadi itulah puncak dari kemarahan sang petir.
Kunyalakan kembali motorku. Bukan kembali ke rumah. Kugenjot gas motorku menuju hotel tempat aku wawancara. Telat setengah jam memang. Untung saja, si direktur utama tadi juga rada telat. Jadi aku tak terlalu malu.
****
****
“Syukurlah, sayang. Semuanya kita serahkan pada Yang di Atas. Alhamdulillah, Ya, Allah,” begitulah istriku. Tepat jam 23.00 WIB, Rabu 19 Maret 2008, istriku memeluk erat aku yang pulang masih dengan jasad utuh dan masih bernyawa. “Alhamdulillah, Ya, Allah,” berkali-kali kuucapkan kembali. Kupeluk si kecil. Kucium keningnya. Dia hanya diam. Barangkali tak mengerti apa yang sudah terjadi. Kami bertiga berpelukan. Menangis haru. Semua perasaan bercampur aduk. Haru, sedih, senang. Tak karuan.
Malam sudah larut. Perumahaanku sudah sangat senyap menjelang tengah malam itu. Semua kembali ke peraduan. Siap kembali menjalani hidup, esok hari. Aku serasa terlahir kembali. Lahir di tapal batas kota Bekasi. Juga tapal batas antara kehidupan dan kematian.
Jakarta, 20 Mei 2008
Pukul 19.40 WIB
Untuk mengenang Rabu, 19 Maret 2008
Kisah dari Tetangga
0 komentarDari Sudut Yang Terlupakan
Sepulang dari pengajian rutin beberapa hari lalu, saya berdiri di tepi trotoar daerah Klender. Angkot yang ditunggu belum jua lewat, sedang matahari kian memancar terik. Entah mengapa, kedua mata saya tertarik utuk memperhatikan seorang bapak tua yang tengah termangu di tepi jalan dengan sebuah gerobak kecil yang kosong. Bapak itu duduk di trotoar. Matanya memandang kosong ke arah jalan.Saya mendekatinya. Kami pun terlibat obrolan ringan.
Pak Jumari, demikian namanya, adalah seorang penjual minyak tanah keliling yang biasa menjajakan barang dagangannya di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur. "Tapi kok gerobaknya kosong Pak, mana kaleng-kaleng minyaknya?" tanya saya.Pak Jumari tersenyum kecut. Sambil menghembuskan nafas panjang-panjang seakan hendak melepas semua beban yang ada di dadanya, lelaki berusia limapuluh dua tahun ini menggeleng.
"Gak ada minyaknya."Bapak empat anak ini bercerita jika dia tengah bingung. Mei depan, katanya, pemerintah akan mencabut subsidi harga minyak tanah. "Saya bingung. saya pasti gak bisa lagi jualan minyak. Saya gak tahu lagi harus jualan apa. modal gak ada. keterampilan gak punya.." Pak Jumaribercerita. Kedua matanya menatap kosong memandang jalanan. Tiba-tiba kedua matanya basah. Dua bulir air segera turun melewati pipinya yang cekung."Maaf dik saya menangis, saya benar-benar bingung. mau makan apa kami kelak.., " ujarnya lagi.
Kedua bahunya terguncang menahan tangis. Saya tidak mampu untuk menolongnya dan hanya bisa menghibur dengan kata-kata. Tangan saya mengusap punggungnya. Saya tahu ini tidak mampu mengurangi beban hidupnya.Pak Jumari bercerita jika anaknya yang paling besar kabur entah ke mana. "Dia kabur dari rumah ketika saya sudah tidak kuat lagi bayar sekolahnya di SMP. Dia mungkin malu. Sampai sekarang saya tidak pernah lagi melihat dia.. Adiknya juga putus sekolah dan sekarang ngamen di jalan. Sedangkan dua adiknya lagi ikut ibunya ngamen di kereta. Entah sampai kapan kami begini ."
Mendengar penuturannya, kedua mata saya ikut basah.Pak Jumari mengusap kedua matanya dengan handuk kecil lusuh yang melingkar di leher. "Dik, katanya adik wartawan.. tolong bilang kepada pemerintah kita, kepada bapak-bapak yang duduk di atas sana, keadaan saya dan banyak orang seperti saya ini sungguh-sungguh berat sekarangini. Saya dan orang-orang seperti saya ini cuma mau hidup sederhana, punya rumah kecil, bisa nyekolahin anak, bisa makan tiap hari, itu saja. "
Kedua mata Pak Jumari menatap saya dengan sungguh-sungguh."Dik, mungkin orang-orang seperti kami ini lebih baik mati... mungkin kehidupan di sana lebih baik daripada di sini yah..." Pak Jumari menerawang.Saya tercekat. Tak mampu berkata apa-apa. Saya tidak sampai hati menceritakan keadaan sesungguhnya yang dilakukan oleh para pejabat kita, oleh mereka-mereka yang duduk di atas singgasananya. Saya yakin Pak Jumari juga sudah tahu dan saya hanya mengangguk.
Mereka, orang-orang seperti Pak Jumari itu telah bekerja siang malam membanting tulang memeras keringat, bahkan mungkin jika perlu memeras darah pun mereka mau. Namun kemiskinan tetap melilit kehidupannya. Mereka sangat rajin bekerja, tetapi mereka tetap melarat.Kontras sekali dengan para pejabat kita yang seenaknya numpang hidup mewah dari hasil merampok uang rakyat.
Uang rakyat yang disebut 'anggaran negara' digunakan untuk membeli mobil dinas yang mewah, fasilitas alat komunikasi yang canggih, rumah dinas yang megah, gaji dan honor yang gede-gedean, uang rapat, uang transport, uang makan, akomodasi hotel berbintang nan gemerlap, dan segala macam fasilitas gila lainnya. Mumpung ada anggaran negara maka sikat sajalah!
Inilah para perampok berdasi dan bersedan mewah, yang seharusnya bekerja untuk mensejahterakan rakyatnya namun malah berkhianat mensejahterakan diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Inilah para lintah darat yang menghisap dengan serakah keringat, darah, tulang hingga sum-sum rakyatnya sendiri. Mereka sama sekali tidak perduli betapa rakyatnyakian hari kian susah bernafas. Mereka tidak pernah perduli.
Betapa zalimnya pemerintahan kita ini!Subsidi untuk rakyat kecil mereka hilangkan. Tapi subsidi agar para pejabat bisa hidup mewah terus saja berlangsung. Ketika rakyat antri minyak berhari-hari, para pejabat kita enak-enakan keliling dalam mobil mewah yang dibeli dari uang rakyat, menginap berhari-hari di kasur empukhotel berbintang yang dibiayai dari uang rakyat, dan melancong ke luar negeri berkedok studi banding, juga dari uang rakyat.
Sepanjang jalan, di dalam angkot, hati saya menangis. Bocah-bocah kecil berbaju lusuh bergantian turun naik angkot mengamen. Di perempatan lampu merah, beberapa bocah perempuan berkerudung menengadahkan tangan. Di tepi jalan, poster-poster pilkadal ditempel dengan norak. Perut saya mual dibuatnya.Setibanya di rumah, saya peluk dan cium anak saya satu-satunya. "Nak, ini nasi bungkus yang engkau minta."
Dia makan dengan lahap. Saya tatap dirinya dengan penuh kebahagiaan. Alhamdulillah, saya masih mampu menghidupi keluarga dengan uang halal hasil keringat sendiri, bukan numpang hidup dari fasilitas negara, mengutak-atik anggaran negara yangsesungguhnya uang rakyat, atau bagai lintah yang mengisap kekayaan negara.
Saat malam tiba, wajah Pak Jumari kembali membayang. Saya tidak tahu apakah malam ini dia tidur dengan perut kenyang atau tidak. Saya berdoa agar Allah senantiasa menjaga dan menolong orang-orang seperti Pak Jumari, dan memberi hidayah kepada para pejabat kita yang korup.Mudah-mudahan mereka bisa kembali ke jalan yang benar.
Mudah-mudahan mereka bisa kembali paham bahwa jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabk an di mahkamah akhir kelak. Mudah-mudahan mereka masih punya nurani dan mau melihat ke bawah.Mudah-mudahan mereka bisa lebih sering naik angkot untuk bisa mencium keringat anak-anak negeri ini yang harus bekerja hingga malam demi sesuap nasi, bukan berkeliling kota naik sedan mewah...
Mudah-mudahan mereka lebih sering menemui para dhuafa, bukan menemui konglomerat dan pejabat... Mudah-mudahan mereka lebih sering berkeliling ke wilayah-wilayah kumuh, bukan ke mal... Amien Ya Allah.
NN
