Selalu Ada Harapan Esok Pagi

SELAMAT DATANG
DI BLOG KULO

Search

Salam

Sejarah selalu terkendala oleh ruang dan waktu. Masa lalu, bisa ditilik dengan terang benderang di masa kini. Masa depan, hanya diperkirakan tapi tak bisa dipastikan.

Masa lalu, selalu ada distorsi. Sebabnya, tafsir mengambil tempatnya sendiri-sendiri. Karenanya, satu-satunya jalan agar sejarah masa kini tak membelot di masa depan, adalah dengan cara mendokumentasikannya.

Masa kini, di masa depan akan menjadi masa lalu. Dus, rekamlah sejarah yang sedang kau alami sekarang. Sekecil apapun, di masa depan akan sangat berharga. Kita tak pernah tahu, di masa depan yang sekarang kita sebut sebagai kertas atau pulpen, masih disebut sebagai kertas atau pulpen atau tidak. Atau bisa jadi bernama sama, tapi berbeda bentuk.

Mari, sodara-sodara, rekamlah sejarah yang sedang kau jalani.

Salam


Jumat, 16 Mei 2008

Serba-Serbi Olahraga - 2

0 komentar


Share

Danto, AFP, BBC

Yang Aneh dari Wimbledon

Hadiah besar, teknologi oke, penerangan kurangPetenis unggulan belum terbendung

LONDON. Turnamen Grand Slam Wimbledon mencetak rekor dalam jumlah hadiah. Tahun 2007, kejuaraan legendaris ini memperebutkan hadiah total US$ 22,572 juta atau sekitar Rp 203,14 miliar, terbesar dalam sejarah tenis profesional.

Hadiah utama tunggal putra dan putri kini sama, yakni sebesar US$ 1,4 juta (Rp 12,6 miliar). Tahun lalu, hadiah utama antara keduanya dibedakan sebesar US$ 1,17 juta (Rp 10,53 miliar) untuk putra dan US$ 1,11 juta (Rp 9,9 miliar) untuk putri.

Sangat jauh jika dibandingkan dengan hadiah turnamen Grand Slam lainnya. Australia Terbuka, misalnya, hanya menyediakan hadiah masing-masing US$ 1,05 juta (Rp 9,45 miliar) untuk pemenang tunggal putra dan putri. Sedang Grand Slam Amerika Serikat Terbuka menyediakan masing-masing US$ 1,2 juta (Rp 10,909 miliar) untuk juara nomor yang sama.

Kemegahan Wimbledon tak hanya itu. Di lapangan utama (center court), penanda garis menggunakan teknologi hawk eye (mata elang) yang akan memetakan jatuhnya bola dengan lebih akurat. Teknologi ini baru digunakan di Wimbledon sekarang, setelah diujicoba di Amerika Serikat Terbuka 2006 dan Australia Terbuka 2007.

Teknologi ini direspons baik oleh juara bertahan Wimbledon putri Amelie Mauresmo, menjelang partai perdananya lawan non unggulan asal Amerika Serikat Jamea Jackson .

“Saya kira adanya hawk eye itu sebuah kemajuan. Bagi pemain dan penonton yang melihat televisi, hawk eye sangat berperan,” kata Mauresmo.

Semaraknya Wimbledon bakal bertambah dengan rencana pemasangan atap baru di atas lapangan utama (center court), mulai tahun depan, yang memungkinkan bisa dikeluarkan atau ditarik dalam waktu hanya 10 menit. Tujuannya untuk mengantisipasi cuaca di Wimbledon yang mudah berubah.

Menilik itu semua, rasanya lengkap sudah Wimbledon menjadi turnamen yang sangat berkelas. Hanya, panitia agaknya lupa satu hal: penerangan lapangan. Persoalan lampu ini mencuat setelah dihentikannya partai pembuka antara Tim Henman – peringkat 74 dunia --dan Carlos Moya, peringkat 22, Selasa (26/6) pagi kemarin waktu Jakarta.

Partai keduanya dihentikan alias ditunda akibat lampu yang ada di lapangan tak mampu menerangi gelapnya malam.

Kedua petenis, sebenarnya sudah menjalani partai yang sangat ketat dengan masing-masing merebut dua set, 6-3, 1-6, 5-7, 6-2. Nah, pada set penentuan dan kedudukan 5-5, wasit memutuskan untuk menunda partai krusial itu. Padahal, hanya butuh dua match point saja untuk mengetahui siapa yang lolos ke babak kedua.

Laga yang tertunda akibat kurangnya penerangan juga menimpa 11 pertandingan di laga pertama lainnya. Total ada 12 laga yang ditunda karena alasan sama. Bahkan, dalam laporan pertandingan hari pertama kemarin, ternyata ada 11 laga lain yang dipindahkan jadwalnya.

Serangkaian kejadian nyeleneh itu tak mempengaruhi sejumlah unggulan untuk melaju ke babak kedua. Di bagian putra antara lain Roger Federer, Andy Roddick, Fernando Gonzalez, dan Tommy Haas. Di bagian putri diantaranya Martina Hingis, Justone Henin, Serena Williams, Patty Schnyder, Shahar Peer, dan Lucie Safarova.

Dipublikasikan di Harian Bisnis dan Investasi KONTAN, 27 Juni 2007

Read More......

Serba-Serbi Olahraga - 1

0 komentar


Share

Danto, DPA, Reuters

Awas, Pencuri Marak di Ruang Ganti Pemain

LONDON. Glamornya Turnamen Grand Slam ternyata menjadi daya tarik sendiri bagi pencuri. Sudah bukan rahasia jika turnamen ini berkelas. Hadiah totalnya saja mencapai US$ 22,572 juta atau sekitar Rp 203,14 miliar. Seluruh petenis putra dan putri terbaik di dunia tumplek blek di sana.

Satu kebiasaan petenis top dunia adalah rada acuh pada properti pribadi yang berharga, seperti dompet, telepon genggam, dan lain-lain. Di Wimbledon, kebiasaan itu terbawa dan sangat dimanfaatkan oleh si tangan panjang yang jahil itu.

Panitia turnamen Wimbledon terpaksa melipatgandakan tenaga pengamanan di sekitar turnamen, terutama di ruang ganti pemain, menyusul terjadinya serangkaian pencurian atas properti mereka. Media setempat melaporkan hal tersebut.

Petenis asal Denmark Kenneth Carlsen harus gigit jari lantaran kehilangan jam tangan kesayangannya. Carlsen menyimpan arloji Rolex-nya di ruang ganti pemain, saat melakoni partai kualifikasi.

Nasib serupa juga dialami Nicolas Mahut. Petenis Prancis itu kehilangan perangkat pemutar musik digital atau iPod. Petenis Inggris Jamie Murray juga mengalami nasib tercengang saat kembali ke ruang ganti sejumlah uang tunai dan telepon genggam miliknya sudah hilang.

Maraknya pencurian itu sempat dibicarakan dalam pertemuan tahunan pemain akhir pekan lalu bersamaan dengan partai kualifikasi Wimbledon. Peristiwa seperti ini bukan kali ini saja terjadi. Di pertandingan tahun-tahun sebelumnya juga insiden itu terjadi. Yang paling parah memang turnamen tahun ini.

Lantaran itu, "ATP kini tengah mempertimbangkan apakah perlu untuk menempatkan kamera di ruang ganti pemain. Tahun ini, masalah pencurian bertambah parah," kata Jonas Bjorkman, peringkat 35 dunia, yang sudah dua kali menjadi korban pencurian di Wimbledon, termasuk yang terakhir, kemarin.

Akibat pencurian itu, Bjorkman mengklaim kini hanya memegang uang tunai sebesar 20 euro atau sekitar Rp 244.000 di kantongnya. Bjorkman mengaku akan lebih awas terhadap barang-barang miliknya. Agaknya, berkaca dari kejadian ini, petenis top dunia harus membiasakan diri peduli pada properti, agar si tangan panjang tak lagi jahil, terutama turnamen sekelas Wimbledon.

Dipublikasikan di Harian Bisnis dan Investasi KONTAN, 29 Juni 2007

Read More......

Serab-Serbi Olahraga

0 komentar


Share

Danto, Reuters
Serangan Unik di Wimbledon

Sekelompok binatang kerap menggangu jalannya lombaGangguan binatang sejak tahun 1949

LONDON. Jangan geli jika mendengar cerita ini. Stadion tempat turnamen Grand Slam Wimbledon, yang katanya berkelas itu, ternyata dipenuhi banyak binatang menjijikkan.

Di beberapa sudut, sekelompok bajing tiba-tiba keluar menuju lapangan utama. Di pojok-pojok stadion lain, segerombolan tikus mencicit melewati atap stadion bersirobok dengan sekawanan burung merpati.

Petenis asal Jerman Boris Becker dan Nikolas Kiefer mengalaminya. Ketika asyik bertanding, tiba-tiba sekelompok merpati “mengebom” keduanya. Tapi, itu terjadi tahun 1999 lalu.

Kini, ancaman serangan serupa memang belum sirna. Panitia turnamen terpaksa melakukan langkah aneh untuk mengusir kawanan itu. Mereka menggunakan “jasa” Finnegan, seekor burung elang yang bertugas mengusir pasukan burung dara itu.

Setiap pagi, menjelang turnamen dimulai, pihak penyelenggara selalu melepas seekor elang di kompleks Stadion Wimbledon. Tujuannya, untuk menakut-nakuti burung-burung dara yang bisa sewaktu-waktu "mengebom" pemain seperti yang terjadi pada laga sesama petenis Jerman, Becker melawan Kiefer.

Beberapa hari lalu, Maria Sharapova sempat bercanda soal burung elang penjaga turnamen itu. Ketika akan menjalani laga perdananya, petenis cantik asal Rusia itu berpakaian mini dan ketat, berwarna putih mirip angsa.

Seorang penonton berseloroh, tidakkah takut diserbu elang yang perkasa itu? Sharapova kontan menjawab, "Memangnya elang biasa menggigit angsa? Ya Tuhan, mungkin sebaiknya saya memotong lipatan pakaian ini," katanya.

Menurut, Alan Little, seorang pustakawan Wimbledon, sejarah gangguan terhadap pertandingan tenis Wimbledon telah terjadi sejak lama. Pada tahun 1949, ball boy Wimbledon dibuat kerepotan untuk menangkap seekor tupai yang “bermain” di lapangan. Akibatnya para pemain harus duduk manis menunggu perburuan tupai tersebut berakhir.

Pam Shriver, juara lima kali Wimbledon nomor ganda, juga pernah merasakan terkena sengatan lebah ketika sedang bertanding. Sedangkan petenis legendaris, John Mcenroe dan Stephen Edberg harus bertanding dengan konsentrasi terpecah dalam pertandingan semifinal tahun 1989. Sebab, dua ekor burung gagak mondar mandir terbang rendah di atas lapangan Wimbledon.

“Serangan” yang paling heboh adalah serbuan para penonton ke lapangan Wimbledon. Pada laga final tunggal putra tahun 1957, Helen Jarwis merangsek ke dalam lapangan ketika pertandingan berlangsung untuk menyuarakan sistem perbankan baru.

Yang paling anyar adalah aksi seorang pria berbugil ria pada partai perempat final tahun lalu antara Maria Sharapova dan Elena Dementieva. Pria tersebut akhirnya diseret petugas keamanan keluar lapangan.

Mengomentari insiden tersebut, Maria Sharapova menjawab pendek. “Saya tidak memperhatikan dengan jelas,” katanya. Seorang jurnalis wanita iseng menanyakan apakah Sharapova terkesan oleh tubuh atletis sang penyerang? Sarapova menjawab, “Mungkin akan saya perhatikan di lain waktu,” katanya. Oalah….

Dipublikasikan di Harian Bisnis dan Investasi KONTAN, 30 Juni 2007

Read More......
Copyright 2009 | Bunga Padang Ilalang Theme by Cah Kangkung | supported by Blogger