Selalu Ada Harapan Esok Pagi

SELAMAT DATANG
DI BLOG KULO

Search

Salam

Sejarah selalu terkendala oleh ruang dan waktu. Masa lalu, bisa ditilik dengan terang benderang di masa kini. Masa depan, hanya diperkirakan tapi tak bisa dipastikan.

Masa lalu, selalu ada distorsi. Sebabnya, tafsir mengambil tempatnya sendiri-sendiri. Karenanya, satu-satunya jalan agar sejarah masa kini tak membelot di masa depan, adalah dengan cara mendokumentasikannya.

Masa kini, di masa depan akan menjadi masa lalu. Dus, rekamlah sejarah yang sedang kau alami sekarang. Sekecil apapun, di masa depan akan sangat berharga. Kita tak pernah tahu, di masa depan yang sekarang kita sebut sebagai kertas atau pulpen, masih disebut sebagai kertas atau pulpen atau tidak. Atau bisa jadi bernama sama, tapi berbeda bentuk.

Mari, sodara-sodara, rekamlah sejarah yang sedang kau jalani.

Salam


Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 April 2012

"Emak Abah Mau ke Baitullah"

0 komentar


Share

Nada gumbira terdengar renyah di telepon. Kali ini suara Emak tampak bersemangat. “Alhamdulillah semua proses administrasi pendaftaran haji tuntas, tinggal menunggu jadwal keberangkatan,” kata Emak, di ujung telepon.

Pembicaraan via udara ini terjadi di awal Februari lalu. Betapa bahagia mendengar Emak dan Abah akhirnya sudah terdaftarkan untuk berangkat haji ke Baitullah.

Ini niat saya sejak lama. Niat ingin menghajikan emak dan abah. Mereka bukanlah keturunan kiai, atau berpendidikan pesantren. Emak dan Abah adalah buruh tani, dengan beberapa petak sawah garapan. Sungguh tidak mungkin jika membiayai sendiri naik haji.

Emak hanya membuka warung jajan kecil-kecilan. Dia lakoni pekerjaan ini dengan sepenuh hati. Barang jajanan di warungnya hampir tak pernah bertambah. Jika tidak dikatakan hanya itu-itu saja: kerupuk, jajanan anak-anak, beberapa bungkus rokok, cemilan kecil, dan mirong. Mirong adalah masakan khas daerah kami. Terbuat dari tepung dan ikan asin yang digoreng. Rasanya renyah dan gurih. Ia bisa bertahan lama hingga seminggu, tetap enak dan aman. Ia menjadi teman lauk pauk kami sejak kecil. Juga teman lauk pauk bagi kalangan petani garapan di daerah kami.


Emak sudah berjualan warung kecil ini sejak 1980-an. Jadi, jika dihitung, warung kecil Emak sudah lebih dari 30 tahun. Dan tetap seperti itu. Warung kecil ini menjadi modal harian untuk membiayai anak-anaknya sekolah. Anak Emak dan Abah ada empat: Kakak, saya, adik laki-laki, dan si bungsu. Kecuali si bungsu, anak Emak dan Abah adalah laki-laki.

Ketika saya kecil, kerap saya dagang es bungkus dari warung Emak ke tengah sawah. Harga sebatang es bungkus ketika itu masih sekitar Rp 25. Kendati hasilnya tak banyak, menjajakan es ini melatih kami untuk mandiri dan bekerja keras. Kelak, ketika menjalani proses sekolah, tak jarang kami, anak-anak Emak dan Abah harus berupaya survival, membiayai diri sendiri agar tetap bisa hidup, di tengah himpitan ketiadaan biaya sekolah.

Ketiadaan banda, tidak menjadikan Emak dan Abah mengeluh. Mereka mendidik kami untuk hidup prihatin dan sederhana. Dari kakak, saya, hingga adik laki-laki saya, tak malu untuk bekerja kuli di sawah. Atau mencari kayu bakar untuk kemudian dijual. Yang penting halal dan berkah.
Meski bukan dari kalangan santri, sejak kecil Emak menanamkan untuk selalu bersedekah. Sebulan sekali, dari hasil lebih warung jajanan yang sederhana itu, biasanya Emak membagikan sebagian kecil duit receh kepada anak-anak. Juga beberapa orang tua jompo. “Berbagilah, agar hidup kita berkah,” kata Emak, kepada saya suatu saat.

Hasil warung sebetulnya jauh dari cukup untuk membiayai sekolah. Emak lebih banyak nombok ketimbang untung. Namun, Abah yang bertani, bisa memberi subsidi untuk menjalankan warung. Dari hasil jual sayuran, atau menjual padi pasca panen, bisa menambah darah warung kecil kami. Singkat kata, warung kecil kami hanya cukup untuk teman makan kami.

Selain bertani, Abah tidak punya keterampilan lain. Dulu, jika sawah tadah hujan kehilangan air, Abah menjadi kuli bangunan di Jakarta. Abah juga memelihara beberapa ekor kambing untuk tambahan tabungan keluarga. Maka, jika Abah menjadi tukang gali di Jakarta, sayalah yang harus mencari makanan rumput buat kambing-kambing kami. Itu dilakukan setelah pulang dari sekolah.

Sangat wajar, jika teman-teman kecil saya adalah anak-anak sesama pencari rumput kambing. Mereka kebanyakan tidak melanjutkan sekolah setelah lulus Sekolah Dasar (SD). Jadi, di antara mereka, sayalah yang paling tinggi pendidikannya. Saya menjalani pada masa SMP hingga SMA. Harap maklum bila tampang dan kulit saya, paling hitam sendiri di antara teman-teman sekolah.

Kekurangan turut menyebabkan saya harus tampil apa adanya. Ketika SMP, sangat jarang baju seragam saya disetrika. Emak tak punya setrika. Meminjam ke tetangga atau saudara, juga malu. Biasanya, Emak menaruh baju dan celana seragam saya di bawah lipatan kasur di akhir pekan. Di awal pekan, baju dan celana ala setrika kasur ini bisa dipake. Lumayan bisa sedikit menghaluskan kusut masai baju dekil itu.

Modal rajin belajar, yang menyebabkan saya, kakak, dan adik laki-laki saya bisa meneruskan studi ke jenjang lebih tinggi. Si bungsu, relatif tidak merasakan “kesengsaraan” kami menapaki jalan pendidikan.

Ketika lulus dari SMP, niat melanjutkan sekolah ke SMU di ibukota kecamatan begitu kuat. Padahal, ketiadaan biaya adalah fakta yang harus dihadapi. Menyiasati ini, saya harus berkali-kali menjadi kuli bangunan di Jakarta. Hasil uangnya lumayan. Bisa untuk membeli sepeda bekas, bekal ke sekolah di Ibu Kota kecamatan. Jaraknya sekitar 7 kilometer dari rumah.

Saat itu, Kakak sudah nekad kuliah di Jakarta. Sementara adik laki-laki saya, masih di SD. Si bungsu masih bayi. Ketabahan Emak dan Abah, turut mendorong dan memotivasi kami melakoni itu.

Syukurlah, keluarga sederhana kami dikaruniai niat belajar yang kuat. Dari Kakak, saya, adik laki-laki, dan si bungsu, lumayan mendapat prestasi di sekolah masing-masing. Saya, saat di SMU, hampir selalu ada tiga besar. Beberapa kali mendapat ranking 1. Atas dasar ini, saya dua kali mendapat beasiswa dari negara. Uangnya lumayan buat nambah-nambah biaya sekolah dan uang jajan.

Bagi saya, sebetulnya tidak ada orang pintar dan tidak ada orang bodoh. Jika dia rajin belajar, maka dia akan pandai. Jika ada ulangan atau tes semesteran, saya harus melakoni ritual belajar dua kali dalam semalam. Setelah maghrib, saya menghafal seluruh materi yang akan diujikan. Selesai kira-kira jam 10 malam. Istirahat. Di dini hari, jam 03.00 saya terbangun, untuk kemudian menajamkan hafalan bahan pelajaran. Hasilnya nyata. Rata-rata ulangan saya, hampir selalu mendapat yang terbaik.

Allah Maha Adil. Allah Maha Mengetahui. Allah Maha Penyayang.

Apa yang kita tanam, itu yang kita dapatkan. Demikianlah. Hidup prihatin, sederhana, pekerja keras, buahnya akan kita rasakan di kemudian hari. Kakak saya, lulus sarjana di perguruan tinggi negeri di Jakarta. Ia mengambil jurusan Bahasa Inggris. Kini, ia berstatus Wakil Kepala Sekolah di SMP Negeri di Ibukota Kecamatan.

Saya, hampir 10 tahun jadi juru warta. Saya bekerja di dua media utama di Indonesia. Kemudian beralih menjadi konsultan media. Menjadi top manajemen, sekaligus mendapat sebagian kecil saham perusahaan. Perusahaan kami bergerak di industri Public Relation (PR). Klien-klien kami, sebagian besar kerap menghiasi media-media nasional dan internasional. Alhamdulillah.

Adik laki-laki saya, kini sudah hampir tiga tahun menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Akhir Maret lalu baru saja menyunting istri, tetangga kami di kampung. Selepas nikah, adik saya menempati rumah barunya di Bekasi, tak jauh dari perumahan saya.

Si bungsu, sedang menjalani proses bimbingan belajar intensif menjelang Seleksi Nasional penerimaan mahasiswa baru. Ia tinggal bersama saya di Bekasi.

Setahun bergerak di industri Public Relation, dengan upaya kerja keras, perusahaan kami berhasil mencatatkan hasil yang lumayan. Salah satunya, saya mendaftarkan Emak dan Abah untuk naik haji. Kakak saya yang mengurus administrasi. Sebab, cuma dia anak Emak dan Abah yang kini tinggal se-daerah. Saya dan adik-adik, tinggal di Bekasi.

Ternyata, daftar antrian haji di daerah saya begitu panjang, mencapai 9 tahun. “Di daftar antrian, Emak dan Abah baru bisa berangkat pada tahun 2021,” kata Emak, sekali lagi di ujung telepon.

Lama nian. Tapi, satu sisi ini menunjukan tingkat ekonomi masyarakat petani daerah saya maju. Keberangkatan haji ke Tanah Suci Mekkah, bisa menjadi penanda tingkat ekonomi masyarakat makin meningkat. Maklum, butuh biaya lumayan besar untuk sampai ke Tanah Suci.

Tapi, tahun 2021 bukanlah harga mati. “Menilik umur Emak dan Abah yang sudah di atas 60 tahun, mungkin keberangkatannya bisa dimajukan,” kata Emak. Entah kapan. Yang pasti, Emak dan Abah merasa bersyukur akhirnya diberikan jalan untuk berangkat mengok ke Baitullah. Hal yang sebetulnya saya sendiri agak khawatir. Emak dan Abah bukanlah orang berpendidikan. Untuk berbicara menggunakan bahasa Indonesia saja, Emak dan Abah mbalelo alias kesulitan. Mereka sudah terbiasa berbicara bahasa Sunda pinggiran. Tapi, Allah Maha tahu. Yang penting, langkah awal sudah ada. Bismillah!!!

Tentu saja saya dan keluarga kecil kami sangat bersyukur. Kami mencapai kondisi saat ini. Sebagai tanda syukur itu, biar saya yang menanggung biaya Emak dan Abah ke Baitullah. Mudah-mudahan bisa menjadi keberkahan buat saya dan keluarga saya. Mudah-mudahan Allah menjauhkan saya dari ujub, riya, dan takabur. Amiin. Ini hanya sekedar motivasi buat yang lain.

Dari sisi duniawi, menurut saya pribadi, saya dan keluarga Emak dan Abah Alhamdulillah cukup. Kakak saya, hidup berkecukupan. Istri yang juga PNS, dua anak, rumah, dan kendaraan motor dan mobil, sepertinya cukup sudah. Saya, Alhamdulillah rumah dua meskipun sederhana, mobil, dan beberapa kendataan motor. Adik laki-laki saya, rumah dan dua sepeda motor. Si bungsu masih mencari pendidikan buat bekal dia kelak.

Apa yang kami tanam di masa lalu, turut berkontribusi mencapai kualitas hidup pada tahap ini. Hingga kini, Emak, juga Kakak, selalu mengingatkan kami sekeluarga, untuk tetap memperhatikan kaum kecil dan papa. Terutama nenek dan kakek jompo. Alhamdulillah, didikan sejak kecil untuk terus berbagi dan sederhana, membekas kepada kami. Sedekah dan zakat penghasilan, Insya Allah selalu kami jalankan. Kami percaya, sedekah adalah pintu pembuka rezeki Allah yang lebih besar dan lebih berkah.

Barangkali, hal ini pula yang menjadi jalan Emak dan Abah menuju Baitullah. Bismillah!!!

Read More......

Selasa, 21 Februari 2012

"Sopir"

0 komentar


Share

Posisi selalu berbanding lurus dengan fasilitas. Demikianlah saya. Menempati posisi penting di perusahaan, turut mendorong pemberian fasilitas juga meningkat. Salah satu fasilitas yang saya dapatkan adalah sopir pribadi.

Perusahaan kami bergerak di industri Public Relation. Meskipun perusahan kami bukanlah perusahaan besar, setidaknya kami optimistis ini akan menjadi besar dan bersaing, bahkan bermimpi menjadi perusahaan go global (Amin...). Meski baru seumur jagung, saat ini setidaknya kami sudah mendapat kepercayaan menjadi partner dua perusahaan skala multinasional. Di samping, perusahaan-perusahaan nasional yang kerap menghiasai media-media nasional.

Saya sendiri tak pernah berkeinginan memiliki sejumlah fasilitas, termasuk sopir pribadi ini. Sebetulnya, secara pribadi saya lebih suka menyetir sendiri. Bahkan lebih enjoy naik Vespa tua. Bisa lebih bebas, berpakaian sederhana, dan tidak menjadi perhatian banyak orang. Tapi, tuntutan dan kebutuhan memaksa saya harus memiliki sopir pribadi.

Berada di top manajemen, pekerjaan selalu datang kapan saja. Tak mengenal waktu dan tempat. Ketika sedang libur pun, juga tak peduli. It’s okay, no problem. Yang penting enjoy. Bahkan ketika di perjalanan, harus bekerja layaknya di kantor berjalan. Itu sebabnya, butuh orang yang bisa membantu saya bekerja di dalam kendaraan. Kebutuhan sopir pribadi pun datang.

Empat bulan lalu, saya coba membuka lowongan sopir. Tentu, cukup dengan cara gethok thular alias dari mulut ke mulut saja. Termasuk ke orang tua dan mertua saya. Tapi tak juga dapat. Ternyata lumayan susah mencari pekerja yang sudah mahir di bidangnya. Bukan hanya yang berpendidikan tinggi, tapi yang bisa mengendarai kendaraan juga idem dito.

Didapatlah tetangga perumahan. Dia tinggal di kampung sebelah perumahaan saya. Umurnya menjelang kepala empat, tiga tahun di atas saya, cuma belum nikah. “Insya Allah kalau sudah dapat pekerjaan tetap Pak,” katanya, kepada saya. Tempat tinggalnya yang tidak jauh dari rumah saya, menyebabkan dia siap kapan saja mengemudikan mobil.

Jujur saja, latar belakang saya yang wartawan, dengan karakter khas yang biasanya berpenampilan acak-acakan dan seadanya, dengan memiliki sopr pribadi terkadang membuat saya tak nyaman sendiri. Saya biasa melakukan hal apapun sendiri. Maka, setelah dia menjadi sopir pribadi saya pun, pernah saya liburkan. Alasannya sederhana, saya ingin menyetir mobil sendiri. What? Tentu saja dia bingung. Kenapa tidak ada apa-apa diliburkan? Cuma akhirnya dia mengerti, bahwa saya ingin mengendarai mobil sendiri.

Di awal bekerja di kantor sekarang, saya tetap mempertahankan ciri khas saya: penampilan sederhana, tidak suka gaya glamour, dan tetap pendiam. Bagi yang belum kenal, tentu akan menyangka saya hanyalah orang operasional yang tidak mengerti apa-apa. It’s okay. Itu memang khas saya: tidak pernah mau dan tidak pernah ingin menonjolkan diri. Saya lebih suka silent, tapi hasil kerja ok.

Namun, belakangan saya mulai menyesuaikan diri. Saya boleh saja menonjolkan ego saya berpenampilan apa adanya, tapi teman-teman saya yang necis, tentu kemungkinan akan merasa risih jika partner mereka berpenampilan “dekil” (hehe..). Maka, perlahan-lahan, saya sedikit menyesuaikan penampilan. Mulai merawat wajah dan kulit, yang sebenarnya sangat risih bagi saya pribadi. Tapi tak apa.

Kepada sopir saya, suatu saat, saya tanyakan, apa saya kepribadian, gaya pakaian, dan gaya hidup saya sudah berubah? “Biasa-biasa saja, Pak,” katanya. Syukurlah. Berarti saya belum berubah. Sejujurnya, saya sangat khawatir, posisi dan aneka fasilitas saat ini akan mengubah gaya hidup saya. Saya mash ingin tetap seperti saya yang dulu: tetap sederhana, silent, tidak banyak bicara, dan tidak jumawa. Sebab, itu yang selalu saya tekankan kepada adik-adik dan keluarga saya.

Roda kehidupan pastilah berputar. Dulu, ketika menjalani proses mencapai seperti saat ini, untuk makanpun saya sangat susah. Biaya pendidikan sangat minim. Untuk membiayai sekolah dan kuliah saja, saya harus bekerja apa saja: menyabit rumput buat kambing-kambing waktu di desa, kuli nyangkul di sawah tetangga, menjadi kuli bangunan, mengajar privat, hingga menjajakan koran di bis-bis kota. Bahkan, karena ketiadaan makanan, saya dulu selalu puasa Senin dan Kamis. Dan, setelah semuanya tersedia, saya tidak ingin menggunakan aji mumpung. Saya selalu mengingat: roda kehidupan selalu berputar.

Maka, ketika hingga saat ini saya selalu (Insya Allah) menjalankan puasa sunah Senin dan Kamis, sopir pribadi saya tampak tidak enak jika di hari itu dia ngemil makanan ringan di mobil. Saya bilang, “nyantai aja, Mas”. Awalnya dia tidak mengetahui rutinitas Senin-Kamis itu. Sampai akhirnya, saya baru mengambil minuman dan makanan di mobil saat adzan maghrib tiba, setiap hari itu.

Saya selalu berharap, saya tidak berubah. Saya ingin tetap seperti yang dulu, tidak adigung adiguna, menghargai waktu, dan menghargai setiap orang tanpa memandang jabatan dan usia. Termasuk kepada sopir saya. Ketika di mobil, bukan tanpa alasan hingga saat ini saya selalu duduk di kursi depan di samping dia. Umumnya, bos dan bawahan di mobil pribadi bisa ditebak: bos selalu duduk di kursi belakang, dan sopir duduk sendiri memegang kemudi. Tapi tidak bagi saya. Saya ingin selalu menghargai dia. Langkah kecil ini mudah-mudahan tetap membawa saya pada prinsip yang selalu saya pegang.

Ada beberapa teman dan kolega yang mempertanyakan, apakah yang mengemudikan mobil adalah teman dan bukan sopir saya? Setiap kali saya ditanya hal ini, hampir selalu pasti saya jawab, dia teman saya. Bukan lagi sok humanis, tapi entahlah. Mudah-mudahan dengan begini, saya tetap selalu memuliakan siapapun, termasuk sopir pribadi saya. Saya selalu berfikir, jika suatu saat saya tidak seperti ini dan posisi di bawah kembali, saya akan selalu siap: kapanpun. ***

Read More......

Jumat, 10 Februari 2012

"Si Bungsu"

0 komentar


Share

Hari sudah gelap. Azan Isya baru saja berkumandang. Hujan mengguyur, meski tidak deras. Kampung tanpa listrik itu serasa kuburan. Kecuali suara kodok dan binatang malam, sisanya adalah sunyi senyap. Menjelang pergantian tahun, malam muda itu menjadi saat mendebarkan bagi kami. Perut ibu sudah buncit sembilan bulan. Sudah saatnya bayi dalam kandungan ibu menyapa dunia.

Malam itu, setahun setelah Pemilihan Umum 1992, perut ibu mulai mulas-mulas. Sudah hampir tiga hari, Ibu tidak enak tidur. Bayi di kandungan nendang-nendang minta keluar. Tepat 11 Desember 1993 malam itu, Ibu tak kuasa lagi menahan. Tapi pembukaan bayi belum juga menanjak. Air ketuban pun mulai mengalir dari rahim. Ibu gelisah. Juga kami: Abah, kakek, nenek, saya, dan adik laki-laki saya, serta beberapa kerabat. Kakak pertama sudah hampir dua tahun mengenyam pendidikan kuliah di Jakarta.

Kakek menyarankan agar Abah memanggil segera dukun beranak. Tak selang setengah jam, nenek dukun sudah datang. Tapi dukun angkat tangan. Ketuban yang sudah mengalir, menjadi pertimbangan nenek dukun untuk tak mengambil tindakan apapun. Ibu sudah mengaduh mengeluh. Untuk beberapa saat buntu.

Abah akhirnya memutuskan untuk membawa Ibu ke rumah sakit. Dan itu tidak mudah. Rumah sakit terdekat ada di tetangg kabupaten, Rumah Sakit Plered, Cirebon. Jaraknya sekitar 30 kilometer dari rumah. Bukan itu saja, mencari mobil angkutan untuk sampai ke rumah sakit, tidaklah gampang. Jangankan malam, siangpun kampung kami belum terlewati angkutan pedesaan, ketika itu. Di kampung, yang punya mobil sangat bisa dihitung dengan jari. Untuk meminjamnya, perlu menyewa. Uang pun sangat mepet.

Meski sudah mempersiapkan kelahiran si bayi, janganlah membayangkan yang dipersiapkan Ibu dan Abah sudah sangat siap. Mereka cuma menyiapkan popok bayi dan sedikit upah buat nenek dukun. Buruh tani tanpa penghasilan tetap, dan sedang menyekolahkan dua anak dan satu kuliah, tentulah bisa dibayangkan seperti apa kondisinya.

Nyatanya, keadaan menghendaki lain. Ibu harus ke rumah sakit. Tidak bisa tidak. Dalam kesakitan, awalnya ibu menolak. Namun atas bujukan Abah dan kakek, Ibu terpaksa mengangguk. Maka, seketika menjadi malam yang repot. Abah menyiapkan beberapa helai pakaian Ibu, popok bayi, dan uang secukupnya. Abah juga menyalakan lampu petromak, untuk memberi kesempatan bagi para kerabat dan tetangga yang hadir, agar lebih leluasa. Juga memberi ruang lebih terang.

Seorang kerabat mencoba mencari mobil sewaan untuk ke rumah sakit. Saya agak gugup, tak tahu apa yang harus dilakukan. Di usia 13 tahun, belum begitu sigap untuk mengerti kebutuhan yang harus dipenuhi saat itu. Saya hanya berdoa, semoga ibu dan si bayi kecil selamat.

Dengan persiapan seadanya, Ibu berangkat ditemani Abah dan Kakek. Uang yang dibawa pun seadanya, sisa tabungan yang tersimpan di lipatan kasur. Saya tidak tahu kemudian yang terjadi di rumah sakit. Sebab saya dan adik laki-laki menunggui rumah ditemani nenek. Saya tak bisa bolos sekolah. Di kemudian hari, Ibu berkisah kepada saya soal proses kelahiran si bayi.

***

Jam menunjukan pukul 23.00 WIB. Rumah sakit bersalin kecil di pinggiran kota Cirebon ini tampak senyap. Tergopoh-gopoh, Abah membopong Ibu dari mobil sewaan ke kamar bersalin. Ibu tampak sudah tak berdaya: pasrah. Air ketuban pelan-pelan menetes. Ibu dirawat di kelas tiga, bersamanya ada satu orang Ibu juga mau melahirkan. Seorang dokter perempuan menghampiri, kemudian memeriksa kandungan Ibu.

“Ini baru bukaan satu,” katanya. Itu artinya, butuh waktu lumayan lama untuk segera mengeluarkan si bayi.

Di pojok ruangan, Abah dan kakek cuma bisa menilik dan memperhatikan. Tak tahu apa yang harus diperbuat. Tak punya pengalaman membawa kelahiran di rumah sakit. Tiga anak pertamanya, termasuk saya, lahir melalui dukun beranak di desa.

“Ibu harus mengonsumsi dulu vitamin dan obat, agar lebih kuat dan mendorong pembukaan bayi,” kata sang dokter. Dia lantas menulis resep. Ibu cuma melirik ke Abah. Abah harus menebus obat dan vitamin itu ke apotik. Lirikan Ibu sekaligus memberi isyarat, adakah uang lebih untuk menebus resep itu. Ibu tahu, bekal uang sangat minim.

Abah menerima resep itu, lantas merogoh saku. Hmmm.. uang sementara ini masih cukup. Tengah malam tidak memungkinkan Abah pergi ke apotik, yang hanya buka sampe jam 22.00 WIB. Pagi-pagi Abah harus menebus resep itu.

***

Minggu, 12 Desember 1993. Jam di dinding menunjukan pukul 17.50 WIB. Tanda-tanda kelahiran si bayi sudah dekat. Kesabaran Ibu berbuah juga. Akhirnya, selepas maghrib, si kecil pun mbrojol. Cita-cita Ibu dan Abah memiliki anak perempuan paripurna sudah. Di tiga kelahiran pertama, semua anak Abah dan Ibu adalah laki-laki. Sebelum kehamilan dan kelahiran adik terakhir kami, saya pernah bermimpi menangkap burung. Ketika diceritakan kepada Ibu, itu pertanda akan adanya kelahiran anggota keluarga baru. Sebulan kemudian, Ibu hamil.

Dan kini, si jabang bayi itu sudah hadir. Bayi merah perempuan, lucu nian. Tampak senyum mengambang di bibir Ibu, di tengah keletihan yang teramat sangat: menunggu kelahiran si jabang bayi hingga 24 jam. Dalam terbaring, Ibu usap rambut bayi yang tipis, mencium, lalu memeluknya. Di balik kegembiraan teramat sangat, ada pikiran menyembul: apakah uang di tangan cukup untuk biaya kelahirannya?

Dokter kemudian menyematkan tulisan identitas di samping tempat bayi. Tertulis: Anak Ibu ... . Di saat bersamaan, Ibu lain dalam ruangan tersebut juga melahirkan bayi mungil laki-laki. Di tempatkan berderet dekat dengan adik kecil kami. Sama seperti adik kami, bayi laki-laki ini juga diberikan identitas oleh sang dokter. Identitas ini penting, agar bayi tidak tertukar. Namun, tetap saja Ibu khawatir lantaran kedua bayi ini diletakkan agak jauh dari dia.

Apa yang menjadi kekhawatiran Ibu terbukti. Mentari pagi baru saja menyapa bumi. Seorang perawat, asisten dokter yang merawat Ibu, kemudian memindahkan bayi ke dekat Ibu, setelah memandikan dan memerinya parfum. Sang perawat lantas pergi. Namun, alangkah kagetnya Ibu, ketika mengetahui bayi yang ditaruh di dekatnya berjenis kelamin laki-laki. Sedikit teriak, Ibu memanggil Abah yang masih belum memicingkan mata.

“Bah, kenapa anak kita laki-laki?”

Abah terperanjat. Dia kemudian mencari sang perawat yang sudah berlalu.

Pada sisi ini, naluri Ibu begitu kuat. Dan sungguh beruntung, dalam keletihan sehabis melahirkan kemarin, Ibu masih mengingat dan melihat bahwa bayinya adalah perempuan. Maka, ketika bayi yang diletakkan di sampingnya adalah laki-laki, Ibu terperangah, dan reflek.

Beberapa saat kemudian, Abah dan sang perawat muncul di balik pintu ruang rawat kelas tiga. Sambil tergopoh-gopoh, perawat lantas memeriksa identitas di kereta bayi.

“Apa nama Ibu adalah Ibu...,” tanya Sang perawat, setelah memeriksa identitas pada si bayi laki-laki di samping Ibu.

“Oh.. Bukan, nama saya Ibu..,” jawab Ibu, dengan logat Sunda pinggiran yang kental.

“Baik, coba saya periksa bayi satunya,” kata perawat. Dia lantas pergi menemui Ibu lain yang sejak kemarin bersama Ibu di ruang rawat tersebut. Ibu itu berbaring tak jauh dari Ibu.

“Nama Ibu benar Ibu....,” katanya kepada Ibu saya, setelah beberapa saat kembali ke ranjang Ibu. Ibu mengangguk.

“Bayi Ibu perempuan?” tanya perawat lagi.

“Ya,” jawab Ibu. Abah dan kakek agak gugup menemani Ibu di pinggir ranjang. Karakter Abah dan kakek yang pemalu dan pendiam, membuat mereka hanya bisa menjadi pendengar diantara percakapan dua perempuan itu.

“Mohon maaf yang sebesar-besarnya Ibu, Bapak, saya khilaf. Bayi Ibu adalah yang ini, berjenis kelamin perempuan,” kata perawat, sambil meletakkan bayi perempuan.

Ibu kemudian memeluk erat si kecil yang sudah kembali. Seandainya saja Ibu tidak meneliti ketika baru lahir kemarin, bisa jadi yang dia bawa adalah bayi laki-laki anak orang lain.

“Alhamdulillah, Ya Allah,” Ibu bersyukur, tetap terbaring.

***

Sepekan setelah kelahiran, rumah kami ramai dkunjungi para tetangga dan kerabat. Hari ini adalah tujuh hari kelahiran si Bungsu perempuan. Saatnya memberikan penamaan. Abah sudah menghitung dan menimbang, siapakah nama yang cocok untuknya. Si bungsu lahir pada hari minggu pahing dalam perhitungan Jawa. Menurut perhitungan Jawa dan nasihat para sesepuh desa, bayi dengan lahir di hari Minggu pahing, harus diawali dengan huruf K, dengan jumlah karakter huruf enam buah.

Saya tahu, Abah berfikir keras menemukan nama si Bungsu. Selepas maghrib, ketika Abah tengah menyalakan lampu petromak, tiba-tiba nyeletuk. “Gimana kalo namanya Kxxxxx, cocok dengan hari kelahirannya,” kata Abah. Semua akhirnya setuju.

Saya pribadi, ketika itu tak mengerti apa-apa. Belakangan, saya berfikir, ada gunanya juga penanda Jawa itu. Dengan memperhatikan huruf awal nama orang-orang sekampung, saya sudah bisa menebak hari lahir seseorang. Tapi, untuk nama-nama bayi dan anak sekarang, saya tidak begitu paham. Sebab, budaya mulai berubah. Orang-orang sekampung saya sekarang seperti berlomba memberi nama bayi dan anak mereka dengan nama-nama bagus, bila perlu meniru nama Timur Tengah dan Eropa. Terbawa arus modernisasi, mungkin.

***

Di tahun-tahun awal kelahiran si Bungsu, kesehatannya tidaklah sempurna. Jantungnya tampak masih relatif lemah. Ketika Ibu memberinya ASI, sering si Bungsu terbatuk-batuk. Itu masih wajar. Yang tidak biasa, ketika dia menangis. Nafasnya tersngal-sengal, dan terhenti puluhan detik. Tubuhnya membiru. Tidak ada respon meski Ibu sedikit memberi sentuhan lebih keras ke kepala dan badannya. Tak jarang, Ibu menangis meminta bantuan kepada siapa saja: tetangga, kerabat. Saya juga tak bisa apa-apa.

Beberapa kali Ibu meminta saya baca-baca sebisanya, ayat kursi atau apa saja. Ibu berharap keajaiban Allah mampu menyadarkan si bayi yang seperti mati suri. Sambil saya bisik-bisikin ayat Al Quran di samping kupingnya, berharap si bayi mau merespon. Beberapa saat kemudian, memang dia kemudian merespon. Namun saya tak tahu, apakah itu pengaruh ayat-ayat itu atau bukan.

Suatu hari, Ibu mencoba bertanya pada orang pintar, kenapa si bungsu seperti itu. Bukan pergi ke dokter untuk memeriksa kesehatannya. Si dukun meminta segelas air putih, lalu dibaca-baca. Entah apa bacannya.

“Ini ada yang mengganggusi kecil, dia minta dibikinkan kopi dan sayur cabai,” kata si Dukun. “Sediakan malam ini di pojok ruangan,” tambahnya. Dukun lantas menyuruh Ibu meminumkan air putih itu ke si kecil.

Dukun juga meminta, setiap menjelang maghrib, harus ada anggota keluarga di rumah kami mengelilingi rumah tiga kali putaran, sambil baca-baca Ayat Kursi. Insya Allah, katanya, gangguan makhluk halus akan pergi dengan sendirinya.

Selain itu, sang dukun minta Ibu dan Abah menaruh daun kelor di depan rumah. Kata dia, hal itu juga bisa mencegah teluh pencari bayi akan ketakutan.

Maka, Abah dan Ibu mulai menuruti perintah dukun. Siapa tahu, dengan itu si kecil bisa sehat kembali dan aman dari gangguan makhluk halus. Mulai malam itu, Ibu juga menyuruh aku mengeliligi rumah tiga kali putaran sesuai perintah sang dukun. Ibu menganggap aku yang kala itu masih sekolah di SMP, paling bisa melakukan hal itu. Ibu berharap, gangguan makhluk halus ke sang bayi menyingkir.

Nyatanya, si kecil saat nangis tetap kehilangan nafas. Dan, lagi-lagi Ibu menangis keras. Sampai akhirnya, ada tetangga yang menyarankan, ketika si bayi kehilangan nafas saat menangis, pijatlah jempol kakinya. Saran sederhana itu yang akhirnya menyelamatkan si Bungsu dari kehilangan nafas saat menangis.

***

Perkembangan si Bungsu kemudian, saya tidak tahu persis. Sebab, di usia lima tahun, saya harus pindah ke Jakarta melanjutkan studi. Bertemu dengan si bungsu beberapa kali dalam setahun. Sampai sekolah SMU, yang saya tahu, dia melanjutkan “tradisi” keluarga, lumayan pandai di sekolah. Meski tidak selalu tiga besar, si Bungsu bisa bersaing dengan murid-murdi lain.

Satu lagi yang membedakan dia dengan tiga kakaknya: lebih manja, dan tidak terlalu merasakan keprihatinan keluarga. Jika kami, tiga kakak lelakinya harus berjuang keras untuk bisa mencapai seperti saat ini, si Bungsu relatif lebih enak. Ke sekolah SMU di Ibu kota kecamatan saja, dia sudah tersedia kendaraan dan uang saku yang lumayan. Saya, dulu, harus menggowes sepeda tua yang kerap lepas rantai dan ban meletus. Uang saku sangat minim. Harus menabung seminggu lamanya agar bisamakan di kantin sekolah.

Kini, si Bungsu ikut saya di Bekasi, hendak melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Kelihatannya, kini dia mulai berfikir bagamana pola hidup saya dan keluarga: merasa cukup dan tidak suka foya-foya. Semoga, dia bisa mengambil hikmah dari kisah Ibu, Abah, dan kakak-kakaknya terdahulu: hidup prihatin, sederhana, kerja keras, selalu mendekat pada Tuhan, dan tidak jumawa menyelami hidup. ***

Read More......

Selasa, 07 Februari 2012

"Doa Ibu"

0 komentar


Share

Sepekan ini, hampir tiap hari saya telepon Abah dan Ibu. Entahlah, kerinduan ini begitu membuncah. Liburan di akhir tahun lalu, saya, istri, dan si kecil menyempatkan mampir ke rumah di sela-sela liburan ke Yogyakarta.

Abah tampak kian renta. Gerakannya mulai lamban. Gigi mulai permisi satu persatu, rambut memutih, dan kulit mengeriput. Ibu yang masih tampak kuat. Garis wajahnya tetap memancarkan ketegaran.

Ibu adalah anak satu-satunya dari kakek nenek kami. Tidak berkakak, dan nihil adik. Sejak kecil, penderitaan dan keprihatinn adalah bagian akrab dalam hidupnya. Ditinggal indung – nenek saya -- ke alam baqa pada usia lima tahun, kasih sayang adalah barang mahal bagi ibu. Piatu di usia kanak-kanak, menjadikan ibu pribadi yang gelisah, tapi tegar. Sejak kepergian nenek, kakek (kini almarhum, semoga dilapangkan kuburnya, diampuni segala dosa-dosanya) beberapa kali ganti istri. Dan, itu berarti, beberapa kali pula Ibu punya Ibu tiri.

Di sinilah awal petaka ibu. Pitak kecil di dekat ubun-ubunnya, menyimpan sejarah kelam di jiwanya. Setidaknya, itu yang pernah dia ungkapkan kepada saya. Suatu hari, ketika Indonesia dirundung duka akibat gonjang-ganjing penumpasan Partai Komunis Indonesia (PKI) media 1960-an, petaka itu datang. Ibu, ketika itu memasuki usia 10 tahun, memelas kepada kakek meminta jajan. Keluarga petani pinggiran dengan harta yang pas-pasan, harus berpikir ulang untuk memberikan sekedar uang jajan anak satu-satunya. Plus ada status ibu tiri di sampingnya, membuat kakek tampaknya harus berpikir dua kali memberikan permintaan anaknya.

Bukan uang didapat, lemparan sendok nasi alumunium yang melayang. Tepat di dekat ubun-ubunnya hingga berdarah. Ibu tak berani menangis keras. Yang keluar cuma sesenggukan. Semakin dia akan menangis keras, semakin Ibu akan tersakiti. Kakek lebih memilih berpihak ke ibu tiri ketimbang anak sendiri.

Hendak kemana ibu mengadu? Pada sisi ini, tidak punya saudara kandung sungguhlah terasa menyakitkan. Tidak ada tempat mengadu, juga berbagi rasa. Ibu memilih memendamnya sendiri. Begitulah. Sisa sendok nasi alumunium itu kini menjejakkan pitak di kepala ibu. Peristiwa ini yang tampaknya begitu berbekas di hati ibu.

Kelak, ketika kakek mulai sakit-sakitan di usia senja bersama ibu tiri yang lain, ibu terkesan lebih memilih dan lebih peduli kepada suami dan anak-anaknya. Hingga kini, tampaknya bekas tersakiti sejak dini terasa begitu membekas.

Dulu, ketika saya masih kecil, ibu tampak sering terbangun di tengah malam. Kehilangan indung sejak kecil, kadang membuat ibu sering menangis di pergantian hari itu. Dari sanalah, Ibu mengucap doa: biarlah sahaya begini ya Tuhan, tapi anak-anakku tidak. Ini yang membuatnya tegar, sekaligus rapuh. Dia tegas, tapi mudah tersentuh.

Suatu hari, ketika Abah dan Ibu mencoba mengubah rumah joglo menjadi sedikit modern pada awal 1990-an, ada beberapa tukang kayu mengerjakan kusen-kusen pintu dan jendela. Pagi-pagi, ibu membuat cemilan semacam goreng bakwan dan goreng tempe untuk para tukang. Karena dana cekak dan sangat terbatas, maka Ibu cuma membuat beberapa buah bakwan, hanya cukup untuk dua orang tukang kayu itu. Biarlah kami makan dengan ikan asin seperti biasa.

Tiba-tiba, karena rasa ingin tak tertahankan, saya mengambil satu bakwan dan memakannya. Betapa rasa ingin makan bakwan ketika itu begitu kuat. Bakwan adalah makanan mewah bagi kami. Tidak setahun sekali saya bisa memakannya, ketika itu. Begitu tahu bakwan hilang satu dimakan saya, Ibu naik darah. Hilang satu, berarti jatah bakwan buat tukang juga berkurang. Akan sangat tidak enak Ibu kepada dua orang tukang. Dia ambil sepotong ranting di belakang rumah, dan dia pukulkan ke kaki saya. Saya tertegun, tidak melawan. Sakit, memang. Tapi saya bersalah. Tapi pukulan ranting itu cukup kuat, hingga sedikit membekas tanda merah di betis. Di usia kelas empat Sekolah Dasar (SD) itu, tak cukup kuat menahan sakit. Saya sesenggukan, dan menangis pelan.

Beberapa saat ibu terdiam. Saya tahu, dia sudah kelepasan. Selama ini, hampir tidak pernah ibu memukul, meski terkadang mulutnya agak cerewet. Mungkin kali ini saya sudah keterlaluan. Ibu hilang masuk ke kamar. Kemudian saya tahu, ibu juga sesenggukan. Mungkin merasa sangat menyesal sudah memukulkan sebatang ranting ke kaki saya hanya karena sebuah bakwan.

Begitulah, ibu keras, tapi rapuh dan muda tersentuh. Belakangan, karena ketegarannya, Ibu mampu mengantarkan kami, empat anaknya, menapaki jenjang pendidikan tinggi. Kecuali si bungsu yang baru akan kuliah, tiga orang kakaknya berhasil menyelesaikan sarjana. Meski tidak gampang untuk mencapainya, tapi kekuatan, ketegaran, dan doa Abah dan Ibu, mampu membuat kami yang menjalani mengenyam pendidikan, terasa enteng.

Ketika kami menjalani proses itu, saya tahu, Ibu masih sering terbangun tengah malam. Kemudian melakukan sholat malam, dan memohon Yang Di Atas memberikan jalan kepada kami semua. Sementara Abah, melakukan dengan caranya sendiri. Berdoa dengan bahasa sendiri. Abah bukanlah seorang yang pandai sholat. Kehidupan jauh dari didikan pesantren, menyebabkan Abah harus belajar sholat dan mengaji menapaki usia tua. Tapi tidak masalah, tidak ada kata terlambat.

Dilihat dari ukuran warga sedesa, hampir mustahil kami mencapai seperti saat ini. Harta sangat minim, pekerjaan Abah dan Ibu hanya buruh tani, sangat wajar mendapat banyak cibiran di masa-masa awal ketika Abah dan Ibu mengamini Kakak pertama melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi. Nyatanya tidak ada yang tidak mungkin. Ikhtiar dan doa yang mustajab, plus keprihatinan yang dipupuk Ibu dan Abah sejak kecil, mampu mengantarkan kami seperti saat ini.

Saya, kini Direktur di sebuah perusahaan Public Relation dengan klien-klien yang kerap menjadi bahan pemberitaan media-media besar di Jakarta, setelah sebelumnya menjadi juru warta di dua buah perusahaan media cetak ternama di Indonesia. Kakak pertama, menjadi wakil kepala sekolah di SMP kecamatan di kampung saya. Adik pertama saya, kini sudah menjalani dan menikmati status Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Si bungsu, sedang menjalani bimbingan belajar menjelang kuliah dan tinggal bersama saya di Bekasi.

Tuhan Maha Mengetahui apa yang menjadi doa-doa Ibu di tengah malam, ketika yang lain terlelap dan terbuai dalam mimpi. Semoga Allah senantiasa memberikan kebahagiaan Ibu dan Abah di masa tua, kebahagiaan di dunia dan akhirat. Amin Ya Robbal Alamin.

Read More......

Senin, 31 Januari 2011

"Layung Merah"

0 komentar


Share

"Saya mendadak amnesia"

***
Suhu politik tiba-tiba memanas. Kota ini dicekam ketakutan. Berita dari daerah-daerah, begitu murung. Nyinyir, mungkin. Sulit membedakan lagi fakta dan isu. Semua bercampur baur. Dari radio pusat, setiap hari terdengar teriakan: “Berontak”! Atau “Ibu pertiwi hamil tua”. Radio pusat? Entahlah, sumber radio darimana, tak juga jelas benar.

Dokumen-dokumen penting tiba-tiba tersebar. “Bakal ada kudeta pasca Sang Presiden Lumpuh”. Darimana itu dokumen, juga tak terang benar. Kabar burung tak jelas turut membuncahkan kekhawatiran, menyebarkan phsycowar, kepada siapapun.

Dan, sepekan kemudian, kota ini pecah dalam pertempuran. Semua senyap dalam semalam. Lalu, tiba-tiba penguasa berganti. Aneh, sungguh! Betapa cepat, betapa kilat! Berita-berita Revolusi bergema lagi. Ketuban tua ibu pertiwi pun pecah sudah. Kota ini guncang. Jangan harap bisa dipercaya orang, mempercayai orang saja susah setengah mati.

Saya cuma juru warta. Hanya bisa merekam apa yang terjadi. Peristiwa yang sebenar-benarnya terjadi, saya cuma sedikit ngarit, maaf salah ketik, maksud saya sedikit ngarti, alias paham meski secuil saja. Beberapa bulan setelah itu, gonjang-ganjing kian rusuh.

Inflasi menggila. Sepanjang tahun, kenaikan harga barang-barang mencapai 650%, tertinggi di seluruh jagat. Antrian membeli bahan-bahan pokok mengular: di kota ini, juga di daerah-daerah. Delapan tahun sebelumnya, harga beras per gantang masih Rp 100 saja. Lalu, lima tahun kemudian, tarifnya Rp 36.000, dan semakin "menggila" pada akhir tahun menjadi Rp 150.000. Benar-benar edan!

Operasi militer memuncak. Sepucuk surat tugas mampir ke meja saya. “Segera berangkat ke Aceh, di sana tengah terjadi operasi. Jangan lupa mampir ke Lampung,” isi surat itu. Teman saya juga mendapat tugas serupa. “Segera berangkat ke Bali, via darat, jangan lupa mampir ke Surabaya”. Isi tugas sama: reportase gonjang-ganjing di daerah.
***

Keremangan senja perbatasan berubah jadi neraka. Kami berempat, juru warta dari beberapa media di Jakarta, ibarat segerembolan babi dikepung para pemegang senapan. Berseragam loreng, mereka siap mengokang peluru. Dalam hutan, nafas sungguh sangat berharga. “Ayo sembunyi di lubang itu, mereka segera datang,” teman saya cepat-cepat mengingatkan.

Berempat masuk dalam lubang gua kecil, di sebuah daerah terpencil di ujung Jawa Barat. Jawa Barat? Aku tak yakin benar. Mungkin Lampung? Dalam kondisi begini, ingatan tak benar-benar kuat.

Aneh, sungguh! Sudah berkali-kali saya acungkan kartu pers saya. Namun mereka tetap mengejar menembak. Sudah puluhan kilometer kami berlari. Jalan seperti tak ada ujung. Betapa jauh, betapa lelah.

“Sudah aman,” kata saya. “Ayo kita ke tubir pantai, mana tahu ada perahu yang membawa kita ke tempat aman,” kata teman saya.

Maka, tiba-tiba kami sudah berada di atas sekoci kecil. Bagaimana caranya kami menemukan perahu, darimana asalnya perahu? Entahlah. Sungguh saya pribadi tak mengerti. Yang ada dalam pikiran kami, segera selamat dari kejaran tentara. Tugas reportase dari kantor, urusan nanti. Akan segera kami kabari via handphone jika situasi sudah benar-benar aman. Untuk sekadar mengabari kantor, atau hanya sekadar mengirim pesan singkat ke rekan sejawat di kantor pusat, kami tak sempat. Seluruh waktu seperti terisi sebuah ancaman.

Berapa lama kami terapung-apung di laut, juga tak ingat benar. Yang tampak di luar dan dalam pikiran, adalah lembayung senja merah di garis batas laut. Dan, di ujung layung merah, bencana itu akhirnya datang lagi.

Di tubir sebuah pantai, empat kapal motor tentara akhirnya kembali menyergap kami. “Segera merapat ke pinggir pantai,” suara mikropon dari salah satu kapal menggema. Kami tak bisa berbuat banyak. Semua tangan kami diikat ke belakang.

Pada pinggir pantai, kami digiring ke sebuah bangunan. Interogasi mereka begitu menakutkan. “Siapa pemimpin kalian,” kata si komandan mereka. Kami diam. Tanpa basa-basi, popor senapan si komandan mendarat di salah satu teman. “Aduuuhhh,” dia meringis. Darah segar mengucur dari batok kepala. Begitu merah.

“Jawab,” kata komandan lagi. Kami tetap diam. Sekali lagi, popor senjata mendarat di teman satu lagi. Tepat mengenai hidungnya. Darah kembali mengucur deras dari lubang nafasnya yang bangir. Dia orang Aceh, bekerja pada salah satu media di kota ini. Dalam kondisi seperti ini, nyawa seperti di ujung jari.

Mereka berdua, yang sudah kena popor senjata, kemudian diangkut menggunakan mobil truk tentara. Lagi-lagi keanehan muncul. Dari mana mobil tentara tiba-tiba datang. Ajaib, sungguh! Sebab, pantai ini dikelilingi hutan. Tak ada akses jalan raya.

Dan, dari jarak, mungkin, lima ratus meter dari tempat popor senjata, suara ledakan senapan dua kali terdengar jelas. “Dor... Dor...”. Disusul suara jeritan erangan kesakitan, sepertinya teriakan sekarat. “Aduuhhhhhhh...”. Selanjutnya senyap ditelan senja merah. Saya bayangkan dua teman saya mandi darah: begitu merah.

Saya dan satu teman yang tersisa sungguh menggigil ketakutan. “Ayo, kalian ngaku, siapa pemimpin kalian,” kata sang komandan. Dia tak turut dalam truk tadi, dan masih asyik menginterogasi kami. Kami tetap diam.

“Baik, kalau begitu, sebaiknya kita ngopi-ngopi dulu di rumah warga sini,” kata sang komandan. Ngopi-ngopi? Ah, aneh betul komandan ini. “Kita menuju markas Kundur, lalu nanti ke Moro, dan Lingga,” kata sang komandan. Nama-nama daerah yang sungguh sangat asing bagi saya. Ada di mana saya? Kondisi begini sangat tak memungkinkan untuk saya dan teman-teman menanyakan apapun ke tentara.

Selanjutnya, kami berdua, dan lima orang tentara yang tersisa, menjelang malam menyusuri semak-semak hutan. Berjalan menyusuri hutan dengan nyawa tinggal seujung kuku, tusukan duri hutan sungguh tak terasa. Di ujung jalan setapak, sebuah gubuk menanti. “Sebelum sampai ke markas, kita istirahat dulu,” kata komandan.

“Di mana kita,” kata saya memberanikan diri bertanya ke mereka. “Natuna,” jawab seorang di antara mereka singkat. “Natuna?,” kata saya. “Diam, kau,” gertaknya, galak. Aku terdiam. Bagaimana bisa aku ada di Natuna? Terdampar di daerah yang tak pernah aku tahu sebelumnya. Bagaimana bisa sampai daerah terluar Indonesia ini? Bukankah tujuanku reportase di Aceh. Ada pembantaian besar-besaran para pengikut kiri di sana. Sungguh aneh!

“Segera sikat... Segera sikat,” dari handy talkie sang komandan, suara perintah datang. Wajah komandan memerah. Kerlingan matanya menusuk seorang anggota mereka. Tanpa basa-basi, kokangan senjata terdengar bergemuruh. Tepat di samping telinga. “Dor... Dor... Dor..” tiga kali tembakan. Dari jarak satu meter ia menembak. Teriakan keras menggema dari teman saya yang tinggal seorang. Dalam hitungan beberapa detik, dia kemudian meregang. Innalillahi wa’innailaihi roji’un.

Dan, kerlingan mata komandan selanjutnya menuju lagi ke satu anggota tentara lain. Telunjuk kanan anggota itu siap mengokang pelatuk. “Dor... Dor...”

Adzan subuh tiba-tiba menggema. “Allahu akbar... Allahu Akbar...”

“Ayah, bangun ayah,” si kecil tiba-tiba membangunkan saya. “Astaghfirullahal adzim, Masya Allah...” gumam saya. Apa yang sudah terjadi? “Alhamdulillah, ini cuma mimpi,” kata saya. Mimpi? Begitu dekat, begitu nyata. Apakah de javu kisah 45 tahun lalu? Saya mendadak amnesia.

Bekasi, akhir purnama pertama 2011

Read More......

Senin, 29 November 2010

"Abah"

0 komentar


Share

by: Danto

Abah adalah lelaki super sederhana, dan diam. Tak banyak bicara, bahkan pemalu. Pada Abah, tercermin kebersahajaan, setidaknya di mata saya. Dia tak jarang menolak jika dibelikan baju baru. Maka, baju anyar Abah praktis dari pemberian anak-anaknya ketika Musim Lebaran.

Dilahirkan di masa Pemberontakan Tentara Darrul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII) awal 1950-an, Abah adalah laki-laki pintar. Sayang, kemiskinan membawanya hanya mampu menyelesaikan Sekolah Rakyat (SR) kelas dua. Selebihnya, ngangon kambing dan sapi milik Almarhum Si Embah. Dari empat anak Si Embah, Abah adalah anak laki-laki satu-satunya. Maka, di usia belasan tahun, ia menjadi tumpuan keluarga.




Ketika saya Sekolah Dasar (SD) di awal 1980-an, Abah lah yang mengajarkan saya berhitung matematika. Dengan pengetahuan di Sekolah Rakyat yang seadanya, dia mengeja hitungan matematika dasar: dengan bahasa Sunda pinggiran.”Hiji sareng hiji, sami sareng dua”. “Lima sareng opat, sami sareng salapan”. Artinya: satu tambah satu, sama dengan dua. Lima tambah empat, sama dengan sembilan. Begitulah. Dari pelajaran super sederhana itu, pelajaran saya di sekolah sekarang jauh lebih dalam ketimbang Abah.

Hujan sore ini, plus lagu-lagu Ebiet G. Ade, membangkitkan memori pada Abah. Sudah sejak Lebaran lalu, kami tak bersua. Mungkin, dia masih berkutat sibuk mencangkul atau membajak sawah yang kami punya di kampung: daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sebagai buruh dengan beberapa petak sawah, Abah punya jam kerja 12 jam di “kantor”. Berangkat ketika Betara Surya di ufuk timur, pulang ketika Senja menyapa. Kantor Abah adalah bumi berpayung langit. Bercadar awan, dan berpenyangga hujan.

Sawah Abah tak banyak, peninggalan si Embah. Mungkin total cuma setengah hektare saja. Itupun sebagian telah terjual untuk membiayai Kakak pertama melanjutkan studi. Modal buruh petani, hanya sawah untuk mengantar anaknya kuliah. Lain tidak.

Anak Abah empat: kakak pertama, saya, adik pertama, dan si bungsu. Kecuali si Bungsu, semua anak Abah adalah laki-laki. Kakak pertama berhasil lulus di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta dalam tujuh tahun. Dia mengambil Jurusan Bahasa Inggris. Dia terbilang lama kuliah, akibat harus nyambi mencari uang sendiri lantaran uang hasil menanam padi tak cukup banyak buat bayar kuliah. Kakak pertama harus kerja keras menjadi kuli bangunan di proyek-proyek mercusuar Jakarta untuk biaya hidup.

Pada suatu hari menjelang Pemilu 1992 yang panas, ketika kakak pertama di tingkat tiga kuliah. Kakak pertama harus berkeringat keras menelusuri lorong dan jembatan Grogol, Jakarta Barat. Di sana, Abah tengah termenung ngungun. Di sampingnya, teronggok pakaian dalam tas belel berjejer cangkul. Di kolong Jembatan Grogol itu, ada teman-teman sekampung Abah, juga termenung. Sebagian rebahan berlasa tikar pandan bercampur debu.

Abah harus “mangkal” di Jembatan Grogol itu. Ketika itu, pembangunan di Jakarta sedang gencar-gencarnya. Dan, orang-orang kampong, buruh dan petani, macam Abah, mencoba mengadu nasib menjadi “tukang gali”. Modalnya cuma cangkul.

Dan, Jembatan Grogol adalah lokasi strategis bertransaksi dengan mandor-mandor bangunan. Dengan upah borongan Rp 10.000 per hari, biasanya para tukang gali bangunan bisa membawa uang hingga Rp 100.000 sekali pulang kampong. Itu hasil mangkal sebulan di Jembatan Grogol. Itupun jika orderan banyak. Jika pesanan minim, maka yang tersisa adalah utang ke warung makan. Beberapa diantara mereka coba membuka warung makan seadanya: di kolong jembatan itu.

“Abah, sebaiknya Abah pulang saja. Jangan pikirkan biaya kuliah saya. Saya masih mampu untuk mencoba mengajar privat, atau sekedar bekerja jadi tukang sapu di proyek bangunan,” kata Kakak pertama, kepada Abah, ketika itu. Cerita ini, dituturkan kembali Abah kepada saya di kemudian hari.

“Abah akan tetap di sini, baru seminggu di kolong jembatan Grogol, belum ada orderan proyek galian,” kata Abah, setengah memaksa.

“Tidak, Abah harus pulang,” kata kakak pertama. Bukan karena malu, kata kakak kepada saya suatu hari, tapi sungguh: tak tega saya harus melihat Abah mangkal di kolong jembatan grogol ini,” kata Kakak. Betapa Abah harus menjadi gelandangan untuk membantu biaya kuliah Kakak pertama. Ketika itu, musim paceklik menyerang kampung. Sawah-sawah tadah hujan di kampung tiada air: kering kerontang.

Ketika itu, Ibu meminta Abah bekerja mangkal di kolong Jembatan Grogol saja tinimbang di kampung luntang-lantung. Selain bertani, Abah tak punya keterampilan lain.

Abah adalah lelaki bijak. Dia memilih ikut saran Ibu, siapa tahu bisa punya penghasilan tambahan untuk biaya kuliah kakak pertama. Kala itu, saya masih di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Biaya juga sangat mepet. Baju sekolah kusut masai, akibat tak pernah diseterika. Boro-boro punya setrika, meminjam setrika dengan arang panas ke tetangga pun Abah dan Ibu tak berani,. Maka, baju saya hanya bisa ditaruh di bawah kasur agar lipatan dan kusut tak begitu tampak.

Abah akhirnya ke Jakarta, ikut saran Ibu, bersama beberapa tetangga. Namun, tak gampang mencari order galian di kolong Jembatan Grogol. Seminggu termangu, orderan tak juga datang. Hingga Kakak pertama menemukan Abah termenung di kolong itu. Hendak berkunjung ke kos-an kakak pertama, katanya malu. Takut teman-teman kakak pertama mencibir.

“Kalau Abah enggan pulang kampung, sebaiknya tinggal di kosan saya saja di Rawamangun,” kata kakak pertama.

“Tidak, Abah di sini saja, Abah malu pada teman-temanmu,” kilah Abah.
“Tidak apa-apa, saya sudah terbiasa dengan kondisi kita, sebaiknya Abah ke kosan saya saja,” kembali kakak mengajak.

Awalnya Abah menolak, namun kemudian mau. Setelah bermalam di Rawamangun, besoknya Abah pulang menumpang bus di terminal Pulogadung. Sengaja kakak berutang ke temannya untuk sekadar ongkos dan uang jajan buat ibu. Biar ibu di kampung sedikit bungah Abah punya hasil. Hingga kini, Ibu tak tahu uang itu adalah hasil pinjaman kakak dari teman kos.

Maka, Abah kembali menjalani rutinitas: ketika ufuk di timur datang, Abah segera “ngantor”. Saat senja menyapa, Abah pulang. Mungkin sore ini Abah baru siap-siap meninggalkan ladang.

Dari hasil keringatnya itu, kini kakak pertama sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) guru SMP di ibukota kecamatan. Bertitel wakil kepala sekolah, kakak pertama beristri bidan, anak dua, mobil satu, dan motor tiga. Saya, kini menjadi juru warta, dan sedikit harta di pinggiran Jakarta. Adik pertama, jadi PNS di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Sementara si Bungsu, perempuan satu-satunya anak Abah dan Ibu, kini kelas tiga SMU di ibukota kecamatan.

Pada Abah, saya belajar tentang kesederhanaan. Pada Abah, saya belajar tentang hidup. Pada Abah, saya belajar tentang Syukur.

Sekali lagi, lagu Ebiet mengalun dari CPU computer saya sore ini:

“Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah
Keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah
Meski nafasmu, kadang tersengal, memikul beban yang makin sarat
Kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu, gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia

Ayah…
Dalam hening sepi ku rindu
Untuk menuai padi milik kita
Tapi…Kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang
Banyak menanggung beban.

* Silahkan baca juga cerita tentang Ibu

Read More......

Rabu, 25 Februari 2009

Panggil Aku Karto Saja*

0 komentar


Share

Pesan singkat tadi pagi membuat Karto harus sedikit bekerja keras hari ini. Di samping mengerjakan rutinitas kantor, Karto kudu riset, mencari nama-nama bayi dari Timur Tengah, persisnya dari Persia.

Kus, kakak Karto, sehabis Subuh tadi pagi mengabarkan istrinya melahirkan anak kedua. Bayi laki-laki lumayan gembil, berat badan 3,4 kilogram. Kulit sawo matang, mata rada belo. Hidung lumayan bangir.

“Tolong carikan nama-nama yang bagus, To,” pesan singkat dari Kus mampir ke handphone Karto.

“Mau nama-nama bayi mana? Timur Tengah mau?” balas Karto. “Boleh,” timpal Kus.

Orang jaman sekarang saling menghias nama, yang indah-indah, bisa mewakili wibawanya, melebur dalam kesamaan. Tak mewakili kelas dan strata sosial seperti Jawa. Di jamanku, kata Karto, nama adalah kelas. Dengan memperhatikan nama, orang sudah bisa menebak dari kasta mana dia berasal.

Karto? Hmmmm. Nama Karto adalah produk feodalisme di Jawa. Lima huruf. Hanya lima huruf saja. Juga satu kata. Tak ada nama belakang. Atau nama marga.

Dari namanya saja, mudah ditebak. Dia berasal dari kasta rendah suku Jawa. Golongan abangan. Bukan dari golongan santri. Apalagi golongan priyayi Jawa. Sebab, jika masuk golongan santri, maka namanya akan sangat kental dengan bau-bau Islam. Muhammad Zikrullah, misalnya. Atau Ahmad Hamid Abdullah, umpamanya. Atau juga Abdul Syukur, atau Abdur Rohman, atau Abdul-Abdul yang lain.

Bukan pula dari golongan orang-orang ningrat atawa priyayi Jawa yang suka membanggakan namanya. Birokrat Jawa, suka memilih nama-nama keraton yang indah-indah sebagai hiasan. Juga untuk memberi kesan bisa mempengaruhi diri sendiri dan orang lain dengan wibawa dan keindahannya itu. Dengan demikian, akan bertambah juga wibawanya.

Juru tulis sebuah kantor karesidenan, ujar Pramoedya Ananta Toer, akan menamakan dirinya dengan kata Sastra. Bisa Sastra Diwirya, yang berarti juru tulis yang tegas. Atau Sastra Disastra, yang berarti kepala juru tulis dari juru tulis.

Priyayi pengairan suka memberi namanya dengan awalan Tirta. Maka Tirtanata akan berarti pejabat yang mengatur perairan. Atau Raden Ajeng, yang dengan namanya orang sudah bisa menebak bahwa dia adalah keturunan keraton Jawa. Berdarah biru.

“What is the name? Apalah arti sebuah nama?,” kata Karto, kepadaku suatu senja. Barangkali dia mengutip pernyataan terkenal dari pujangga Eropa itu: William Shakespeare. Karto memang kadang sok puitis. Sok meniru ucapan pujangga-pujangga besar. Tapi begitulah dia.

Pada senja kala di batas kota tua itu, kami terlibat obrolan ringan. Entah mengapa, menjelang gelap itu kami mengupas lepas soal nama. Entah apa mula kata kami bicara. Tiba-tiba nyangkrok ke soal nama. Karto punya alasan soal namanya yang pendek itu.

“Si mbok-ku yang memberi nama memang tak pernah tahu aku jadi seperti sekarang, seorang juru warta. Dulu, ketika aku lahir, si mbok tahunya aku bakal menjadi seperti orang-orang sedaerahku. Jadi petani, atau pedagang, atau merantau ke Jakarta berdagang asongan rokok, menjadi kuli macul, kemudian menikah, punya anak, jadi kakek-kakek, selanjutnya meninggal di usia tua,” Karto terhenti sejenak. Tangan kanannya mencabut sehelai rumput yang sedikit tertiup angin senja kota tua. Menarik nafas sebentar.

Karto melanjutkan. “Seperti tak ada harapan bahwa anaknya bisa mempunyai nasib berbeda dengan orang-orang sebangsanya di kampung, bangsa kaum buruh, bangsa kaum abangan. Si mbok-ku hanya bisa pasrah, tak berani menentang nasib. Seperti tak ada harapan bahwa jaman sekarang sudah berubah. Bahwa sekarang orang kecil juga bisa sederajat dengan orang-orang besar,” papar Karto, getir. “Melalui pendidikan,” tandasnya.

Aku sedikit terpaku mendengar penegasan di pengujung pemaparannya. “Seperti tak ada harapan bahwa anaknya bisa mempunyai nasib berbeda dengan orang-orang sebangsanya di kampung, bangsa kaum buruh, bangsa kaum abangan. Si mbok-ku hanya bisa pasrah, tak berani menentang nasib. Seperti tak ada harapan bahwa jaman sekarang sudah berubah. Bahwa orang kecil juga sekarang bisa sederajat dengan orang-orang besar, melalui pendidikan.”

Barangkali Karto kini sudah merasa bernasib lebih baik ketimbang teman-teman sebayanya, yang kini hanya mengasong di pinggir-pinggir jalan dan lampu merah Grogol, Jakarta Barat, pikirku. Mungkin juga Karto, yang kini memasuki separuh baya, sudah punya pikiran bahwa dia bernasib lebih bagus ketimbang teman-teman seusianya yang hanya menjadi kuli dan buruh bangunan, di salah satu sudut Jakarta. Yang mereka hanya menamatkan sekolah hingga Sekolah Dasar (SD). Atau mentok di Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Memang dasarnya apa sampai ketemu nama Karto?,” tanyaku, memberanikan diri, sore menjelang gelap itu. Karto agaknya sedikit tersinggung. Matanya sedikit memerah. Dia memang agak sensitif, dan kadang pemarah. Sisi lain tabiat Karto yang suka menyendiri.

“Buat apa kau tanya-tanya soal itu, mending kita bicara soal mereka-mereka yang selalu merasa terpanggil oleh iman, kemudian membantai kaum lainnya demi Sang Maha Penguasa. Menjadi laskar pembela kebenaran. Itu lebih menarik,” Karto berusaha mengalihkan pembicaraan.

Aku sedikit merengut. Dan Karto tahu, jika sudah berubah roman mukaku sedikit saja, itu tandanya aku minta pembicaraan semula diteruskan. Kami sudah sedemikian dekat, sehingga tahu hal remeh temeh sekalipun.

“Baiklah, kawan. Tahukah kau, dulu ketika si mbokku memberi nama, yang dia tahu hanya berpatokan pada perhitungan Jawa. Karena aku lahir pada hari Jumat, maka namaku harus diawali dengan huruf pertama namaku itu. Juga, lantaran aku lahir pada hari Jumat Legi, maka si mbok-ku percaya namaku harus berjumlah lima huruf, yang melambangkan Legi dalam perhitungan Jawa itu. Jika si mbok-ku tak mematuhi perhitungan Jawa itu, bisa celakalah aku di kemudian hari. Begitulah saat itu si mbok-ku dan para tetua kampungku percaya. Maka jadilah namaku Karto. Lahir Jumat Legi,” tutur Karto, sedikit bersungut.

“Jika saja si-mbokku berpendidikan, maka bisa jadi dia akan sedikit melek, melihat dunia. Bahwa era 1970-an dan era 1980-an Indonesia sudahlah membangun, pendidikan juga mulai maju. Siapapun berhak mengenyam, tak seperti jaman penjajahan dulu, penghuni lembaga pendidikan adalah makhluk dari langit, berdarah biru, manusia terpilih. Termasuk para priyayi Jawa itu.”

“Dan, si mbokku jika berpendidikan akan bisa melihat dunia, bahwa dunia sudah berubah sejak puluhan tahun lampau. Hmmm, tapi dia tetap ada dalam gelap gulita. Maka, jadilah aku seperti tetap di jaman feodal Jawa. Si mbokku sungkan memberi nama yang bagus-bagus, risih katanya, jika memberi nama bagus pada anak dari keturunan rakyat jelata. Malah bisa jadi ditertawakan orang sekampung,” Karto, panjang lebar.

“Betul memang satu dasa warsa setelah aku lahir, nama bayi di daerahku di tubir Cisanggarung sana sudah mulai berubah, mengikuti pola modernisasi. Mulai ada kesamaan strata kelas. Maka, seorang buruh tani pun bisa memberi nama yang sederajat dengan yang berpendidikan. Seperti misalnya Rahmat Darmawan. Itu aku tahu, pada jamanku dia pasti akan bernama Wawan saja.”

“Tak apa, jaman memang bergerak. Memasuki decade 1990-an, orang-orang sekampungku sudah mulai merantau ke Jakarta, meski hanya sekadar berdagang asongan, atau hanya sekadar menjadi kuli bangunan. Tapi dari sana membawa budaya modern, meski norak. Satu pengaruhnya, nama bayi menjadi ke kota-kotaan. Pengaruh feudal seperti di jamanku mulai pudar,” papar Karto.

“Nah, kau kan sekarang sudah bisa sederajat dan punya kesempatan banyak untuk sejajar dengan para keturunan ningrat itu, kenapa namanya tidak ditambah mengikuti mereka dan arus modern? Bukankah kau sudah berhak? Bukankah itu juga bisa meningkatkan gengsimu,” kataku, lagi.
Kali ini Karto sedikit membelalakan matanya. Aku sedikit ciut. “Tahu kau, kawan. Kau adalah orang yang kesekian yang selalu mengusik-ngusik namaku,” Karto terdiam sebentar. Kemudian menarik nafas panjang. Ada nada dendam dalam ucapannya.

“Tak mengikuti arus pasar, berarti ikut menolak ideologi pasar itu sendiri. Bukan begitu, kawan,” katanya. Matanya sedikit memelototi aku. Aku rada terkesiap. Barangkali dia sudah benar-benar tersinggung.

Tapi jujur aku tak terlalu mengerti apa arti perkataannya. “Maksudnya bagaimana Karto,” kataku.

“Kawan, aku tahu. Sekarang ini, jaman modern, jaman ideologi pasar. Agar bisa bertahan hidup di tengah persaingan pasar yang sangat sengit, orang harus punya kemampuan dan skill tinggi. Juga harus punya gengsi tinggi. Dia harus profesional. Karena dengan demikian, dari hasil profesionalitasnya itu, dia akan menghasilkan karya yang bisa dijual.

Orang harus mengikuti keinginan pasar agar tetap diminati pasar itu sendiri,” katanya. Karto sudah mulai ngelantur, pikirku. Tapi kudengarkan juga lanjutan omongannya.

“Kini sudahlah lazim, perusahaan-perusahaan besar menggunakan tenaga-tenaga ahli dari luar negeri. Bukan karena kemampuannya, tapi karena gengsinya. Kalaupun dia menggunakan tenaga lokal, maka sebisa mungkin yang berasal dari lulusan luar negeri. Setidaknya tahu seluk beluk luar negeri. Karena kini dunia sudah jadi kampung global,” katanya.

“Maka agar terkesan sangat tahu seluk beluk luar negeri, manusia jaman kiwari akan menggunakan nama kebarat-baratan. Sekali lagi agar terkesan modern. Tak terkecuali dalam memberikan penamaan. Maka orang lokal sekarang lebih suka menggunakan nama Michael dan Sebastian ketimbang Sunarto atau Ahmad. Dua nama terakhir itu akan terkesan sangat terbelakang dan tak berperadaban. Maka, dengan demikian perusahaan-perusahaan besar akan merekrut orang dengan nama-nama yang bagus-bagus. Sekali lagi itu demi gengsi. Yang buruk dan sangat lokal, mohon maaf, menyingkir dulu,” paparan Karto terhenti sejenak.

“Mungkin itu cuma pikiranmu saja, Karto,” aku menyela.

“Tidak, kau harus membuka mata. Orang jaman sekarang akan heran jika namamu hanya satu kata saja, seperti aku. Tanpa nama belakang, juga tanpa marga. Sebagian orang akan menganggap dengan satu nama saja, kau sangat kelihatan udik, sangat lokal. Dan kau harus merasakan, pertanyaan soal kenapa namamu hanya satu kata saja tanpa nama belakang, akan menjadi tudingan bahwa kau berasal dari kasta rendah, kasta abangan, bukan santri dan juga bukan priyayi. Tahu, kau,” Karto makin galak. Nyaliku menciut. Aku diam. Dia sudah benar-benar tersinggung. Malam sudah larut. Di pinggir kota tua itu, suara belalang tersengal-sengal. Hembusan angin makin menusuk-nusuk.

****
******

“Kak, gimana kalau nama Akmal, dari bahasa Timur Tengah, artinya sempurna, sangat pandai,” Karto kembali mengirim SMS ke Kus, setelah sedikit utak-atik computer. Sejenak kemudian, balasan muncul. “Lumayan bagus, coba cari yang lainnya,” Kus membalas.

Karto kembali mengorek-ngorek deretan nama-nama bayi di tumpukan tulisan mbah google. “Gimana kalau digabung menjadi Akmal Tristan Nadian, Akmal artinya sempurna, sangat pandai, Tristan dari bahasa Wales, Inggris Utara, artinya gagah berani, dan Nadian adalah singkatan dari nama kakak dan istri,” Karto kembali membalas, sejam kemudian.

Sejenak tak ada jawaban. Karto mencoba menawarkan nama lain. “Gimana kalau Farrel Yanuardi Tristan Nadian, Farrel artinya heroik dari bahasa Irlandia, Yanuardi artinya lahir pada Januari, Tristan Nadian seperti arti dalam SMS sebelumnya. Naman ini juga bisa mengantisipasi era globalisasi di masa datang,” pesan singkat Karto kemudia meluncur.

Huppp…Mengantisipias era globalisasi? Apa hubungan nama dnegan era globalisasi? Aku tak mengerti sekarang jalan pikiran Karto. Dia sudah mulai tak kupahami jalan fikirannya. Atau aku yang terlalu naïf, pendek daya jangkau fikirnya. Entahlah.

“Nanti saya pilih,” jawaban pesan singkat Kus mampir, pendek.

Dua hari berselang, Kus tak jua membalas SMS Karto. Sampai menjelang tengah malam, SMS Kus mampir ke Karto. “Mungkin namanya Akmal Grammarian Abdillah,” katanya. Karto yang masih terjaga mencoba membalas,” Itu sudah bagus, Anak pandai nan sempurna, semoga menjadi Hamba Allah yang pandai berbahasa Inggris dnegan grammar yang baik,” katanya. “Mentang-mentang jadi guru Bahasa Inggris,” kata Karto kepadaku esoknya.

“Jadi, apa namanu mau diubah juga Karto?” tanyaku kembali, mengingat percakapan sore menjelang malam waktu itu. Karto kembali membelalakan mata. “Biarlah, aku akan tetap memakai nama ini, meski terkesan ndeso, udik, kelas rendah di Jawa, tak apa. Biar aku selalu mengingat dari mana aku berasal. Bukan kacang yang lupa akan kulitnya. Panggil aku Karto saja,” ujar Karto. Aku terdiam.


* Terinspirasi dari judul “Panggil Aku Kartini Saja” karya Pramoedya Ananta Toer

Read More......

Ibu

0 komentar


Share

Di ujung telepon, suaranya terdengar sedikit terbata. “Ibu kehabisan uang, le,” katanya, kepada Karto menjelang malam itu, dengan isak yang tertahan. Dug. Jantung Karto seperti terasa copot. Sudah berapa lama dia tak menghubungi ibu di kampung? Satu minggu, dua minggu, atau satu bulan lebih?

Masya Allah, Karto tak menghubungi bapak dan ibu di tepian gawir Cisanggarung sana selama sebulan lebih. Apa saja gerangan yang telah dia perbuat di Jakarta? Teledor nian kau, Karto. Hingga tak sempat memikirkan mereka.

“Kamu tak usah terganggu dengan omongan ibu soal duit itu, ibu cuma ingin mendengar suaramu saja. Sungguh kangen ibu padamu, le,” katanya, sedikit tersedu. Karto terdiam. Seperti terpengaruh pada omongan pertama ibu tadi: kehabisan duit.



"Ibu"

Saat malam baru beranjak turun itu, sengaja Karto menelepon ibu di kampung melalui telepon genggam adik bungsunya. Adik terakhirnya itu kini duduk di bangku kelas satu SMU, di kota kecamatan.

Adiknya dua. Yang pertama kini menclok jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di sebuah departemen yang lumayan punya nama dan berpengaruh, baru masuk awal 2009 ini. Setahun lalu, Karto berbaik hati membelikan adik bungsu dan ibu bapak sebuah telepon genggam seken, sekadar untuk say halo dan nanya kabar. Barang seminggu dua.

Kebetulan, setahun setelah pindah kerja ke tempat baru, Karto bisa sedikit-sedikit menabung. Sisihan tabungan, sebagian istrinya menyimpan untuk tabungan keluarga. Sedikit lainnya dia sisihkan untuk bapak ibu, zakat, dan cadangan ibu bapak mertuanya.

Sebelum adik pertamanya masih kuliah dan menjadi PNS, Karto harus membagi sisa tabungan untuk kebutuhan sang adik, juga sesekali mengirimkannya pada ibu.

Sementara uang untuk telepon genggam adik terakhirnya adalah sisihan dari sisa uang bensin selama sebulan sebulan, setelah tak lagi menanggung beban harus membiayai adik pertama. Jadilah uang tabungan itu dia belikan mereka sebuah telepon genggam seken. Pulsanya sebulan sekali dia transfer, cuma secuil saja: Rp 25.000. Karto bilang pada adik terakhir, gunakan pulsa seirit mungkin, “Kalau ada perlu sama kakak, biar kakak telepon dari Jakarta,” kata Karto, ketika menyerahkan telepon genggam seken itu, setahun silam.

*****
*****

Biar kuceritakan sedikit. Aku mengenal keluarga Karto adalah keluarga harmonis. Biar dulu mereka serba kekurangan, kini terlihat cukup sudah, untuk ukuran kampung, tentu saja. Itu penglihatan kasat mataku. Aku mengenal keluarga ini, terutama Karto, yang sejak kecil berteman dengan ku.

Banyak hikmah dan pelajaran kuambil dari kisah hidup mereka. Kisah tentang perjuangan, tentang kemiskinan, tentang ketidaktahuan, tentang kejujuran, tentang tekad baja, tentang kekompakan, juga tentang kebahagiaan.

Karto adalah anak kedua dari empat bersaudara. Bapak dan ibunya adalah buruh tani di tubir Cisanggarung, daerah yang membentang antara Gunung Ciremai di Jawa Barat, dan Gunung Slamet di Jawa Tengah. Mereka punya lahan sawah yang kalo dihitung paling cuma beberapa petak saja, mungkin mendekati satu bau – satu bau sama dengan 0,7 hektare--, barangkali tak lebih dari setengah hektare.

Itupun sawah warisan. Hanya cukup untuk makan. Sisa kebutuhan untuk hidup, bapak Karto harus menjadi kuli di sawah tetangga. Atau sesekali ke Jakarta menjadi kuli bangunan. Tapi itu dulu, sekarang tidak.

Dua puluh tahun lalu, sementara bapaknya rutin ke sawah atau merantau ke Jakarta, ibunya harus ke sana kemari, ke rentenir satu dan ke tuan tanah lain. Pinjam duit. Kakak pertama Karto, Kus, ketika itu masih Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di kota kabupaten. SPG adalah tujuan sekolah paling ideal untuk keluarga tak berpunya, seperti Karto.

Itupun tak gampang. Sebab, ada saja cibiran dari para tetangga Karto. Buat apa sekolah, sementara biaya tak ada, harus ngutang sana-sini. Mimpi kali ye. Tak ada trah atau darah jadi orang gedean. Cacah kuricakan (kelas terendah masyarakat) ya tetap cacah kuricakan saja. Tak usah bermimpi jadi orang gedean.

“Pasti tak akan jadi orang,” begitu cibiran yang masih saja aku, juga Karto, dengar hingga kini, dari mereka, dari para tetangga itu. Ibunya tak peduli. Harapan besar menjadikan anak-anak bernasib lebih baik ketimbang dia.

Maka, ketika mendengar selentingan Kus mengamen di jalanan kota kabupaten untuk membayar uang kos-kosan yang mepet, suatu malam, ibu menangis sejadi-jadinya. Tak rela, rupanya. Entah itu kabar burung dari siapa. Mungkin ada tetangga yang melihat Kus memang benar suka mengamen untuk sekadar nambah uang makan, usai pulang sekolah.

Sekolah di daerah Karto adalah barang mahal. Tak sembarang orang bisa sekolah hingga SPG, ketika itu. Nyatanya, “Tuhan Maha Adil,” kata ibu Karto, ketika Kus akhirnya lulus dari SPG.

Tapi, sampai di situ pun sengsara belum juga berbuah nikmat. Pada 1991, ketika Kus tamat dari SPG itu, kebijakan baru pemerintah tak memungkinkan lulusan SPG menjadi langsung seorang guru. Semua harus melewati bangku kuliah. Apa mau dikata. Jika tak melanjutkan kuliah, maka sia-sia saja sekolah di SPG. Tak akan bisa menjadi guru. Cita-cita yang Kus, juga Karto, idam-idamkan sejak kecil.

Jika ada dua orang temannya dari tetangga kampung Karto memilih tak melanjutkan kuliah, Kus nekad. Modal tak ada, uang pun tipis, Kus merantau ke Jakarta, usai lulus dari SPG itu. Benar-benar mengadu nasib.

Modalnya cuma kenalan yang bekerja di sebuah proyek bangunan di Jakarta. Iseng-iseng ikut Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Ndilallah keterima. Dia terjaring di Jurusan Bahasa Inggris sebuah perguruan tinggi negeri yang meluluskan para guru di Jakarta.

Gembira, sekaligus bingung. Jika diambil, maka akan sangat pusing tujuh keliling dengan biaya. Dasar bondo nekad, Kus memutuskan untuk kuliah. Tak ada cerita, juga tak ada bilang ke ibu bapak. Benar-benar nekad. Sendiri.

Ada gunanya juga punya teman bekerja di proyek bangunan. Maka Kus nekad melamar menjadi tenaga kebersihan di proyek itu. Entah karena kasihan, atau memang sedang butuh, mandor proyek yang juga tetangga di kampung itu menerima Kus. Jadilah Kus bekerja menjadi tenaga kebersihan proyek. Pagi kuliah, sorenya bekerja di antara debu-debu bangunan.

Pekerjaan di proyek sedikit membantu keuangan. Cuma itu tak terlalu menutupi kebutuhan kuliah. Maka, setelah beberapa bulan kuliah, Kus memutuskan pulang kampong mengadu ke ibu: kehabisan duit. Pusing tujuh keliling nian ibu bapak Karto saat itu. Maka, ibu memutuskan pinjam ke seorang rentenir. Bunganya sangat mencekik: 50% setahun.

Apa daya. Pinjaman kemudian mengucur, esoknya, meski cuma cukup untuk bayar uang semesteran. Jumlahnya Rp 200.000. Sisa untuk kebutuhan makan, cari sendiri di proyek bangunan.

Soal bayar ke rentenir, bisa dicicil tiap bulan dari hasil panen padi atau palawija. “Ibu cuma sanggup memberi segini,” kata ibu Karto, dengan suara dalam, ketika itu. Kus menerima, sambil tertunduk, mungkin merasa bersalah sudah merepotkan, lantas kembali ke Jakarta.

Kehidupan prihatin membawa Kus punya tekad baja. Harus lulus, meski tersendat. Singkat cerita, Kus sukses lulus sarjana dari perguruan tinggi negeri itu, tujuh tahun berselang. Dia terbilang lama kuliah, karena sekali dua mengambil jatah cuti, hanya untuk sekadar mengumpulkan tambahan biaya.

Selama itu, dia beberapa kali pindah kerja di proyek, dagang sepatu, menjajakan pakaian, dan mengajar privat Bahasa Inggris. Sementara di rumah sana, bapak dan ibu Karto sudah menghabiskan sawah setengah bau, separuh dari yang ada, untuk membayar uang semesteran Kus. Juga sesekali bekal makan di Jakarta.

Itu sudah termasuk sangat ngirit. Salah satu tetangga, yang juga menguliahkan anaknya, habis dua bau, taksirannya sekitar satu setengah hektare sawah. Modal orang kampong, petani, tak punya gaji, hanya sawah jika mau menyekolahkan anak hingga ke bangku kuliah. Tak ada lain.

Selepas lulus kuliah, Kus agaknya tak tahan hidup di Jakarta. Penghasilan seorang guru di Jakarta seperti menjepit kebutuhan. Maka, dua tahun berselang, Kus memutuskan kembali ke kampung. Mencoba mengadu nasib, daftar calon PNS.

Dasar nasib lagi baik, tahun itu juga Kus langsung diterima menjadi PNS. Setahun setelah jaman reformasi, satu tahun setelah pergantian kekuasaan Orde Baru, sogok menyogok, dan suap menyuap seperti hilang ditelan bumi. Tak seperti sebelumnya. Maka, Kus ketiban berkah jaman.

Dia masuk PNS dengan hasil tes murni. Tak secuil uang sogok pun dia keluarkan. Jika pun jaman masih seperti dulu, harus ada praktek-praktek cula, harus mencari uang dari mana jika harus membayar jabatan guru PNS itu? Lebih baik mundur dan berkarir jadi guru honorer, barangkali.

Kus kemudian mengajar di SMP di ibukota kecamatan. Setahun berselang, Kus lantas menikah dengan tetangga, yang baru lulus dari Akademi Kebidanan. Harus mencari jodoh sepadan, barangkali. Istrinya praktek di pinggiran kota di seberang Cisanggarung. Mereka kemudian menganyam hidup. Kini sudah punya dua anak. Punya pekarangan luas, dua sepeda motor, juga sebuah kendaraan roda empat.

****
****

Tiga tahun menjelang Kus lulus, Karto masuk SMU. Letaknya di ibukota kecamatan, sekolah yang sama dengan dua adiknya. Tadinya ibu sudah berkebaratan Karto melanjutkan SMU. “Lebih baik kamu kerja seperti orang-orang sekampung ini saja, merantau ke Jakarta, kerja di proyek-proyek bangunan, dapat uang,” kata ibu kepada Karto, suatu sore.

Karto mendongak. Nilai Ebtanas Murni (NEM) Karto terbesar kedua di SMP. Saat itu murid SMP ada sekitar 146 siswa. “Mana mungkin aku berhenti begitu saja,” kata Karto, membela diri.

Karto sepertinya mewarisi sifat ibu, yang juga turun ke Kus: keras kepala dan memegang prinsip. Itu pandanganku, yang ada di luar keluarga mereka. Karto keukeuh ingin melanjutkan ke SMU. Maka menjelang pembukaan murid baru, beberapa hari selepas lulus SMP, Karto ke sana ke mari mendaftarkan diri ke SMU, tujuh kilometer jauhnya dari rumah.

Lantaran sepeda pun tak punya, Karto terpaksa bolak-balik meminjam sepeda ke uwa –sebutan untuk kakak ibu atau bapak—dari bapak. Singkat kata, Karto tak susah masuk ke SMU di ibukota kecamatan.

Sampai sini Karto sumringah, sekaligus bimbang. Darimana uang untuk membayar SPP per bulan, atau uang bangunan, yang jumlahnya bisa untuk membeli dua kwintal padi itu? Sarana transportasi pun belum ada, sepeda pun tak punya. Sementara uang ibu bapak tersedot untuk mambantu biaya Kus yang sedang genting-gentingnya kuliah.

Sisi lain, ibu ingin memperbaiki rumah yang sudah bocor di sana-sini. Rumah joglo tua itu memang sudah saatnya dibongkar. Apalagi, ketika itu di kampung sedang tren membangun rumah, membongkar rumah joglo menjadi sedikit modern. Tren itu muncul setelah orang-orang sekampung Karto rame-rame mengadu nasib ke Jakarta. Ada yang jadi kuli bangunan, berdagang asongan, atau membuka warung makan.

Tak hilang akal, setelah pengumuman Karto diterima SMU itu keluar, Karto nekad juga ke Jakarta. Dia ikut seorang teman yang menjadi kenek tukang bangunan di bilangan Ciracas, Jakarta Timur. Karto juga menjadi kenek bangunan. Dia masih ingat betul, ketika itu ikut membangun rumah susun untuk polisi di Ciracas tersebut.

Tiga pekan lamanya di sana. Dengan gaji Rp 7.500 per hari, Karto bisa menggembol uang Rp 100.000, setelah dikurangi uang makan. Dia makan seirit mungkin agar bisa membawa uang untuk bayar uang bangunan, kalo bisa sedikit memberi buat ibu.
Alangkah bahagianya jika bisa turut memberi secuil uang itu untuk ibu, meski cuma untuk beli lauk yang lebih baik ketimbang makanan sehari-hari, yang cuma ikan asin atau tempe itu.

Uang segitu ternyata sangat berharga bagi Karto. Separuhnya untuk mencicil uang bangunan sekolah. Sedikit juga untuk memberi ibu, meski ibu rada menolaknya. Sebagian kecil lagi untuk membeli sepeda seken. Saat itu angkutan ke kota kecamatan belum ada. Yang ada cuma dokar bertenaga kuda.

Menjelang masuk SMU itu, Karto harus keliling dari bengkel sepeda yang satu ke bengkel sepeda lain di kampung. Mana tahu ada sepeda seken yang bisa untuk kendaraan sekolah. Syukurlah, di sebuah bengkel di ujung desa, ada seonggok sepeda bekas, dengan ban sudah belel, dan rantainya yang berkarat. Tak pikir panjang, Karto membelinya. Harganya Rp 35.000. Uangnya dari sisa kuli di Jakarta. Dia sedikit lega. Satu soal sudah teratasi.

Maka, mulailah Karto sekolah. Tiap hari menggoes sepeda baru yang tua itu, ke sekolah. Berkali-kali, dia harus membenarkan tali rantai sepeda yang kerap lepas, di jalanan menuju sekolah. Sementara teman-teman lain, saling dahulu mendahului. Ada yang memakai sepeda baru, beberapa juga mengendarai sepeda motor. Karto cuma penyendiri. Lebih jarang bergaul dengan teman sekolah. “Aku tak mau merepotkan orang lain,” katanya, kepadaku suatu sore.

Sehabis pulang sekolah, Karto harus pergi ke ladang untuk sekadar cari rumput buat kambing-kambingnya. Bapak memelihara beberapa ekor kambing hanya sekadar untuk tambalan kebutuhan hidup. Syukur-syukur bisa untuk menambal biaya sekolah.

Banyak manfaatnya juga Karto hidup prihatin. Teman-temannya yang sesama penggembala kambing, bukan anak-anak muda yang suka foya-foya, membawa Karto hidup sederhana. Betapa uang jajan seorang anak SMU lain sangat tak sebanding dengan uang jajan Karto.

Pada medio 1990-an itu, Karto hanya menggenggam Rp 200 per hari untuk sekadar uang jajan ke sekolah. Saat itu, harga sebuah bala-bala – di daerah lain disebut bakwan—sudah Rp 100 per buah. Sementara seporsi piring nasi plus bumbu kuah sudah Rp 500. Jadi, Karto harus menabung hingga seminggu lamanya agar bisa sekali makan di kantin sekolah.

Itupun jika sepeda tuanya tak mengalami rusak, seperti putus rantai dan ban meletus. Untunglah, Karto sudah terbiasa puasa Senen Kamis. Jadi, tak soal jika tak bisa jajan di kantin.

Sifat penyendiri membuat Karto tak biasa menggantungkan apapun pada orang lain. Termasuk soal belajar. Kebetulan, Karto terbilang menonjol di antara teman-temannya. Kelas satu SMU, dengan system catur wulan, Karto dua kali jadi juara satu, dan sekali juara dua. Maka, memasuki kelas dua, Karto mendapat beasiswa. Uangnya Rp 60.000 per bulan. Atau sekitar Rp 720.000 setahun.

Jumlah yang luar biasa besar bagi Karto. Meski cara pengambilannya dicicil di kantor pos, uang bea siswa itu terasa sangat membantu. Maka, Karto membelikan satu set kursi sudut lumayan empuk –ketika sedang tren—seharga Rp 700.000. Saat ini kursi-kursi itu masih terderet rapi di ruang tamu rumah ibu, tak jauh dari tubir Cisanggarung.

Liburan sekolah tahun kedua, Karto tak mau menyia-nyiakannya. Dia kembali ikut seorang teman yang bapaknya mandor bangunan. Dia kembali menjadi kuli bangunan. Dia ikut membangun gedung baru pabrik perakitan motor Suzuki, di Tambun, Bekasi. Gajinya lebih naik sedikit ketimbang setahun sebelumnya: Rp 10.000 per hari.

Tapi dia cuma bekerja selama 12 hari saja. Sang mandor, bapaknya teman Karto, kemudian memulangkan beberapa tenaga kerja kuli. Alasannya: bangunan pabrik sudah hampir selesai, sehingga harus ada pengurangan tenaga kerja. Karto tak bisa berbuat apa-apa. Padahal sisa liburan masih setengah bulan lagi.

Uang hasil kerja itupun lumayan buat melunasi uang gedung yang masih tersisa separuhnya: Rp 50.000. Sisanya buat ngasih ibu dan sedikit tabungan.

Singkat cerita: Karto bisa lulus SMU setelah setahun kemudian mendapat bea siswa kembali. Jumlah Nilai Ebtanas Murni (NEM)-nya ketiga tertinggi dari 142 siswa SMU.
Ketika itu, Kus, kakak Karto sudah lulus kuliah dan mengajar di salah satu SMK di Jakarta. Karto memberanikan ikut UMPTN. Ndilallah nasib kembali berpihak. Dia masuk di sebuah perguruan tinggi negeri, tempat Kus sebelumnya kuliah. Dia mengambil jurusan Ekonomi. Lulus dalam empat tahun saja.

Selama itu, Karto menambah-nambah uang makan dari mengajar privat. Sebab, jatah dari Kus dan ibu sangat tidak cukup untuk biaya hidup di Jakarta yang sudah menjulang. Karto tak menghabiskan sepetak pun sawah di kampung yang tersisa tinggal setengah bau saja.

Setelah dinyatakan lulus, Karto iseng-iseng melamar dengan surat kelulusan pada sebuah penerbitan di Jakarta. Padahal, jurusannya sangat tidak masuk untuk kategori pekerjaan itu. Sebab, seharusnya dia menjadi guru seperti Kus. Itu adalah lamaran pertama Karto. Nasib lagi-lagi berpihak. Dia diterima, setelah menjalani serangkaian tes. Mulai psikotes, wawancara, dan sebagainya. Kini, aku mengenalnya sebagai juru warta.

Punya istri yang dulu teman seangkatan di sekolahnya. Yang ketika sekolah sama sekali tak pernah say helo, misalnya, karena memang Karto minder untuk sekadar kenal saja. Dia cantik, hitam manis ala wanita Jawa. Ketika sekolah, istrinya adalah buruan banyak teman-teman lelaki Karto. Meski sudah mengagumi sejak SMU, Karto tak pernah berniat mendekat. Sebabnya, dia sudah merasa kalah sebelum berlaga.
Kini, Karto sudah punya satu anak dari dia. Punya rumah lewat cicilan BTN di luar Jakarta.

****
****

“Karto, sudah sebulan lebih ibu tak meneleponmu, kangen sekali rasanya,” kata ibu, di ujung telepon, mengulang lagi. “Apa kabar istri dan anakmu,” sambungnya.
“Aku baik-baik saja, bu,” jawab Karto, dengan logat Sunda pinggiran yang kental. “Maaf, ibu, aku belum sempat kirim uang, pekerjaanku padat sekali,” kata Karto.

“Sudahlah, tak usah dipikirkan, biar ibu sama bapak menjual padi saja,” kata ibu.
“Tidak, bu, akan segera saya kirim,” sergah Karto.

“Tidak usah, Nak. Ibu tahu, kebutuhanmu sudah sangat banyak. Kemarin ibu memang sempat ke rumah kakakmu di seberang Cisanggarung sana. Untuk sekadar pinjam uang. Ibu naik angkot sendiri ke sana. Cuma dia sekarang sepertinya sedang banyak kebutuhan juga. Dia bilang, saya kan sudah banyak bantu. Nanti kalo Uban pulang dari Jakarta, ingatkan dia untuk mulang tarima,” kata ibu, menirukan Kus, rada terisak.

Mulang tarima adalah istilah balas budi di daerah Karto. Uban adalah adik pertama Karto yang baru saja menjadi PNS di departemen tadi.

“Cuma ibu bilang, biar saja Uban fokus kerja dulu, jangan direcoki oleh permintaan-permintaan. Memang Kus, kakakmu itu, ketika Uban masih kuliah sesekali memberi uang, hitung-hitung mulang tarima ke ibu, tapi kan yang nanggung biaya kuliah Uban kamu, Karto. Ibu kini merasa bersalah telah merepotkan kalian-kalian,” suara ibu di ujung telepon agak memelan, terdengar terbata. Lamat-lamat malah terisak.

“Ibu tahu, tak bagus membandingkan pemberian dari anak satu dengan anak lainnya. Ibu tak berharap itu, dengan melihat kalian bahagia saja, ibu sudah sangat senang, le,” kata ibu lagi. Sejenak terdiam. Karto pun terus termangu.

“Sudahlah, Bu, kebutuhan Ibu biar saya tanggung,” kata Karto. Bukan niat menjadi pahlawan, kata Karto kepadaku pada lain kesempatan soal omongannya itu. Tapi apa salahnya jika aku bersyukur, kata Karto lagi. Sekarang tanggunganku si Uban udah mulai punya pegangan hidup. Tinggal adik bungsu yang kini di SMU kelas satu.

Benar juga pikirku. Selama ini, Karto hanya sesekali saja kirim uang kepada ibu. Hasil sisihan tabungan sisa uang makan dari kantor. Juga sisa dari jatah Uban kuliah. Karto hingga kini masih saja sederhana. Makan cukup dengan tempe, tahu, ikan asin, telur dadar, sesekali daging ayam. Bahkan, Karto lebih sering membawa bekal makanan dari rumah ke kantor, bekal dari istrinya. Tidak lain agar lebih menghemat pengeluaran. Syukur-syukur bisa menyisakan uang untuk ibu.

Biar Karto menjanjikan akan selalu mengirim uang ke Ibu, kepada ku Karto bilang, jujur ketika mengatakan itu dia punya beban. Sebab, setiap kali Karto harus mengirim uang ke ibu, maka dia seperti punya utang kepada mertua, katanya. Meski secara materi, mertua Karto terbilang lebih, dan memang terpandang di daerah tubir Cisanggarung.

Karto ingin berbuat adil, katanya. Setiap kali mengirim uang ke ibu, Karto ingin juga mengirim kepada mertua. Itu artinya, beban makin bertambah. “Tak enak aku sama istriku setiap kali berniat mengirim uang ke ibu, aku seperti punya utang,” kata Karto, kepadaku. Aku sangat memahami posisi Karto. Dia sekarang punya banyak kebutuhan. Setelah Uban punya kerjaan tetap, Karto berniat pindah rumah.

Rumahnya saat ini terasa sangat jauh jaraknya dari tempat kerja: 47 kilometer sekali perjalanan. Maka, sehari dia bisa menempuh hampir 100 kilometer. Inilah yang mungkin dipahami ibu.

“Ibu tak usah dipikirkan, Karto. Ibu tahu kamu banyak kebutuhan,” kata ibu, sekali mengulang di ujung telepon. Karto terdiam. “Ibu, bapak, aku ingin mengangkat derajat kalian,” tak kuasa Karto mengucapkan kalimat itu. Dia hanya mampu membisikannya ke telinga ku, beberapa hari kemudian. “Ibu, doakan Karto, bu,” di ujung telepon Karto berharap.

Read More......

Jumat, 26 September 2008

Wartawan

0 komentar


Share

Danto (http://bungapadangilalang.blogspot.com)

Dahwa. Dia terbilang teman karib saya dari SMP hingga SMU, daerah yang terbentang di tengah-tengah kaki Gunung Ciremai dan Gunung Slamet. Usia kami tak terpaut jauh. Kalaupun ada perbedaan, dulu semasa SMU, dia bertubuh agak gempal, otot agak berisi, dan sorot mata rada tajam. Semasa SMU, hampir 15 tahun lalu, tubuh saya kecil, tak berotot, dan mata agak cekung: sayu. Tak seperti sekarang.

Sudah lebih dari satu dasa warsa kami tak bertemu. Hanya sedikit kabar setahun lalu, dia sudah menikah dengan teman satu SMP, teman saya juga. Katanya dia telah punya anak laki-laki, sekira umur dua tahunan. Tubuh bayinya rada bongsor, bermata bulat, dan berhidung bangir, katanya.

Meski satu sekolah, kami beda kampung, tepatnya bertetangga kampung. Desa dia tepat di tubir Cisanggarung, sungai yang membentang panjang membelah tanah Pasundan dan bekas kekuasan Majapahit, dari selatan Jawa menuju pantai utara Jawa atawa pantura. Ayahnya adalah tenaga pengairan di Cisanggarung. Maka, dia pun kerap mengikuti jejak sang bapak, tiap hari melaju di dua provinsi: Jawa Barat dan Jawa Tengah. He..he..he.. Betul. Itu karena untuk ke Jawa Barat hanya butuh sepelemparan batu sahaja. Alias…dia hidup di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Saya mungkin tak akan ingat lagi bagaimana aktivitas dia selepas SMU dulu, jika saja tak ada kabar dadakan tadi pagi. Kebetulan, karena tekad saya yang –maap—rada ndableg, saya bisa lulus Sarjana. Padahal, secara ekonomi kelihatannya dia lebih mapan ketimbang saya. Saya, saat SMU dulu, terpaksa nyambi harus jadi kuli di sawah tetangga untuk sekadar dapat uang jajan, syukur-sykur bisa nambah buat bayar SPP.

Dia? Dia tak melanjutkan kuliah, dan katanya hanya berkarir mengikuti jejak sang bapak menjadi tenaga pengairan di Cisanggarung. Kemudian beristri dan beranak pinak di desanya.
Subuh pagi tadi, ingatan saya kembali menerobos bersamanya. Selepas sholat Subuh, telepon saya menjerit-jerit. Duh, pengeng-nya pagi-pagi buta suara dering telepon berkoar-koar. Biasanya, selepas Subuh itu saya bergelung sarung lagi. Tapi tidak, pagi tadi itu. Jeritan telepon itu mengusir rasa kantuk.

Hampir saja tak saya angkat telepon kutu kupret itu. Nomor telepon pemanggil tak dikenal. Gengsi saya sepertinya makin ke sini kian meninggi saja. Malas nian menjawab telepon dari orang yang tidak dikenal. Mungkin sudah mulai merasa jadi orang rada penting. Dasar!! Rada ngedumel, saya angkat juga menjawab panggilan telepon.

“Halo,” kata saya.

“Hai, kawan, ini Dahwa, masih ingat?” kata suara di seberang telepon.

“Oh…ya, ya,..apa kabar,” sapa saya.

“Baik..baik..makin sukses wae saya denger, kumaha kerjaan? Hebat sekarang mah udah jadi wartawan euy…”

Ach, rasanya tak perlu saya bertele-tele membeberkan basa-basinya tanya kabar dengan logat Sunda pinggiran yang sesekali terceletuk itu. Rasanya juga tak bernafsu mengulas saling sapa yang rada kurang berbobot itu. Masih pagi pula. Rada terkantuk-kantuk pula. Mata ini masih rada lengket. Yang saya perlu kasih tahu, dia bilang tahu nomor hape saya dari seorang teman satu SMU yang beberapa waktu berjumpa. Maka, sebaiknya kusarikan saja apa-apa yang dia ceritakan. Tentu saja, dengan sedikit variasi dan versi bahasa saya.

****

Sudah enam bulan ini saya menjadi pemimpin proyek di tubir desa Cisanggarung. He..he..he..Jangan kau ledek. Proyek orang kota dengan wong ndeso sangat jauh beda, tentu saja. Pak Kepala Desa menunjuk saya sebagai ketua pembangunan balai desa. Ini bagian dari proyek bantuan pemerintah. Nilainya cukup besar untuk ukuran kampung bau lisung seperti desa saya: Rp 250 juta.

Bagi lulusan SMU yang tak punya pekerjaan tetap, kecuali menjadi tenaga pengarian Cisanggarung, seperti saya, proyek ini sangat membantu ekonomi keluarga. Lumayan. Proyek ini juga bisa menjadi semacam proyek padat karya bagi kawan sedesa saya. Kata Pak Kades, biar orang-orang getol membangun desanya sendiri. Tinimbang merantau ke Jakarta, berdagang asongan, kerja kuli di proyek-proyek gedung pencakar langit di ibu kota. “Lebih baik bekerja memajukan kampung halaman sendiri,” kata Pak Kades, menjelang pembangunan balai desa enam bulan lalu itu.

Maka, kini pembangunan balai desa sudah separuh jalan. Sudah berdiri pondasi dan tiang-tiang. Rencananya, balai desa akan berdiri dengan dua lantai. Mewah, tentu saja untuk ukuran desa. Targetnya selesai akhir 2009.

Tapi, sudah seminggu ini pembangunan balai desa tersendat. Tahukah kau apa penyebabnya? Warga desa kami sekarang sedang resah. Sebab, ada beberapa artikel di media Koran lokal di daerah kami yang menulis: pembangunan balai desa kami kekurangan dana. “Duit yang seharusnya berlebih itu tiba-tiba raib,” tulisan sebuah Koran diantaranya. “Proyek ini sarat korupsi,” timpal sebuah tulisan lagi.

Saya baru tahu media tersebut. Sebulan lalu, seorang yang megaku wartawan dari salah satu media tersebut, mengantarkan beberapa tulisan itu ke balai desa. Saya baca isi beritanya. Saya tilik-teliti satu per satu halaman koran berkertas buram itu. Saya ambil salah satunya.

Namanya saja asing: Harian Kebangsaan. Tebalnya 20 halaman. Tulisan cetaknya buram, ada beberapa bagian tulisan yang berbayang. Tak jelas. Isinya dibagi per lima halaman. Dari halaman satu sampai lima berita nasional, halaman enam sampai 10 berita daerah dan lokal, termasuk even-even di kampung-kampung, halaman 11 sampai 15 berita gado-gado, mulai dari berita luar negeri, berita olahraga, dan lima halaman terakhir berisi guyonan dan infotainment.

Berita tentang proyek desa saya itu terletak di halaman 9. Isinya, ya, itu tadi. Membuat sesak dada ini. Ini fitnah. Tapi rasanya diri ini jadi tak berdaya.

Maka, gegerlah seisi desa. Inilah pangkal soal itu. Saya dan orang-orang kampung kaget bukan kepalang. Dari mana si wartawan media tersebut tahu bahwa proyek ini mangkrak. Proyek ini tak jalan, atau proyek ini kekurangan dana, atawa terjadi kebocoran dana hingga ada dugaan korupsi?

Sudah seminggu ini proyek memang tak jalan. Tapi bukan karena kekurangan dana. Tapi karena terpicu tulisan itu. Warga desa kami tiarap. Menunggu ada tulisan yang membuat syok apalagi yang bakal muncul. Semua warga harap-harap cemas. Warga tak mengerti, dari mana wartawan media itu mendapat sumber berita seperti itu. Kami, warga desa di tubir Cisanggarung, setidaknya saya sebagai ketua proyek, tak pernah merasa ada satu wartawanpun yang mewawancarai. Tapi tiba-tiba muncul tulisan yang benar-benar meresahkan itu.

Kami tak berani melawan, karena memang tak tahu hukum sama sekali. Tak ada ahli hukum di desa kami. Yang kami tahu, semua orang di desa dan daerah lain jadi tahu bahwa proyek balai desa di tempat kami rawan korupsi. Dan itu seperti menuding ke saya, sebagai kepala proyek.

Saya juga kini lebih banyak diam di rumah, seperti sudah divonis bahwa saya ini adalah seorang korup, yang memakan uang bantuan pemerintah untuk kepentingan pribadi. Padahal, untuk urusan duit seperti ini, saya masih memegang apa yang dikatakan guru ngaji saya: Tidak akan mashlahat mengambil uang yang bukan haknya. Setidaknya itu yang masih saya pegang. Tapi, apa kini semua? Diri ini seperti sudah tak berharga lagi.

Semua warga tiarap. Semua mata seperti tertuju ke saya, sekali lagi, seperti menghujamkan tudingan bahwa saya adalah seorang korup. Dan, tiga hari lalu, Pak Kades memanggil saya, juga beberapa aparat desa. Katanya ada segerombolan wartawan yang hendak wawancara dengan saya dan Pak Kepala Desa soal proyek itu. Nyali saya sebetulnya rada ciut. Entahlah, saya tak punya salah apa-apa, tapi kenapa jadi gemetar begini rupa. Inilah barangkali karakter ndeso, biasa manut, biasa saur manuk terserah pimpinan.

Saya dan beberapa aparat desa kemudian menemui tamu-tamu tak diundang itu. Inikah wajah-wajah para wartawan itu? Ada enam orang. Tiga diantaranya berambut gondrong, perut tambun, badan gempal. Dua yang lain bercaping warna merah bertuliskan Persatuan Wartawan Reformasi. Saya gelap urusan jurnalistik dan pers. Siapa mereka, juga saya tak paham. Yang saya pasti akan ingat terus, keenam-enamnya memakai rompi warna coklat. Bercelana jeans yang rada belel di bagian lututnya. Mungkin pakaian seragam mereka, pikir saya.

Mereka mengaku mau wawancara mau follow up berita sebelumnya. Berita yang menyesakkan itu, berita yang menyudutkan saya itu. Katanya, bisa tidak ditulis seperti itu lagi, asal kami bayar mereka masing-masing Rp 500.000. Semprul!! Uang segitu bagi warga desa seperti kami, terbilang besar. Itu sama saja dengan memberi masing-masing dua kwintal padi. Berat!!

Tak ada banyak basa-basi, memang. Hati ini ngedumel, terus-terusan. Jadilah pertemuan tiga hari lalu itu rada tegang. Pak Kades, saya, dan beberapa pejabat desa, menolak memberi uang sebesar itu. Mereka juga ngotot, kalau tak diberi uang akan membuat berita lebih heboh. Beberapa warga kemudian datang ke balai desa. Penduduk yang mayoritas petani, hari itu seperti libur ke ladang atau sawah.

Ternyata kabar ada sekelompok wartawan ke balai desa tersebar cepat. Semua warga desa –total warga di desa kami sekira 3.000 orang--, sepertinya sudah mendengar kabar ini. Maka, sore itu balai desa penuh sesak oleh warga desa. Semua penasaran. Makin sore, pertemuan kian panas. Dari pojok balai desa yang belum jadi itu, seorang warga berteriak, “Usir saja, biarin kita berurusan dengan hukum saja,” teriaknya. Warga lain mulai terusik. Maka, agar tak terjadi keributan, Pak Kades menyarankan segermobolan wartawan itu untuk segera pergi.

Mereka akhirnya mengalah. Pergi. Tapi tetap dengan satu ancaman: Kami akan tulis lebih dahsyat dari yang sudah ditulis,” kata seorang diantara mereka. Pak Kades, mewakili kami, mendapat dukungan warga, sore tiga hari lalu itu, mendadak bangkit semangat. “Silakan, kami tak takut,” katanya, rada menggertak balik. Mereka ngacir.

****

Hampir dua jam Dahwa ngoceh di ujung telepon. Hape saya sampai panas dibuatnya. Baterenya juga hampir habis. Dari telepon jam 04.30 WIB usai Subuh itu, cerocosannya baru kelar sekitar jam 06.20 WIB. Karena kini jaman tarif murah, maka saya tahu pulsa telepon yang tersedot untuk pembicaraan Dahwa pastilah tak seberapa. Apalagi, saat ini operator-operator telepon sedang gencar perang tarif murah. Maka, telepon pada waktu jam segitu biaya telepon hingga dua jam paling tak nyampe Rp 1.000. Murah.

Begitulah. Di ujung teleponnya, Dahwa kemudian bertutur: “Kawan, apakah memang profesi wartawan seperti itu? Membuat resah masyarakat kecil seperti kami? Padahal, ketika kita sama-sama SMU, yang saya tahu wartawan adalah profesi hebat, mau mempertaruhkan nyawa di tengah medan perang, menjadi pahlawan dan penyambung informasi untuk wong cilik seperti kami,” paparnya, rada getir.

Jujur, saya juga bingung menjawab pertanyaan Dahwa. Wartawan. Saya juga seorang wartawan.
“Kalau memang tabiat wartawan seperti itu, saya malu punya kawan lama seperti ente,” pungkasnya, seraya minta maaf. Saya terpaku!!

Jakarta, 26 September 2008
14.14 WIB

Read More......
Copyright 2009 | Bunga Padang Ilalang Theme by Cah Kangkung | supported by Blogger