Musibah di Era Terbang Murah
Untuk menekan harga tiket, maskapai penerbangan melakukan efisiensi biaya operasional. Tetap banyak yang rontok di tengah jalan.
RASA cemas merasuki Bambang Sulistyo, petinggi perusahaan jalan tol milik negara. Berita hilangnya pesawat Adam Air jenis Boeing 737-400 di kawasan Sulawesi Selatan, pekan lalu, seakan peringatan baru untuknya. Soalnya, dalam sebulan Bambang bisa berkali-kali melakukan lawatan ke kantor cabang di daerah, di samping perjalanan pribadi. “Saya kini jadi khawatir setiap akan terbang,” katanya kepada Tempo, pekan lalu.
Begitu pula halnya dengan Eko Roesniputra, pensiunan pegawai negeri yang masih sering melakukan perjalanan udara. Sama seperti Bambang, ia langsung saja menghubungkan keselamatan perjalanan dengan penawaran tiket murah oleh maskapai penerbangan. "Lebih baik mahal sedikit, tapi keselamatan lebih terjamin," katanya. Atau sekalian beralih ke moda angkutan yang jauh lebih murah: kereta api.
Musibah pesawat Adam Air menambah daftar panjang kecelakaan penerbangan selama ini. Sejak 2001, menurut data dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), tercatat 73 kecelakaan pesawat penerbangan nasional dalam negeri, dengan jumlah korban 479 orang, meliputi 201 orang tewas dan 278 cedera.Sejak 2001, dari maskapai reguler nasional yang terdaftar sebagai pemegang air operator certificate 121 di Departemen Perhubungan, Garuda Indonesia (62 armada pesawat), Merpati Airlines (55 armada), dan Trigana Air Services (12) tercatat mengalami masing-masing lima kali kecelakaan, diikuti Lion Air (28 armada) empat kali, dan Adam Air (22 armada) tiga kali.
Masih dari data KNKT, dari sejumlah maskapai reguler itu, kecelakaan yang paling banyak merenggut korban jiwa terjadi pada Mandala (111 orang tewas), diikuti Adam Air (102 orang hilang), Lion Air (25 orang tewas), Trigana (6 orang tewas), dan Garuda (1 orang tewas).Maraknya kecelakaan itu, akhirnya, sering dikaitkan dengan "obral" harga tiket penerbangan oleh sejumlah maskapai.
Dua maskapai yang selama ini disebut-sebut menjalankan low cost carrier itu adalah Adam Air dan Lion Air, setidaknya menurut versi situs wikipedia.Dalam situs itu, pengertian low cost carrier adalah efisiensi biaya maskapai dengan mengurangi biaya operasional yang dianggap tak perlu. Misalnya, menghapus jatah makan penumpang di udara, mempercepat penerbangan di pagi hari dan memperlambat jam terbang di sore hari, penjualan tiket secara online, dan meminimalkan jam parkir pesawat.
“Kami memang sebisa mungkin mempersempit jadwal parkir,” kata Direktur Komersial Adam Air, Gugi Pringwa Saputra. ”Jika bisa, setelah landing kita langsung take-off.” Biaya parkir pesawat di bandara saat ini US$ 35 per jam untuk tipe pesawat Boeing 737-200.Soal tiket, Gugi mengakui Adam Air memang menerapkan harga agak miring.
Perusahaan, katanya, menetapkan tarif rendah Rp 233 ribu dan paling tinggi Rp 665 ribu per jam terbang. Jam terbang ini hampir sama dengan rute Jakarta-Surabaya, yang dalam keputusan Menteri Perhubungan tarifnya ditetapkan Rp 778 ribu.
“Kami menggunakan skema subsidi silang dalam penentuan tarif tiket,” kata Gugi. Jalur gemuk seperti Jakarta-Surabaya, Jakarta-Medan, dan Jakarta-Surabaya digunakan untuk menutupi rute lain yang relatif sepi, seperti Balikpapan-Batam.
Penghapusan jatah makan juga memberi kontribusi lumayan besar. Hitung-hitungannya, untuk satu jam penerbangan pesawat jenis Boeing 737-200, makanan katering --yang diukur dengan sistem blok-- menghabiskan biaya US$ 60, atau sekitar Rp 546 ribu.
Dengan frekuensi rata-rata 400 jam penerbangan per bulan, perusahaan mampu menghemat US$ 24 ribu, atau sekitar Rp 218,4 juta. Di Indonesia, maraknya penerbangan biaya rendah tak lepas dari kebijakan pemerintah melalui Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 1/2001, yang kemudian direvisi dengan Keputusan Menteri No. KM 81/2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara.
Keputusan ini memungkinkan berdirinya maskapai baru tanpa batasan modal minimal. “Prinsip kita ingin meningkatkan moda transportasi udara pascakrisis,” kata Direktur Angkutan Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan, Santoso Eddy Wibowo,Mulailah era terbang murah.
Adam Air, yang lahir pada 21 November 2002, tumbuh di era ini. Bermodal awal tiga pesawat sewaan untuk rute Jakarta-Medan dan Jakarta-Yogyakarta, hanya dalam empat tahun Adam mampu menambah 22 pesawat sewaan. Pada November tahun lalu, maskapai ini meraih Award of Merit in the Category Low Cost Airline of the Year 2006 di Singapura.
Tapi, maskapai yang rontok di tengah jalan juga banyak. Indonesia National Air Carriers Association (INACA) mencatat, hingga tahun lalu ada lima maskapai --dari 17 maskapai berjadwal-- yang tidak mampu beroperasi, yaitu Bali Air, Bayu Air, Indonesia Airlines, Star Air, dan Bouraq Airlines.
Yang masih beroperasi juga harus bertahan dalam sistem persaingan yang ketat. Akibatnya, menurut Arief Poyuono, mantan instruktur flight safety Merpati Airlines yang juga ketua Federasi Serikat Pekerja BUMN, maskapai berbiaya rendah terpaksa banyak mengurangi biaya operasional --termasuk biaya perawatan-- untuk tetap mampu bertahan.
"Mereka tak pernah diperiksa oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO),” katanya. Jika tim inspeksi ICAO datang, kata Arief, mereka diarahkan ke hanggar pesawat milik Merpati dan Garuda, yang perawatannya terjamin.
“Maka tim inspeksi akan mendapat kesan positif,” katanya. Kapt. M. Safe'i, pilot senior yang selama 37 tahun berkhidmat di Garuda Indonesia dan kini aktif di lembaga swadaya masyarakat Peduli Angkutan Udara Komersil Indonesia (PAUKI) menambahkan, praktek-praktek pelanggaran prosedur di pesawat berbiaya rendah saat pengecekan pesawat kerap terjadi.
Misalnya soal pemasangan baut pada roda pesawat. “Aturannya harus sekitar 100 putaran, tapi kadang dilakukan kurang dari itu,” kata Safe'i. Petugas pengecek juga sering langsung memberikan tanda check list pada log book pesawat --dikenal dengan istilah pencil whipping.
Log book ini berisi daftar isian pengecekan sebagai persyaratan laik terbang.Adam Air dan Lion Air tentu menolak tudingan itu. “Kami malah menambah ongkos perawatan 25 persen dari yang seharusnya,” kata Gugi Saputra. “Kami tak mungkin mengurangi biaya perawatan dengan mengorbankan keselamatan penumpang,” juru bicara Lion Air, Hasyim Al Habsyi, menimpali.
"Keselamatan penumpang", memang itulah kata kunci yang pekan-pekan ini banyak menggayuti pikiran para pengguna jasa angkutan udara, terutama setelah raibnya pesawat Boeing 737-400 Adam Air.Danto
Majalah TEMPO, Edisi 8 Januari 2007
Salam
Masa lalu, selalu ada distorsi. Sebabnya, tafsir mengambil tempatnya sendiri-sendiri. Karenanya, satu-satunya jalan agar sejarah masa kini tak membelot di masa depan, adalah dengan cara mendokumentasikannya.
Masa kini, di masa depan akan menjadi masa lalu. Dus, rekamlah sejarah yang sedang kau alami sekarang. Sekecil apapun, di masa depan akan sangat berharga. Kita tak pernah tahu, di masa depan yang sekarang kita sebut sebagai kertas atau pulpen, masih disebut sebagai kertas atau pulpen atau tidak. Atau bisa jadi bernama sama, tapi berbeda bentuk.
Mari, sodara-sodara, rekamlah sejarah yang sedang kau jalani.
Salam
Jumat, 16 Mei 2008
Kecelakaan ADAM Air
0 komentarIspirasi - 4 (Rachmita M. Harahap)
0 komentarKisah Ibu Dosen Mitha, Tuna Rungu Pembina UKM (1)
Danto
Tak mudah terlahir sebagai tuna rungu. RachMitha Maun Harahap, 38 tahun, merasakan itu. Hinaan dan cercaan menjadi menu pergaulan sehari-hari. Namun itu sudah menjadi masa lalu. Kini, Mitha sudah menjadi dosen.
Dia juga membina 220 orang cacat tuna rungu dan memberi bekal aneka pelatihan agar mereka mampu bersaing di dunia usaha. Sebagian besar bekas muridnya kini berbisnis sendiri, dan sisanya bekerja di sektor swasta. Berikut kisahnya.
****
****
SETIAP orang punya kenangan buruk. Dan tak mudah melupakan kenangan itu. Tak percaya, tanyalah pada Rachmita Maun Harahap. Apa yang ada di memorinya hingga kini? Jawaban Mitha singkat namun penuh keperihan. “Idih, Mitha budek”. Itulah jawabannya.
Entah sudah berapa kali ejekan semacam itu dia catat dalam ingatannya. “Meski terkadang ada perasaan sedih dan mengganggu. Tapi saya tak mau larut. Saya harus terus maju,” kisah Mitha, kepada KONTAN. Yang pasti, sindiran atau ejekan itu di kemudian hari justru menjadi bekal berarti. Hati perempuan kelahiran Padangsidempuan, Tapanuli, itu menjadi sekeras batu. Dia tak mau memikirkan perlakuan buruk orang lain terhadap dirinya.
Sikapnya yang keras hati itu membuatnya bangkit penuh percaya diri. Apa yang tidak mungkin dilakukan penyandang tuna rungu, mampu dia kerjakan. Kalau ada psikolog bilang bahwa orang cacat cenderung rendah diri dan tertutup alias introvert, mungkin dia belum pernah bertemu Mitha.
Buktinya, sudah sejak kecil Mitha berprestasi. Ketika menginjak empat tahun dan baru duduk di Taman Kanak-Kanak, Mitha kecil sudah pandai menggambar, juga bermain puzzle. Mitha mengawali sekolahnya di Bukittinggi, Sumatera Barat. Di kota nan dingin ini pula, Mitha duduk di bangku sekolah dasar (SD) hingga kelas empat.
Tentu saja, karena terbilang cacat, nama Mitha ada di deretan daftar sebuah sekolah luar biasa (SLB) Bagian B yang khusus untuk tuna rungu. Karena tugas orangtuanya, Mitha harus pindah sekolah ke Medan dan Surabaya. Namun, baru tiga bulan sekolah di Surabaya, Mitha sudah tak betah bersekolah di SLB. Kepada orangtuanya dia merengek minta pindah ke SD umum.
“Akhirnya saya berhasil masuk ke SDN X Kertajaya, Surabaya,” katanya. “Syaratnya asal saya bisa bicara,” ungkapnya. Maklum saja, penyandang tuna rungu memang biasanya kesulitan untuk berbicara. Ternyata Mitha tak sekadar keras hati. Di SD umum itu, dia membuktikan diri sebagai anak normal.
Di kelas lima dan enam, dia berada di ranking 25 besar. Bahkan di bangku SMP, Mitha tembus di 20 besar. Menginjak SMU, Mitha hijrah lagi ke Serang, Jawa Barat. Di sini, prestasi Mitha makin berkembang. Dia bahkan mampu duduk di ranking 10.
Bahkan, Mitha juga terpilih sebagai mayoret marching band sekolahnya. Tak tanggung-tanggung, dalam lomba Marching Band antar SMU se Kabupaten Serang, Mitha berhasil terpilih sebagai mayoret terbaik. Makin percaya diri, menjelang kelulusan SMU, Mitha mendaftar ujian tanpa tes.
Waktu itu namanya Program Penelusuran Minat Dan Kemampuan (PMDK). Dia memilih jurusan Teknik Arsitektur Lingkungan di Institut Pertanian Bogor (IPB). “Tapi gagal,” kenangnya. Tak putus asa, Mitha memilih pendidikan sarjananya di jurusan teknik arsitektur sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta Barat. Pada 1995 dia lulus.
Mitha menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 4,5 tahun dan meraih cumlaude. Karena predikatnya ini, Mitha berhak meraih beasiswa di Fakultas Paska Sarjana ITB jurusan Magister Desain (Interior). ”Saya juga berhasil lulus dengan IPK 3,1,” katanya sumringah. (Bersambung)
Kisah Ibu Dosen Mitha, Tuna Rungu Pembina UKM (2)
Pada 1995 Mitha sukses menggaet gelar sarjana teknik arsitektur dari Universitas Mercu Buana, Jakarta Barat. Mitha juga dapat penghargaan Wisudawan Lulusan Terbaik (cum laude) sekaligus mendapat beasiswa S2 di ITB. Namun Mitha gundah dengan orang yang senasib dengannya. Dia pun berusaha membantu mereka agar mampu mandiri.
Mitha bukan orang yang suka memanfaatkan aji mumpung, termasuk ketika mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan Paska Sarjana di ITB setelah jadi lulusan terbaik saat meraih gelar sarjananya. Saat itu dia justru memilih jadi arsitek di sebuah perusahaan yang berkantor di Jakarta Barat.
****
****
Setelah berpengalaman selama dua tahun, Mitha baru mengambil beasiswa di ITB tadi. Kuliah di ITB pun diselesaikannya dengan mudah. Begitu menggondol gelar Magister Desain (Interior) pada 2000, Mitha langsung mengabdikan ilmunya dengan menjadi dosen di almamaternya, Universitas Mercu Buana Jakarta Barat, hingga sekarang.
Tak sulit bagi Mitha untuk mengajar. Penginderaan Mitha juga "normal". Dia sudah terbiasa mengenakan alat bantu dengar (ABD) sejak berusia sembilan tahun. “Saat mengajar pun saya pakai ABD, juga fasilitas multimedia infocus, agar mahasiswa lebih memahami pelajaran,” katanya.
Namun kekerasan hati Mitha tak cukup puas dengan statusnya sebagai dosen. Dia mulai berpikir, masih banyak kaum tuna rungu yang tak seberuntung dirinya. Inilah yang kemudian membawanya mendirikan sebuah yayasan. Namanya Sehjira, kependekan dari kata Sehat Jiwa Raga.
“Sehjira adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) khusus tuna rungu. Kenyataan bahwa tuna rungu sering membentuk komunitas eksklusif bukan hanya oleh masyarakat umum, namun juga di antara penyandang tuna rungu sendiri,” papar Mitha. Bermodal Rp 5 juta dari kumpulan gajinya selama mengajar, berdirilah Sehjira pada 5 Desember 2001 silam. Modal sekecil itu, ternyata cukup untuk mengurus Akte Notaris, surat terdaftar organisasi sosial, unit komputer, dan kebutuhan lain.
“Saya tidak pernah pinjam uang di bank, kecuali bantuan dari para donatur,” katanya. Lokasi Sehjira yang berada di Cilandak Barat, Jakarta Selatan, memang agak jauh dari rumahnya di kawasan Ciledug, Tangerang. Namun itu tak menyurutkan semangatnya. Satu hal yang membuat Mitha membentuk Sehjira: kendala komunikasi.
Mitha menyebutnya communication barrier. Menurut dia, faktor inilah yang telah membawa tuna rungu kepada kehidupan yang sepi dari informasi. “Sekian lama mereka hidup menyendiri di tengah keramaian dan gejolak perubahan zaman yang semakin cepat, secara tidak sadar membuat tuna rungu cenderung memiliki konsep diri rendah.
Secara pribadi mereka menganggap dirinya tidak laik untuk bergaul secara luas, apalagi berkompetisi dengan masyarakat umum,” papar Mitha, bak psikolog. Mitha kemudian memfokuskan Sehjira untuk membina kaum tuna rungu agar bisa mandiri.
Tujuan utamanya agar mereka bisa bekerja di sektor formal, seperti dirinya tentu saja. Lebih bagus lagi kalau mereka terjun ke dunia bisnis. Ada beberapa kategori umur yang dia bina. Mulai dari SD Luar Biasa (SDLB), SMPLB, dan SMULB, juga alumni. Total binaan Mitha kini ada sekitar 220 orang tuna rungu.
Mitha dibantu beberapa rekan untuk menjalankan Sehrija. Banyak program dia jalankan. Untuk yang masih sekolah, misalnya, Mitha memberi pengajaran luar ruangan alias outdoor hingga materi pendidikan indoor. Salah satu program indoor adalah pengajaran pengenalan diri. "Seperti pengajaran Who am I? dan Menggapai Impian,” kata Mitha.
“Jika murid sudah bisa mengaktulisasikan diri secara positif, mereka bisa dipindahkan ke sekolah-sekolah umum.” Sementara untuk usia luar sekolah, Mitha dan timnya memberi pengajaran berbagai keterampilan. Seperti menjahit dekorasi interior, menjahit baju pria dan wanita, memberi kursus komputer, kursus bahasa Inggris, juga mengaji. “Saya sendiri yang mengajari mereka. Biasanya itu terjadi setiap Sabtu dan Minggu,” papar Mitha. (Bersambung)
Kisah Ibu Dosen Mitha, Tuna Rungu Pembina UKM (3)
Tak gampang membina sesama tuna rungu. Apalagi dengan modal cekak dan fasilitas pelatihan yang sangat terbatas. Tapi Mitha tak mau menyerah. Soal modal, dia tak mau pinjam bank. Dia memilih jalan mengajukan proposal bantuan kepada pemerintah. Donasi ala kadarnya datang.
Kemauan keras membuat semua hambatan berhasil dia lalui. Dari puluhan alumni didikannya, kini sejumlah tuna rungu di antaranya sukses bekerja di beberapa perusahaan swasta. Tak sedikit pula yang membuka usaha sendiri.
****
****
BERDIKARI alias berdiri di kaki sendiri. Itulah yang dilakoni Mitha, dalam membina 220 tuna rungu jadi mandiri. Bantuan donatur minim. Pemasukan rutin juga tak ada. Alhasil, Mitha terpaksa memungut biaya kepada anak didiknya.
Namun biaya itu kembali untuk keperluan si anak didik. Untuk kursus komputer, misalnya, Mitha memungut iuran Rp 50.000 per bulan kepada tiap siswa. Mitha juga membebankan jumlah dana yang sama bagi peserta kursus bahasa inggris.
“Dana sejumlah itu untuk keperluan bahan modul materi komputer, CD (compact disk), dan honor instruktur tuna rungu profesional,” katanya. Selain minimnya biaya pembinaan, soal tempat pun masih jadi masalah. Hingga kini, Mitha dan rekannya masih bermarkas di sebuah rumah kontrakan di bilangan Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Ukurannya sempit, hanya 4 x 8 meter, diluar kamar mandi yang luasnya 2 x 1 meter.
Meski sejak berdiri pada 2001 sudah minim duit dan fasilitas, namun Mitha tetap keras bertahan. “Saya tidak pernah pinjam uang di bank untuk modal,” katanya.
Mitha memilih cara lain. Pada 2003 silam, Mitha mencoba mengajukan surat permohonan bantuan Kelompok Usaha Bersama alias KUBE ke Kantor Pemberdayaan Masyarakat (KPM) Kota Tangerang. Mitha memerinci segala kegiatan dan kebutuhan yayasan, termasuk kendala. Proposalnya manjur. Pihak KPM menyetujui.
Bantuan pun datang berupa lima unit mesin jahit. “Mesin jahit itu untuk lima orang keluarga tuna rungu kurang mampu yang belum bekerja,” kata Mitha. Pada 2004, bantuan yang sama kembali datang. Berupa lima unit mesin jahit plus satu paket pembuatan kue. Kali ini untuk membantu relawan tuna rungu yang mengabdi di Sehjira.
Bantuan kemudian beberapa kali datang lagi. Meski banyak yang sebatas derma ala kadarnya. Tak ada kata menyerah di kamus hidup Mitha. Minim santunan tak akan membuatnya kendur. Senin sampai Jumat mengajar di almamater, Sabtu dan Minggu mengisi pengajaran di yayasan. Nyaris tak ada waktu untuk suami, Irwan Ibrahim.
Bahkan saat mengandung seperti sekarang ini, jadwal Mitha tetap padat. Namun pengorbanannya membawa hasil. Dari puluhan alumni Sehjira, sebagian di antaranya mampu bersaing di dunia usaha. Catatan Mitha, saat ini delapan bekas anak didiknya bekerja di perusahaan pelayaran. Ada juga yang bekerja di sebuah perusahaan teh celup dan perusahaan konveksi. Ada pula yang mampu membangun usaha sendiri. Bangga.
Itulah yang ada di perasaan Mitha. Apalagi dengan kekurangan fisiknya itu, kini Mitha termasuk dalam hitungan orang yang berprestasi. Pekan pertama Desember 2007 lalu, nama Mitha tercatat sebagai salah satu dari lima peraih Danamon Award 2007.
Penghargaan ini merupakan salah satu penghargaan pelaku usaha mandiri di negeri ini. "Alhamdulillah saya bersyukur kepada Allah yang memberi sesuatu yang terbaik bagi saya. Allah punya rencana dengan menciptakan kekurangan sekaligus kelebihan,” pungkas Mitha. (Selesai)
Harian Bisnis dan Investasi Kontan, 8-10 Januari 2008
Inspirasi - 4 (Adelia Zahedi)
0 komentarDengan Bordir, Hobi pun Menjadi Duit (1)
Danto
Semua bermula dari hobi. Ketika mengawali bisnis bordir sembilan tahun silam, Adelia Zahedi, 35 tahun, hanyalah iseng dan menyalurkan kegemarannya berapi-rapi ria di area kamar tidur. Semua perkakas tempat tidurnya, mulai dari bedcover, seprai, hingga pernak-pernik, ditata sedemikian rupa. Hasilnya sebuah tempat istirahat yang nyaman.
Jika dia saja menyukai kenyamanan tempat tidur, kenapa orang lain tidak? Begitulah dia berfikir. Mulailah menekuni bisnis bordiran. Merintis usaha dengan modal Rp 200 ribu, kini Adelia sudah bisa menghasilkan Rp 30 juta hingga Rp 40 juta per bulan. Mengawali promosi dari mulut ke mulut, Adelia kian sukses setelah jadi langganan berbagai pameran. Bagaimana Adelia bisa meraup sukses? Ikuti kisahnya.
*****
*****
Bagi wanita aktif seperti Adelia, tak mudah menghilangkan jenuh akibat nganggur. Pernikahannya dengan Ahmad Zahedi, kini 40 tahun, 11 tahun silam, menjadikan Adelia terpaksa ngandang. Berdiam diri di rumah. Dua tahun bekerja di sebuah perusahaan kontraktor pun dia lepas. Soalnya, tak lama setelah nikah, badan sudah berbadan dua.
Jenuh melanda. Adelia kemudian berfikir bagaimana cara menghilangkan bosan. Jalanlah dia bersama suami ke salah satu pusat perbelanjaan. Hobinya yang suka beres-beres kamar, membuat tujuannya tak jauh dari urusan kamar tidur.
Larak-lirik pada tetek bengek perlengkapan kamar tidur, matanya tertambat pada sebuah bahan sprei. Warnanya yang kalem, dengan motif bunga, terasa pas dengan seleranya. Alangkah indahnya jika ditambah motif yang rada beda, tapi unik. Begitulah Adelia berfikir saat itu. Maka, ide merajut sendiri bordir di bahan sprei itupun timbul. Bordir dipilih lantaran saat itu masih sangat sedikit yang menekuni usaha itu.Uang sebesar Rp 200.000 pun dibelanjakannya.
“Pada 1996 waktu itu, bahan dasar sprei masih murah sekali, masih Rp 6 ribu semester,” kata Adelia.
Tapi otak mesti diputar. Semua perlengkapan bordir tak ada. Mesin jahit pun tak punya. “Saya modal nekad saja, saya jahit bahan itu pada orang lain, tapi motif saya yang menentukan,” kata Adelia.
Selesailah bordiran pertama kala itu. Jumlahnya masih terbatas, hanya 10 set sprei bordiran. Adelia mengontak kenalannya semasa kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta Barat. “Alhamdulillah mereka merespon,” kenangnya.
Semangat timbul. Adelia mencoba menawarkan ke bekas rekan-rekan kantornya di perusahaan kontraktor. “Waktu itu karena bordiran saya rada beda dengan motif yang ada, jadi rekan-rekan saya tertarik,” katanya.
Dengan modal Rp 27 ribu per set, sprei dengan bordiran sendiri itu dijual dua kali lipat seharga Rp 45 ribu. “Ada yang kontan, ada juga yang bayar dua kali,” ujar Adelia.
Agar pelanggan tak lupa, maka Adelia memberi ciri khas sprei jualannya. Adelia menempelkan tulisan border dengan nama AZ Collection, asal kata dari Adelia Zahedi Collection. Belakangan nama ini berubah jadi AZ Sweet Room.
Sukses di usaha pertama, Adelia jadi ketagihan. Pesanan sedikit ditambah. Kenalan lainnya disamperin. Sedikit-sedikit lama menjadi bukit. Begitulah. Jumlah bordiran ditambah. Langganan pun demikian.
Di pengujung 1996, usahanya sempat mati suri. Kandungan anak pertama kian menua. Gerakannya tak lagi lincah. Jadilah untuk sementara Adelia membengkalaikan bisnisnya.
Setahun berselang. Adelia kembali terjun menekuni usahanya. Agar pemasaran kian efektif, Adelia mulai menggunakan strategi baru: ikut pameran. Lantaran modal masih minim, peragaan yang diikutipun masih pilah-pilah. Terjangkau, tapi tak kalah kelas.
Pameran yang pertama kali diikutinya di Gedung World Trade Center (WTC) di bilangan Jalan Sudirman, Jakarta. Pameran yang berlangsung setiap minggu, memungkinkan pengusaha seperti Adelia bisa masuk menjadi peserta kapan saja.
“Di WTC, selama tiga hari itu kala itu cuma bayar Rp 400.000 hingga Rp 600.000,” kata Adelia, beralasan. Dibanding berpameran di tempat lain yang lebih elit, misalnya di Jakarta Hilton Convention Center (JHCC), harga ini masih sangat miring. Di JHCC, tarif membuka stan pameran mencapai Rp 1 juta per hari.
Satu hal yang dilakukan Adelia ketika pameran. Rajin-rajinlah menyebar kartu nama. “Alhamdulillah, mungkin dari 100 kartu nama yang disebar itu, satu dua diantaranya ada yang mau nelepon kemudian memesan,” katanya.
Hanya, pada tahap awal memang semuanya tak mulus. Soalnya, produk yang ditawarkan Adelia bukanlah jenis kebutuhan primer laiknya makanan, juga pakaian. “Tapi kalau sprei ini bisa tiga bulan atau 4 bulan sekali baru telpon memesan minta ganti,” kata Adelia.
Nah, di sinilah kreatifitas dilakukan. Agar pelanggan tak bosan, motif bordiran pun harus digonta-ganti.
Mulailah Adelia mengembangkan sayap. Pameran inacraft di JHCC-pun dicobanya. Tak apa sedikit mahal, toh pemesan juga pasti bakal bertambah. Inacraft adalah pameran kerajinan yang skupnya nasional. Begitulah, pada 2002 Adelia mulai mengikuti pameran di JHCC dnegan tarif Rp 1 juta per hari. “Karena yang datang juga dari seluruh Indonesia, pasarnya juga lebih besar. Biaya buat stand bisa tertutup dan bisa mendapat keuntungan, sejak itulah saya ketagihan untuk ikut pameran terus,” papar Adelia.
Dengan Bordir, Hobi pun Menjadi Duit (2)
Memutar haluan strategi, ikut mengubah pula kebutuhan modal. Semula, Adelia, 35 tahun, menyasar semua kalangan. Pameran yang diikuti, yang awalnya masih kelas biasa, kini mulai berpindah ke kelas yang lebih tinggi. Pada 2002, Adelia mulai naik kelas mengikuti pameran Inacraft, ajang peragaan kerajinan tingkat nasional di Jakarta Hilton Convention Center.
Agar pasar bordir taplak kasur alias sprei kian berkelas, Adelia kian menajamkan pasar. Segmentasi makin dipersempit. Kini dia menyasar kelas elit. Adelia bangga bukan kepalang ketika istri Wakli Presiden Jusuf Kalla ikut memesan sprei dengan bordiran hasil jerih payahnya.
***
***
Pameran Inacraft ternyata sangat membantu Adelia mengembangkan usahanya. Bisnis sulam-menyulam taplak kasurnya kian berkembang. Showroom-nya yang semula berada di kediamannya di Villa Graha Hijau I kawasan Kampung Utan, Ciputat, Tangerang, makin lama kian menyempit. Penuh dengan barang-barang.
Sedikit-sedikit, Adelia menambah peralatan bordiran. Satu dua dia beli perkakas bordir, seperti mesin jahit, mesin bordir, dan merekrut pegawai sekaligus. Rumahnya yang relatif kecil, jadi sesak. “Akhirnya showroom saya pindahkan ke rumah orang tua saya di Bintaro,” katanya. Kini, Adelia sudah memiliki lima orang karyawan untuk menggarap seluruh pesanan pelanggan.
Makin berkembang usaha, kebutuhan modal juga kian bertambah. Untuk mengembangkan bisnis, dana lebih besar haruslah ada. Apa boleh buat. Tabungan tak ada. Simpanan pun tiada. Adelia terpaksa meminjam dana ke sebuah bank sebesar Rp 40 juta. “Tapi bunganya sangat mencekik,” katanya.
“Cash flow saya untuk membayar pinjaman bank agak sulit dan itu sangat memberatkan. Sejak itu saya kapok untuk pinjam ke bank dengan sistem bunga yang menjerat,” papar Adelia.
Kian berat, lantaran Ahmad Zahedi, 40 tahun, juga tak berpenghasilan tetap. Profesinya sebagai agen properti, tak menjamin pemasukan bakal tetap setiap waktu. Anaknya juga kini sudah menjadi empat.
Untuk tidak kembali terjebak, Adelia kembali ke strategi tradisional. Dengan modal yang dipunya, Adelia mengandalkan perkenalan. Modal tak perlu banyak, tapi pesanan jalan terus. Setiap pesanan bordiran datang, Adelia tak perlu mengeluarkan modal awal. Cukup datang ke langganannya mengambil sprei pesanan pelanggan, bayar belakangan. “Kalau sudah kenal dengan yang punya toko bahan sprei, itu yang bisa dilakukan,” katanya.
Cara ini ternyata cukup efektif. Langganan bisa tetap terpenuhi pesanannya, modal pun tak perlu terlalu banyak. Usaha tetap jalan. Laris manis tanjung kimpul. Dagangan laris, duit kumpul. Begitulah.
Pengembangan usaha kian digencarkan. Bosan berpameran di dalam negeri, Adelia menjajal peragaan bordiran spreinya di negeri tetangga, Singapura. Gayung bersambut. “Ternyata pembeli di sana banyak juga,” kata Adelia. Kendala modal, lagi-lagi, yang membuatnya hanya baru sekali melakukan pameran di Singapura.
Adelia tengah mengumpulkan modal untuk berpameran di Belanda. “Di sana ada tempat pameran khusus yang menjual kerajinan-kerajinan Indonesia, saya ingin mencobanya,” kata Adelia.
Untuk sementara, Adelia masih roadshow berpameran di dalam negeri. Dari hasil itupun, pemasukannya sudah cukup lumayan. Omzet sekali pameran berkisar antara Rp 30 juta hingga Rp 50 juta. Dalam sebulan, bisa sekali dua Adelia mengikuti pameran kerajinan.
Tak percuma Adelia membuat bordiran berkelas. Dengan modal Rp 300.000 hingga Rp 400.000 untuk satu set taplak kasur beserta bordirannya, Adelia bisa menjualnya hingga dua kali lipat. Pelanggannya kini bukan hanya berasal dari kalangan biasa.
Hatinya sangat berbunga ketika seorang pejabat sangat elit di negeri ini ikut memesan hasil karyanya. Untuk yang satu ini, Adelia tak mau nama pelanggannya disebut.
Yang namanya usaha, hampir pasti selalu ada saja kerikil-kerikil yang menggangu. Adelia juga merasakan. Kendati kecil. Seorang pelanggan yang tak dikenal betul, memesan bordiran seprei senilai Rp 3 juta. Si pelanggan mengaku akan membawa barang-barang pesanan itu untuk promosi ke Kalimantan.
Kebetulan. Adelia sedang sepi order. Jadilah dia tergopoh-gopoh menyambut permintaan itu. Beberapa hari kemudian, si pemesan datang dengan membawa cek. Lantaran pas hari Jumat alias di akhir pekan, Adelia tak langsung mencairkan cek tersebut.
Tak ada curiga sedikitpun kala itu. “Waktu saya cairkan pada Senin berikutnya, ternyata ceknya kosong,” katanya. Apa boleh buat. Adelia pun terpaksa gigit jari.
Satu hal yang kini masih sebatas angan-angan bagi Adelia. Tapi Tak ingin usahanya masuk pusat perbelanjaan. Cita-citanya, selain bisa berpameran di Belanda, dia kini ingin menempatkan produknya di satu rumah besar yang berfungsi untuk memajangkan seluruh produk-produknya. “Nanti setiap pelanggan bisa melihat semia desain-desain saya di rumah tersebut,” katanya. “Itu rasanya saya sudah puas.” Danto (Selesai)
Harian Bisnis dan Investasi Kontan, 3-4 Oktober 2007
